Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.

Kamis, 30 September 2010

Brimob Kejar Teroris di Tebingtinggi

Kelompok Bersenjata
Brimob Kejar Teroris di Tebingtinggi
Jumat, 1 Oktober 2010 | 09:59 WIB
 SERAMBI/M ANSHAR

Ilustrasi 
TERKAIT:
MEDAN, KOMPAS.com — Anggota polisi dari Polresta Tebing Tinggi Sumatera Utara bersama brimob, Jumat (1/10/2010), masih melakukan pengejaran terhadap komplotan bersenjata api yang bersembunyi di sekitar hutan Gunung Pamela. Sebelumnya, sempat terjadi baku tembak antara polisi dan kelompok yang diduga bagian dari teroris tersebut, Kamis malam.
Komplotan itu diketahui membawa senjata laras panjang. Kami masih melakukan pengejaran. Brimob juga ikut serta dalam pengejaran ini.
Kejadian itu bermula dari laporan yang diterima polisi tentang aktivitas sekelompok orang yang mencurigakan di kawasan hutan Gunung Pamela, Kecamatan Sipispis Kabupaten Serdang Bedagai. Kelompok itu sudah beberapa hari di sana. Atas informasi tersebut, beberapa polisi mencoba menelusuri hingga kemudian terjadi baku tembak saat bertemu dengan komplotan tersebut.
Menurut informasi, kawanan tersebut menggunakan 6 sepeda motor (sekitar 12 orang) dari arah Pamela menuju Tebingtinggi. Sesampainya di Simpang Brohol, kawanan yang kemudian menyadari dikejar polisi itu melepaskan tembakan sebanyak 2 kali, kemudian menyebar. Satu kelompok menuju Dolok Masihul dan yang lain menuju Kampung Rambutan, Kabupaten Serdang Bedagai.
Kawanan merampok satu sepeda motor jenis Soul milik pos pengutipan (pos perpas) Tebingtinggi dan meninggalkan satu sepeda motor jenis RX King  karena kehabisan bensin.
Kapolres Tebing Tinggi Ajun Komisaris Besar Robert Haryanto Watratan mengungkapkan, pihaknya masih mengejar komplotan bersenjata itu ke daerah Sipispis. “Komplotan itu diketahui membawa senjata laras panjang. Kami masih melakukan pengejaran. Brimob juga ikut serta dalam pengejaran ini,” kata Robert Haryanto.

Sumber : Kompas.Com

Ipar Presiden Jadi Pangkostrad

Ipar Presiden Jadi Pangkostrad

TEMPO/Subekti
TEMPO Interaktif, Jakarta - Mayor Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Kamis (30/9) di Jakarta ditetapkan sebagai Panglima Kostrad menggantikan Letnan Jenderal TNI Burhanuddin Amin.

Penetapan Pramono Edhie sebagai Pangkostrad didasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor : Kep/ 630/ IX/ 2010 tanggal 27 September 2010 dan Keputusan Panglima TNI Nomor : Kep/ 642/ IX/ 2010 tanggal 28 September 2010.

Berdasar keputusan Panglima TNI itu, juga terdapat 10 orang mutasi antar jabatan dalam pangkat yang sama yaitu Laksamana TNI Agus Suhartono dari Kasal menjadi Pati Mabes TNI, Mayjen TNI Moeldoko dari Pangdam XII/Tpr menjadi Pangdam III/Slw, Mayjen TNI Geerhan Lantara dari Pangdivif-2 Kostrad menjadi Pangdam XII/Tpr, Mayjen TNI Zahari Siregar dari Pati Mabes TNI menjadi Wairjen TNI, Laksda TNI Hari Bowo dari Gubernur AAL menjadi Pangarmabar dan Laksma TNI Sukatno dari Irmat Itjen Kemhan menjadi Danlantamal VII Koarmatim.

Selain itu Marsma TNI Bambang Iswahyudi dari Kapuskodifikasi Kemhan menjadi Kadisada AU, Brigjen TNI Ibrahim Saleh dari Danpusintelad menjadi Kasdam Jaya, Marsda TNI Eddy Suyanto dari Pangkoopsau I menjadi Pangkohanudnas dan Marsda TNI Dede Rusamsi dari Pa Sahli Tk.III Bid Ekkudag Panglima TNI menjadi Pangkoosau I.

Sementara itu, 12 orang yang mengalami promosi jabatan diantaranya Mayjen TNI Laksdya TNI Soeparno dari Wakasal menjadi Kasal, Laksda TNI Marsetio dari Pangarmabar menjadi Wakasal, Brigjen TNI Muhamad Munir dari Kasdam Jaya menjadi Pangdivif-2 Kostrad, Brigjen TNI Leonard dari Kaposwil Papua BIN menjadi Aspam Kasad, Brigjen TNI Sonny ES. Prasetyo dari Dir F Bais TNI menjadi Pa Sahli Tk.III Bid Polkamnas Panglima TNI, Marsma TNI Ida Bagus Putu Dunia dari Pangkosek Hanudnas IV menjadi Pa Sahli Tk III Bid Ekkudag Panglima TNI dan Kolonel Adm Karnoto dari Pabud F-1 Dit F Bais TNI menjadi Dir F Bais TNI.

Selain itu Kolonel Inf Eko Wiratmoko dari Dandenma Mabesad menjadi Danpusintelad, dan Kolonel Pnb Muhammad Syaugi dari Pamen Srena AU menjadi Pangkosek Hanudnas IV.

Sementara satu orang alih status yaitu Laksda TNI Syahrin Abdurrahman dari TA Pengajar Bid Hankam Lemhannas RI menjadi Pati Mabes TNI AL (Alih Status di lingkungan Kementerian Kelautan & Perikanan).
Sumber : Tempointeraktif.Com

Polisi Awasi Latihan Perang Jemaah Tablig

Polisi Awasi Latihan Perang Jemaah Tablig


Liputan6.com, Ambon: Ratusan anggota Jamaah Tablig dicurigai menyelenggarakan latihan perang di Desa Kawa, Kabupaten Maluku Tengah dan Desa Olas, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Polisi kini terus mengawasi gerak-gerik anggota Jamaah Tablig itu, karena kegiatan mereka meresahkan warga setempat. "Sesuai hasil pantauan kami, kegiatan mereka masih didominasi siar agama, tapi sering dibarengi kegiatan latihan perang-perangan," kata Kabid Humas Polda Maluku, AKBP Johanes Huwae di Ambon, Senin (13/9).
Anggota Jamaah Tablig itu awalnya beraktivitas di Kampung Baru, Masohi, Ibu Kota Maluku Tengah. Mereka kemudian pindah ke tempat kegiatan baru di Desa Kawa. Aktitiftas serupa juga berlangsung di desa Olas, yang diduga telah berlangsung lebih dari enam bulan.
"Masyarakat diimbau untuk memberikan informasi yang akurat kepada polisi bila mendapati adanya kegiatan mencurigakan yang dilakukan orang-orang tertentu di dalam hutan secara tersembunyi," kata Johanes Huwae.(ANT/MLA)
Sumber : Yahoo news
                Liputan6.com

Rabu, 29 September 2010

Ledakan di Kalimalang

Ledakan di Kalimalang
Puslabfor dan Densus 88 Selidiki TKP
Kamis, 30 September 2010 | 11:23 WIB

TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Ilustrasi Densus 88 Antiteror
JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Polres Jakarta Timur beserta tim dari Mabes Polri menyelidiki lokasi ledakan di simpang Sumber Arta, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur. Tim disertai tenaga dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) dan anggota Detasemen Khusus Antiteror 88.
"Pihak Puslabfor dan Densus 88 telah sampai di TKP untuk mengolah TKP. Korban berinisial AA berusia 38 tahun saat ini sudah mendapatkan penanganan di RS Kramat Jati," kata Kadiv Humas Polri Irjen Iskandar Hasan di Mabes Polri, Kamis (30/9/2010).
Korban AA mengalami luka di wajah, pipi, dan leher. Korban juga mengalami patah di lengan kanan dan kaki kanan. "Kalau dilihat, ya memang serius lukanya," ungkap Iskandar.
Diberitakan sebelumnya, ledakan berasal dari sebuah paket yang dibawa menggunakan sepeda ontel. Namun, sampai berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum dapat memastikan barang apa yang dibawa di sepeda ontel tersebut. "Kami masih mengumpulkan informasi selengkapnya dari TKP. Mungkin nanti siang sudah dapat datanya," jelas Iskandar.
Sumber : Kompas.com

Pembawa Bahan Peledak di Bekasi Bawa Surat "Pembalasan"

Kabar Jabodetabek

Pembawa Bahan Peledak di Bekasi Bawa Surat "Pembalasan"

Kamis, 30 September 2010 13:33 WIB

Jakarta, (tvOne)
Selain menyita sepeda milik pembawa bahan peledak di Kalimalang, Bekasi, Polres Metro juga mengamankan sejumlah barang bukti lain, termasuk pecahan periuk, paku-paku panjang, paralon, foto-foto, dan dua lembar surat, Kamis (30/9).

Surat tersebut terlihat merupakan hasil tulisan tangan dengan tinta hitam. "Ini adalah pembalasan pada kalian, sekutu-sekutu setan. Membunuh, menghukum mati mujahidin. Kami siap mati untuk agama yang mulia ini."

Polres Metro Bekasi pun akan menyerahkan barang bukti tersebut ke Densus 88 untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Sebelumnya, tim laboratoriun forensik telah melakukan oleh TKP di lokasi ledakan.

Pria pembawa bahan peledak itu sendiri kini masih berada dalam keadaan kritis dan tidak sadarkan diri di RS Polri Kramat Jati. Ia mengalami luka yang cukup parah di bagian kepalan, badan, dan kakinya.

sumber : tv0ne WebNews
              http://jabodetabek.tv0ne.......

Senin, 27 September 2010

Kabar Hukum

BIN Harus Perjelas Pernyataan Kapolri Terkait Jaringan Teroris

Senin, 27 September 2010 06:38 WIB

Jakarta, (tvOne)

Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, meminta Badan Intelijen Negara (BIN) memperjelas penegasan Kapolri terkait indikasi jaringan teroris yang akan mengambil alih pemerintahan negara dengan membangun Daulah Islamiyah.

"Kebenaran yang disampaikan Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri pada Jumat (24/9) di Jakarta itu perlu dikonfirmasi lagi sekaligus diperjelas dengan pernyataan Kepala BIN Jenderal Sutanto, agar tidak sekadar asal pernyataan atau hanya untuk menyenangkan Presiden SBY alias ABS (Asal Bapak Senang)," kata Syahganda di Jakarta, Senin.

Dikatakannya, BIN lebih memiliki kompetensi. Institusi itu dipercaya untuk menyatakan kondisi negara dalam ancaman bahaya, termasuk mengumumkan teroris yang kini berkembang di Indonesia dan berpotensi mengganti kekuasaan sah melalui ideologi tertentu sehingga pemerintahan SBY berada dalam taraf mengkhawatirkan baik poltik maupun keamanan.

Penjelasan BIN, kata Syahganda, diperlukan agar masyarakat tidak dibuat bingung akibat pernyataan Kapolri tersebut, mengingat Kapolri tidak cukup detil menyampaikan sejauh mana kekuatan dimiliki kalangan teroris untuk kemudian mengambil alih negara.

"Apakah informasi Kapolri itu berasal atas data intelijen yang kuat dan akurat, atau cuma untuk konsumsi sensasi publik dan berangkat dari kepanikan sebuah instutusi," kata mantan Direktur Eksekutif for Information and Development Studies (CIDES) itu.

Syahganda sendiri tidak yakin kekuatan teroris di tanah air dapat mengambil alih kekuasaan pemerintah, karena kekuatannya memang tidak terlalu besar, di samping tak memiliki basis persenjataan hebat dan kemampuan bergeraknya pun tidak sebanding sama sekali dengan Tentara Nasional Indonesia.

"Bahkan, dengan polisi saja jauh sekali perbandingannya," ujar Syahganda.

Jaringan kaum teroris, lanjutnya, juga sulit mendapat dukungan dalam upaya menggulingkan pemerintahan, sebab gerakan teroris tidak mendapat kepercayaan rakyat di tempat mana pun, lebih lagi dukungan pihak internasional dalam hal politik dan besarnya pendanaan.

"Teroris juga tidak berhasil menyusup ke dalam TNI dan kepolisian, karenanya kecil sekali kemungkinan mampu mengambil alih kekuasaan," ungkapnya.

Dengan demikian, Syahganda mengharapkan Kapolri bersikap cermat dan tidak menciptakan kecemasan publik dengan pernyataan apa pun, khususnya kaitan teroris di Indonesia yang akan menduduki negara dan mengganti kekuasaan.

"Kita acungi jempol aparat kepolisian berhasil menumpas berbagai kelompok dalam agenda memerangi terorisme, tapi serta merta tak boleh menyatakan negara akan diambil alih para teroris yang jumlahnya tidak banyak itu. Biar hal itu menjadi kewenangan Kepala BIN dalam membuat penjelasan," demikian Syahganda.
Sumber : www.tv0ne.co.id/
               tv0ne Newsticker

Keterlibatan Teroris Dicurigai

Pembobolan ATM
Keterlibatan Teroris Dicurigai
Minggu, 26 September 2010 | 08:01 WIB

Tribunnews.com
MEMBORGOL - Polisi memborgol tersangka perampok yang dibekuk hidup-hidup di Pakan Senayan, Sabtu (25/9/2010).
AGAM, KOMPAS.com - Tiga dari 10 pelaku perampokan mesin anjungan tunai mandiri di Padang, Sumatera Barat, ditembak mati oleh aparat gabungan, Sabtu (25/9). Perampokan itu diduga dilakukan kelompok teroris karena mempunyai modus yang sama dengan perampokan di Medan.
Kepala Bidang Penerangan Umum Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Besar Marwoto Soeto, Sabtu, mengatakan, kemungkinan besar pelaku merupakan kelompok teroris karena memiliki kesamaan modus dengan pelaku Bank CIMB Niaga di Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Ciri-ciri mencolok adalah membawa senjata dan merampok anjungan tunai mandiri (ATM).
Saat ini Kepolisian Daerah (Polda) Sumbar telah berkoordinasi dengan Polda Sumut untuk mencocokkan barang bukti yang ditemukan.
Hingga semalam, Kepala Polda Sumbar Brigadir Jenderal (Pol) Andayono dalam jumpa persnya menyebutkan, empat pelaku ditangkap dalam penyergapan yang dilakukan aparat gabungan. Tiga pelaku tewas ditembak, yaitu satu pelaku di Pariaman dan dua pelaku yang lain di Agam.
Marwoto mengatakan, dengan tertangkapnya sejumlah pelaku, diharapkan pengembangan penyelidikan dapat dilakukan lebih maksimal. Terhadap pelaku yang buron, yaitu dua orang dan kemungkinan terkait dengan jaringan teroris, aparat kepolisian akan menindak tegas.
Petugas gabungan yang memburu para perampok itu terdiri dari satuan Resmob Polda Sumbar dan polisi dari Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Agam, Kota Padang Panjang, dan Kota Bukittinggi. Dalam penyergapan, terjadi dua kontak senjata.
Para pelaku yang tewas dibawa dengan sejumlah ambulans ke RS Bhayangkara, Kota Padang. Demikian pula dengan para pelaku yang di antaranya tampak mengalami luka tembak di bagian paha, kemudian diangkut di bagian belakang minibus polisi.
Rampok ATM
Pada Sabtu menjelang pukul 04.00, 10 anggota komplotan perampok itu diduga melakukan perampokan tiga mesin ATM di kampus Universitas Bung Hatta, Ulakkarang, Kota Padang. Para perampok membawa kabur uang Rp 172 juta di mesin ATM milik Bank Bukopin, Rp 200 juta milik Bank Nagari, dan merusak mesin ATM milik Bank BNI.
Para pelaku menggunakan mesin las dan merusak brankas dengan cara memotong besi penutupnya untuk mengambil uang di dalam brankas, sementara mesin ATM Bank Nagari digondol secara utuh. ”Para pelaku memukul anggota satpam, mengikat dengan tali rafia warna hijau dan plakban hitam, serta menyekap mereka dalam ruang satpam kampus,” kata Amrizal, petugas satpam Universitas Bung Hatta.
Wakil Kapolresta Padang Ajun Komisaris Besar Wisnu Handoko mengatakan, selain ketiga anggota satpam, para pelaku juga menyekap dua warga yang saat itu berada di sekitar lokasi kejadian.
Kepala Bagian Operasi Polresta Padang Komisaris Arief Budiman menambahkan, polisi berhasil mengidentifikasi pelaku perampokan itu berkat rekaman close circuit television (CCTV) yang terdapat dalam bilik ATM Bank Nagari.
Kepala Bidang Humas Polda Sumbar Ajun Komisaris Besar Agus B Kawedar mengatakan, para tersangka disergap di kaki Gunung Singgalang. Mereka berusaha kabur setelah tertangkap dalam razia di wilayah Kabupaten Padang Pariaman.
Dalam penyergapan itu, terjadi dua kontak tembak. Kontak pertama terjadi di jalan poros Kabupaten Padang Pariaman menuju Kabupaten Agam saat polisi melakukan razia. Satu tersangka tewas ditembak dan seorang lagi ditangkap.
Kontak senjata kedua terjadi di kawasan perladangan di kaki Gunung Singgalang yang terletak di Jorong Ladang Nangguak Batu, Nagari Pakan Sinayan, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam. Dua orang tewas ditembak. Empat tersangka ditangkap dalam aksi penyergapan yang dipimpin Kapolda Sumbar Brigjen (Pol) Andayono itu. Lebih dari dua orang masih buron.
Kemarin, ratusan warga di sekitar lokasi penyergapan kedua di kawasan dataran tinggi itu memenuhi jalan di sekitar lokasi kejadian, yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Bukittinggi itu. Sebagian warga mengatakan, kontak senjata mulai terjadi sekitar pukul 13.00.
Dalam penyergapan itu, polisi menemukan dua pucuk senjata genggam merek Beretta yang digunakan komplotan perampok saat melakukan perlawanan. Sejumlah polisi bersenjata laras panjang tampak terus berjaga-jaga di pinggir jalan. Hingga berita ini disusun belum ada keterangan resmi soal identitas para pelaku tersebut.
Dalam aksinya, para pelaku menggunakan kendaraan roda empat. Semalam dua barang bukti ditahan polisi berupa kendaraan minibus Suzuki APV dan Toyota Avanza yang merupakan kendaraan sewaan.
Nyaris bersamaan dengan kontak senjata di Kabupaten Agam, polisi juga melakukan penggerebekan di Korong Pasar Mudik, Nagari Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman. Polisi mencari salah seorang tersangka yang diidentifikasi warga setempat sebagai Wempy atau Khairil. Joni (35), salah seorang warga, mengatakan, penggerebekan dilakukan sekitar pukul 13.30 dengan tembakan peringatan ke udara yang diletuskan sebanyak dua kali oleh anggota polisi.
”Tapi polisi tidak berhasil menangkap siapa-siapa di sini, pintu rumah Wempy terkunci dan tidak ada orang,” kata Joni. Wempy diketahui mengontrak salah satu rumah petak di daerah itu dan telah tinggal bersama istri dan seorang anaknya sekitar setahun terakhir.
Ia menambahkan, sepanjang pengetahuannya, Wempy yang dikenal warga sekitar relatif jarang terlihat di rumahnya itu mengaku bekerja di bidang jasa transportasi. ”Kadang juga suka cerita sedang mengerjakan proyek, tetapi tidak jelas proyeknya apa,” kata Budi, warga yang lain. (INK/FER)
Editor: A. Wisnubrata   |   Sumber : Kompas Cetak 
Sumber. Kompas.com

Sabtu, 25 September 2010

Berantas Teroris

Berantas Teroris
Polri Siap Libatkan Tim Khusus TNI
Jumat, 24 September 2010 | 20:25 WIB

KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Upacara penutupan latihan gabungan TNI dan Polri di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (15/3/2010). Latihan gabungan berlangsung dari tanggal 11-13 Maret 2010 untuk menanggulangi berbagai ancaman aksi terorisme di Indonesia.
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengatakan, pihaknya siap melibatkan pasukan khusus yang beranggotakan gabungan dari tiap angkatan di TNI untuk menangani terorisme. Menurut Kapolri, aksi kelompok teroris sudah menjadi musuh bersama.
Akan ada penindakan pada momen-momen tertentu bila diperlukan.
-- Jenderal Bambang Hendarso Danuri
Dikatakan Kapolri, tim khusus itu akan dikoordinasikan oleh Bandan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Anggota tim berasal dari Detasemen Bravo (Den Bravo-90) Angkatan Udara, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) Angkatan Laut, dan Detasemen Gultor (Den-81 Gurlor) Angkatan Darat.
"Akan ada penindakan pada momen-momen tertentu bila diperlukan. Kita akan bersama-sama pada striking force pada masa akan datang. Ini sudah musuh bersama yang tidak bisa dibiarkan," jelas Kapolri saat jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (24/9/2010).
Seperti diketahui, penanganan teroris selama ini menjadi tanggung jawab Polri dibawah Tim Densus 88 Anti Teror Polri. Namun, selama 10 tahun terakhir, kelompok teroris tidak pernah berhenti melakukan teror di berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 563 teroris ditangkap hidup, 44 terduga teroris tewas, dan 10 teroris tewas bunuh diri sejak tahun 2000.
Akibat aksi teroris dalam 10 tahun terakhir, 298 warga tewas dan 838 lainnya mengalami luka hingga cacat. Selain itu, 19 polisi tewas dan 29 lainnya luka berat. Terakhir, korban dari pihak Polri yakni tiga anggota yang tewas ditembak di Mapolsek Hamparan Perak, Sumatera Utara.
Sumber :
http://nasional.kompas.com/read/2010/09/24/20251216/Polri.Siap.Libatkan.Tim.Khusus.TNI

Kulakan Senjata ke Mindanao

Pasar senjata gerakan Islam radikal ada di selatan Filipina. Dari Mindanao ke Bitung.
Jum'at, 24 September 2010, 22:54 WIB
Yuniawan Wahyu Nugroho, Nezar Patria

Jaringan Jamaah Islamiyah berlatih di Mindanao, Filipina Selatan (Istimewa/ VIVAnews)
VIVAnews--Mau kulakan senjata? Datanglah ke Mindanao. Di wilayah Filipina Selatan inilah para penyelundup senjata asal Indonesia berbelanja. Gampang dapatnya, harganya pun jauh lebih murah.
Pada 2001 misalnya, saat di Indonesia sedang meledak konflik Aceh, harga sepucuk AK 47 ilegal mencapai Rp40 juta. Sementara di Mindanao harganya hanya sekitar Rp5 juta.
Membawanya pun tak sulit. Birokrasi keimigrasian di negeri bertetanga dengan wilayah Sulawesi Utara ini tak begitu rumit. “Dengan rokok Indonesia, dan sejumlah uang Peso kita bisa membawa keluar senjata dari Filipina,” ujar Asep Jaja, seorang anggota Mujahidin Kompak, yang punya pengalaman membeli senjata di sana pada 2001.
Senjata itu diangkut dengan “pamboat” alias kapal laut, dan diselundupkan lewat jalur General Santos-Sangir Talaud-Bitung, Sulawesi Utara.
Kepada VIVAnews, Asep Jaja menuturkan, jalur inilah dimanfaatkan para penyelundup senjata dari Mindanao dulu ke sejumlah wilayah konflik di Indonesia. Misalnya, konflik panas di Ambon dan Poso dulu, membeuat membuat jalur ini begitu hidup. “Mindanao adalah surga senjata,” ujar Asep Jaja, beberapa waktu lalu. Dia sempat mencari senjata di sana untuk kebutuhan para pelaku jihad di Ambon dan Poso.
“Senjata-senjata yang kita pakai di Ambon dan Poso sebagian kita beli dari Mindanao,” ujar Asep alias Aji. Menurutnya di sana lah kelompok jihad asal Indonesia seperti Jamaah Islamiyah (JI), Mujahidin Kompak, Laskar Jundullah, Darul Islam wilayah Banten berbelanja. Bukan hanya dari kelompok putih (sebutan untuk Islam ketika konflik Ambon terjadi), kelompok merah (kelompok Kristen) pun membeli senjata dari Mindanao.
Menurutnya, kelompok merah yang juga disebutnya sebagai kelompok Nasrani ini juga “kulakan” senjata dari Mindanao. “Saya pernah memergoki orang Ambon beragama Nasrani sedang belanja senjata-senjata dari berbagai jenis di General Santos, Filipina. Mereka memakai broker orang General Santos yang beragama Nasrani,” katanya.
Lebih murah
General Santos adalah kota paling selatan di Pulau Mindanao, di satu pulau provinsi paling selatan di Filipina. Mindanao sendiri berpenduduk sekitar 19 juta jiwa, dan 5 juta di antaranya Muslim.

Di Mindanao, berserak banyak jenis senjata. Praktik korup aparat keamanan Filipina membuat perdagangan senjata ilegal mulus. Ditambah lagi warga sipil yang membutuhkan uang, harga senjata pun jadi relatif murah. “Sepucuk M16 buatan Amerika Serikat (AS) bisa dibeli seharga 30 ribu Peso atau sekitar Rp6 juta hingga 45 ribu Peso atau sekitar Rp9 juta, tergantung kondisi senjata. Harga ini sudah termasuk bonus 8 buah magazin dan rompinya, “ ujar Asep.
Sementara untuk harga M16 buatan lokal harganya lebih rendah. Dua tahun lalu, kontributor VIVAnews yang berkunjung ke Mindanao sempat ditawari M 16 made in Filipina seharga 25 ribu Peso, ditambah bonus 8 magazine dan rompi. Sementara itu harga M60 sekitar 60 ribu Peso atau sekitar Rp 12 juta. Itu sudah termasuk 2 buah rantai beserta pelurunya.
Lain lagi AK 47. Harganya lebih murah dibanding M16 buatan AS. Dengan uang sekitar 25 ribu Peso hingga–35 ribu Peso, atau sekitar  Rp 5 juta hingga Rp7 juta kita bisa mendapat sepucuk AK 47. “Harganya murah karena amunisinya jauh lebih mahal,” ujar Asep yang kini ditahan di Penjara Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.  Dia dihukum karena terlibat kasus penyerangan pos Brimob di Loki, Pulau Seram, Ambon, pada 2004.

Sebagai perbandingan, Asep melanjutkan, amunisi M16 seharga 8-10 Peso (sekitar 1.600 sampai Rp 2.000) perbutir sedangkan amunisi AK 47 harganya 70 Peso (atau sekitar Rp 14 ribu) per butir. Tingginya harga disebabkan tak ada perusahaan lokal memproduksi amunisi AK 47. Berbeda dengan M16. Peluru dan senjatanya juga diproduksi oleh perusahaan lokal Filipina.

Lebih jauh Asep menjelaskan, ada jalan tikus membeli senjata dari militer Filipina. Pertama, calon pembeli harus mengontak seorang broker. Imbalannya 500 Peso, atau Rp100 ribu per satu pucuk senjata. Menurutnya  kelompok Mujahidin Kompak dan Laskar Jundullah kerap membeli senjata dari pihak militer Filipina. Mereka membeli di daerah General Santos, Panimbang serta Davao. Kelompok JI itu juga membeli langsung dari masyarakat yang sedang membutuhkan uang.
Dus ikan
Asep bercerita, salah satu aktivis jihad yang piawai menyelundupkan senjata adalah Surjadi Masoed alias Umar. Menurut pengakuan aktivis Kompak, dan Laskar Jundullah yang ditangkap pada 2003 di Manado akibat kasus perampokan di Manado dan Bom Makassar pada Desember 2002 kepada polisi, dua orang JI yang ditugaskan mengumpulkan senjata adalah Usamah, anggota JI asal Indonesia yang menetap di Mindanao. Lainnya, adalah almarhum Faturrahman Al Ghozi, yang terlibat kasus Bom Kedutaan Filipina di Jakarta pada Agustus 2000.
Asep juga mengaku membantu membeli senjata bagi kelompok Darul Islam (DI) wilayah Banten pimpinan Jaja alias Akdam alias Pura Sudarma. Jaja alias Akdam ini tewas ditembak di Aceh pada Maret 2010 lalu, karena berlatih militer di hutan Jalin, Jantho, Aceh Besar.

Lantas bagaimana jalur senjata itu masuk ke Indonesia? Dalam video pengakuan Suryadi Masoed kepada Polda Sulawesi Utara yang sempat dilihat wartawan VIVAnews serta dari Berita Acara Pemeriksaan kasus Bom Makassar pada 2002,  dia menceritakan begini:

Pada Maret 2000, dia berangkat ke Filipina. Dia berangkat ke sana karena ada permintaan menjemput dua orang aktivis DI Banten. Salah satunya Iwan Darmawan alias Rois, pelaku pemboman Kedutaan Australia pada 2004. Rois saat itu berada di Filipina, dia ikut pelatihan militer. Rois dan temannya terjebak dalam peperangan di Camp Abu Bakar yang diserang oleh tentara Filipina.
Menurut Suryadi, selain menjemput kedua orang itu, dia juga ditugaskan membeli 15 pucuk senjata, masing-masing 1 pucuk AK47, 12 pucuk M16 eks Amerika, dan 2 pucuk senjata M16 buatan lokal Filipina.

Setelah mendapat senjata, pada Agustus 2000 , dia berhasil menemukan Rois dan kawannya, Abdullah. Senjata disimpan lebih dulu di Cotabato. Setelah itu mereka berangkat ke General Santos. Semua senjata dibungkus dalam dus ikan tuna.
Mereka lalu berangkat naik KM Daya Sakti dari General Santos menuju di Bitung. Dengan mudah mereka lolos dari imigrasi Filipina karena Suryadi berhasil menyogok petugas. Aparat keamanan itu diberi uang Peso. Juga rokok Indonesia yang cukup digemari di General Santos.

Di pelabuhan Bitung, Suryadi dan kawan-kawan menenteng dus berisi senjata ke luar dari kapal. Ketika menghadapi pemeriksaan imigrasi, Suryadi bilang ke petugas imigrasi dus itu berisi ikan tuna, sembari menyelipkan uang sebesar Rp3 juta kepada petugas yang memeriksa.

Suryadi dan kawan-kawan pun melewati pemeriksaan imigrasi, tanpa melalui pemeriksaan atas-atas dus senjata itu. Di Bitung, Suryadi berpisah dengan teman-temannya. Dia melanjutkan perjalanan ke Makassar, dengan membawa lima belas senjata itu menggunakan KM Lambelu.
Di Makassar senjata itu kemudian diserahkan kepada Agus Dwikarna, pimpinan Kompak Makassar sekaligus tokoh Laskar Jundullah yang kini ditahan di Filipina. Dari sinilah kemudian senjata itu didistribusikan ke Ambon dan Poso.
Menyerang istana
Belakangan, setelah Suryadi Masoed tertangkap, baik JI maupun Mujahidin Kompak mencari jalur alternatif lainnya. Di antaranya mereka sempat menggunakan jalur General Santos -Bitung-Kepulauan Sanana-Ambon. Senjata dititipkan kepada para nelayan Filipina yang biasa mencari ikan Tuna hingga ke laut di sekitar Maluku dan dijemput di Ambon. 

Suryadi Masoed sempat tertangkap. Dia dihukum delapan tahun penjara, dan baru bebas pada 2009. Namun penjara tak membuat dirinya kapok.
Abdullah Sunata, aktivis Kompak, yang terlibat kasus pelatihan terorisme di Aceh, dan Juni lalu tertangkap di Klaten, berhasil membujuk Suryadi untuk pergi ke Mindanao mengambil 21 senjata termasuk pelontar granat.
Namun rencana itu gagal, pada Mei 2010 Suryadi kembali diciduk polisi di Bekasi. Dari pengakuannya ke polisi, dia mengatakan senjata itu akan digunakan untuk menyerang Istana Negara pada 17 Agustus 2010.

Kepada VIVAnews, juru bicara Mabes Polri Irjen Iskandar Hasan membenarkan, senjata ilegal awalnya memang masuk dari Filipna Selatan melalui Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur. Sedangkan dari wilayah barat, melalui Medan dan Aceh.
“Masuknya dari pelabuhan-pelabuhan tikus, bukan pelabuhan resmi. Itu lah jalur  yang dijadikan pintu masuk. Setelah masuk langsung menyebar sampai di mana-mana. Nah, itu tempat-tempat yang kita kategorikan menjadi tempat masuknya senjata ilegal,” ujar Iskandar, Kamis 24 September 2010.

Laporan Solahudin | Jakarta
• VIVAnews
Sumber : http://sorot.vivanews.com/news/read/179464-jejak-gerilya-filipina-ke-ambon

Belanja Senjata ke Phuket

Belanja Senjata ke Phuket
Transaksi perdagangan senjata di Selat Malaka. Koneksi mafia Thailand ke Aceh.
Jum'at, 24 September 2010, 22:49 WIB
Nezar Patria

Senjata dan peluru yang diduga milik teroris di Aceh (Antara/ Irwansyah Putra)
VIVAnews--Lelaki itu bertubuh gempal, dan bermata tajam. Kulitnya legam. Air mukanya keras, seakan merekam jejak konflik yang panjang.  Dia berasal dari satu kecamatan di Aceh Timur.  Di tubuhnya, pada bagian dada dan bahu, ada bekas luka tembak. “Masih ada sejumlah peluru berdiam di tubuh saya,” ujarnya kepada VIVAnews, di Bireuen, Aceh Utara, beberapa pekan lalu.
Dia adalah bekas prajurit Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Setelah perjanjian damai Helsinki diteken Agustus 2005, konflik bersenjata pemerintah dan GAM berakhir. Dia lalu bergabung dengan Komite Peralihan Aceh (KPA), wadah bekas kombatan seperti disyaratkan oleh perjanjian damai itu. Untuk keterangan berikut, lelaki itu minta namanya disamarkan, dan dipanggil sebagai Banta.
Pertemuan dengan Banta adalah penting untuk menguak kisah senjata di Tanah Rencong. Di tempat terpisah, masih di kawasan Bireuen, VIVAnews juga mewawancarai bekas kombatan GAM yang lain. Untuk informasi berikut ini, dua lelaki itu minta disebut dengan nama Salim, dan Agam.
Seperti ramai diberitakan di media, polisi menduga senjata dipakai para perampok Bank CIMB Medan pada Agustus lalu, antara lain berasal dari Aceh. Begitu juga senjata para penyerang Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang. “Senjata itu bisa diperoleh dari daerah bekas konflik seperti Aceh,” ujar Kapolda Sumatera Utara, Inspektur Jenderal Polisi Oegroseno di Medan, pekan lalu.
Tak ada yang tahu berapa sebetulnya jumlah senjata api di Aceh pada masa konflik. Pada saat MoU Helsinki itu diteken, GAM sepakat menghancurkan 840 pucuk senjata. Makna penghancuran senjata itu adalah bahwa dia tak absah lagi digunakan sebagai alasan politik. Maka, meskipun diduga di Aceh masih banyak beredar senjata bekas konflik, penggunanya akan dianggap kriminal.
Lalu, dari mana senjata pada masa konflik di Aceh itu berasal?
Banta mengisahkan GAM dulu kesulitan mendapatkan senjata. Pada 1980an, sejumlah kombatan memakai senjata tua peninggalan pemberontakan Darul Islam. Awal gerakan itu berdiri pada 1976, mereka memang tak terlalu mengandalkan senjata.  Soal ini, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf punya cerita. “Pada awalnya Hasan Tiro mendirikan GAM, dia lebih banyak mengutamakan propaganda,” ujar Irwandi, beberapa pekan lalu.
Menurut Irwandi Yusuf, yang juga bekas juru bicara pengatur strategi gerakan pemberontakan bersenjata itu,  kebutuhan senjata di Aceh meningkat sejak akhir 1999. Terutama, setelah banyak anak muda bergabung dengan gerakan itu. Senjata pun mulai dipasok sekitar 1999. “Itu tampak dari berbagai macam acara “peusijeuk” (tepung tawar) senjata di berbagai wilayah Aceh,” Irwandi menambahkan.
Baru pada tahun 2001, kata Irwandi, ketika saluran pembelian di luar negeri, dan dalam negeri sudah diperoleh, senjata mulai banyak beredar.

Mafia
Banta lalu berkisah tentang dua jalur itu. Dari dalam negeri, dia mengaku GAM di wilayahnya pernah membeli senjata dengan cara memesan dari Jakarta. “Barang itu dibeli dari anggota TNI,” ujarnya. Persisnya, kata dia, mereka tak langsung kontak dengan apa yang mereka sebut aparat TNI “nakal” itu. Tapi lewat jalur “mafia”, yang bisa mengakses jalur senjata ilegal. Tak ada penjelasan lebih lanjut tentang mafia ini. Salim dan Agam hanya menyebut grup itu bekerja “demi bisnis, dan bukan ideologis”.
Terbukanya akses pembelian senjata, baik dari dalam maupun luar negeri seperti dari Thailand, membuat harga senjata turun di Aceh. Sebelumnya, kata Banta, sepucuk AK-47 harganya Rp 30-40 juta. Setelah pasokan dari berbagai akses itu membanjiri “pasar” di Aceh, harga senjata dan peluru pun turun. Tapi semua terjadi pada masa 2000-2003, sebelum Darurat Militer diberlakukan di Aceh. “Sepucuk AK-47 harganya turun jadi antara Rp16-17 juta,” ujar Banta.
Harga peluru juga melorot. Tapi, peluru buatan Pindad tetap lebih mahal ketimbang yang diselundupkan dari Thailand. Peluru asal Thailand kerapkali stok lama eks perang Kamboja. Sedangkan Pindad lebih baru.
Kedua, peluru eks Pindad lebih sulit didapatkan. “Peluru Pindad, harganya Rp5.000 per butir untuk AK-47. Itu sebelum Darurat Militer,” ujar Banta, dan dibenarkan Salim serta Agam. Dari Thailand, mereka juga bisa membeli peluru eks Kamboja. Harganya Rp3.500 per butir.

Dari dalam negeri, ada pembelian yang diingat Salim dan Agam berupa 15.000 butir peluru AK 47, dihargai Rp12.000 per butir, dan 103 peluru GLM seharga Rp500.000 per butir. “Kami membeli 100 peluru GLM, dan 3 butir peluru GLM adalah bonus dari pembelian itu”, ujar Salim. Dia menegaskan pembelian dilakukan lewat jalur ‘mafia’. 

Lalu bagaimana barang itu dibawa ke Aceh? Banta bercerita, peluru itu dibawa dengan mobil Colt, sedan, atau juga Kijang. Caranya, jok mobil dikupas. Kadangkala peluru disembunyikan  di langit- langit mobil. Juga pada pintu, dan bagian lain. Pada bagian dikupas itu, lalu diselipkan kotak-kotak kecil peluru. Pekerjaan dilakukan rapi, nyaris tak berbekas. “Kita bisa menyelipkan peluru sampai 7.000 butir di badan mobil,” ujar Salim.
Setelah Darurat Militer berlaku, harga peluru eks Pindad melonjak menjadi Rp12.000 per butir.
Asal usul peluru ini juga menarik. Anggota GAM itu mengaku mendapatkan peluru dari para tempat latihan militer dan polisi. Caranya, ada pengumpul yang bekerja membeli sisa peluru latihan atau operasi. “Kalau prajurit batalyon punya ribuan peluru sisa, maka yang dikumpulkan akan banyak,” ujar Salim.
Tapi, pengakuan GAM itu diragukan Kepala Dinas Penerangan Umum TNI Kolonel TNI Prakoso. “Tak segampang itu. Semua peluru kan dicatat. Juga senjata yang ada di gudang, atau yang sedang digunakan operasi. Di jajaran TNI, pengawasan senjata itu ketat,” ujar Prakoso kepada VIVAnews di Mabes TNI Cilangkap, Kamis 23 September 2010.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio mengatakan tak ada data soal kasus penjualan senjata atau peluru dari anggota TNI ke kombatan GAM pada masa konflik dulu itu. “Anggota TNI punya disiplin, dan tak akan menjual peluru atau senjata kepada GAM,” ujar Wayan, kepada VIVAnews Rabu 22 September 2010. Dia mengatakan tak gampang membawa senjata dari gudang TNI. “Semua tercatat dan diawasi ketat”.
Selain sumber ‘mafia’ senjata ilegal di Jakarta, para pemberontak dari ujung pulau Sumatera itu punya jalur lain yang lebih basah.

“The Phuket Connection”
Pembelian paling spektakuler adalah lewat Thailand. GAM, kata Banta, membentuk tim khusus untuk pembelian melintasi Selat Malaka ini. Menurut Banta, dalam soal senjata GAM tak berhubungan dengan PULO, atau jaringan pemberontak di Thailand Selatan. “Kami berurusan langsung dengan sumbernya,” ujarnya. Sumber dimaksud adalah para mafia senjata di negeri gajah itu.
Selama 2000-2003, penyelundupan senjata ke Aceh memang kencang (lihat Jalur Tikus Senjata Ilegal). Pada masa itu, ujar Banta, sulit dihitung berapa banyak senjata berhasil dimasukkan ke Aceh lewat pantai Timur. Yang jelas, kata Banta, GAM pernah memesan 5000 pucuk pada awal 2000. Tapi, pembelian itu tak selalu mulus. Persaingan antar mafia Thailand membuat pembelian tak selalu lancar.
Para pemimpin GAM di Aceh Timur, kata Banta, lalu membuka jalur khusus, dikenal “jalur Phuket”, merujuk salah satu propinsi di Thailand. Setelah “Phuket Connection” terbuka, maka pengiriman senjata berlangsung mulus. Sekali pengapalan, bisa masuk sekitar 100-200 pucuk senjata, tergantung besarnya perahu. “Kami memakai boat dengan mesin 40 PK,” ujar Banta.
Memang dari segi geografis, dari Aceh sangat mudah menembus Thailand lewat laut. Banta bercerita, dia naik perahu dari Kuala Idi, dan hanya dalam tempo 8 jam bisa tiba di Phuket, maupun Songkhla di Thailand Selatan. Di atas peta, dari perairan Aceh Timur,  Phuket dan Songkhla sama jaraknya kalau ditarik dari Kuala Idi. Dari Kuala Idi jarak itu sekitar 200 mil, atau kurang lebih 300 kilometer menyeberangi Selat Malaka.
Informasi dari Banta itu dicek silang ke salah seorang bekas petinggi GAM di Banda Aceh, Zakaria Saman.  Zakaria, 60 tahun, dikenal sebagai “menteri pertahanan” gerakan itu. Dia lama berdiam di Bangkok, dengan nama alias Karim Bangkok. Di Thailand, kata Zakaria,  pada waktu itu memang ada jalur membeli senjata. “Asal ada uang, ada barang,” ujarnya. Tapi dia menolak menyebut detil pembelian. Zakaria pernah tinggal di Thailand hampir sepuluh tahun. Sejumlah sumber mengatakan dia punya akses luas jalur senjata di sana.
Cerita lebih lengkap diberikan oleh Banta. Menurut dia, senjata yang dijual di Phuket itu berasal dari produksi berbagai negara. Ada AK-56 eks China, lalu ada juga AK-47 eks Kamboja, dan sejumlah jenis AK produksi Korea Utara. “Yang eks-Kamboja lebih murah,” ujarnya. Harga di sana sekitar Rp8 juta per pucuk untuk AK-47 yang baru.
Hubungan dengan mafia Phuket, dan juga Songkhla, berjalan kerap. Banta tak bercerita banyak tentang Songkhla. Tapi, menurut dia, di Phuket, para mafia itu menjual senjata dengan cara unik.  Misalnya, mereka sempat melawat ke sebuah kedai. Dari luar, kedai itu menjual barang dagangan biasa. Kadangkala menyaru kedai penjual ayam.
Di bagian dalam, setelah melewati beberapa pintu, baru disuguhkan senjata yang hendak dijual. Banta mengaku beberapa kali mendapat tugas membeli senjata ke Phuket. Dia bahkan sempat menunggu beberapa waktu, dan tinggal di ruko yang disiapkan GAM di Phuket. Sesekali Banta memamerkan kepada VIVAnews percakapan sehari-hari dalam bahasa Thai.
Banta dan kelompoknya mengaku berhasil membangun jaringan pembelian di Phuket. Mereka disambut baik, dan dijamu oleh mafia di sana. Tetapi, ada kesulitan lain bagi orang-orang Aceh yang dikenal muslim itu. Di Phuket, makanan halal sulit dicari. Itu sebabnya mereka membuka semacam pos di satu ruko di Phuket. “Sejak ada ruko itu, problem makanan teratasi. Kami memasak sendiri, dan berkoordinasi di tempat itu,” ujar Banta. Mereka juga tidur di sana.
Ditukar trenggiling
Tak selalu berbelanja di Phuket memakai duit. Pernah satu kali, ketika GAM kesulitan uang, sementara kebutuhan senjata mendesak, mereka menangkap trenggiling (Manis javanica). Mamalia berkulit sisik keras itu ternyata sangat berharga bagi para mafia Thai. “Seekor trenggiling dihargai 5 pucuk senjata AK 47 eks Kamboja,” ujar Banta.
Karena itu, GAM pernah meminta warga Peureulak mencari trenggiling (Bahasa Aceh disebut “tayiling”). Setiap kampung diminta berburu hewan ini untuk diserahkan kepada Panglima Wilayah GAM setempat.
Tapi trenggiling adalah binatang langka, dan masuk hewan dilindungi. Populasinya makin menipis, dan sulit mencarinya.  “Setelah menunggu beberapa hari, kami hanya mendapat 5 ekor trenggiling,” ujar Banta tertawa. Dia pun membawa trenggiling itu ke Phuket, ditukarkan dengan senjata. Tapi karena sulit mencarinya, mereka jarang bisa membawa “oleh-oleh” itu ke Phuket.
Tak begitu jelas mengapa trenggiling begitu disukai oleh mafia Thai. Menurut Banta, orang-orang Thai itu suka meminum darah segar trenggiling. Darah dan daging hewan itu dipercaya membawa khasiat tertentu bagi kesehatan. Bagi mereka, trenggiling adalah hidangan sangat mahal, serta punya makna ritual.
Sudah musnah
Berapa banyak senjata yang dibeli oleh GAM? Irwandi Yusuf mengatakan ada dua jalur pengadaan senjata di GAM. Pertama di tingkat “nasional”, lalu ada di wilayah. “Nasional” merujuk pada pusat komando GAM. Awalnya, pusat inilah membeli semua senjata. Tapi karena kerap terlambat, maka wilayah juga melakukan pembelian sendiri. “Kalau yang beli pusat, tak sulit dikontrol. Kita tahu jumlahnya”, ujar dia.
Yang sulit, kata Irwandi, adalah pembelian jalur pribadi. Kadangkala GAM melakukan pengecekan. “Pembelian yang tak pernah dilaporkan ke GAM akan disita,” ujarnya. Ada juga membeli dengan uang pribadi, tapi  kemudian menyerahkan kepada pusat. Senjata yang dibeli di Thailand, kata Irwandi, umumnya adalah sisa konflik pada era Pol Pot di Kamboja. “Senjata itu ditanam, lalu mereka jual lagi, dan ditampung di Thailand”.
Setelah damai, soal senjata sisa konflik ini tentu menjadi soal. Meskipun secara resmi sudah dihancurkan, sejumlah warga masih ada yang menyimpannya. “Itu sebabnya saya minta mereka serahkan baik-baik. Jika himbauan ini tak didengar, maka polisi akan menangkap siapa pun yang menyimpannya,” ujar Irwandi.
Dia mengaku telah berkoordinasi dengan Polda Aceh dalam soal menyisir senjata ini. “Kami pernah mengumpulkan hampir 400 pucuk senjata, termasuk yang rakitan,” ujar Irwandi.
Sampai akhir Agustus 2010, kata Juru bicara Polda Aceh, Kombes Polisi Farid Ahmad, senjata yang diserahkan masyarakat satu tahun terakhir adalah 39 pucuk. Rata-rata senjata standar TNI atau Polri. Antara lain, 4 pucuk M 16, 5 AK-47, 19 pucuk AK-56, dan 2 pucuk SS1. Sementara laras pendek, ada 4 pucuk revolver, 5 pistol otomatis, dan 4 granat. Senjata api rakitan rakitan ada 271 pucuk. “Semua sudah kami musnahkan,” ujar Farid.
Tak jelas apakah ada sejumlah senjata bekas konflik itu jatuh ke tangan mereka yang berlatih terorisme di hutan Jalin, Jantho, Aceh Besar, Maret 2010 lalu, dan mengaku sebagai "Al Qaidah Aceh". Yang pasti, kata Irwandi Yusuf,  bekas anggota GAM tak ada yang terlibat dalam gerakan teror itu. "Teroris tak bisa hidup di Aceh," ujarnya beberapa waktu lalu.
Laporan Muhammad Riza | Banda Aceh
• VIVAnews
Sumber :
http://sorot.vivanews.com/news/read/179461-belanja-senjata-ke-mafia-phuket

Jumat, 24 September 2010

Presiden Berhentikan Hendarman Supanji

Presiden Berhentikan Hendarman Supanji

Presiden Berhentikan Hendarman Supanji
Jakarta (ANTARA) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) pemberhentian dengan hormat Hendarman Supanji sebagai Jaksa Agung.
Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu, mengatakanm Keppres bernomor 104/P/2010 itu dikeluarkan Presiden pada Jumat 24 September 2010.
"Beliau memutuskan memberhentikan dengan hormat Hendarman Supanji sebagai Jaksa Agung dan selanjutnya Presiden menugaskan Wakil Jaksa Agung untuk melaksanakan tugas dan wewenang jaksa agung hingga terpilihnya jaksa agung definitif dalam waktu dekat," tutur Sudi.
Dengan demikian, sejak 24 September 2010, Hendarman resmi memasuki masa pensiun dan tidak lagi berkantor di Gedung Bundar. Wakil Jaksa Agung Darmono akan melaksanakan tugas-tugas jaksa agung sampai Presiden mengangkat jaksa agung yang baru.
Sudi mengatakan proses pemberhentian Hendarman dilakukan untuk menghormati dan melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dikeluarkan pada 22 September 2010 dan agar status Hendarman tidak lagi menimbulkan polemik.
"Jadi ada satu hari Presiden memproses itu untuk menghormati putusan MK yang dikeluarkan 22 September kemarin," ujar Sudi.
Ia menjelaskan proses penunjukan jaksa agung yang baru saat ini belum selesai karena Presiden Yudhoyono masih mencari masukan untuk mencari calon terbaik.
Namun Staf Khusus Kepresidenan Bidang Hukum Denny Indrayana memastikan penunjukan jaksa agung baru oleh Presiden Yudhoyono akan dilakukan dalam waktu dekat.
Sumber:
http://id.news.yahoo.com/antr/20100925/tpl-presiden-berhentikan-hendarman-supan-cc08abe.html 

Perampokan Bank CIMB Niaga Medan Terkait Terorisme

Kabar Hukum

Senin, 20 September 2010 21:37 WIB

Medan, (tvOne)

Pelaku perampokan Bank CIMB Niaga di Medan pada 18 Agustus 2010 lalu adalah bagian dari jaringan terorisme. "Kasus ini tidak terlepas dari latihan militer di Aceh dan Bandung. Ini juga berkaitan dengan pengembangan kasus terorisme yang diungkap di Bandung," kata Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri dalam jumpa pers di Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Senin (20/9).

Dalam pemaparannya, Kapolri menegaskan para perampok di Medan masih satu kelompok dengan pelaku terorisme yang melakukan pelatihan di Aceh dan Jawa Barat. Jaringan ini bahkan tidak terputus dengan aksi perampokan atas sejumlah bank di Sumatera Utara yang terjadi sebelumnya. Tiga bulan terakhir, sebelum CIMB Niaga dirampok, memang terjadi perampokan di Bank Sumatera Utara, Bank BRI dan sebuah tempat penukaran uang di Medan dan sekitarnya.

Seperti diketahui, para perampok Bank CIMB Niaga ini berhasil membawa lari uang Rp400 juta hingga Rp 1,5 miliar. Tak hanya itu mereka menembak mati anggota Brimob, Briptu Manuel Simanjuntak (28 tahun) dan merampas M-16 milik Manuel. Dua satpam juga kritis akibat ditembus peluru.

Sumber
http://hukum.tvone.co.id/berita/view/43777/2010/09/20/polri_perampokan_bank_cimb_niaga_medan_terkait_terorisme/

Kapolri: Teroris Mendatangkan WNA Untuk Lakukan Teror

Kapolri: Teroris Mendatangkan WNA Untuk Lakukan Teror


Kapolri: Teroris Mendatangkan WNA Untuk Lakukan Teror
Jakarta (ANTARA) - Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri, mengatakan kelompok teroris merencanakan akan mendatangkan warga negara asing yang berasal dari Afghanistan, Pakistan, dan Irak untuk melakukan tindakan teror.
"Mujahid dari Afghanistan, Pakistan, dan Irak akan melakukan gerilya kota, hutan, dan serangan teror yang makin intensif, kemudian mengambil alih kekuasaan negara," kata Kapolri di Jakarta, Jumat.
Teror yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terlatih bersenjata dan memiliki doktrin siap mati syahid tersebut dilakukan agar masyarakat panik, kemudian secara terbuka melakukan serangan ke pos-pos TNI atau Polri yang dianggap lengah, ujarnya.
"Bila semua rangkaian teror sudah dilakukan, kemudian mendelegetimasi wibawa pemerintah, selanjutnya merekrut beberapa warga secara luas untuk mendapat dukungan kepada publik," kata Bambang Hendarso.
Kapolri mengatakan segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penangganan Masalah Teror. Satgas ini melibatkan Badan Nasional Penangganan Teror (BNPT) dan TNI di beberapa daerah.
"Satgas yang dibentuk akan berkoordinasi dengan BNPT, termasuk TNI bila ada penindakan pada waktu-waktu tertentu kita akan melibatkan `Striteing Force` dari Denjaka (Detasemen Jala Mengkara), Den Bravo dan Penanggulangan Teror (Gultor) dari Kopasus. Karena ke depan, terorisme adalah musuh bersama tidak bisa dibiarkan," katanya.
Bambang mengatakan para pelaku teror di Indonesia sudah terlatih militer bahkan banyak yang lulusan latihan militer di Afghanistan, Pakistan, dan Mindanao (Filipina), kemudian pada kamp-kamp latihan lokal seperti di Poso dan Maluku serta wilayah lainnya.
"Para pelaku teror dalam pelatihan diajari penyerangan dengan menggunakan berbagai jenis senjata api, membuat bom, taktik menyerang dan lain-lain. Selain itu, mereka memiliki senjata api dan amunisi," katanya.
Para teroris menganggap Polri sebagai antek thoghut (setan atau kafir, red.) sehingga tidak mau ditangkap gratis dan mendapat pahala jika dapat membunuh polisi, kata Kapolri.
Dalam kurun waktu 2000-2010 jumlah anggota Polri yang tewas dalam operasi pemberantasan teroris di tanah air sebanyak 19 orang meninggal dunia dan 29 orang luka-luka pada tujuh kota, yakni Ambon, Poso, Aceh, Jawa Tengah, Makassar, Papua, dan Medan.
Sumber :
http://id.news.yahoo.com/antr/20100924/tpl-kapolri-teroris-mendatangkan-wna-unt-cc08abe.html

Rabu, 22 September 2010

Analisa ...

Pergeseran  Pola Terorisme
Kamis, 23 September 2010 | 09:53 WIB

TRIBUNNEWS.COM/BIAN HARNANSA
Satu dari tiga orang terduga perampok PT Bank CIMB Niaga, Medan terkait kasus teroris dengan pengawalan ketat anggota Densus 88/AT Mabes Polri dan Satbrimob Polda Metro Jaya tiba di Rumah Sakit Polri Soekanto. Jakarta, Rabu (22/9/2010). Ketiganya langsung dimasukan ke Ruang Tembesu atau ruang perawatan tahanan. Ruangan tersebut tidak jauh dari kamar jenazah.
 Oleh Noor Huda Ismail*
KOMPAS.com — Siapa dan apa motif di balik penyerangan yang membabi buta di Markas Kepolisian Sektor Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, hingga kemarin malam masih diselidiki pihak kepolisian.
Namun, imajinasi publik cenderung menghakimi kelompok tertentu, terutama jaringan teroris yang menurut polisi sekarang ini dikontrol oleh anak pensiunan kolonel TNI, Abu Tholut (49).
Fakta di lapangan juga menunjukkan adanya friksi dalam tubuh internal kepolisian dan kecemburan yang tinggi dari pihak militer—yang notabene juga punya akses senjata—terhadap peran polisi yang berlebihan. Polisi menempati pos-pos strategis di pemerintahan yang berimbas pada perebutan ”proyek” keamanan di beberapa sektor bisnis di masyarakat.
Dengan mudah, pihak kepolisian memang akan merujuk rekam jejak kelompok teroris, seperti kelompok Abu Tholut. Bagi kelompok ini, menjadikan polisi target serangan bukanlah pola baru.
Misalnya, pada tahun 2005, sempalan anggota Kompak di bawah komando Asep Djaja menyerang pos brimob di Loki, Seram. Dalam wawancara, Asep menjelaskan bahwa aksi mereka didasari keinginan untuk qishos (membalas) aparat kepolisian yang, menurut dia, lebih berpihak kepada kelompok lawan mereka ketika konflik komunal di Ambon terjadi.
Yuli Darsono, mantan desertir militer yang diyakini sebagai aktor utama di balik penyerangan pos polisi di daerah Purworejo tahun ini, adalah rekrutan Aman Abdurrahman di penjara Sukamiskin.
Aman terlibat dalam insiden bom Cimanggis tahun 2004. Setelah bebas, ia kembali ditangkap Densus 88 karena diduga terlibat dalam pelatihan militer di Aceh. Doktrin Aman tentang takfir (mengafirkan) para aparat negara menjadi pemicu Yuli beraksi.
Tiga aspek
Dengan demikian, paling tidak ada tiga aspek yang dapat dibaca dari peristiwa yang terjadi di Mapolsek Hamparan Perak. Pertama, ada pergeseran masalah target sasaran serang dari far enemy (musuh jauh), yaitu simbol-simbol kepentingan Amerika dan sekutunya, seperti kedutaan asing, hotel, bar, kafe, dan mal, ke near enemy (musuh dekat) yang lebih tertuju kepada aparat kepolisian, terutama anggota Densus 88.
Kenapa kemudian polisi dijadikan musuh, ada tiga alasan. Pertama, mereka perlu dihukum karena menjadi thoghut (penguasa yang lalim) karena termasuk aparat pemerintahan yang dianggap sekuler.
Kedua, Densus 88 dituding sebagai antek-antek asing, terutama Amerika dan Australia, yang telah melatih dan mendanai kepolisian. Bagi kelompok ini, kedua negara asing itu dianggap hanya mau membantu jika kepentingan usaha mereka dilindungi di Indonesia.
Ketiga, Densus 88 diyakini telah melanggar HAM karena melakukan extrajudicial killing dan penyiksaan di luar batas kemanusiaan kepada tersangka tindak pidana terorisme terhadap Qotadah alias Abu Muhlisun yang ditangkap bersama Bejo (terlibat dalam bom Australia 2004) di Kartasura, Jawa Tengah. Mereka sampai hari ini tidak diketahui nasib dan keberadaannya. Ketiga alasan itu jika tidak dimitigasi dengan baik oleh aparat akan menjadi bom waktu yang setiap waktu bisa meledak.
Kembali ke aspek yang dapat dibaca pada kejadian di Deli Serdang, aspek kedua adalah perubahan dalam cara penyerangan—dari bom bunuh diri ke penggunaan senjata api yang dibarengi dengan kemampuan urban guerrilla warfare.
Berdasarkan diskusi internal kelompok ini, penggunaan senjata api lebih efisien karena target dapat disasar dengan jitu. Sebaliknya, penggunaan bom mempunyai efek serangan yang tidak diinginkan, seperti matinya wanita dan warga sipil yang tidak berdosa, yang mengakibatkan hilangnya simpati bagi kelompok ini.
Aspek ketiga adalah saat donatur dari luar ataupun internal kelompok mulai seret, perampokan dianggap sebagai cara yang paling efisien untuk mendapatkan dana segar dan ini bukan pola baru.
Tahun 2002, jaringan Imam Samudra merampok toko emas di Serang untuk mendanai aksi bom Bali pertama. Pada tahun yang sama, Abu Tholut sudah berencana merampok mobil Pemerintah Daerah Poso yang membawa uang. Namun, rencana ditolak oleh salah satu anggota senior kelompok Abu Tholut. Pada Juli 2003, Abu Tholut ditangkap dan tampaknya rencana perampokan diteruskan oleh anak buahnya.
Kerja intelijen polisi memang mengarah kepada jaringan Abu Tholut yang dipercaya melakukan pelatihan militer di Deli Serdang dan merekrut para eks preman karena sebagian dari mereka bertato dan gemar merokok. Mereka telah didoktrin dengan ideologi bahwa mengambil harta musuh, termasuk dengan merampok, adalah bagian dari ajaran agama. Oleh karena itu, yang melakukan akan mendapatkan imbalan surga.
Ketika kesadaran di alam bawah sadar mereka sudah terbangun konsep berjuang yang demikian, mereka menjadi sosok individu yang sangat percaya diri saat beraksi, termasuk melakukan perampokan pada siang hari dan di tengah keramaian. Aparat harus sadar bahwa fakta intelijen di atas tidaklah akan berarti apa-apa jika tidak ditopang dengan fakta yuridis dan hal itu hanya dapat dibuktikan di pengadilan.
*Noor Huda Ismail Alumnus Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki; Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian
 sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2010/09/23/09534474/Pergeseran.Pola.Terorisme

BINGUNG.....

Kadang kita sebagai masyarakat awam bingung..... Bayangkan, calon-calon advokad yang nota bene adalah  "Orang pintar Hukum" melakukan hal-hal yang melanggar hukum... Mau kemana dibawa bangsa Indonesia ini ?? Terlihat seperti laporan salah satu media seperti dibawah ini.....
Konflik Peradi
Peradi: Kapolri Harus Bertindak Tegas
Rabu, 22 September 2010 | 18:08 WIB
KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri.


JAKARTA, KOMPAS.com — Akibat terjadinya kerusuhan antara dua organisasi advokat, yakni Persatuan Advokat Indonesia atau Peradi dan Kongres Advokat Indonesia atau KAI pada acara pengambilan sumpah calon advokat, Ketua Peradi Otto Hasibuan mengimbau Polri segera menindaklanjuti masalah ini.
Kapolri dan Kapolda harus bertindak tegas terhadap tindakan anarkis.
-- Otto Hasibuan
"Kapolri dan Kapolda harus bertindak tegas terhadap tindakan anarkis dan bertindak tegas kepada petugas yang melakukan pengamanan ini. Jangan dibiarkan karena akan berpreseden buruk," kata Otto Hasibuan di Hotel Gran Melia, Rabu (22/9/2010).
Menurut Otto, sebelum acara pengambilan sumpah ini, pihaknya telah menginformasikan kepada polisi untuk mengamankan acara. "Kelihatannya kepolisian tidak siap. Jadi terkesan situasi ini dibiarkan," ucap Otto.
Lebih lanjut, ia mengaku prihatin atas tindakan anarki yang dilakukan anggota KAI dalam pengangkatan dan pengambilan sumpah advokat di Wilayah Pengadilan Tinggi DKI Jakarta sehingga acara tersebut sempat tertunda.
"Saya sangat prihatin atas kejadian ini. Saya tidak bisa bayangkan calon advokat dan advokat melakukan suatu tindakan anarki dengan merusak pintu memaksa masuk, menggagalkan suatu acara sidang resmi karena menurut UU acara ini adalah sidang terbuka oleh pengadilan tinggi dalam rangka penyumpahan advokat. Jadi, menurut saya, itu tidak bisa ditoleransi," katanya. (Tribunnews/Iwan)

Sumber :
http://nasional.kompas.com/read/2010/09/22/18080417/Peradi:.Kapolri.Harus.Bertindak.Tegas

Senin, 20 September 2010

Cara Mengatasi Gendam

Bagi yang ingin mengetahui bagaimana caranya menghindari kejahatan GENDAM, dibawah ini ada sebuah  tulisan yang barangkali sangat berguna untuk di baca,
Selasa, 24 Agustus 2010 | 10:04 WIB

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Ilustrasi: penjahat yang akan melakukan gendam, bisa terjadi dimana-mana, di stasiun, bandara, pelabuhan, mal dan berbagai tempat umum.
KOMPAS.com — Menjelang Lebaran, modus kejahatan rupa-rupa bentuknya yang memanfaatkan para pemudik. Yang paling akrab di telinga kita adalah praktik gendam.

Gendam merupakan kejahatan penipuan yang menggunakan metode hipnotis. Orang percaya modus ini menggunakan ilmu hitam. Padahal secara teknik, gendam merupakan gabungan dari shock induction, ericksonian hypnosis, dan mind control/telepati.

Nah, untuk menghindarinya tips berikut bisa menjadi referensi para calon pemudik.

1. Jangan percaya ada gendam, cobalah menyugesti diri. Rasa takut bisa dimanfaatkan penggendam.
 2. Jangan percaya pada orang yang baru Anda kenal, biasanya penggendam seorang persuasif yang baik.

3. Waspada akan tepukan orang, hindari percakapan dari orang tersebut. Lebih baik pindah tempat dan alihkan perhatian ke hal lain.

4. Jangan berpikir kosong saat sendirian di tempat umum.

5. Waspada dengan rasa kantuk, mual, pusing, dada sesak secara tak wajar. Mungkin ada orang yang berusaha menelepati Anda, ambil sikap tenang dan berdoa.

6. Kalau Anda latah, usahakan pergi bersama orang lain. Latah bisa menjadi jalan bagi penggendam membuka alam bawah sadar Anda.

7. Hati-hati bila Anda dikerumuni orang secara tiba-tiba. Bisa saja ini salah satu trik penggendam.
 8. Jika Anda merasa tiba-tiba memasuki kesadaran berbeda, konsentrasi dan niatkan diri untuk kembali normal.

Semoga bermanfaat
 ---------------------
Sumber : Puskominfo Polda Metro Jaya
             : http://megapolitan.kompas.com/read/2010/08/24/10042430/Cara.Mengatasi.Gendam

Rabu, 15 September 2010

Ketua FPI Bekasi Muharli Barda Jadi Tersangka



Ketua FPI Bekasi Muharli Barda Jadi Tersangka  

Koordinator Ormas Islam Murhali Barda (tengah). TEMPO/Hamluddin
TEMPO Interaktif, Bekasi -  Ketua Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Muharli Barda ditetapkan sebagai tersangka  kasus penyerangan terhadap jemaat gereja HKBP Pondok Timur Indah.  Demikian dikatakan Sekretaris Kongres Umat Islam Bekasi Shalih Mangara Sitompul, yang juga bertindak sebagai kuasa hukum Muharli.

"BAP sudah ditutup. Ustad pejuang itu, bukan ustad pecundang, telah dijadikan tersangka," Shalih memberi tahu siang ini usai dialog bersama yang dihadiri juga Koordinator Nasional Gerakan Peduli Pluralisme, Damien Dematra, di Mesjid Islamic Centre, Jalan Ahmad Yani, Bekasi, Jawa Barat.

Shalih menerangkan, dirinya, Selasa kemarin (14/9) bersama Habib Rizieq dan Panglima Komando Laskar Islam, Munarman mendampingi Murhali hingga pukul 02.30 WIB (15/9). Ditambahkan Shalih, pada pukul 01.30 WIB, oleh polisi Murhali sudah dijadikan tersangka. "Murhali akan ditahan sampai 20 hari ke depan di Polda Metro jaya."

Menurut Shalih, Murhali ditangkap karena diduga berperan mengundang kedelapan pemuda untuk melakukan aksi protes pendirian gereja di Kampung Ciketing Asem, pada hari Minggu itu. Meski pada prakteknya, lanjut dia, rencana aksi sebenarnya sudah dibatalkan karena masih banyak yang mudik. "Sayangnya informasi tidak seluruhnya tersebar," kata dia.


HERU TRIYONO
Sumber :
http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2010/09/15/brk,20100915-278315,id.html

SKB PENDIRIAN TEMPAT IBADAH PERLU DI REVISI


SKB Pendirian Tempat Ibadah Perlu Direvisi

Besar Kecil Normal
Jemaat gereja HKBP Pondok Timur Indah, tetap menggelar kebaktian di lahan kosong di Bekasi, Jawa Barat. TEMPO/Hamluddin
TEMPO Interaktif, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Pramono Anung meminta keberadaan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang pendirian rumah ibadah direvisi. "Salah satu persoalan adalah yang menyangkut SKB 3 menteri yang perlu ditinjau kembali," katanya di gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu (15/9)

Pramono melihat SKB 3 menteri itu sudah tidak sesuai dengan situasi kerukunan beragama saat ini. "Tantangannya sudah berbeda, kita menjadi negara demokrasi," katanya.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi kemarin menyatakan Surat Keputusan Bersama Nomor 8 dan 9 tentang pendirian rumah ibadah tak perlu direvisi. Dalam surat tersebut, kata Gamawan, jelas perincian mekanisme pendirian rumah ibadah. "Kelihatan masalahnya bukan soal aturannya tapi pada pelaksanaannya. Mungkin ini belum sepakat, mungkin itu belum setuju," tuturnya.

Tapi, menurut Pramono, kalau di lapangan masih ada perbedaan multitafsir, maka timbul pertanyaan siapa yang paling bertanggung jawab di lapangan. " Kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa. Negara yang bertanggungjawab," tegasnya.

Negara dalam arti pemerintah dan DPR yang harus ikut bertanggungjawab terhadap kerukunan beragama. Dalam kasus hak beribadah, pemerintahan daerah, menurutnya, tak bisa apa-apa. Karena pemilik kepolisian adalah negara dan yang punya kewenangan penindakan adalah negara. "Jangan persoalan ini disimplifikasi jadi persoalan daerah, daerah menjamin warganya iya, tapi negara bertanggung jawab untuk itu," kata Pramono.

Termasuk peran Menteri Agama. Pramono meminta pernyataan Menteri Agama terhadap kasus menyangkut kerukunan umat harus menyejukkan agar dapat mengayomi semua agama. "Lebih baik Menteri Agama memperkuat persoalan agamanya daripada persoalan politiknya," ujarnya.

Selain Surat Keputusan Bersama, Pramono juga menyarankan revisi UU Organisasi Kemasyarakatan (UU No. 8 Tahun 1985). Alasannya karena beleid tersebut cukup menghambat kehidupan beragama maupun bermasyarakat. Ditambah lagi, kata dia, pemerintah sepertinya tidak tegas terhadap kasus yang menyangkut Hak Asasi Manusia, termasuk soal beragama."Apa yang dilakukan presiden ,kami menunggu hal yang lebih konkrit," tukasnya.

Presiden, dengan kewenangan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan harus bersikap lebih tegas. Dalam hal ini, kata Pramono, selain mendorong kerukunan beragama di masyarakat, tetapi presiden juga bisa meminta pertanggungjawaban kepolisian terhadap kasus-kasus yang bersifat Suku, Agama, dan Ras.

Dianing Sari 
Sumber berita :
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2010/09/15/brk,20100915-278331,id.html

Rekonstruksi Penusukan Jemaat HKBP

Polda Jaya Gelar Rekonstruksi Penusukan Jemaat HKBP


Polda Jaya Gelar Rekonstruksi Penusukan Jemaat HKBP
Jakarta (ANTARA) - Penyidik Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya akan menggelar rekonstruksi terkait dengan insiden penusukan terhadap seorang dari jemaat Huria Kristen Protestan Batak (HKBP) Bekasi.
"Nanti ada pemeriksaan lanjutan dan reka ulang kejadian detik demi detik yang terjadi," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Pol. Boy Rafli Amar di Jakarta, Rabu.
Boy menuturkan penyidik juga memeriksa beberapa dari jemaat HKBP yang melihat kejadian itu, termasuk dugaan adanya sejumlah orang dari jemaat yang melakukan pemukulan.
Pihak kepolisian juga masih mengembangkan penyidikan dan kemungkinan penambahan jumlah tersangka yang memicu terjadinya penusukan terhadap seorang dari jemaat HKBP.
Sementara itu, Kepala Polda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Pol. Timur Pradopo mengatakan pihaknya akan mengamankan sesuai dengan kebijakan Wali Kota Bekasi, Muchtar Muhammad.
Sebelumnya, Asiah Lumbuan Toruan (49) dan Pendeta HKBP Luspida (40) menjadi korban penusukan orang tidak dikenal di Jalan Raya Pondok Timur Asam, Kelurahan Cikeuting, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi, Minggu (12/9) sekitar pukul 08.45 WIB.
Polda Metro Jaya telah menetapkan 10 tersangka penusukan itu, antara lain Ketua DPW Front Pembela Islam Bekasi MB, serta AF sebagai pimpinan, DTS, NN, AN, ISN, PN, dan KA dengan sangkaan Pasal 351 tentang penganiayaan pemberatan dan Pasal 170 tentang penganiayaan secara bersama-sama.
Polisi juga menyita baju korban dan pelaku, kayu balok, tiga unit sepeda motor, rekaman kejadian, dan visum korban luka.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bekasi telah menyediakan dua lokasi alternatif untuk menjadi pilihan tempat ibadah jemaat HKBP.
Kedua lokasi itu merupakan fasilitas umum seluas 2.500 meter di PT Timah dan di sekitar Mustika Sari, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Sumber :

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/09/15/134873-polda-metro-jaya-reka-ulang-penusukan-pendeta-hkbp
http://id.news.yahoo.com/antr/20100915/tpl-polda-jaya-gelar-rekonstruksi-penusu-cc08abe.html

Peraturan Bersama Menteri


Inilah Pandangan Kontras Soal PBM Tempat Ibadah

Republika
Republika - 1 jam 29 menit lalu
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) No 8 dan No 9 Tahun 2006 dinilai bermasalah karena diskriminatif terhadap kaum minoritas. Selain itu, implementasi PBM rawan penyalahgunaan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab yang duduk dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).
Oleh karena itu, menurut Koordinitor Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak kekerasan (Kontras), Haris Azhari, PBM tersebut harus segera dicabut. Pasalnya, Izin pendirian rumah ibadah yang tertuang dalam PBM tersebut seharusnya tidak menghalangi kebebasan menjalankan ibadah.”PBM banyak masalah cabut dan tinjau ulang segera,”ujar dia kepada Republika di Jakarta, Selasa (12/9)
Oleh karena itu, ungkap Haris, dalam pernyataan sikap sejumlah organisisasi yang tergabung dalam Forum Solidaritas Kebebasan Beragama, Senin (13/9) mendesak Presiden SBY mencabut PBM. Alasannya, semestinya lebih mengedepankan subtansi beribadah ketimbang mendahulukan persoalan administrasi.
Apalagi, FKUB gagal menjadi forum repersentatif umat beragama. Pernyataan tersebut muncul untuk menanyakan komitmen negara terhadap kebebasan menjalankan ibadah. Naifnya, penolakan terhadap pendirian rumah ibadah tak jarang berujung pada tindak kekerasan dan pemaksaan kehendak.
Haris mengemukakan, dalam konteks ini pemerintah dan kepolisian gagal menjamin kebebasan menjalankan agama. Padahal, kedua institusi itu berkewajiban memberikan perlindungan kepada warga negara melakukan ibadah.
Kewajiban itu bahkan terutang dalam sumpah mengemban tugas yang mereka ucapkan. Munculnya kasus penusukan jemaah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) adalah pertanda pemerintah abai.
Ke depan, ujar Haris, perlu dirumuskan aturan yang lebih implementatif pendirian rumah ibadah. Aturan tersebut nantinya harus menjamin hak dan kebebasan umat beragama melaksnakan ibadah.
Tak kalah penting, proses perumusan aturan mesti melibatkan semua unsur agama dan komponen kepercayaan yang berbeda.”Aturan itu tidak boleh bertentangan dengan konstitusi tetapi justru menguatkan pelaksanaan konstitusi,”kata dia.

Selasa, 14 September 2010

KEBUN JATI

DIJUAL SEGERA KEBUN JATI
Rincian sbb :


1. Diameter 20-35 cm = 463 pohon
2. Diameter 40 cm = 193 pohon
3. Diameter 50 = 200 pohon
4. Diameter 60 = 151 pohon
5. Diameter 70 = 56 pohon
6. Diameter 80 = 24 pohon
7. Diameter 100 = 3 pohon

Itu hasil perhitungan di lapangan.....

Lokasi di Garut bagian Selatan...

Harga Rp 700.000.000,- (Nego).
Bisa menghubungi Email : pangaribuan16ab@yahoo.co.id

Kamis, 09 September 2010

DANA CEPAT

ANDA BUTUH DANA CEPAT ??
KEBUTUHAN DARURAT
MELAYANI DIATAS 1(SATU) MILYAR
SYARAT RINGAN, MUDAH, CEPAT

5 HARI CAIR SETELAH SURVEY , TIDAK ADA BIAYA DIMUKA
JAMINAN SERTIFIKAT RUMAH MENTENG, KEBAYORAN BARU, PONDOK INDAH, SIMPRUG, KEMANG, TEBET, PERMATA HIJAU, DAN LOKASI BAGUS LAINNYA.
HUBUNGI : ALBOIN
MOBILE PHONE : 0813.1660.3323

Cari Blog Ini