Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.

Sabtu, 30 April 2011

Opini : Menulis Indah Itu Gampang



Menulis Indah Itu Gampang.
13041473521257140168
Pena Bulu Ayam
Menjadi penulis sebenarnya gampang-gampang susah. Gampangnya adalah karena kita cuman butuh tangan, hati dan otak. Susahnya adalah bahwa sering kita tidak bisa mengalirkan ide yang ada di otak, merasakannya lewat hati kemudian turun ke tangan lalu tertuang di atas kertas menjadi sebuah tulisan, entah di atas secarik kertas atau ke komputer kita. Kalaupun kita sudah bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan terkadang tulisan kita terasa hambar, tidak bernyawa dan nggak enak dibaca.
Menjadi penulis itu memang tidak sama dengan menjadi wartawan. Kalau seorang jurnalis penulis berita, ia tidak bisa menggonta-ganti pakem-pakem penulisan baku yang sudah ada dan disetujui secara nasional di negeri kita ini. Lho, kok bisa? Ya iya! Karena pemberitaan berita itu mesti ada standard bakunya. Coba kita baca artikel-artikel di media massa modelnya sama semua. Kalaupun ada yang agak nyimpang, tidak banyak jumlahnya. Nah, menjadi penulis lepas, penulis kolom, penulis essay, ataupun menulis di Kompasiana itu lebih menarik. Kita bisa berimprovisasi dan menulis secara kreatif. Saya menyebutnya dengan Menulis Indah.
Apa itu menulis indah? Menulis dengan gaya khas yang membuat pembaca mau berlama-lama membaca apa yang menjadi ide atau buah pikiran kita. Pembaca menjadi suka dengan alur yang kita tulis. Gaya memang boleh berbeda, penyajian bisa berbeda, tapi kalau kita menulis dengan lugas apalagi diselingi lelucon atau humor yang mengena, tulisan kita pasti enak dibaca. Bicara soal suka misalnya, maka saya lebih suka membaca kolom yang ditulis oleh seorang Gunawan Mohammad daripada apa yang ditulis dosen saya. Padahal katakanlah, topiknya sama. Tapi karena alur tulisan dan kemasannya lebih “enak” hasilnya setelah di olah oleh si Gunawan, kolumnis terkenal itu. Jadi menulis indah itu tidak lebih adalah gaya, kemasan, cara dan metode kita menguraikan suatu topik, opini dan ide-ide kita ke dalam bentuk tulisan yang menyenangkan untuk dibaca.
Akan tetapi memang preferensi orang berbeda-beda, ada yang lebih suka membaca yang baku dan kaku. Nah, saya tidak tahu dengan Anda. Tapi ada juga wartawan penulis berita yang berusaha untuk membuat apa yang dia tulis lebih enak dibaca. Ambil contoh di salah satu surat kabar pagi ini, saya lagi asyik dan serunya membaca berita tentang seorang anggota dewan berjenis kelamin perempuan yang mengirim sms ke wartawan yang bilang “Makaseh ngoni so berhasil bekeng ancor kita pe nama bae!” artinya, “Terimah Kasih kalian sudah berhasil menghancurkan nama baik saya!” Lalu wartawan itu menulis laporannya begini, “Ternyata ulah beberapa oknum wartawan menyebabkan si anggota dewan itu kebakaran jenggot, walaupun ia tidak memiliki jenggot”. Saya geli, ya iyalah mana ada perempuan berjenggot. Wartawan itu tentunya hendak memberikan sentuhan humor ke tulisan yang ia buat.
Sebenarnya menulis indah itu memiliki 4 karakter dasar, sebut saja langkah awal (berdasarkan pengalaman dan pengamatan lho).
  1. Penulis itu harus pandai mengarang.
Artinya, supaya tulisan kita jadi enak dibaca, kita harus mengarang dan mengemasnya secara tepat. Contoh, ketika hendak menulis tentang suatu opini mengenai anggota dewan yang sangat boros itu. Mereka menghabiskan ratusan juta untuk kunjungan luar negeri entah untuk apa. Mungkin mereka cuma numpang kentut di Inggris dan Amerika sekaligus belanja cinderamata. Kalau kita menulisnya seperti apa yang tertulis di berita koran , memberikan data yang aktual tapi kemasan koran. Tidak ada karangan yang membuat tulisan kita jadi indah dan bergigi. apa bedanya dengan media massa? Padahal yang hendak kita tulis adalah opini kita. Itu juga berlaku untuk essay, kolom dan sebagainya. Menulis opini yang tidak bergigi menjadikan opini kita “opini ompong”. Dalam menulis saya hanya butuh satu jam, tapi mengarang itu sepanjang hari. Kita bisa mulai mengarang apa yang akan kita tulis dari pagi sampai malam, kita mengarangnya dalam otak kita, melalui pikiran-pikiran kita. Setelah siap, baru kita tulis.
  1. Menjadi penulis yang baik harus banyak membaca.
Artinya, semakin banyak informasi yang kita dapat maka semakin banyak bahan pendukung tulisan kita. Contoh, ketika Anda menulis tentang misalnya, “minum kopi itu sehat!” Nah, akan lebih menggugah pembaca apabila ada informasi menarik yang disertakan dalam tulisan Anda. Informasi itu didapat dengan seberapa rajin kita membaca. Anda bisa menambahkan dalam tulisan tentang minum kopi tersebut dengan misalnya: “ Tahukah Anda bahwa orang Amerika minum kopi lebih banyak dari minuman lain apapun. Kira-kira 450 juta gelas per hari. Artinya bahwa setiap warga Negara di atas 10 tahun minum sekurang-kurangnya 2,5 gelas perhari”. Jadi perbanyaklah membaca. Sebab, membaca itu sehat dan menulis itu berkat.
  1. Melek tanda baca dan penempatan kata.
Artinya, pembaca akan kesakitan matanya bahkan bisa sampai ngos-ngosan ketika mereka membaca tulisan yang satu alinea terdiri dari 15 kalimat tanpa satu koma atau titik pun. Hal berikut adalah menempatkan tanda baca pada tempatnya. Mari kita lihat kalimat ini “Kamu mencuri cewek saya?” bandingkan dengan, “Kamu mencuri cewek saya!”. Yang satu bertanya yang satunya lagi menuduh. Harus pada tempatnya. Kemudian penempatan kata atau pemakaian kata yang diulang-ulang dapat menurunkan “minat baca” terhadap tulisan kita. Perhatikan kalimat berikut “Maka saya pun akhirnya pulang, tapi saya harusnya kasih tahu bapak saya dulu. Tapi sudahlah, saya juga membawa adik saya kok jadi saya tidak perlu khawatirkan bapak saya akan memarahi saya”. Ada delapan kata “saya” di situ. Aaaah, kepala saya jadi pusing bacanya, jadi saya lanjut saja yah….
  1. Jadilah tukang kritik dan tukang edit.
Artinya, kita harus menjadi tukang kritik untuk apa yang kita tulis. Lihatlah kurangnya di mana, tambahi! Tengoklah bocornya di mana, tambal! Periksalah rusaknya di mana, benahi! Semakin banyak tulisan Anda dikritisi dan diedit oleh Anda sendiri sebelum di-publish maka tulisan tersebut akan semakin baik dan bagus. (Saya memakai urutan 1 semua, hanya sebagai tanda bahwa yang satu tidak lebih penting dari yang lain. Ke empat-empatnya sama pentingnya)
Saya sering memberi istilah ketajaman tulisan yang menggelitik sebagai “pena bulu ayam”. Pena bulu ayam? Ya! Pena itu tajam ke bawah menggelitik ke atas. Filsafat pena bulu ayam: Tajam tapi menggelitik. Jadikan tulisan Anda lebih tajam dari pedang mata dua manapun, tapi barengi dengan menulis indah, kreatif dan menggelitik setiap yang membacanya.
Ke empat tips itu hanyalah dasar, masih banyak yang lain untuk menjadikan tulisan kita indah. Tapi dari dasar ini saya percaya akan semakin menjadikan kita penulis yang berkualitas. Belajarlah dari rumah ini. Saya masih tetap berpendirian bentuk tulisan apapun yang ada di rumah ini pastilah ada nilai tambah yang dapat kita petik. Ada hikmah yang bisa kita ambil. Saya pernah membaca posting satu kalimat yang hanya mengatakan “Saya cantik!!?? Tidak usah dikomentari”. Dari postingannya itu saya belajar dua hal. Pertama mengenai bentuk tulisan, ia memakai dua tanda tanya dan dua tanda seru. Apa artinya? Oooh, mungkin sang penulis berada di posisi 50-50, ia hendak mengatakan bahwa ia memang cantik! Tapi di pihak lain mungkin ia justru bertanya-tanya, cantikkah saya? Hal kedua, dengan membaca kalimat itu saya langsung buru-buru mencari cermin….dan syukurlah saya tidak cantik, karena saya laki-laki. Secara pedagogis, intinya kita bisa melihat karakter melalui tulisan, sependek atau sepanjang apapun itu.
Berdasarkan tips di atas, saya ingin menutup tulisan ini dengan menceritakan sedikit pengalaman saya tinggal di asrama di Amerika. Suatu sore saya mendapat sakit punggung yang amat sangat, sehingga saya sulit bergerak. Asrama yang saya tinggali merupakan co-ed dorm, yaitu pria dan wanita tinggal dalam satu gedung. Hari itu juga tiga teman wanita datang. Mereka menawarkan pertolongan untuk memijit. Mau banget saya! Kapan lagi dipijit oleh nona-nona Amerika? Apakah sesudah dipijit jadi sembuh? Boro-boro sembuh, malah makin nyeri. Ketiga nona itu memang cantik-cantik dan wangi-wangi, tetapi mana bisa mereka memijit. Untunglah ada seorang teman pria yang pandai mijit. Ia berkebangsaan Kenya. Tubuhnya kekar dan tinggi besar. Telapak tangannya tebal dan lebar. Telapak tangannya itu mujarab.
Tinggal di asrama meninggalkan banyak hal dan kenangan. Salah satu kenangan itu adalah dipijit oleh tiga nona Amerika. Biar jelek-jelek begini, saya ini pernah dipijit oleh tiga bintang film Hollywood yang cantik! Emang bener, mereka mirip Nicole Kidman, Jeniffer Lopez dan Kate Winslet!
Selamat Menulis!
Michael Sendow
Sumber : Kompas.com/Sabtu, 30 April 2011 | 14:11 

TURUT BERDUKA CITA

 

Mengucapkan turut berduka cita atas wafat nya :
Mayor Jenderal (Purn) Theo Syafei  (70).
Hari Jum'at 29-April-2011 pukul 00:50 WIB


Semoga arwah beliau diterima disisi Nya dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
-dari : Alboin B. Pangaribuan & keluarga.

Jumat, 29 April 2011

Everything I Do, I Do it For You : The Passion of Jesus Crist

                           
                                                                                                                              

Everything I Do, I Do It For You – Passion Of The Christ
I am good shepherd.  I lay down my life for my sheep
No one takes my life from me. But I lay it down of my own accord
 I have power to lay it down And power to take it up again
This comment is from my father

Look into my eyes,  You will see
What you mean to me….
Search your heart , Search your soul
And when you find me there
You’ll search no more, don’t tell me
It’s not worth trying for

[You betray the son of man with a kiss ? ]

You can’t tell me, it’s not worth dying for
You know it’s true. Everything I do
I do it  for you…….

Look into your heart. You will find
There’s nothing there to hide
Take me as I am. Take my life
I would give it all, I would sacrifice
Don’t help it.  There’s nothing I want more
You know it’s true
Everything I do.  I do it for you…
There’s no Love.  Like  your love
And no other. Could give more love.
There’s nowhere, unless you’re there
All the time. All the way….yeah….

[you have heard it said…You shall love neighbore and hate  your enemy
But I said to you, love your enemies and pray for who persecute you
For if you love only those who love you, what reward is there in that ?]

You can’t tell me, it’s not worth trying for
I can’t help it, there’s nothing I want more
I would fight for you, I lie for you. Walk the wire for you
Yeah…. I’d die for you..!  You know it’s true,…………. Everything I do

[Father into your hands, I command…. My spirit]

I do for you…
                                                                                                                           

Rabu, 27 April 2011

Jokaw Disiapkan Jadi Pelaku Bom Bunuh Diri

Seorang anggota polisi menggunakan pakaian penjinak bom berjalan di sekitar tempat penemuan beberapa bahan peledak, di dekat sebuah gereja di Serpong, Banten. AP
TEMPO Interaktif, Jakarta - Juru bicara Marbes Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar mengungkapkan bahwa Jokaw, tersangka kasus bom buku dan bom Serpong, disiapkan menjadi pelaku bom bunuh diri berikutnya. Namun , lokasi dan waktu pengeboman belum ditentukan. "Menurut rencana, bom bunuh diri akan dilakukan menggunakan tas ransel," kata Boy Rafli di kantornya, Selasa (26/4) kemarin.

Boy menjelaskan, berdasarkan hasil penyidikan sementara, para pelaku menyiapkan aksi lain setelah pengiriman bom buku dan upaya peledakan bom seberat 150 kilogram di dekat pipa gas di Serpong. Jokaw, warga Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, mengaku rela menjadi pelaku bom bunuh diri. Di kalangan gerakan teroris, pelaku bom bunuh diri disebut "pengantin".

Jokaw diringkus pada Kamis subuh pekan lalu bersama Pepi Fernando, 32 tahun, dan Fadli di kawasan Merduati, Banda Aceh. Ketiganya, bersama 18 orang lainnya, diperiksa terkait dengan aksi pengiriman bom buku beberapa waktu lalu. Dari pemeriksaan terhadap 21 orang itu terungkaplah rencana pengeboman di Serpong. Polisi sudah menetapkan 12 di antaranya sebagai tersangka, termasuk Jokaw, Pepi, dan Fadli.

Ketiga tersangka itu lulusan Universitas Islam Negeri Jakarta. Pepi, yang diduga sebagai pemimpin kelompok, dan Jokaw adalah bekas mahasiswa Fakultas Tarbiyah tapi berbeda angkatan. Pepi angkatan 1997 dan lulus pada 2001.

Menurut seorang teman kuliah Pepi yang menolak dikutip namanya, Pepi dekat dengan Fadli. Pepi pernah pergi ke Aceh untuk menolong keluarga Fadli yang menjadi korban tsunami pada Desember 2004.

Kepala Kepolisian Daerah Aceh Inspektur Jenderal Iskandar Hasan memastikan Fadli bukan teroris. Tapi, "Dia akan dijerat dengan tuduhan menyembunyikan tersangka," ujarnya, Jumat pekan lalu. Fadli juga dikatakan tak terlibat latihan teroris di Pegunungan Jalin Jantho.

Meski demikian, menurut Boy, dari 12 tersangka, hanya Fadli, Jokaw, Pepi, dan Firman yang mahir merakit bom. Teknik pembuatan bom mereka pelajari secara otodidaktik lewat buku dan Internet. "Mereka semua bergelar sarjana dari kampus yang sama, Universitas Islam Negeri Jakarta."

Kemarin sore, tim Detasemen Khusus 88 Antiteror menggelandang Pepi ke seberang gedung Asabri di Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang, Jakarta Timur, untuk mengambil bom. Gedung Asabri terletak di sebelah Markas Kodam Jaya. Bom itu diakui Pepi ia letakkan di dekat pintu tol UKI. "Ternyata nihil," kata Boy.

Boy menerangkan, kepada penyidik, Pepi mengatakan menaruh bom berdaya ledak rendah pada Agustus 2010. Tujuannya untuk melukai masyarakat yang lewat di situ. Tapi ternyata bom tak meledak. Menurut sumber Tempo, Densus 88 juga membawa Sofyan alias Firman untuk menunjukkan lokasi bom.

Sebelumnya, sekitar pukul 10.00 WIB, Pepi dan Sofyan digiring ke pintu air Pusat Grosir Cililitan. Di sana polisi menyita sebuah benda di dalam plastik hitam yang terletak tak jauh dari jalur pipa gas. Seorang pedagang asongan di sana mengatakan benda tersebut sempat diledakkan petugas. Sekitar pukul 12.00, polisi meninggalkan lokasi.

Kemarin Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri membeberkan seluruh sitaan barang bukti bom buku, bom Cirebon, dan bom Serpong. Kepala Puslabfor Brigadir Jenderal Andayono mengatakan bom Serpong berdaya ledak rendah. "Tapi berdampak besar karena diletakkan di atas saluran pipa gas," ujarnya

RIKY F | AMANDRA MM | CORNILA D | ALWAN | JOBPIE S

Sumber : TEMPO Interaktif, Jakarta/ Rabu, 27 April 2011

Ke Australia, Anggota DPR itu Bawa Keluarga

 

Ke Australia, Anggota DPR itu Bawa Keluarga

TEMPO
TEMPO Interaktif, Jakarta - Persatuan Pelajar Indonesia di Australia menduga sejumlah anggota DPR yang akan berkunjung ke negeri Kanguru membawa sejumlah anggota keluarganya. "Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, delegasi kunjungan kerja Komisi VIII DPR ke Australia akan melibatkan dua puluh orang, sebagian membawa serta anak dan istrinya," kata Ketua PPIA, M Subkhan Zein, melalui siaran pers yang diterima Tempo, Senin (25/4).

Komisi VIII DPR berencana berkunjung ke Australia melakukan studi banding terkait Rancangan Undang Undang Fakir Miskin. Australia dipilih karena dianggap sebagai salah satu negara yang berhasil mengelola masyarakat kelas bawah. Selain Australia, Komisi VIII juga berencana berkunjung ke Cina untuk studi banding persoalan yang sama.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), rencana kunjungan kerja Komisi VIII ke Australia akan menggunakan anggaran Rp 811.800.250.

PPIA menilai rencana kunjungan itu tak tepat. Alasannya, jadwal kunjungan Komisi VIII pada tanggal 26 April hingga 2 Mei 2011 bertepatan dengan jadwal reses Parlemen Australia. Selain itu, berdasarkan jadwal kunjungan yang diterima PPIA, tak ada acara kunjungan ke tempat-tempat pengelolaan masyarakat miskin di Australia dalam jadwal itu.

"Kami setuju dengan sentimen yang beredar di Indonesia, rencana kunjungan Komisi VIII ke Australia lebih menyerupai kunjungan wisata dibandingkan maksud dan tujuan awalnya sebagai kunjungan kerja," kata Subkhan.

FEBRIYAN
 Sumber :TEMPO Interaktif, Jakarta - Senin, 25 April 2011
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/04/25/brk,20110425-329912,id.htm

Opini Politik : Pemimpin yang Menipu Rakyat


Pemimpin yang Menipu Rakyat
Oleh Adhie M. Massardi
Rabu, 30 Maret 2011 , 07:19:00 WIB


ILUSTRASI/IST
  
PEMIMPIN dalam perspektif Islam adalah Imam. Kedudukannya sangat tinggi dan terhormat. Maka bila sopir atau tukang kebun telah disepakati menjadi imam, siapa pun makmumnya, wajib mengikuti.
Model kepemimpinan Islam memang sering diilustrasikan dalam shalat berjamaah. Seseorang yang dianggap paling fasih dan paham Al Qur’an (kompetensi) selalu dipersilakan menjadi imam. Sebaliknya, bila sang imam di tengah jalan batal, misalnya karena (maaf) kentut, maka ia harus segera mundur untuk digantikan orang lain.
Dalam pemerintahan, pemimpin (umara) sering juga dimanifestasikan sebagai wakil Allah. Makanya pemimpin (Sultan) kerajaan Mataram Islam di Jogjakarta juga memakai tambahan gelar Sayidin Panotogomo (pemimpin agama) dan Kalifatullah (wakil Allah) di muka bumi.
Pemimpin dalam konsep Islam menjadi mutlak, dan karena itu wajib dihormati dan ditaati, karena tugas pemimpin tiada lain kecuali menyejahterakan umatnya. Adagium yang terkenal tentang kepemimpinan adalah: Tasharruf al-imam manuthun bi al-mashlahah al-ammah (Tindakan dan kebijakan seorang pemimpin haruslah terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya!)
Menyejahterakan umat. Inilah kata kuncinya kenapa kepemimpinan dalam konsepsi Islam memperoleh kedudukan sangat mutlak. Sebab umat (rakyat) adalah subyek yang melahirkan predikat (pemimpin), dan bukan sebaliknya.
Rasulullah SAW adalah contoh nyata pemimpin yang setiap saat memikirkan umatnya. Nasib umatnya senantiasa menjadi pikiran beliau..Bahkan kata-kata terakhir yang terucap ketika maut menjemput adalah: “Ummati, ummati, ummati…!” (Umatku, umatku, umatku…!)
Ada kegelisahan luar biasa pada Rasulullah SAW akan masa depan umatnya. Bagaimana keimanan, ketakwaan dan kesejahteraan mereka kelak.
Kecintaan Nabi SAW kepada umatnya tercermin pula pada do’a Beliau, sebagaimana dituturkan Aisyah ra dalam sebuah hadits. “Wahai Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku, lalu dia mempersulit urusan mereka (rakyat), maka persulit pulalah dia. Dan siapa saja yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku, lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia!”
Sikap keras Rasulullah kepada pemimpin yang abai juga tercermin dari hadits yang disampaikan Al Hasan ra. Kepada Ubaidullah bin Ziyad (walikota Bashrah) yang datang membezuknya, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: “Seorang hamba yang dipercayakan Allah memimpin rakyatnya, tetapi dia menipu rakyatnya, maka jika dia mati, Allah mengharamkan surga baginya!”
Lalu bagaimana dengan Presiden Yudhoyono, yang secara moral, oleh para pemuka agama dianggap sudah “batal” karena terlalu sering berbohongan dan tidak perduli kepada nasib rakyatnya yang kian terpuruk dalam penderitaan? Apakah juga wajib mundur sebagaimana imam shalat yang sudah “kentut”?
Dalam soal ini (pemerintahan), ada yang berpendapat: pergantian kepemimpinan nasional harus 5 tahun sekali sesuai ketentuan Konstitusi (UUD 1945). Ketentuan ini memang harus kita hormati dan pelihara.
Tapi jika Presiden sendiri tidak mampu memelihara keharusan ini, dengan membiarkan anomali dan demoralisasi di segala bidang kehidupan, dan membiarkan rakyat mengatasi sendiri berbagai persoalan hidupnya, maka secara moral keharusan ini tidak berlaku.
Sebaliknya, secara moral, kita semua wajib menyelamatkan negara-bangsa dari kehancuran. Dengan demikian, keharusan Konstitusional tentang pergantian presiden 5 tahun sekali tidak berlaku. Karena seluruh komponen bangsa harus tunduk kepada keharusan moral (menyelamatkan negara-bangsa) tersebut. [***]
Sumber : RMOL/Rabu, 30 Maret 2011 , 07:19:00 WIB
 http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=22594

Opini Politik Terkait :
Share |

Buruk Citra Bom Ditebar
Oleh Adhie M. Massardi
Rabu, 23 Maret 2011 , 12:20:00 WIB

ILUSTRASI/IST
  
BURUK muka cermin dibelah. Tak pandai menari, dikatakan lantai terjungkit. Lempar batu, sembunyi tangan. Ini tiga dari sejumlah peribahasa untuk menyindir atau mengeritik para pemimpin yang tak mau bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya.
Di masa lalu, ketika etika dan kebudayaan masih jadi tradisi di kalangan kaum terpelajar, dan rasa malu masih menjadi bagian dari gaya hidup para pemimpin, kritik lewat pantun, peribahasa, atau gambar karikatur, bisa sangat efektif. Sehingga yang dikritik dan yang mengeritik masih bisa ketawa bersama.
Tapi di zaman SBY sekarang ini, ketika semua tata nilai dijungkirbalikkan, sehingga jabatan-jabatan publik hanya bisa dijangkau dengan cara-cara KKN dan tipu muslihat, cara mengeritik dan mengingatkan pembesar negara yang korup pun ikut keluar dari konteks etika dan budaya.
Maka demonstrasi mahasiswa, pemuda dan aktivis pergerakan kalau ingin didengar, harus membawa foto si pembesar korup yang sudah dipasangi taring, lalu dibakar di depan kantornya. Atau orasi langsung di depan Istana dengan memakai pengeras suara ribuan watt baru bisa masuk ke kuping sang pembesar negara.
Bahkan para pemuka agama, agar juga bisa didengar nasihatnya, turut mengubah taktik dan strategi. Dengan menggunakan nukilan kisah para Nabi lengkap dengan ayat-ayat Kitab Suci saja tampaknya hanya jadi angin lalu. Makanya, para pemuka agama di negeri ini, awal Januari lalu, berkumpul dan menyerukan: 18 Kebohongan Rezim Yudhoyono…
Akan tetapi, para pemimpin yang korup, yang punya seribu satu cara untuk menguasai tahta, juga punya seribu satu cara untuk meloloskan diri dari berbagai sorotan dan kritikan masyarakat. Embargo berita, boikot iklan, dipakai untuk meredam media massa yang memberitakan kondisi masyarakat secara apa adanya, yang memang makin memrihatinkan, dan ini mencerminkan kinerja pemerintahan yang amburadul.
Sedangkan untuk mengalihkan keburukan-keburukan rezim yang terlanjur menjadi topik pembicaraan masyarakat di kafe-kafe, di ruang-ruang tunggu, di warung-warung kopi, dan di mulut-mulut gang serta pos-pos ronda di kampung-kampung, dibikinlah peristiwa yang mengguncang sendi-sendi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Misalnya, mencabik-cabik Bhineka Tunggal Ika, menebar rasa takut dengan teror. Tak soal bila untuk itu harus ada korban nyawa manusia atau kerusakan fisik yang besar.
Sekarang, ketika merebak “bom buku” yang sekonyong-konyong menjadi tren sehingga muncul di mana-mana, dibicarakan di mana-mana, menebar teror di mana-mana, semua orang secara otomatis langsung melirik WikiLeaks, situs gerakan internasional yang ingin membebasan dunia dari aneka kebohongan rezim yang menyengsarakan rakyatnya.
Maka dari dunia maya, turunlah pesan elektronik via HP, BB, FB, Twitter, dari Republik Pencitraan yang berbunyi: “Buruk muka cermin dibelah! Buruk citra bom ditebar!”
Tapi di zaman SBY ini, Indonesia memang sudah tercerabut dari akarnya. Telah kehilangan naluri kebudayaannya.
Lihatlah Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di sudut kumuh Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang menyimpan ribuan buku bernilai sastra, kian rapuh dan nyaris tak disentuh. Dana pengelolaan dari pemerintah terus disunat sampai nyaris habis.
Ada memang sejumlah seniman yang tergerak hatinya. Lalu mengais uang recehan untuk menyelamatkan PDS itu. Tapi ini bukan langkah budaya. Ini langkah pembiarkan uang rakyat dikorup para pembesar negara. Lebih sehat kalau rakyat menggedor pintu kantor atau rumah para pembesar negara itu. Lalu meminta uang jatah PDS dikembalikan!
Atau, jangan-jangan buku-buku yang diterlantarkan pemerintah di PDS HB Jassin itu telah mengambil jalan sendiri. Meneror kita semua dalam bentuk: Bom Buku…!
Sumber : RMOL, 23 Maret 2011./ http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=21912

Opini :Teologi Koalisi: Antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru



Oleh Adhie M. Massardi
Rabu, 20 April 2011 , 07:06:00 WIB

POLITIK kekuasaan di negeri kita makin menarik karena makin ajaib. Banyak perjanjian ditandatangani, tapi sebanyak itu pula yang diingkari. Dalam Koalisi, misalnya, ada Perjanjian Lama yang dianggap kurang mengikat sehingga melahirkan ancaman Hak Angket (Centurygate 2009 dan Mafia Pajak 2011).
Untuk mencegah munculnya kembali ancaman terhadap ketenteraman penguasa, diluncurkan Perjanjian Baru, yang konon sudah diparaf para anggotanya. Partai Golkar dan PKS, yang nyaris mengegolkan Hak Angket Pajak untuk membongkar mafia pajak di pusat kekuasaan, akhirnya juga bertekuk lutut di hadapan penguasa.
Kalau ada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kata kawan saya yang pakar sosiologi korupsi dan beragama Nasrani, “harus ada penyaliban…!” Tentu saja kita semua tahu, siapa yang harus disalib secara politik.
Sementara yang sudah tampak depan mata adalah berubahnya gedung parlemen di Senayan menjadi “Tembok Ratapan”. Ratapan bagi rakyat Indonesia yang menyesali kenapa dalam pemilu kemarin memilih mereka…
Tembok Ratapan versi teologi (Yahudi) adalah sisa dinding kuil suci yang dibangun Raja Salomo (Nabi Sulaiman). Di dinding ini orang Yahudi meratapi dan menyesali pengingkarannya terhadap Tuhan.
Tapi kebanyakan umat Islam percaya, tembok di Yerusalem itu bagian dari dasar Masjidil Aqsa dan Masjidil Omar, serta diyakini sebagai gerbang tempat berangkatnya Nabi Muhammad saw dari Yerusalem ke surga (mi'raj) dengan mengendarai Buraq.
Apa hubungan cerita di atas dengan Koalisi?
Bagi para pengikutnya Koalisi memang diperlakukan seperti agama. Tepatnya, seperti sekte dalam sebuah agama. Maka barang siapa mengingkari aturannya, layak dapat hukuman. Misalnya, dikafirkan (dikeluarkan dari keanggotaan), atau pahalanya (jatah menteri dalam kabinet) dihapus, atau bisa juga dikurangi.
Sebagaimana sekte dalam terminologi agama, para anggota koalisi juga meyakini dan mengikuti ajaran ‘sang nabi’ yang jadi pemimpin mereka, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono alias Yudhoyono alias SBY alias Presiden RI.
Sebab yang taat dan patuh pada ‘sang nabi’ memang langsung diganjar surga dunia dalam politik kekuasaan nasional. Ada yang jadi menteri kabinet, ada pimpinan badan/lembaga negara, atau minimal komisaris di perusahaan-perusahaan milik rakyat Indonesia.
Menurut para ulama ketatanegaraan, Koalisi (Partai Demokrat, Golkar, PKS, PAN, PKB dan PP) pimpinan Yudhoyono ini masuk dalam kategori aliran sesat. Sebab koalisi tidak dikenal dalam sistem pemerintahan presidensiil. Koalisi merupakan ‘sunah’ dalam konsep parlementer.
Apalagi, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang mereka tandatangani, tidak pernah diketahui oleh pemegang saham mayoritas (konstituen alias rakyat pemilih) partai-partai Koalisi.
Apakah dalam perjanjian itu ada kesepakatan untuk mengabaikan kesejahteraan rakyat? Apakah juga ada pasal kesepakan untuk saling menutupi pelanggaran hukum, wabil khusus tindak pidana korupsi, yang dilakukan anggota koalisi? Sebab kalau itu yang terjadi, namanya kan bukan koalisi, tapi konspirasi alias persekongkolan jahat.
Lebih celaka lagi kalau para anggota koalisi menganggap kursi presiden yang sedang diduduki SBY adalah ‘tahta suci’ yang harus diselamatkan, tak perduli mayoritas rakyat Indonesia hidup terlunta-lunta di negeri yang oleh Allah SWT diciptakan bak surgawi dan kaya raya untuk dinikmati oleh kita semua, bukan hanya untuk para pimpinan partai Koalisi.
Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah kerusakan sistem pemerintahan, demokrasi dan masa depan anak cucu kita? [***]
Sumber : RMOL./Rabu, 20 April 2011 , 07:06:00 WIB http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=24724


Opini Politik Terkait :
Share |

Antara Cikeusik dan Cikeas
Oleh Adhie M. Massardi
Kamis, 10 Februari 2011 , 09:01:00 WIB

ILUSTRASI/IST
  
CIKEUSIK dan Cikeas adalah nama dua tempat berbeda yang kalau disebutkan akan mengingatkan kita pada “harapan dan kenyataan” yang berbeda, dalam konteks yang juga berbeda, tapi muaranya ternyata bisa sama.
Cikeas, seperti sudah sama-sama kita ketahui, adalah sebuah desa di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Salah satu rumah di Cikeas merupakan kediaman resmi Presiden Yudhoyono. Dalam sejarah politik modern, Yudhoyono tercatat sebagai Presiden RI pertama yang dipilih langsung. Karena itu, harapan bisa menyejahterakan rakyat tertumpu kepadanya.
Pada periode pertama (2004-2009), saat berpasangan dengan M Jusuf Kalla, harapan rakyat memang belum kunjung terjadi. Tapi dipilih kembali untuk periode berikutnya (2009-2014) karena diduga pada episode terakhir Pak Beye akan all out bekerja demi bangsa dan negaranya.
Akan tetapi, sialnya, sejak hari pertama, tokoh utama Partai Demokrat yang berganti pasangan dengan Boediono ini, sudah didera berbagai isu negatif. Mulai dari skandal rekayasa IT KPU hingga rekayasa bailout Bank Century yang merugikan keuangan negara hingga Rp 6,7 triliun.
Sejak itu, pemerintah seperti tersandera oleh dua kasus besar itu. Akibatnya, segala tindak-tanduknya dalam pemerintahan harus terus-menerus berkompromi dengan kekuatan politik yang menyanderanya. Tentu saja hal ini membuat nasib rakyat jadi terbengkalai. Sehingga tak bisa mendeteksi dan merasakan nasib rakyat yang kian megap-megap.
Mungkin sampai sekarang juga tidak tahu enam anggota keluarga Jamhamid, yang tinggal di Desa Jebol, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, meninggal dunia akibat keracunan makanan tiwul yang terbuat dari bahan ketela pohon (singkong). Keluarga yang termiskinkan oleh berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat ini, terpaksa mengganti makanan pokoknya dari nasi (beras) ke tiwul (singkong) yang jauh lebih murah, tapi resikonya keracunan kalau dikonsumsi berlebihan.
Sementara Cikeusik (arti harfiahnya Kali Pasir), adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pandeglang, Banten. Di kawasan ini ada Kampung Peundeuy (artinya pete), di Desa Umbulan. Di situlah tempat warga Ahmadiyah tinggal. Semula mereka aman dan tenteram hidup menyatu dengan warga setempat. Sampai kemudian, Ahad pekan lalu (6/2), semuanya berubah menjadi horor yang mengejutkan.
Ratusan orang dari luar kawasan, datang menyerang tempat mangkal warga Ahmadiyah itu. Pemukulan, penganiyaan hingga pembunuhan keji menimpa warga Ahmadiyah. Aparat keamanan yang biasanya sensitif terhadap kerumunan massa yang menentang pemerintahan Yudhoyono, kali ini seperti tertidur. Hanya satu dua orang yang tampak. Dalam video yang dipancarluaskan melalui jaringan You Tube, dunia pun menyaksikan video horor yang keji itu.
Penyerangan brutal terhadap pangikut Ahmadiyah mencerminkan kegagalan pemerintah,” komentar Donna Guest, Deputi Direktur Amnesti Internasional untuk kawasan Asia Pasifik.
Pandangan serupa juga muncul dari sejumlah tokoh nasional. Tak heran bila headline surat-surat kabar bunyinya kurang lebih seragam: Negara Gagal Lindungi Warga…!
Tragedi Cikeusik, yang (sehari) kemudian disusul peristiwa kerusuhan SARA di Temanggung, Jawa Tengah, memang sangat mengejutkan. Bukan hanya peristiwanya, tapi juga reaksi publik atas semua kejadian itu.
Ternyata sekarang kejadian yang berbau suku, agama, ras dan antargolongan itu, tidak serta merta ditanggapi dengan emosi. Tapi dengan akal dan kecerdasan yang mengagumkan. Makanya, meskipun pemberitaannya lumayan gencar, tapi masyarakat tak melupakan kasus-kasus sebelumnya.
Publik tetap masih ingat “kebohongan pemerintahan Yudhoyono” yang dilontarkan para tokoh lintas agama, kemiskinan yang makin nyata dirasakan, dan ancaman kelangkaan pangan yang mencemaskan.
Terbukti sudah, kekuatan isu ternyata tak bisa mengalihkan apa yang sedang kita rasakan! [**]
Sumber : RMOL./Kamis, 10 Febr, 2011.
http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=17785
 

Selasa, 26 April 2011

Israel Minta Pelankan Suara Adzan, Palestina Meradang

22 Jumadil Awwal 1432 26 April 2011 Selasa 22:40 WIB
Israel Minta Pelankan Suara Adzan, Palestina Meradang
Adzan
Israel Minta Pelankan Suara Adzan, Palestina Meradang
Selasa, 26 April 2011 20:25 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,NAZARET--Gerakan Islam di Palestina mengecam pemintaan penjajah Zionis Israel agar suara adzan di masjid-masjid al Quds dipelankan, dengan dalih mengganggu kaum pemukim pendatang Zionis.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan Selasa (26/4), Gerakan Islam mengatakan bahwa klaim para pemukim pendatang Zionis bahwa mereka terganggu dengan suara adzan yang menggema dari menara masjid-masjid Jerusalem terutama dari menara masjid al Aqsha adalah "arogansi dan kesewenang-wenangan".

Pernyataan itu menambahkan bahwa institusi Zionis, masih saja bertindak layaknya pencuri yang mulai merasa bahwa pemilik rumah sedang dalam perjalanan kembali pulang ke rumahnya tidak lama lagi.

Gerakan Islam menegaskan bahwa adzan adalah salah satu syiar agama tidak akan diabaikan dan tidak akan pula dikompromikan. Di akhir pernyataan, Gerakan Islam menyetukan kepada penjajah Zionis Israel, "Ketahuilah wahai para perampas, betapa puan arogansi, kepongahan dan kedzaliman yang kalian perbuatan, Allah Maha Besar dari kalian dan dari kedzaliman kalian.  Diamlah wahai kaum penjajah, sekarang waktunya adzan."

Disebutkan polisi Israel di Jerusalem telah mengumumkan mereka berniat untuk mengambil langkah-langkah teknis untuk membatasi kumandang adzan dari masjid-masjid di Jerusalem, dengan dalih mengganggu warga permukiman-permukiman Zionis terdekat.
Sumber : Republika.co.id/ selasa 26 April 2011

Malinda Dee: Citibank Jadi Tempat Pencucian Uang Nasabah Selama 10 Tahun

 

Malinda Dee: Citibank Jadi Tempat Pencucian Uang Nasabah Selama 10 Tahun

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Inong Malinda Dee, pelaku penggelapan dana nasabah sebesar Rp 16,063, mengatakan, Citibank telah menampung dana pencucian uang nasabah Malinda selama 10 tahun. Hal itu diakui Malinda kepada kuasa hukumnya. "Malinda mengaku itu (menampung pencucian uang nasabah). Citibank tahu karena untung," kata salah satu kuasa hukum Inong Malinda Dee, Indra Sahnun Lubis, di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (26/4).
Ia menambahkan, selama 10 tahun, para atasan Malinda di Citibank cabang Landmark sangat mengetahui apa yang dilakukan Malinda terhadap uang nasabahnya. Pasalnya Malinda menjadi perpanjangan tangan nasabah untuk mencuci uang tabungan tersebut.
Malinda akan menawarkan jasa lain dengan memindahkan rekening nasabah ke bisnis lain seperti asuransi dan produk Citibank lainnya. Dari pencucian uang nasabah ke bisnis lain, nasabah akan mendapatkan keuntungan. "Jika nasabah untung, Citibank juga pasti bakal untung. Tapi kenapa Malinda malah dikorbankan seperti ini?," tegasnya.
Sebelumnya Malinda ditangkap polisi karena dilaporkan pihak Citibank yang dirugikan Rp 16,063. Selain Malinda, Dwi, teller dan dua head teller, juga telah dijadikan tersangka meski tidak ditahan
Sumber :

Mahasiswa ITB Paling Banyak Direkrut NII

Mahasiswa ITB Paling Banyak Direkrut NII
Headline 
Negara Islam Indonesia (NII) - inilah.com
Oleh:
Nasional - Selasa, 26 April 2011 | 14:45 WIB
INILAH.COM, Bandung - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) paling banyak direkrut sebagai anggota baru aktivis Negara Islam Indonesia (NII).

"Dari empat kampus ITB, Unpad, Polban dan UPI. ITB sudah sejak dulu digoyang NII. Mahasiswa ITB menjadi yang terbanyak direkrut sebagai anggota NII oleh aktivitis NII gadungan," kata Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali M Da`i dalam jumpa pers di Masjid Al Fajr Jalan Situsari VI Cijagra, Bandung, Selasa, (26/4/2011).

Ia mengatakan, data mahasiswa di Kota Bandung yang direkrut NII Gadungan didasarkan pada data yang dimiliki FUUI pada 2002-2003. Menurutnya, jumlah mahasiswa ITB yang direkrut oleh NII gadungan saat itu mencapai 200 orang.

"Pada saat itu, pihak rektornya melapor kepada kami bahwa ada sekitar 200 mahasiswanya yang tidak masuk kuliah, tidak bayar SPP hingga akhirnya di DO (Drop Out) karena ikut NII," ujar Athian.

Ia menambahkan, mahasiswa yang telah direkrut menjadi anggota NII telah meresahkan pihak kampus Polban. "Pasalnya, empat orang di antara kaum yang telah direkrut oleh NII adalah dosen yang menjabat di Polban," ujarnya.

Dia mengatakan, salah satu penyebab banyaknya mahasiswa ITB direkrut masuk NII karena kurangnya pemahaman mereka terhadap ajaran Islam yang sebenarnya.
"Bisa jadi karena itu, mereka kurang memahami ajaran Islam yang sebenarnya," katanya. FUUI akan mengundang perwakilan kampus dan sekolah untuk memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. [ant]
INILAH.COM, Bandung /Selasa, 26 April 2011 | 14:45 WIB

Terorisme : Menyibak Benang Merah Pepi, DK, & Gories Mere

Menyibak Benang Merah Pepi, DK, & Gories Mere
Headline
Oleh: MA Hailuki
Nasional - Senin, 25 April 2011 | 08:32 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Sosok Pepi Fernando (32) menjadi sorotan setelah terungkap sebagai dalang di balik aksi teror bom buku dan upaya peledakan pipa gas di Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Pepi diketahui lulusan Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2001. Sebelum menjadi pembuat film dokumenter, Pepi pernah bekerja di dunia infotainmen.

Saat kuliah maupun ketika masih menggeluti dunia infotainmen, Pepi dikenal sebagai sosok gaul bahkan agak urakan. Menurut teman-temannya saat kuliah, Pepi senang bermain kartu gaple dan bukanlah aktivis Islam.

"Tiap malam suka main gaple di kos-kosan sama teman-teman," ujar Dede, rekan satu kos Pepi di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten kepada INILAH.COM.

Berdasarkan informasi, Pepi memiliki istri berinisial DK yang bekerja di Badan Narkotika Nasional (BNN) pimpinan Komjen Pol Gories Mere. Sebelum bekerja di BNN, DK juga pernah bekerja di sebuah production house (PH) infotainmen.

Mabes Polri maupun BNN belum memberikan konfirmasi apakah benar bahwa DK istri Pepi itu staf humas BNN. Terlepas dari itu, temuan fakta ini sangat menarik untuk dicermati.

Pepi sang sutradara film dokumenter yang saat ini diduga tergabung dalam kelompok teroris, punya istri bernama DK, anak buah Gories Mere yang tak lain mantan Kepala Densus 88 Antiteror.

Fakta temuan menarik lainnya, Densus 88 menemukan aneka rangkaian bom aktif di kediaman mertua Pepi, orang tua DK, di Jalan Seruni II No 14 Blok CE, RT 08/19 Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Bekasi Barat.

Bahan peledak yang ditemukan itu antara lain, satu buah granat nanas, satu pipa berdiameter 3 cm berisi campuran bahan peledak, kemasan bom model roket belum terisi, lima bom model kaleng yang satu di antaranya sudah siap dengan isinya, dua bahan bom yang sudah jadi, satu kemasan bom model kotak, satu solder, potongan pipa besi, dan timer jam dinding.

Rangkaian bom tersebut bukanlah bom sederhana, rangkaiannya sangat rumit dan membutuhkan keterampilan sekelas instruktur untuk merangkainya. Inilah yang akhirnya menimbulkan kecurigaan, apakah benar Pepi belajar secara otodidak dalam membuat bom.

Berangkat dari temuan fakta-fakta tersebut, akhirnya publik bertanya adakah benang merah antara Pepi, DK, dan Gories Mere? Kita tunggu saja bagaimana penjelasan Mabes Polri mengenai kelanjutan pengusutan kasus ini. [nic]
Sumber : INILAH.COM, Jakarta/Senin, 25 April 2011 | 08:32 WIB


BERITA TERKAIT :

Penyisiran Bom di Cililitan Selesai Dilakukan
Headline 
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Bayu Hermawan
Nasional - Selasa, 26 April 2011 | 19:05 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Penyisiran tim Gegana untuk menemukan bom yang diduga diletakkan oleh Pepi Fernando di seberang markas Kodam Jaya, Jl Mayjen Sutoyo, Cililitan, Jakarta Timur, telah selesai dilakukan.

Menurut beberapa orang pedagang kaki lima yang biasa berjualan di depan kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cililitan, Jakarta Timur penyisiran selesai sekitar pukul 18.00 WIB.

"Udah selesai tadi mas, tadi pintu tol keluar UKI sempat ditutup, tapi udah dibuka lagi," ucap salah seorang pedagang, Ahmad, Selasa (26/4/2011).

Saat ditanya apakah ada yang dibawa oleh petugas Kepolisian, Ahmad mengatakan tidak melihat apa pun.

"Saya melihat agak jauh, tapi sepertinya tidak ada yang dibawa, polisinya sih agak banyak tadi, tapi sudah pulang semua," katanya.

Sementara menurut Sodikin, polisi tadi sempat menurunkan orang yang di borgol dan ditutup kepalanya. "Tadi sempat ada yang diturunkan dari mobil, tapi saya engak tahu mukanya seperti apa, kepalanya ditutup," katanya.

Arus lalu lintas di sekitar tempat yang tadi sempat ditutup masih cukup padat, mengingat usainya penyisiran bersamaan dengan jam pulang kantor. [mvi]
Sumber : http://nasional.inilah.com/read/detail/1455212/penyisiran-bom-di-cililitan-selesai-dilakukan

Mahathir Hilang, Siap Dirikan Negara Islam

Kasus "Cuci Otak"
Mahathir Hilang, Siap Dirikan Negara Islam
K16-11 | Glori K. Wadrianto | Rabu, 20 April 2011 | 12:45 WIB
Dibaca: 65762

 
K16-11 Yudi Ardiyansyah, paman Mahatir Rizki mahasiswa UMM Malang yang diduga mencadi korban pencucian otak, Senin (18/4/2011)
Foto:
MALANG, KOMPAS.com — Titik terang muncul setelah sebulan lebih pihak keluarga korban "cuci otak" mencari keberadaan Mahathir Rizki–mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), asal Bima, Nusa Tenggara Barat.
 
Mahathir ternyata direkrut sebuah organisasi bernama Negara Islam Indonesia (NII). Pemuda itu dikabarkan berada di wilayah Semarang, Jawa Tengah. Hal itu terungkap setelah Mahathir menghubungi keluarganya yang ada di Bima."Setelah diberitakan di berbagai media, cetak maupun elektronik, Mahathir Rizki menghubungi keluarganya yang di Bima. Dia menelepon bapak ibunya di Bima. Katanya dia malu fotonya ada di berbagai media," kata Ismed Jayadi, paman dari Mahathir, yang kini masih ada di Kota Malang saat dihubungi Kompas.com, Rabu (20/4/2011).
"Kalau kamu memang merasa malu, kamu segera pulang. Keluarga menunggu kamu. Itu pinta kedua orangtua Mahathir," kutip Ismed.
Namun, walaupun dibujuk oleh kedua orangtuanya, anak dari pasangan Abdul Mutollib dan Rostina itu tetap tak mau pulang ke Bima. "Dia mengaku sudah nyaman dan tenang bergabung di NII di Semarang," ujar Ismed.
Mahathir menghubungi kedua orangtuanya pada pukul 19.00, Selasa (19/4/2011). "Saya sampai sekarang belum dihubungi oleh Mahathir. Nomor yang digunakan Mahathir itu selalu gonta-ganti. Mungkin sekali pakai langsung dibuang," kata Ismed.
"Mahathir mengaku siap dan sudah berkomitmen untuk mendirikan Negara Islam Indonesia melalui organisasi NII," sambungnya.
Lebih lanjut, Ismed mengaku, pihak keluarga Mahathir tetap akan berusaha bagaimana Mahathir kembali lagi ke keluarganya. "Selain itu pikirannya kembali seperti semua. Tidak aktif di organisasi NII," harap Ismed.
Ditanya lebih lanjut soal kepribadian dan perilaku Mahathir saat masih belum kuliah dan saat sudah kuliah di UMM, Ismed mengaku, tak ada yang aneh dalam diri keponakannya itu. "Tak ada perawakan seperti pemeluk Islam garis keras. Saat masih SMA, dia aktif di Paskibraka Bima. Di kampus UMM, dia sepertinya tak aktif di organisasi kampus," cerita Ismed.
Sementara itu, menurut Kepala Hubungan Masyarakat UMM Nasrullah, tetap ada dua kemungkinan dalam kasus ini. "Bisa penipuan bermodus agama atau bisa juga murni direkrut untuk anggota negara Islam," katanya.
Nasrullah mewakili Rektor UMM DR Muhajir Effendi meminta kepada kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Apakah memang penipuan bermodus agama atau memang murni "cuci otak" untuk kepentingan negara Islam. 
Sumber :KOMPAS.com./senin, 25 April 2011
http://regional.kompas.com/read/2011/04/20/1245066/Mahathir.Hilang.Siap.Dirikan.Negara.Islam

Cari Blog Ini