| Jodhi Yudono |
Jumat, 11 Juni 2010 | 03:07 WIB
KOMPAS.COM/M SUPRIHADI
Di antara rutinitas sehari-hari, kesenian tidak dilupakan
masyarakat Sewukan, Dukun, Magelang, seperti nanggap karawitan untuk
acara hajatan.
MAGELANG, KOMPAS.com--Salah
seorang peraih Maarif Award 2010, Romo Vincentius Kirjito, Pr.,
mengatakan bahwa penghargaan yang diterimanya meneguhkan kesadaran
komunitas Gunung Merapi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terhadap
kearifan lokal mereka karena kebudayaannya bernilai pendidikan untuk
pembangunan karakter bangsa.
"Semangat pluralitas yang mereka
kembangkan selama ini dan kearifan lokal yang mereka lestarikan mampu
merespons tantangan hidup, dan menjadi poin penting bagi pembangunan
karakter bangsa," katanya ketika dihubungi dari Magelang, Kamis malam.
Romo
Kirjito, budayawan Merapi yang juga Kepala Gereja Katolik Santa Maria
Lourdes Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, di lereng
barat Gunung Merapi itu salah satu di antara dua penerima "Maarif Award
2010" yang diselenggarakan oleh Maarif Institute.
Penerimaan
penghargaan itu di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Kamis malam, oleh
pendiri
Maarif Institute, Syafi`i Maarif. Seorang penerima lainnya
adalah Habib S. Ali Al-Habsyi berasal dari Martapura, Kalimantan Selatan
yang juga telah dinilai oleh Tim Kerja Maarif Award 2010 telah
mengabdikan diri, memberdayakan komunitas setempat.
Kirjito
mengaku, ditemani Penasihat Unio (Persaudaraan Para Imam Praja)
Keuskupan Agung Semarang yang juga pastor Gereja Tumpang, Kecamatan
Sawangan, Magelang, Romo Modestus Supriyanto, Pr., Kepala Desa
Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Yatin, dan seorang petani Merapi, Gimin,
saat menerima penghargaan itu. Kardinal Julius Darmaatmadja S.J., juga
hadir pada kesempatan itu.
"Penghargaan ini untuk masyarakat
Merapi yang selama ini, dengan kesederhanaan sebagai orang desa dan
gunung, telah bergulat menghadapi berbagai tantangan zaman," katanya.
Ia menyebut penghargaan itu sebagai pupuk atas semangat perjuangan masyarakat Merapi dalam menggali kearifan lokalnya.
"Seperti tanaman yang disirami dan dipupuk. Ini (Maarif Award, red.) menjadi dukungan yang luar biasa," katanya.
Ia
mengaku tidak menyangka bahwa kiprahnya selama ini bergaul dengan
berbagai kalangan masyarakat terutama di kawasan Merapi ternyata
mendapat perhatian besar dari Maarif Institute yang didirikan tokoh
nasional, budayawan, dan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah,
Syafi`i Maarif itu.
"Apa yang saya lakukan kecil-kecilan saja,
ternyata ada yang memperhatikan dari jauh, oleh lembaga independen
dengan pengurus yang kredibel, dewan juri yang independen," katanya.
Supriyanto
mengatakan, sejak sekitar 10 tahun terakhir, Romo Kirjito (57) memimpin
sekitar tiga ribu umat Katolik lereng barat Gunung Merapi di Kabupaten
Magelang dan sebagian kecil di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.
Selain
sebagai rohaniwan yang memimpin umat Katolik setempat, Kirjito juga
bergaul secara akrab dengan berbagai kalangan masyarakat melalui
berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, kemanusiaan, dan perdamaian.
Kirjito,
katanya, bersama-sama masyarakat setempat antara lain mengembangkan
kebudayaan lokal, kesenian rakyat, pemberdayaan masyarakat, gerakan
peletarian lingkungan dan cinta air di kawasan lereng Merapi.
Ia
mengatakan, selama beberapa tahun terakhir ini, Kirjito mengembangkan
Program "Live In" di Desa Mangunsuko dan Ngargomulyo, Kecamatan Dukun
yang ternyata menjadi daya tarik berbagai kalangan terutama para siswa
berasal dari sejumlah kota besar.
Peserta program itu tinggal
selama beberapa hari di rumah-rumah penduduk setempat. Mereka bergaul,
menikmati keseharian hidup petani, berkesenian bersama komunitas petani
setempat, belajar cinta air dan alam Merapi.
Ia mengemukakan,
pemberian penghargaan itu membuktikan bahwa tindakan nyata yang
bermanfaat bagi kemajuan kemanusiaan dan perdamaian oleh seseorang di
setiap tempat, mampu mengantar seseorang itu menjadi tokoh dan teladan
atas banyak orang.
"Ini menjadi pendorong kerja kemanusiaan secara
berkelanjutan. Menjadi tokoh tidak harus memiliki nama besar dan
bergaya hidup mewah tetapi sikap keseharian yang sederhana itu juga
salah satu karakter ketokohan. Di gunung pun orang bisa berkiprah yang
bermanfaat bagi upaya perdamaian dan kemanusiaan, yang penting ada
tindakan tulus dan nyata. Harus selalu disadari bahwa desa adalah
`ibu`," katanya.
http://nasional.kompas.com/read/2010/06/11/0307477/function.simplexml-load-file