Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.

Rabu, 05 September 2012

Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia

 

Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 1)  


TEMPO.CO, Jakarta - Perseteruan antara penganut Sunni dan Syiah bukanlah hal baru. Konflik ini telah berjalan ribuan tahun. Lokasi bentrokan tak cuma di Indonesia saja, melainkan pada banyak negara. Karena itu, cendekiawan Jalaluddin Rakhmat menyatakan konflik Sunni-Syiah bukan problem lokal atau nasional, melainkan permasalahan internasional.

Ketika Tempo berkunjung ke kediamannya, Kamis, 29 Agustus 2012, lelaki yang biasa disapa Kang Jalal ini bercerita soal Syiah di Indonesia. Mulai dari proses penyebaran, konflik, cara beribadah, hingga ancaman yang kerap diterima pengikut Syiah. Dan inilah hasil perbincangan wartawan Tempo: Choirul Aminuddin, Erwin Zachri, Cornila Desyana, dan Praga Utama dengan Ketua Dewan Syuro ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia itu.

Kapan kali pertama Syiah masuk Indonesia?
Tak ada yang tahu pasti karena tidak pernah ada sejarah yang mencatatnya. Tapi saya duga, Islam yang pertama kali masuk ke Aceh sekitar abad ke-8 atau waktu Dinasti Abbasiyah. Ketika itu, orang Hadramaut dari Arab masuk ke Aceh untuk berdakwah. Tapi mereka tak menunjukkan dirinya Syiah. Melainkan ber-taqiyah (berpura-pura) menjadi pengikut mahzhab Syafi''i. Karena itu, secara kultur Nahdlatul Ulama adalah Syiah. Tapi tak pernah ada sejarah yang merekam jejak mereka. Jadi, dianggapnya tak ada Syiah di kala itu. (Baca juga: Penyebaran Syiah di Aceh )

Kenapa mereka berpura-pura menganut Mahzab Syafi''i?
Mereka tetap orang Syiah. Tapi di luarnya mempraktikkan mahzab Syafi''i. Tujuannya untuk melindungi diri dari serangan.

Apa yang membuat Anda yakin Syiah sudah masuk Indonesia kala itu?
Anda bisa lihat dari beberapa tradisi di Indonesia. Tabot, misalnya. Tradisi itu kerap dilakukan masyarakat Bengkulu pada 1 hingga 10 Muharram tiap tahunnya. Tak kurang dari seribu orang mengikuti Tabot. Mereka melakukan drama kolosal yang mengenang tragedi pembantaian keluarga nabi dan tewasnya Imam Hussein di Karbala.

 Awalnya, tradisi itu diperkenalkan saudagar India yang kapalnya terdampar di Bengkulu. Tapi warga tak tahu jika tabot adalah tradisi Syiah. Sampai sekarang pemerintah dan warga Bengkulu tetap menggelar tabot, meskipun mereka bukan Syiah. (Baca: Tabot, Jejak Syiah dalam Tradisi Indonesia)

Lalu kapan jejak Syiah di Indonesia mulai terbaca sejarah?
Pada penyebaran gelombang kedua, Syiah masuk sekitar 1982. Berawal dari revolusi Islam di Iran pada 1979-1980-an, yakni peristiwa perebutan kekuasaan di Iran dari pemerintahan otokrasi, Mohammad Reza Shah Pahlavi, oleh ulama tua, Ayatullah Rohullah Khomeini. (Baca juga: Syiah Berkembang di Indonesia Pasca-Evolusisi Iran)

Kakek ini (Khomeini) menarik perhatian mahasiswa. Buat gerakan Islam di Indonesia yang selalu gagal dalam pertarungan politik, Imam Khomeni dianggap sebagai harapan. Ia menjadi lambang negara dunia ketiga yang melawan Amerika.

Mahasiswa yang dilarang berkegiatan sosial oleh pemerintah kembali ke masjid. Mereka mengulas buku-buku revolusi Iran, mengenal Syiah, mempelajari ideologi serta filosofinya. Kemudian muncullah Syiah di kalangan pelajar yang berpusat pada masjid kampus.

Kelompok Syiah pertama kali muncul di daerah mana?
Di Bandung. Lalu Syiah masuk ke HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan mulai tersebar ke kampus di daerah lain. Aktivis HMI menyebarkan ajaran Syiah secara sistematis, yakni melalui pelatihan kepemimpinan. (Baca juga: Bandung, Kantong Syiah Terbesar di Indonesia )

Syiah di masa itu sudah menimbulkan protes dari masyarakat?
Belum. Bahkan masyarakat tak merisaukan kesibukan mahasiswa yang mempelajari Syiah. Sebab mereka tak membicarakan soal fiqih. Jadi hanya dianggap sebagai gerakan intelektual.

Lalu kapan Syiah mulai diprotes?
Pada gelombang ketiga. Waktu orang-orang sudah mengerti ideologi dan filofosi Syiah. Kemudian mereka ingin mengenal Syiah dari segi fiqih. Mereka belajar dari habib yang pernah belajar di Khum, Iran. Karena sudah masuk ke ranah fiqih, muncullah perbedaan paham. Dan timbullah benih konflik.

Apa sampai di situ saja penyebaran Syiah di Indonesia?
Tidak. Ada gelombang keempat, ketika orang Syiah mulai membentuk ikatan. Misalnya Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia, IJABI. Berdiri 1 Juli 2000, IJABI merupakan organisasi massa yang diakui keberadaannya oleh Kementerian Dalam Negeri.

Tapi penyebaran kali ini tak mengutamakan fiqih, kami mengedepankan akhlak. Alasannya, fiqih sudah menimbulkan konflik. Sedangkan bagi kami, yang penting Islam bersatu dan Indonesia tenteram. Jadi IJABI lebih fokus pada kegiatan sosial.

Baca juga:
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 1)
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 2)
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 3)
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 4)
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 5)
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 6)

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2012/09/03/173427062/Cerita-Jalaluddin-Rakhmat-Soal-Syiah-Indonesia-Bagian-I

Terorisme :Pelaku Teror Solo Mungkin Terkait Jaringan Lama

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Biro Penyuluhan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan jaringan teroris Solo bisa saja terlibat dengan jaringan terorisme lama. "Di antara mereka memang memiliki keterkaitan emosional yang cukup erat dengan jaringan yang sebelumnya," kata Boy di Kompleks Parlemen Senayan, Senin, 3 September 2012.
Menurut Boy, modus yang digunakan jaringan teroris Solo dengan menyerang petugas kepolisian dengan sandi ‘main bola’ adalah modus baru. Tetapi polisi menduga jaringan ini merupakan afiliasi kelompok lama yang selama ini sudah terungkap juga. "Jadi mereka adalah gabungan-gabungan."
Jaringan kelompok teroris Solo yang baru ditangkap akhir pekan lalu, kata Boy, sebenarnya juga punya nama sendiri. Namun Mabes belum bisa memastikan. "Ini yang coba kami cari tahu."
Beberapa kelompok yang diduga berkaitan dengan mereka, kata Boy, adalah kelompok Sigit Tardowi yang telah disergap Densus 88 tahun lalu. Kelompok lain adalah kelompok Abu Umar yang ditangkap terkait pengiriman senjata pada kelompok terorisme di Klaten.
Keterlibatan dengan kelompok Abu Umar terlihat dari senjata yang digunakan Farhan. Senjata Farhan disebut berasal dari Filipina yang dipasok Abu Umar. Terlebih, dari informasi yang dimiliki Mabes Polri, Farhan adalah anak dari tiri Abu Umar. Ibu Farhan diketahui menikah dengan Abu Umar setelah ayah kandungnya meninggal. "Tapi info ini perlu pendalaman lebih lanjut."
Farhan, kata Boy, diduga juga tengah membangun hubungan dengan jaringan terorisme Filipina. Dia terdeteksi mulai membangun komunikasi atas bantuan Abu Umar. Saat ini Mabes Polri, masih mengembangkan keterangan mengenai jaringan terorisme Solo dari Bayu, seorang terduga teroris yang ditangkap Jumat malam lalu.
IRA GUSLINA SUFA
Sumber:  http://id.berita.yahoo.com/pelaku-teror-solo-mungkin-terkait-jaringan-lama-114026872.html

Terorisme : Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Depok

  • Teroris Solo Latihan di Gunung Merbabu  
Densus Ringkus Terduga Teroris di Depok
Liputan6.com, Depok: Tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri menangkap satu orang terduga teroris bernama Firman (25 tahun). Penggerebakan dilakukan di sebuah rumah, di Blok F2 Perumahan Taman Anyelir 2, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kodya Depok, Rabu (5/9). Pasukan Densus menyerbu rumah bernomor sembilan tersebut pada pukul 05.30.
Petugas sempat melepaskan tembakan ke arah rumah yang menjadi target operasi itu. Ketika penggerebekan berlangsung, penghuni rumah tampak berusaha kabur dan lari masuk ke rumah yang berada di depannya. Tapi anggota Densus dengan cepat langsung meringkusnya di halaman rumah di Blok E1 tersebut.
"Telah ditangkap tersangka teroris bernama Firman, tersangka merupakan DPO Solo Jawa Tengah," kata Kadiv Humas Mabes Polri Anang Iskandar, saat dikonfirmasi, Rabu pagi.
Menurut Anang, pelaku yang ditangkap itu diduga telah terlibat dalam penembakan pos pengamanan Lebaran, pelemparan granat dan penembakan di pos polisi Serengan, Solo pada Agustus lalu. "Saat ini tersangka masih dilakukan pemeriksaan secara intensif," tegasnya. (FRD)
http://id.berita.yahoo.com/densus-ringkus-terduga-teroris-di-depok

Terorisme : PBNU: Teroris Tidak Mati Syahid

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umun Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menegaskan pelaku teroris yang tewas tidak akan menjadi syuhada.
"Teroris tidak akan mati syahid tapi mati sangit," ujar Said kepada wartawan seusai memberikan sambutan dalam acara launching Munas Alim Ulama dan Konbes di Kantor Pusat PBNU, Jl Kramat Raya 164, Jakarta, (4/9/2012).
Lebih lanjut ia menambahkan, apa yang mereka (teroris) lakukan jelas-jelas telah menghina sekaligus mencoreng agama Islam.
"Terorisme itu bertentangan dengan Islam jadi jelas merugikan, mencoreng, menghina Islam," tegasnya.
Kiai asal Cirebon ini juga menyayangkan karena ulah segelintir oknum, citra pesantren menjadi jelek di mata masyarakat.
"Hendaknya pesantren tidak menjadi sumber pembibitan bagi munculnya kader teroris, bila ada pesantren yang mengkader teroris, yang seperti itu bukan pesantren namanya, tapi ternak teroris," terangnya.
Sebelumnya tersiar kabar bahwa, terpidana teroris seperti Imam Samudra, Amrozi yang telah di eksekusi mati merupakan syuhada karena perbuatan terornya merupakan jihad. Serta baru-baru ini embrio teroris diduga lahir dengan tewasnya dua orang terduga teroris berinisial F (19) dan M (19).
Keduanya tewas dalam baku tembak saat penyegapan oleh aparat Densus 88 di Solo. Keluarga salah satu  terduga teroris yang ditembak mati di Solo meyakini anaknya mati menjadi syuhada.
Sumber : http://id.berita.yahoo.com/pbnu-teroris-tidak-mati-syahid-103617065.html

Cari Blog Ini