Senin, 03 September 2012 | 05:02 WIB

Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 1)
TEMPO.CO,
Jakarta
- Perseteruan antara penganut Sunni dan Syiah bukanlah hal baru.
Konflik ini telah berjalan ribuan tahun. Lokasi bentrokan tak cuma di
Indonesia saja, melainkan pada banyak negara. Karena itu, cendekiawan
Jalaluddin Rakhmat menyatakan konflik Sunni-Syiah bukan problem lokal
atau nasional, melainkan permasalahan internasional.
Ketika
Tempo
berkunjung ke kediamannya, Kamis, 29 Agustus 2012, lelaki yang biasa
disapa Kang Jalal ini bercerita soal Syiah di Indonesia. Mulai dari
proses penyebaran, konflik, cara beribadah, hingga ancaman yang kerap
diterima pengikut Syiah. Dan inilah hasil perbincangan wartawan
Tempo:
Choirul Aminuddin, Erwin Zachri, Cornila Desyana, dan Praga Utama
dengan Ketua Dewan Syuro ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia itu.
Kapan kali pertama Syiah masuk Indonesia?
Tak
ada yang tahu pasti karena tidak pernah ada sejarah yang mencatatnya.
Tapi saya duga, Islam yang pertama kali masuk ke Aceh sekitar abad ke-8
atau waktu Dinasti Abbasiyah. Ketika itu, orang Hadramaut dari Arab
masuk ke Aceh untuk berdakwah. Tapi mereka tak menunjukkan dirinya
Syiah. Melainkan ber-taqiyah (berpura-pura) menjadi pengikut mahzhab
Syafi''i. Karena itu, secara kultur Nahdlatul Ulama adalah Syiah. Tapi
tak pernah ada sejarah yang merekam jejak mereka. Jadi, dianggapnya tak
ada Syiah di kala itu. (Baca juga: Penyebaran Syiah di Aceh )
Kenapa mereka berpura-pura menganut Mahzab Syafi''i?
Mereka tetap orang Syiah. Tapi di luarnya mempraktikkan mahzab Syafi''i. Tujuannya untuk melindungi diri dari serangan.
Apa yang membuat Anda yakin Syiah sudah masuk Indonesia kala itu?
Anda
bisa lihat dari beberapa tradisi di Indonesia. Tabot, misalnya. Tradisi
itu kerap dilakukan masyarakat Bengkulu pada 1 hingga 10 Muharram tiap
tahunnya. Tak kurang dari seribu orang mengikuti Tabot. Mereka melakukan
drama kolosal yang mengenang tragedi pembantaian keluarga nabi dan
tewasnya Imam Hussein di Karbala.
Awalnya, tradisi itu
diperkenalkan saudagar India yang kapalnya terdampar di Bengkulu. Tapi
warga tak tahu jika tabot adalah tradisi Syiah. Sampai sekarang
pemerintah dan warga Bengkulu tetap menggelar tabot, meskipun mereka
bukan Syiah. (Baca:
Tabot, Jejak Syiah dalam Tradisi Indonesia)
Lalu kapan jejak Syiah di Indonesia mulai terbaca sejarah?
Pada
penyebaran gelombang kedua, Syiah masuk sekitar 1982. Berawal dari
revolusi Islam di Iran pada 1979-1980-an, yakni peristiwa perebutan
kekuasaan di Iran dari pemerintahan otokrasi, Mohammad Reza Shah
Pahlavi, oleh ulama tua, Ayatullah Rohullah Khomeini. (Baca juga:
Syiah Berkembang di Indonesia Pasca-Evolusisi Iran)
Kakek ini (Khomeini) menarik perhatian mahasiswa. Buat gerakan Islam di
Indonesia yang selalu gagal dalam pertarungan politik, Imam Khomeni
dianggap sebagai harapan. Ia menjadi lambang negara dunia ketiga yang
melawan Amerika.
Mahasiswa yang dilarang berkegiatan sosial
oleh pemerintah kembali ke masjid. Mereka mengulas buku-buku revolusi
Iran, mengenal Syiah, mempelajari ideologi serta filosofinya. Kemudian
muncullah Syiah di kalangan pelajar yang berpusat pada masjid kampus.
Kelompok Syiah pertama kali muncul di daerah mana?
Di
Bandung. Lalu Syiah masuk ke HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan mulai
tersebar ke kampus di daerah lain. Aktivis HMI menyebarkan ajaran Syiah
secara sistematis, yakni melalui pelatihan kepemimpinan. (Baca juga:
Bandung, Kantong Syiah Terbesar di Indonesia )
Syiah di masa itu sudah menimbulkan protes dari masyarakat?
Belum. Bahkan masyarakat tak merisaukan kesibukan mahasiswa yang
mempelajari Syiah. Sebab mereka tak membicarakan soal fiqih. Jadi hanya
dianggap sebagai gerakan intelektual.
Lalu kapan Syiah mulai diprotes?
Pada gelombang ketiga. Waktu orang-orang sudah mengerti ideologi dan
filofosi Syiah. Kemudian mereka ingin mengenal Syiah dari segi fiqih.
Mereka belajar dari habib yang pernah belajar di Khum, Iran. Karena
sudah masuk ke ranah fiqih, muncullah perbedaan paham. Dan timbullah
benih konflik.
Apa sampai di situ saja penyebaran Syiah di Indonesia?
Tidak. Ada gelombang keempat, ketika orang Syiah mulai membentuk
ikatan. Misalnya Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia, IJABI. Berdiri 1
Juli 2000, IJABI merupakan organisasi massa yang diakui keberadaannya
oleh Kementerian Dalam Negeri.
Tapi penyebaran kali ini tak
mengutamakan fiqih, kami mengedepankan akhlak. Alasannya, fiqih sudah
menimbulkan konflik. Sedangkan bagi kami, yang penting Islam bersatu dan
Indonesia tenteram. Jadi IJABI lebih fokus pada kegiatan sosial.
Baca juga:
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 1)
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 2)
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 3)
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 4)
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 5)
Kisah Kang Jalal Soal Syiah Indonesia (Bagian 6)
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2012/09/03/173427062/Cerita-Jalaluddin-Rakhmat-Soal-Syiah-Indonesia-Bagian-I