Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.
Tampilkan postingan dengan label NII : Pemerintah Diminta Ungkap Beking Gerakan NII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NII : Pemerintah Diminta Ungkap Beking Gerakan NII. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2013

Bahaya...!!! PKS Tolak Pancasila Sebagai Asas Tunggal

Bahaya! PKS Tolak Pancasila Sebagai Asas Tunggal
Jumat, 12 April 2013 | 22:32
Ilustrasi kegiatan PKS. [Dok. SP] Ilustrasi kegiatan PKS. [Dok. SP]


[JAKARTA]  Anggota DPR dari Fraksi PKS, Indra mengatakan, pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Organisasi masyarakat (Ormas) ditunda dari jadwal semula pada 12 April 2014.

PKS dengan tegas  mengatakan tidak ada asas tunggal, tidak adanya pasal-pasal yang berpotensi represif dan pengekangan. Artinya, Pancasila bukan lagi satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

"FPKS dengan tegas menyatakan untuk menunda pengesahan RUU Ormas, dan semua fraksi dan juga pemerintah telah sepakat menunda pengesahan RUU Ormas," kata Indra di Jakarta, Jumat (12/4).


PBNU memberikan reaksi serius atas pernyataan PKS ini. Wakil Sekjen PBNU Sulton Fatoni mengatakan, penolakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) atas Pancasila sebagai asas utama organisasi kemasyarakatan yang tercantum dalam Rancangan Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan harus disikapi serius.

Sebagai partai yang terlibat dalam penyelenggaraan negara, sudah tidak sepatutnya masih mempertanyakan Pancasila dan UUD 45, kata Sulton di Jakarta, Rabu.“Kalau tidak mau Pancasila sebagai asas berbangsa dan bernegara, agenda apa lagi yang sedang disusun untuk masa depan negara ini?” katanya kepada pers.Sulton mengatakan bahwa mengakui asas Pancasila dalam berbangsa dan bernegara adalah implementasi ajaran agama karena Pancasila adalah rumusan nilai-nilai luhur bangsa, bukan sebuah konsep keburukan.“Pancasila itu bukan agama karena itu tidak sepatutnya dibenturkan dengan agama,” tukasnya.Ia berharap pada saat RUU Ormas disahkan nanti tidak ada yang menolak rumusan asas Pancasila bagi ormas.“Negeri ini butuh energi besar untuk kerja-kerja masa depan, jangan dihabiskan untuk persoalan lama yang sebenarnya sudah dituntaskan para ‘founding fathers’ kita,” ujar Sulton.Masalah Redaksi

Menurut salah satu Anggota Pansus RUU Ormas ini, pengesahan RUU Ormas jangan berorientasi untuk dipaksakan pengesahannya pada 12 April 2013.  

"FPKS menganggap pengesahan RUU Ormas harus berorientasi pada kualitas UU tersebut," katanya.  

Indra mengatakan, penyesuaian redaksi beberapa pasal harus dilakukan secara cermat dan harus dipastikan tidak ada asas tunggal, tidak adanya pasal-pasal yang berpotensi represif dan pengekangan.  

Selain itu, lanjutnya, tidak ada pasal-pasal yang multitafsir, harus dipastikan adanya asprirasi publik, terutama aspirasi masukan atau kritikan ormas-ormas harus benar-benar diperhatikan dan masuk dalam draf UU.  

"UU (ormas) harus terkonstruksikan dengan baik dan jelas dalam pasal per pasal," kata Indra.  

Dia mengungkapkan dalam bebarapa hari ini rapat Pansus Ormas sudah begitu progresif dan konstruktif, hasilnya telah menghapus asas tunggal, ketentuan tentang penguatan posisi ormas, filterisasi/pengetatan keberadaan ormas asing, menghilangkan kewenangan subjektif pemerintah dalam pemberian sanksi penghentian sementara, menghapus beberapa ketentuan larangan yang berpotensi represif dan multitafsir.  

"Pemerintah dan teman-teman fraksi lainnya setuju, namun demikian masih ada beberapa pasal terkait dengan konsekuensi dari kesepakatan tersebut yang mesti disesuikan/dikonstruksi ulang redaksinya," katanya. [Ant/L-8]
Sumber: suara Pembaruan. /Jum'at, 12 April 2013 | 22:32

Selasa, 12 Juli 2011

NII KW9 : Hikayat Komandemen Wilayah 9


Hikayat Komandemen Wilayah 9

Penulis: Sandro Gatra
nii

KOMPAS.com - Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah (NII KW) 9 menjadi sorotan publik akhir-akhir ini setelah masyarakat, terutama kalangan mahasiswa di berbagai kampus hilang. Kasus hilangnya mahasiswa itu lalu dikaitkan dengan aktivitas NII KW 9 lantaran rekam jejak NII KW 9 di Indonesia.
Sukanto, mantan anggota NII KW 9 yang kini menjadi Direktur NII Crisis Center, menjelaskan, NII KW 9 dibentuk oleh tokoh Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI TII), Adah Djaelani. Pembentukan itu hasil metamorfosis NII berkali-kali pasca diproklamasikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo pada Agustus 1949. NII memiliki struktur komandemen dari pusat dan wilayah yang terdiri dari tujuh KW.
Tahun 1996 Adah menyerahkan posisi Imam kepada Abu Toto alias Abu Mariq alias Abu Marif alias Syamsul Adam alias Panji Gumilang. Pemindahan keimaman itu ditentang KW lain lantaran ajaran Panji dianggap salah. Untuk membedakan dengan KW lain, kelompok yang dipimpin Panji lalu disebut NII KW 9.
Saat dipegang Abu Toto, program NII KW 9 dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama (1996-1999), yakni program hujumat atau mempersiapkan warga agar paham akan fungsi dirinya sebagai mujahid. Tahap kedua (2000-2004), yakni program pendidikan dengan memberlakukan hukum Islam secara internal. Tahap ketiga (2005-2009), yakni mewujudkan hukum Islam yang berlaku secara de jure dan de facto di wilayah.
Dalam pelaksanaanya, tahapan itu memfokuskan pembangunan pada enam sektor yakni Hujumat Tabsyiriah (perekrutan anggota), Tarbiyah (pembangunan lembaga pendidikan Al Zaytun), Istisodiyah (perekonomian), Shihah (kesehatan), Difa (pertahanan dan keamanan), serta Maliyah (keuangan).
Tak jelas program lanjutan NII KW 9 pasca 2009. Panji disebut tak pernah lagi membicarakan kelanjutan program. "Hal ini memicu banyak kekecewaan di daerah. Melihat kondisi yang mulai resah, pada Muharam 1432 H semua KW mengadakan syuro untuk menentukan tujuan. Namun tetap tak dihasilkan. Yang ada keputusan strategis untuk memobilisasi sumber daya untuk merambah wilayah 'basah' yang belum tergarap," kata Dicky Cokro, aktivis NII Crisis Center.
Berdasarkan data dari Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI), struktur kepengurusan NII KW 9 terdiri dari Dewan Syuro (ketua dan wakil), Imam atau Presiden, Dewan Fatwa, Mahkamah Agung (ketua dan Sekjen), Majelis (15 kementrian), Sekretaris Jenderal (Sekretaris Negara dan tujuh kementrian), dan Gubernur (lima wilayah). Adapun pusat pemerintahan berada di Al Zaytun di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Pembangunan Al Zaytun

Ketua LPPI Amin Djamalludin menjelaskan, modal pembangunan Al Zaytun didapat dari bisnis minyak tanah yang dilakukan Adah Djaelani di dekat Kantor Bea Cukai Rawamangun, Jakarta Timur, sejak tahun 1962.
Awalnya, cerita Amin, Adah mengajak kerjasama seorang warga bernama Nana lantaran tempat tinggal Nana berada di pinggir jalan raya. Pangkalan minyak tanah lalu dibangun di rumah Nana. Di rumah salah satu anak Nana, Hasanudin, dijadikan tempat berkumpul tokoh-tokoh DI TII.
"Keuntungan dari minyak ini luar biasa banyak. Tukang dorong minyak waktu itu ratusan. Rupanya (hasil usaha) enggal mereka habiskan, ditabung lah sebagian (keuntungan)," kata pria yang pernah menjadi anggota DI TII dan berkumpul bersama tokoh-tokoh DI TII di rumah Hasanudin itu.
Kemudian, lanjut Amin, Adah menyerahkan keimamannya kepada Abu Toto. Saat itu, Adah berpesan agar segera membangun Madinah sesuai ajaran Kartosuwiryo. Menurut Amin, Kartosuwiryo mendoktrin pengikutnya bahwa Indonesia adalah Mekah, tempat orang-orang kafir, sehingga harus dibangun Madinah, tempat suci.
"Begitu diserahkan keimaman ke Abu Toto, ternyata mereka punya modal emas 1.500 kilo gram dari hasil minyak tadi. (Emas) diserahkan ke Abu Toto untuk bangun Al Zaytun. Waktu penyerahan itu harga emas masih Rp 15 ribu per gram. Terjadi resesi ekonomi naik menjadi Rp 90 ribu per gram. Dijual semua untuk bangun Madinah itu," papar dia.
Amin menambahkan, modal lain didapat dari merampok. Tanah seluas 1.200 hektare yang diatasnya dibangun kompleks Al Zaytun tahun 1996 sebagian besar berasal dari wakaf para anggota NII KW 9. Harga tanah saat itu hanya antara Rp 500 sampai Rp 700 per meter.
"Banyak juga tanah warga yang diserobot. Di pengadilan, pemilik tanah menang. Cuma karena letak tanah di tengah-tengah komplek, engga bisa berkutik juga. Gimana masuknya?" ucap dia.
Bagaimana penentuan lokasi Madinah di Indramayu? Menurut Amin, dari mulut ke mulut para pengikut Kartosuwiryo menyebar bahwa Kartosuwiryo dimakamkan di lokasi itu setelah dieksekusi tahun 1962. "Jadi semangat mereka bikin pesantren di situ," katanya.
Setelah Al Zaytun dibangun, lanjut Amin, Adah tinggal di Ponpes dan mengendalikan Panji Gumilang. Di Ponpes, Adah lalu merubah nama menjadi Nana. Perampungan pembangunan Ponpes lalu dikebut sebelum Pemilu tahun 2004. Padahal, modal penjualan emas sudah habis di tengah proses pembangunan.
"Mereka yakin betul pada pemilu 2004, cerita yang ada dalam Al Quran, yaitu Ratu Bulkis dan Nabi Sulaiman akan terulang di Indonesia. Ratu Bulkis itu Ibu Megawati dan Nabi Sulaeman itu Abu Toto. Jadi, menurut keyakinan mereka, Ibu Megawati (Soekarno Putri) akan ikhlas menyerahkan negara ini sama Abu Toto sehingga pindah lah ibu kota negara dari Jakarta ke Indramayu. Makanya luar biasa mereka untuk menyelesaikan pembangunan Al Zaytun," cerita Amin.
Percepatan pembangunan itu, kata Amin, awal mula munculnya modus menghalalkan segala cara untuk kepentingan pembangunan Madinah seperti dengan menipu, mencuri, memeras, merampas, hingga melacur. "Semua diatur oleh Abu Toto. Imam dapat empat persen dari seluruh hasil. Itu diatur di undang-undang yang dibuat Kartosuwiryo," ujar dia.

Perekrutan

Sukanto mengatakan, pengkaderan NII KW 9 paling banyak dilakukan di pinggiran Jakarta. Di daerah Jakarta Selatan, perekrutan paling banyak di daerah Ciputat, Lebak Bulus, Pamulang, Pasar Minggu. Di Jakarta Timur di paling banyak di daerah Jatiwaringin dan Jati Bening. Adapun di Jakarta Barat di daerah Meruya.
Penyebab jaringan NII KW 9 tumbuh subur di pinggiran Jakarta, kata Sukanto, karena banyak berdiri perumahan dan indekos yang pola hidup penghuninya tidak terlalu saling peduli. Dengan demikian, mobilisasi kader mudah dilakukan.
Berdasarkan data NII Crisis Center, banyak cara untuk menggalang calon anggota yang dilakukan jamaah NII KW 9. Di banding buruh, pendatang dari desa, dan pekerja kantoran, mereka lebih memilih pelajar SLTA atau mahasiswa baru sebagai target. Pasalnya, pada usia tersebut seseorang mudah untuk menerima sesuatu yang baru. Mereka akan menghindari anak polisi atau TNI lantaran berbahaya.
"Tahun 1996 NII mulai (mengincar) ke mahasiswa. Saat itu, polanya satu lawan satu (satu target dihadapi satu anggota NII). Tapi cara ini tidak berhasil. Jika tidak berhasil menarik masuk, (calon korban) akan cerita ke orang lain dan si pemain ini akan dikenali sebagai NII. Pola lalu berubah, satu target paling tidak dihadapi tiga sampai empat pemain. Jadi seolah dikepung," jelas Sukanto.
Tahap awal, perekrut melakukan seleksi awal lewat dialog tentang gerakan sesat untuk mengukur pengetahuan calon jamaah tentang NII. Jika calon mengetahui tentang sepak terjang NII, perekrut akan melepaskan. Begitu pula sebaliknya.
Berbagai alasan dapat digunakan perekrut untuk lebih dekat dengan target seperti mengajak ke tempat makan atau mall, menemui teman yang baru tiba dari timur tengah atau yang mendapat pencerahan lewat seminar tentang bangkitnya Islam.
Perekrut harus terus mengawal calon jemaah hingga tahap hijrah. Cara mengawal bahkan hingga menginap di rumah calon jamaah. Proses perekrutan akan berakhir di malja atau markas NII KW 9. Calon akan dibawa ke malja dengan mata tertutup agar lokasi tak diketahui. Malja biasanya rumah kontrakan bulanan maupun tahunan yang dapat menampung sekitar 150 orang.
Ciri-ciri malja seperti tertutup, lesehan, keluar masuk anggota tidak bersama-sama, dan selalu terlihat sepi. Lokasi malja akan dipindah jika diketahui masyarakat. “Biasanya paling lama tiga bulan mereka disitu lalu cari tempat lain biar enggak ketahuan,” kata Amin.
Di salah satu ruangan tertutup di malja proses doktrinisasi dilakukan oleh mas'ul atau pimpinan desa kepada calon jamaah. Berbagai tahapan dilakukan seperti Tilawah atau penyampaian dakwah yang tidak sesuai dengan aqidah. Tahap lain yakni Aftis atau persiapan untuk hijrah. Pada tahap ini calon diminta mengorbankan harta untuk menegakkan syariat Islam.
Setelah itu, dilakukan tahap Musyahadatul Hijrah atau proses pelepasan kewarganegaraan Indonesia menjadi warga NII. Dalam tahap itu, calon jamaah dibaiat dengan mengucapkan tujuh janji setia. Setelah melewati tahap itu, jamaah baru akan diberikan nama baru.
Tahap selanjutnya yakni pembinaan untuk merekrut anggota baru dan mencari dana. Setiap jamaah diberi target menjaring 10 tilawah atau anggota baru setiap bulan. Umumnya, jamaah baru akan mengajak teman sekolah, kuliah, atau rekan kerja. Jika jamaah tidak bertilawah hingga setengah bulan, jiwanya dianggap terganggu sehingga harus segera diberikan solusi.

Sembilan pos keuangan

Bagaimana dengan beban keuangan? Setiap jamaah diwajibkan memenuhi sembilan pos keuangan setiap bulan sesuai target. Sembilan pos itu diantaranya Nafaqoh Daulah (infaq dan tazkiyatun nafs), Harakah Qirodh, Harakah Idikhor, Harakah Idikhor, Harakah Ramadhan, Harakah Qurban, Shadaqah Khos.
Berbagai modus diajarkan untuk memenuhi pos-pos keuangan itu seperti menggunakan semua uang yang dimiliki (uang kuliah, tabungan, gaji), menjual barang berharga milik pribadi, mencuri barang milik orang lain, menipu orang tua dengan berbagai alasan (hilangkan laptop/HP/barang milik teman, menabrak mobil teman, dll), hutang kepada orang lain dan tidak dibayar.
Modus lain membuat surat palsu dengan mengatasnamakan kampus atau lembaga untuk meminta uang, menyebar proposal pencarian dana dengan mengatasnamakan yayasan yatim piatu atau fakir miskin. "Ada Bupati (NII) yang sudah sadar. Dia cerita, dia sampai suruh istrinya melacur. Dia bilang saya antar istri (melacur), saya jemput demi setoran," kata Amin.
Pembayaran kewajiban itu dicatat dalam buku tabungan khusus yang dipegang setiap anggota. Bentuk buku itu sama dengan buku tabungan bank-bank di Indonesia. Pada bagian depan tertulis lima angka yakni kode pemilik buku, umur, dan berbagai tulisan Arab. Di bagian dalam, terdapat kolom-kolom pos keuangan dengan tulisan Arab.
Dalam buku tabungan berwarna hijau telor itu terdapat 18 lembar. Setiap dua lembar untuk diisi setoran selama satu bulan. Tanggal setoran ditulis di kolom paling kanan. Di kolom paling bawah terdapat kolom penjumlahan dana yang disetor selama sebulan. Tanggal maupun nilai setoran ditulis tangan.

Lumbung keuangan

Data NII Crisis Center, Jakarta menjadi lumbung dana dan perekrutan. Dana harokah idhikhor, infaq, dan harokah ramadhan yang berhasil dikumpulkan di wilayah Jabotabek dan Banten tahun 2007 mencapai Rp 30 miliar.
Lumbung dana lain yakni di wilayah Jawa Tengah. Data Januari 2010, jumlah jamaah aktif di Jateng mencapai 1.900 personil dan mampu menyetor dana hingga Rp 1,86 miliar per bulan. Di Jateng, jaringan paling banyak berada di Semarang, Yogyakarta, dan Purwokerto.
Imam Supriyanto, pria yang mengaku mantan Menteri Peningkatan Produksi Pangan NII mengatakan, dana yang terkumpul jaringan NII KW 9 sejak tahun 1992 hingga saat ini mencapai Rp 350 miliar. Sebagian dana itu digunakan untuk membiayai pendidikan 2.500 santri di Al Zaytun. Setiap santri hanya dikenakan biaya sekitar 3.500 dollar AS selama enam tahun belajar.
"Dipermukaan bilangnya subsidi dari yayasan. Dari mana uang yayasan? Itu 80 persen kegiatan Ponpes dibiayai NII," kata pendiri Yayasan Pesantren Indonesia yang menaungi Ponpes Al Zaytun itu.
Mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) AM Hendropriyono juga mensiyalir dana pembangunan Ponpes mewah itu berasal dari hasil kegiatan NII. "Disinyalir uangnya dari hasil mempengaruhi anak-anak untuk masuk menjadi anggota NII. Disuruh nyumbang untuk bikin pesantren ini," kata Hendro.
Mengutip Kompas, Panji membantah jika dirinya dan Al Zaytun dikaitkan dengan NII KW 9. Panji mengatakan, NII yang diributkan akhir-akhir ini sudah mati. "Dalam sejarahnya memang ada NII yang diproklamasikan tahun 1945 dan diperjuangkan sampai 1962. Setelah itu NII selesai. Bahkan, pendirinya sudah menganjurkan pengikutnya kembali ke bumi pertiwi Indonesia. Kalau NII sudah tidak ada, kenapa saya dikait-kaitkan dengan NII. Saya terkait dengan apa kalau begitu," kata dia.
"Tidak dulu dan tidak sekarang, NII itu sudah usai. Saya ini pendidik dan ingin mengindonesiakan anak-anak ini. Tidak ada niatan cuci otak. Kalau ada tuduhan semacam itu, saya pikir itu omong kosong dan berlebihan. Saya sehari-hari di sini, bagaimana bisa cuci otak. Saya tidak paham," tambah Panji.

Al-Zaytun tak sebarkan ideologi NII

Menurut Imam, 15 pengurus Al Zaytun adalah pejabat aktif di NII KW 9. Meski demikian, kata dia, orang tua tidak perlu khawatir menitipkan anaknya di Al Zaytun lantaran tak ada ajaran tentang NII kepada santri. Pengurus Ponpes tak akan secara terbuka menyebarkan ideologi NII agar tidak terbongkar sepak terjang NII di Al Zaytun.
Pernyataan Imam itu senada dengan pernyataan Hendro, Amin, dan Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Boy Rafli Amar. Hendro mengatakan, hasil penyelidikan intelejen bersama Kementerian Agama, Kementrian Dalam Negeri, Kepolisian, dan Kejaksaan tidak ditemukan ideologi NII dalam sistem pengajaran di Al Zaytun.
"Kita lihat apel bendera (nyanyi) Indonesia Raya. Kita lihat ada Pancasila di ruangan kelas. Diselidiki oleh Kementerian Agama tentang pendidikan Islamnya, tidak ada yang aneh. Dari pendidikan, tidak ada kurikulum yang ekstrem. Mereka diajari wawasan kebangsaan. Saya seperti melihat anak Taruna Nusantara aja," ucap Hendro.
Sumber :http://lipsus.kompas.com/nii

Mereka Direnggut dari Keluarga

Penulis: Icha Rastika
nii

Selama kurang lebih sepuluh tahun, Nani (nama samaran) tidak lagi melihat wajah ketiga putrinya, Nuni Juhardini, Neni Mindayani, dan Lela. Di awal tahun 2001 mereka meninggalkan rumah tanpa alasan jelas. Hanya sebuah surat yang menjelaskan kepergian Nuni dan Neni. Sedang, Lela pergi tanpa pesan.
Berikut petikan surat tulisan tangan Nuni dan Neni yang dikirim untuk Ibunya.
"Mama, Neni dan Nuni enggak akan pulang lagi. Jadi, enggak usah lagi pikirin dan khawatir sama kita, atau sampai nangis segala. Karena itu hanya nyusahin Mama saja. Neni dan Nuni sudah dewasa, sudah bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah. Kita berdua yakin ini lah jalan yang benar karena mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Apa yang kita lakukan semuanya tanggungjawab kita karena setiap diri bertanggungjawab atas dirinya. Dan kita pun berbuat ini bukan mengikuti hawa nafsu atau kata guru, tapi semata-mata mengikuti ayat Allah. Juga karena takut kita kepada Allah lebih besar dari pada yang lain. Masalah rejeki, Neni dan Nuni yakin akan Allah kasih. Kalau Mama mau ikut jalan yang sama dengan kita yaitu ikuti ayat Allah, insya Allah kita bisa berkumpul kembali seperti dulu. Semua itu atas petunjuk Allah."
Membaca surat dari kedua putrinya itu, Nani semakin mengkhawatirkan kondisi buah hatinya. Rasa rindu bercampur cemas tak lagi mampu dibendungnya. Ia lantas melaporkan kehilangan dua putrinya itu ke Polsek Kebun Jeruk, Jakarta Barat pada Januari 2001. Namun, hingga kini ketiga putrinya tak kunjung pulang ke pelukan.
Kemalangan serupa sempat dialami pasangan Rostina dan Abdul Muntholib, warga Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Pasangan suami istri itu sempat kehilangan anaknya, Mahathir Rizki (19) yang menjadi mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang (UMM). Mahasiswa semester dua Fakultas Teknik Jurusan Teknologi Informasi tersebut hilang sejak 25 Maret 2011. Untungnya, Pada 26 April, Rizki kembali ke rumahnya.
Rizki adalah salah satu dari 10 mahasiswa UMM yang diduga merupakan korban cuci otak. Selama menghilang, kepada kedua orangtuanya, Rizki sempat menyampaikan pesan serupa dengan Nuni dan Neni. Saat menghubungi orangtuanya melalui telepon pada 19 April, Rizki mengaku hidup tenang di suatu tempat dan enggan pulang ke rumah ataupun kembali berkuliah. Belakangan diketahui, ia telah bergabung dalam kelompok Negara Islam Indonesia (NII). Selama menghilang, Rizki mengaku berada di sebuah daerah di Semarang, Jawa Tengah.

Tak ada habisnya

Laporan orang hilang yang diduga terkait dengan NII seolah tidak ada habisnya. Sejak awal tahun ini hingga Mei misalnya, Kepolisian Daerah Metro Jaya memperoleh satu laporan orang hilang yang diduga terkait dengan jaringan NII. Kepala bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes (Pol) Baharudin Djafar, Selasa (10/5/2011) menyampaikan, laporan orang hilang terkait NII diterima Polda pada 2 Mei. Pelapor adalah Syarifah Fauziah, warga Pamulang, Tangerang Selatan. Syarifah mengaku, anaknya, R bersama menantunya, C terlibat dalam jaringan NII. R diketahui bergabung dengan NII sejak 2005. Sementara C yang dikabarkan menjadi bupati NII, bergabung sejak 1997.
"Keduanya masih bisa berkomunikasi dengan keluarga, tetapi keluarga tidak suka anaknya masuk ke dalam NII. Syarifah ini juga mengaku menantunya jadi bupati, kita coba buktikan pengakuan ini," kata Baharudin.
Laporan serupa juga diterima NII Crisis Center, organisasi yang memberi bantuan konseling kepada mereka yang merasa menjadi korban gerakan NII. Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center, Sutanto mengungkapkan, dalam dua bulan terakhir, pihaknya menerima 80 laporan orang hilang. Namun, hanya 34 di antaranya yang terbukti berkaitan dengan NII. "setelah kita konfirmasi baru 34 orang yang hilang dan riil berkaitan dengan NII," kata Sutanto kepada Kompas.com, Rabu (11/5/2011). Sejak 2007 hingga kini, lanjut Sutanto, NII Crisis Center berhasil mengeluarkan 300 orang dari kelompok NII. Jaringan ini, menurutnya, banyak menyasar kalangan mahasiswa untuk direkrut sebagai anggota baru. Para korban perekrutan, kata Sutanto, umumnya menghilang dari rumah demi menjalani program-program NII. Sepak terjang kelompok ini dinilainya menimbulkan kerugian baik bagi si korban sendiri, keluarga, maupun orang di sekitar korban.

Berantakan

Kekacauan hidup dialami Rika (nama samaran) setelah anaknya Dino (nama samaran) bergabung dengan geraka ini. Kuliah Dino berantakan. Dino yang sempat bergabung selama setahun yakni 2007-2008 itu terpaksa pindah kampus demi menghindari anggota-anggota NII yang terus mengejarnya meskipun Dino memutuskan untuk keluar. "Kuliahnya keluar, ini juga yang bikin saya dendam, masa depan anak saya rusak," tutur Rika.
Ia kemudian menceritakan bagaimana awal mulanya pihak keluarga mengetahui keikutsertaan Dino dalam NII. Menurut Rika, ia curiga anaknya bergabung dalam NII setelah Dino tiba-tiba berubah sikap. Dino yang dulu perhatian terhadap keluarga berubah menjadi jauh dari keluarga. Anaknya itu, kata Rika, kerap pulang malam dan sering mengurung diri di kamar.
"Jadi jarang di rumah, pulang malam, enggak pernah ngumpul sama keluarga, diajak acara keluarga yang biasanya mau, sekarang enggak. Lebih sering di kamar, mengurung diri," paparnya. Anehnya lagi, lanjut Rika, putranya tampak sangat lengket dengan ponsel. Dino seolah enggan melepas ponsel dari genggamannya sedikitpun.
"Pas ke toilet dibawa, pas tidur, itu hp (handphone) ditaruh di perutnya. Dia enggak akan membiarkan handphone itu dilihat orang. Ternyata, kegiatannya 24 jam dipantau terus sama jaringannya. Saya kalau ingat itu, rasanya emosi," ungkap Rika.
Bukan hanya berubah sikap, menurut Rika, putranya itu juga kerap meminta sejumlah uang kepadanya. Berbagai alas an digunakan Dino untuk mengorek kantong orangtuanya. Mulai dari untuk membayar keperluan kuliah hingga untuk menggantikan laptop temannya yang hilang.
"Katanya, ngilangin laptop temannya seharga Rp 25 juta, jadi harus ganti. Ya sudah, dikasih 25 juta untuk mengganti. Setelah itu, pokoknya urusannya duit terus. Untuk kuliah, praktik, beli buku," ujar Rika. Selama setahun, tuturnya, keluarga sudah mengeluarkan uang lebih dari Rp 100 juta untuk memenuhi permintaan Dino. Sampai akhirnya, Rika nekat melaporkan Dino ke polisi karena sudah tidak tahan menghadapi ulah putranya itu. Dino dilaporkan karena mencuri laptop Rika.
"Karena katanya orang NII itu takut kalau sudah sampai ke polisi. Saya ingin kasih pelajaran ke anak saya. Ini tahun 2008. Saya minta polisi memeriksa sampai dia ngaku NII, beberapa hari lah dia di kantor polisi, tapi enggak di sel. Hanya di ruangan untuk diperiksa. Sampai akhirnya dia ngaku," ungkap Rika.
Akhirnya, upaya Rika berhasil. Dino mengaku telah bergabung dengan NII kemudian berhasil dikeluarkan dari jeratan NII atas arahan NII Crisis Center.

Perubahan Sikap

Pengalaman senada dialami Yati (nama samaran). Putrinya yang bernama Ratih (nama samaran) bergabung dengan NII selama setahun. "Saat baru masuk kuliah, sekarang sudah selesai kuliah, kejadiannya pada 2007," katanya.
Yati yang adalah anggota Kepolisian mencurigai putrinya menjadi korban NII setelah melihat perubahan sikap Ratih. Sama halnya dengan Dino, Ratih sering pulang malam dan mengunci diri di kamar. "Dia berubah, jadi enggak mau gabung dengan keluarga. Biasanya enggak pulang malem, jadi pulang malem. Entah ke mana. Sampai rumah, mengunci diri di kamar. enggak tahu ngapain," kata Yati.
Selain itu, lanjutnya, Ratih juga sering meminta sejumlah uang kepada Yati dengan berbagai alasan, termasuk untuk mengganti laptop temannya yang hilang. "Saya bilang (ke dia), kalau hilang di kampus, lapor polisi, biar digeledah polisi. Akhirnya (dia) enggak jadi (minta),” ujarnya.
Putrinya itu, lanjut Yati, juga pernah meminta uang dengan alasan untuk membantu biaya pengobatan ibu temannya hingga untuk membantu temannya membayar rumah yang akan disita. "Tapi enggak saya kasih," tuturnya Yati.
Sampai pada akhirnya, Yati terpaksa mengeluarkan uang Rp 2,5 juta ketika seseorang yang mengaku teman Ratih meminta pertangungjawabanya untuk mengganti laptop orang itu yang katanya telah dihilangkan Ratih.
"Saya bilang, lapor polisi, tapi enggak mau juga. Ya sudah, akhirnya janji ketemuan di sebuah mall di Jakarta Selatan. Dia minta ganti 8 juta. Minta ketemunya malam. Dan minta harus lunas, karena katanya buat pengobatan ibunya. Pas ketemu, saya kaget, kok anaknya enggak kayak anak kost yang biasanya sederhana. Rambut dicat, saya enggak nyangka anak saya punya teman kayak gitu. Akhirnya, saya kasih 2,5 juta," papar Yati.
Selanjutnya, kata Yati, putrinya itu masih terus berupaya meminta uang dengan berbagi alasan seperti untuk biaya perkuliahan. Bahkan, katanya, Ratih tega membohongi orangtuanya. "Untuk (bayar) lab Rp 900 ribu padahal cuma Rp 90 ribu. Saya tanya ke kampusnya dan akhirnya saya tahu, anak saya bohong,” tuturnya.
Meskipun demikian, Yati merasa bersyukur bahwa sekarang putrinya lepas dari jeratan NII. Berkat upaya keluarga dan bantuan NII Crisis Center, menurut Yati, putrinya berhasil lulus kuliah dan bekerja. Ia lantas mengimbau kepada setiap orangtua agar mulai waspada terhadap bahaya NII. Menurutnya, selain merugikan secara materi, ajaran NII merusak masa depan putra-putri bangsa.
“Saya sebagai orangtua, selain materi ya, batin, karena anak saya terancam masa depannya. Kita harus waspada, biasakan tahu aktivitas anak, kenali perubahannya,” kata Yati.

© 2011 - KOMPAS.com

Selasa, 14 Juni 2011

NII : DIDUGA MAKAR, ENAM ORANG DITANGKAP

Selasa, 07 Juni 2011 @ 07:26:33   Administrator - Administrator Mabes Polri
JAKARTA, Tim gabungan antara Badan Reserse Kriminal Polri dan Polda Jawa Tengah menggerebek sebuah rumah di Ungaran, Semarang, yang diduga sebagai markas NII. Penggerebekan ini terkait dengan aktivitas NII yang mengarah pada dugaan makar.

Enam orang diamankan dalam penggerebekan tersebut. "Terkait aktivitas NII mengarah pada dugaan makar," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Boy Rafli Amar kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (24/5).

Menurut dia, ada enam orang yang diamankan dalam penggerebekan tersebut. Mereka saat ini masih menjalani pemeriksaan.

Keenamnya merupakan buron terkait kegiatan yang menjurus makar. Sebelumnya, mereka menjalankan aksinya di Jawa Barat.

"Jadi penangkapan orang yang selama ini DPO. Enam orang diperiksa dulu, belum tersangka," kata dia.

"Ini NII yang pernah diusut Polda Jabar terkait 2008. Inisialnya sementara SM, TD, M, NB, MA, SP. Sudah masuk dalam daftar lama, cuma sekarang mereka beraktivitas di Jateng. Bagian dari NII yang pernah disidik Polda Jabar," jelas Boy. (OL-5)
Sumber : Administrator - Administrator Mabes Polrihttp://www.polri.go.id/berita/9576 

Sabtu, 14 Mei 2011

NII Masuk Golkar

Ditanya NII Masuk Golkar, Ical Bungkam
Ary Wibowo | Pepih Nugraha | Kamis, 12 Mei 2011 | 17:15 WIB

Dibaca: 1627

 
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie.

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Menteri Peningkatan Produksi Negara Islam Indonesia Imam Supriyanto beberapa waktu lalu memberikan kesaksian bahwa aktivis Negara Islam Indonesia (NII) mulai masuk ke sejumlah partai politik. Menanggapi hal itu, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie memilih untuk tidak menanggapi lebih lanjut. "Tidak, tidak ada," ujar Aburizal singkat kepada wartawan seusai menghadiri acara Peluncuran Program Nyata Bantu Ekonomi Rakyat di Gedung Sucofindo, Jakarta, Kamis (12/5/2011).
Sebelumnya, selain menyebutkan NII sudah masuk ke beberapa partai politik, Imam juga mengatakan bahwa beberapa pemimpin partai politik juga menjalin hubungan baik dengan pimpinan NII KW IX, Panji Gumilang. Bahkan, kata Imam, putra dari Panji Gumilang saat ini menjadi anggota DPRD Kabupaten Indramayu dari Fraksi Partai Golkar.Ketika diminta konfirmasi mengenai hal itu, politisi yang biasa dipanggil Ical ini kembali enggan menanggapi lebih lanjut. "Tidak ada komentar hari ini," kata Ical sembari memasuki salah satu ruangan dengan kawalan penjaga-penjaganya.
Seperti diberitakan, pada Senin (2/5/2011) Imam Supriyanto bersama sejumlah mantan petinggi NII sempat mendatangi gedung DPR untuk memberikan kesaksian mengenai aset dan harta benda NII KW IX dengan Bank Century. Seusai pertemuan tersebut, Imam mengungkapkan bahwa beberapa anggota NII mulai masuk ke beberapa parpol, seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Republikan.

Selain itu, Imam juga menyebutkan bahwa NII KW IX yang dipimpin Panji Gumilang juga sedang melakukan perekrutan banyak anggota dari generasi muda, terutama pelajar dan mahasiswa. Dia juga sempat mengatakan bahwa anak dari Panji Gumilang telah menjadi anggota DPRD Kabupaten Indramayu dari Fraksi Partai Golkar.
Wakil Ketua DPR asal Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, sempat memberikan pernyataan mengenai hal tersebut. Menurut Priyo, partainya telah menyiapkan platform yang kokoh agar kedepan tak lagi kecolongan dan disusupi oleh NII. "Saya pastikan Golkar tidak kecolongan karena Golkar sudah menyiapkan platform yang sudah demikian kokohnya sehingga orang yang tidak sesuai dengan platform sudah tentu akan terpental," ungkapnya di Gedung DPR.
Sumber : Kompas.com/Kamis, 12 Mei 2011 | 17:15 WIB
http://nasional.kompas.com/read/2011/05/12/1715263/Ditanya.NII.Masuk.Golkar.Ical.Bungkam

Berita terkait :

Parpol Disusupi NII
Selasa, 3 Mei 2011 | 03:31 WIB

Share:
Jakarta, Kompas - Imam Supriyanto, yang mengakui sebagai Menteri Peningkatan Produksi Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 tahun 1997-2007, menuturkan, kader NII menyusup ke sejumlah partai politik, seperti Partai Demokrat dan Partai Golkar. Penyusupan ini untuk mempermudah penyebaran ideologi tentang NII.
”Demokrat dan Golkar dipilih karena parpol besar, sehingga lebih mudah untuk perjuangan di parlemen,” jelas Imam di kompleks Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Senin (2/5). Ia menambahkan, ada anggota NII yang menjadi anggota DPRD pula.
Misi politik NII dengan berjuang lewat parpol, lanjut Imam, terutama muncul setelah era reformasi. Sebelumnya, misi NII lebih banyak di bidang pendidikan dan ekonomi.
Sejumlah tersangka teroris seperti Imam Samudera, katanya, adalah mantan anggota NII. Bahkan, Abu Bakar Ba’asyir juga pernah aktif di NII tahun 1970-an.
Imam juga menuturkan, Panji Gumilang yang memimpin Pondok Pesantren Al-Zaytun adalah pemimpin NII KW 9. Panji punya hubungan dekat dengan sejumlah orang, termasuk mantan pemilik Bank Century, Robert Tantular. Panji diduga punya simpanan besar di bank itu.
Imam menemui Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, menyampaikan apa yang diketahuinya terkait NII dan harta lembaga itu yang diduga disimpan di Bank Century. Menurut Priyo, ia akan meminta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyelidiki dugaan uang Panji di Bank Century.
Priyo, yang juga Ketua Dewan Pimpinan Pusat Golkar, bersyukur belum ada anggota NII yang menjadi pengurus partai.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Achmad Mubarok menuturkan, NII yang kini meresahkan masyarakat sebenarnya hanya kelompok kecil yang tidak dapat dikendalikan.
Mubarok membenarkan, Panji Gumilang adalah mantan anggota NII. ”Panji Gumilang berbeda dengan NII Kartosuwiryo. Bahkan, dia didukung intelijen dengan tujuan melawan NII Kartosuwiryo. Dia berpikir NII harus dilawan dengan mencerdaskan dan memakmurkan rakyat dan itu yang dilakukannya melalui Al-Zaytun,” paparnya.
Mubarok juga membenarkan, akhir Maret Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum serta Sekretaris Jenderal Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono ke Al-Zaytun. Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian safari pesantren. Mereka juga memberi bantuan untuk Al-Zaytun.
Pemerintah melarang
Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar menyatakan, pemerintah secara tegas melarang keberadaan NII. Kelompok itu dikhawatirkan ingin mengacaukan suasana, sehingga tidak ada tempat untuk NII di Indonesia. Masyarakat diminta berhati-hati terhadap kelompok itu.
”Saya curiga orang-orang NII ingin mengadu domba sesama masyarakat. Kita ini sangat majemuk, sehingga kondisinya rentan sekali,” ujarnya. Untungnya, kata Patrialis, rakyat Indonesia cepat memahami situasi sehingga tak mudah diadu domba dan tak terjadi kesalahpahaman.
Mengenai dugaan keterkaitan NII dengan Pondok Pesantren Al-Zaytun di Jawa Barat, Patrialis mengatakan, ia tengah menunggu hasil pemeriksaan pihak berwajib. ”Jika ada indikasi saya rasa tak akan dibiarkan,” katanya.(nwo/iam/ina/bil/ arn/cok/pin/egi/bay)
Sumber : kompas.com/Selasa, 3 Mei 2011 | 03:31 WIB
http://nasional.kompas.com/read/2011/05/03/03310468/Parpol.Disusupi.NII

NII : Mantan Menteri NII Laporkan Makar NII

Mantan Menteri NII Laporkan Makar NII
Maria Natalia | Heru Margianto | Minggu, 15 Mei 2011 | 11:00 WIB

Dibaca: 2408
JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Menteri Negara Islam Indonesia Imam Supriyanto mendatangi Markas Besar Polri pagi ini, Minggu (15/05/2011). Ia mengaku datang untuk melaporkan mengenai tindakan makar yang diduga dilakukan Negara Islam Indonesia. 

Ia tidak menjelaskan NII faksi mana yang diduga melakukan tindakan makar tersebut. Imam datang memakai jaket coklat, kaus biru gelap dan celana jins. Sebuah tas ransel bertengger di pundaknya. Ia berusaha menghindari wartawan dan berjalan terburu-buru memasuki pintu samping Gedung Bareskrim Mabes Polri. "Baru mau laporan, tentang makar," ujar Imam Supriyanto di Mabes Polri, Minggu. 
Ia tidak menjelaskan secara rinci mengenai makar yang dimaksudnya. Ia hanya menyebutkan, pelaporannya tersebut terkait pelanggaran Pasal 107 KUHP tentang menggulingkan pemerintahan dengan ancaman hukuman 15-20 tahun. Bukti-bukti pun tidak ia beberkan, dengan alasan harus melaporkan pada pihak kepolisian terlebih dahulu. 
"Ya pasal makar. Bukti-bukti nanti di polisi. Bukti sudah siap semua. nanti kalau udah selesai ya," imbuhnya. 
Imam menyatakan tidak memerlukan pengacara untuk pelaporan tersebut. "Yang begini enggak usah pakai pengacara. Sudah jelas. Kan nanti dari laporan saya akan dianalisa didiskusikan lagi," katanya sembari memasuki pintu Bareskrim. 
Sebelumnya, Imam pernah mendatangi Mabes Polri untuk melaporkan Panji Gumilang, pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun, Rabu (4/5/2011) lalu. Panji dituduh memalsukan dokumen akta kepengurusan yayasan yang mengelola Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat. Imam dulunya seorang Menteri Peningkatan Produksi NII yang keluar pada tahun 2007 setelah 20 tahun bergabung dengan gerakan itu. 

Sumber : Kompas.com | Minggu, 15 Mei 2011 | 11:00 WIB
http://nasional.kompas.com/read/2011/05/15/11000669/Mantan.Menteri.NII.Laporkan.Makar.NII

Berita terkait :
NII Jangan Dibiarkan
Jumat, 13 Mei 2011 | 05:25 WIB


Jakarta, Kompas - Pemerintah jangan terus membiarkan isu Negara Islam Indonesia mengambang tanpa kejelasan. Kondisi ini akan kian meresahkan, mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekaligus mengusik rasa aman masyarakat.
Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Ali Munhanif menyampaikan hal itu di Jakarta, Kamis (12/5). Sudah diketahui luas, NII muncul sejak didirikan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo tahun 1949. Gerakan kelompok ini mengalami pasang surut selama puluhan tahun sampai sekarang, dan pemerintah mengetahuinya.
Beberapa mantan anggota atau pejabat NII sudah memberikan kesaksian dan informasi penting. Begitu pula sejumlah pengamat dengan analisisnya. Namun, pemerintah membiarkan semuanya berlarut-larut, tanpa tindakan tegas. Kisruh NII menjadi mengambang, penuh teka-teki, termasuk keberadaan Pondok Pesantren Al-Zaytun.
Kondisi ini berbahaya karena bisa memunculkan ancaman dari dalam terhadap kedaulatan NKRI. Isu ini juga kembali membuka konflik lama antara kelompok nasionalis dan Islam yang sebenarnya dianggap sudah selesai. ”Semakin dibiarkan mengambang, isu ini kian memberikan peluang dimanfaatkan bagi kepentingan politik tertentu,” katanya.
Ali Munhanif berharap pemerintah bersikap tegas terhadap NII. Cari bukti-bukti yang mengarah adanya tindakan makar, lalu ambil tindakan hukum. Selain itu, perlu dihadang sumber-sumber normatif yang menyuburkan radikalisme dan gagasan negara Islam.
Secara terpisah, Majelis Ulama Indonesia merilis sikap resmi terkait dengan NII. Ditandatangani Ketua MUI KH Ma’ruf Amin dan Sekretaris Jenderal MUI HM Ichwan Sam, majelis ini menegaskan, segala bentuk pemaksaan kehendak untuk mengubah kesepakatan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 merupakan perbuatan makar. Tindakan ini harus segera dicegah, ditindak, serta diberantas.
Setiap upaya pengkhianatan terhadap kesepakatan bangsa Indonesia dan pemisahan diri (separatisme) dari NKRI yang sah dalam pandangan Islam termasuk bughot. Adapun bughot haram hukumnya dan wajib diperangi oleh negara.
NII tidak islami
Kemarin Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) menilai gerakan NII tidak sesuai dengan Islam. ”Mereka membenarkan tindakan mencuri dan sebagainya. Kelompok ini ingin menodai Islam karena Islam tidak membenarkan tindakan seperti itu. Jadi, jangan karena ingin mendirikan negara Islam, tetapi menggunakan cara yang menghalalkan segala cara,” tutur Ketua DDII Syuhada Bahri, Kamis (12/5) di Kompleks Istana Presiden. Ia menyampaikan itu seusai jumpa pers di Kantor Presiden. Ditemani sejumlah pengurus DDII yang lain, Syuhada menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. DDII menyampaikan kerja kepengurusan DDII periode 2010-2015 yang berkonsentrasi pada pembinaan umat dengan menyebarkan dai di daerah-daerah, terutama daerah perbatasan.
Menurut Syuhada, saat ini orang tidak perlu mengada-ada dengan melakukan gerakan mendirikan negara yang tidak seusai dengan NKRI dan dasar negara Pancasila. ”Ya, sudahlah, Indonesia saja. Di dalam Pancasila, ada Ketuhanan Yang Maha Esa, orang bisa menjabarkannya sesuai dengan sisi pandangnya masing-masing,” tuturnya.
Kemarin Ketua Law Enforcement Watch Gustaf Dufe di Jakarta mengatakan, isu NII yang ditiupkan oleh pemerintah diduga untuk mengalihkan isu persoalan bangsa, seperti penyelesaian kasus Bank Century, mafia pajak, dan persoalan-persoalan lain yang lebih besar.
Rektor Universitas Jember, Jawa Timur, Sutikto kemarin mengatakan bahwa pihaknya akan memberi pemahaman kepada para mahasiswanya agar tidak terjebak NII.
(IAM/LOK/SIR/ATO)
sumber : http://nasional.kompas.com/read/2011/05/13/05252912/NII.Jangan.Dibiarkan

Cari Blog Ini