Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.
Tampilkan postingan dengan label Aksi kelompok teroris Medan dikendalikan dari penjara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksi kelompok teroris Medan dikendalikan dari penjara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2013

Teroris : Densus 88 Dikecam di Poso, Begini Nasib Tim TNI

 Densus 88 Dikecam di Poso, Begini Nasib Tim TNI   
 Jum'at, 08 Maret 2013
TEMPO.CO, Jakarta - Peran Densus 88 Antiteror Polri sangat menonjol dalam pemberantasan aksi-aksi terorisme di Tanah Air. Walaupun kemudian, Video yang beredar di Youtube itu memperlihatkan aksi kekerasan Detasemen Khusus 88 Antiteror di Poso. Peristiwa itu diduga adalah rekaman dari aksi 18 anggota Densus 88 dan Brimob kala menangkap 14 warga Kalora, Poso, Desember 2012.

Terungkap sebagian isi video adalah rekaman peristiwa penyerbuan Densus 88 ke Tanah Tinggi, Poso, pada 2007. Sejumlah tersangka yang sepintas tampak sedang dianiaya adalah para pelaku pengeboman gereja dan pelaku mutilasi warga. Kepolisian mengatakan dua di antaranya, Wiwin Kalahe alias Tomo dan Basri,. kini sudah dipenjara.

Sebenarnya, pasukan anti teror tak hanya dimiliki Polri. TNI mempunyai kesatuan antiteror yang andal dan punya pengalaman lebih lama. Lalu, mengapa hanya Densus 88 yang diberi wewenang dalam pemberantasan terorisme?

Pengamat keamanan dari Universitas Padjajaran, Muradi, dalam bukunya Densus 88 AT; Konflik, Teror, dan Politik, mengakui berkembangnya anggapan bahwa peran Densus 88 AT Polri terlalu memonopoli pemberantasan terorisme di Tanah Air. "Ini membuat beberapa institusi lain yang memiliki organisasi antiteror merasa tidak mendapatkan porsi yang memadai dan tidak terberdayakan," kata Muradi.

Muradi menjelaskan, hampir semua angkatan di TNI memiliki struktur organisasi antiteror. TNI AD punya Detasemen Penanggulangan Teror (Dengultor), yang bernama Group 5 Antiteror dan Detasemen 81 yang tergabung dalam Kopassus; TNI AL punya Detasemen Jalamangkara (Denjaka), yang tergabung dalam Korps Marinir; serta TNI AU punya Detasemen Bravo (DenBravo), yang tergabung dalam Paskhas TNI AU.

Menurut Muradi, ada tiga alasan hanya Densus 88 yang lebih berperan dalam penanggulangan terorisme di Indonesia. Pertama, saat Densus 88 Antiteror terbentuk pada 2003, TNI masih mengalami embargo persenjataan dan pendidikan militer oleh negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat. Ini terkait dengan tuduhan pelanggaran HAM oleh TNI di masa lalu. "Sehingga salah satu strategi untuk mendirikan kesatuan antiteror tanpa terjegal masa lalu TNI adalah dengan mengembangkannya di kepolisian," kata Muradi.

Di sisi lain, pembentukan kesatuan khusus antiterorisme yang andal dan profesional pasti perlu dukungan peralatan yang canggih dan SDM yang berkualitas. Sebagaimana diketahui, pembentukan Densus 88 ini menghabiskan dana lebih dari Rp 15 miliar, termasuk penyediaan senjata, peralatan intai, alat angkut pasukan, operasional, dan pelatihan. Biaya tersebut berasal dari bantuan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan Australia.

Alasan kedua adalah pemahaman bahwa kejahatan terorisme merupakan tindak pidana yang bersifat khas, lintas negara, dan melibatkan banyak faktor yang berkembang di masyarakat. Terkait dengan itu, terorisme dalam konteks Indonesia saat ini dimasukkan dalam domain kriminal, bukan aksi separatisme seperti di tahun 1950-an. Aksi teror sekarang ini dilihat sebagai gangguan keamanan dan ketertiban, serta mengancam keselamatan jiwa masyarakat. "Karenanya terorisme masuk ke dalam kewenangan kepolisian," kata Muradi.

Alasan terakhir adalah menghindari sikap resistensi masyarakat dan internasional jika pemberantasan terorisme dilakukan oleh TNI dan intelijen. Sebagaimana diketahui, sejak rezim Soeharto tumbang, TNI dan lembaga intelijen dituding sebagai institusi yang mem-back up kekuasaan Soeharto. Sehingga pilihan mengembangkan kesatuan antiteror yang profesional akhirnya berada di kepolisian, dengan menitikberatkan pada penegakan hukum, pemeliharaan keamanan, dan ketertiban masyarakat sehingga keamanan dalam negeri terpelihara.

"Harus diakui peran yang diemban oleh Densus 88 AT Polri memberikan satu perspektif bahwa pemberantasan terorisme di Indonesia dapat dikatakan berhasil," kata Muradi. "Setidaknya bila dikaitkan berbagai keberhasilan organisasi tersebut dalam menangkap dan memburu pelaku dari jaringan terorisme di Indonesia, serta mempersempit ruang geraknya."

AMIRULLAH
Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2013/03/08/063465827/Densus-88-Dikecam-di-Poso-Begini-Nasib-Tim-TNI

 

Senin, 25 Oktober 2010

Tsauri Lakukan 17 Transaksi Senjata



Muhammad Sofyan Tsauri. TEMPO/Aditia Noviansyah
TEMPO Interaktif, Jakarta -  Tersangka teroris, Sofyan Tsauri, mengaku telah melakukan 17 kali transaksi pembelian senjata api dengan Ahmad Sutrisno.Pada  transaksi itu, Tsauri mampu mendapatkan 28 senjata api berbagai jenis, amunisi, serta magazin dari Sutrisno. "Yang saya beli senjata, peluru dan magazin, total harganya Rp 325 juta," ujarnya.

Tsauri mengatakan,  transaksi itu terjadi sejak Oktober 2009 hingga Januari 2010. Ia menjelaskan, dirinya membeli 9 pucuk senjata api AR 15, 4 pucuk AK 47, 2 pucuk AK58, 1 pucuk FN 9 milimeter, 6 pucuk Revolver, 4 pucuk Romington, dan 2 pucuk M 58.

Tsauri juga mengaku membeli 9 jenis amunisi dengan total 19.999 butir. Amunisi tersebut terdiri dari kaliber 7,62 milimeter sebanyak 9500 butir, kaliber 5,56 milimeter sebanyak 9300 butir, kaliber 11 milimeter sebanyak 1000 butir, kaliber 9 milimeter sebanyak 640 butir, kaliber 58 milimtere sebanyak 500 butir, dan kaliber 22 milimeter sebanyak 50 butir.

Pria bertubuh gemuk ini juga mengaku pernah membeli 72 magazin.  Magazin ini terdiri dari 21 buah magazin AK 47, 7 buah magazin M 58, dan 54 magazin untuk AR 15.


Menurut dia,  pembelian senjata dan perlengkapannya ini merupakan permintaan dari Yahya alias Dul Matin, tersangka teroris lainnya yang telah tewas tertembak Densus 88 Anti Teror di Pamulang. "Waktu itu, Yahya pernah minta tolong sama saya untuk dicarikan senjata api," ujarnya. "Dia bilang kalau senjata itu untuk pelatihan militer di kamp Asykari, Aceh, untuk jihad ke Palestina," ujarnya.

Tsauri mengaku dirinya diberikan uang Oleh Dul Matin untuk membeli senjatanya. "Awalnya sih pakai duit saya dulu, setelah senjata saya serahkan baru duit diberikan ke saya," ujarnya. Dari aktivitas jual belinya ini, Tsauri mengaku meraup untung sekitar Rp 28 juta. Namun, untung tersebut batal lantaran Dul Matin diakuinya memiliki hutang. "Ustad Yahya punya hutang sama saya Rp 27 juta, saya gak jadi untung," ucap Tsauri.

Febriyan
Sumber : Tempointeraktif.com

Sunakim Klaim Kamp Militer Aceh untuk Jihad ke Palestina

TEMPO/Imran
TEMPO Interaktif, Jakarta - Saksi Sunakim alias Nakim mengaku pelatihan militer di Pegunungan Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh tak bertujuan untuk melakukan aksi teror di dalam negeri seperti yang diduga jaksa penuntut umum. "Hanya untuk berangkat Jihad ke Palestina," kata Nakim dalam sidang Abu Rimba dan kawan-kawan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (21/10).

Jaksa Feritas pun mengancam Nakim untuk tidak berkata bohong. "Anda sudah di BAP dan anda sudah menandatangani BAP ini," ujarnya.
 
Menurut Feritas, saat diperiksa penyidik, Nakim mengakui bahwa salah satu tujuan pelatihan militer di Aceh tersebut adalah untuk melakukan teror terhadap pekerja organisasi non-pemerintah asing. "Untuk menyerang bule-bule NGO asing di Aceh," ujarnya. 

Namun pernyataan ini ditampik Nakim. "Saya tidak pernah mengatakan itu," ucapnya.

Nakim, yang juga merupakan terdakwa dalam kasus terorisme mengakui bahwa dirinya mengikuti pelatihan tersebut. "Pelatihannya sekitar bulan Januari sampai Februari 2010," ujarnya. Ia pun mengaku mengenal para terdakwa dalam pelatihan itu. 

Nakim mengatakan, ia diajak oleh seseorang bernama Yahya untuk berangkat ke Palestina. "Awalnya Ustad Yahya bilang mau diberangkatin ke Palestina, tapi malah ke Aceh," tuturnya. Ia pun mengaku tidak mengetahui jika pelatihan yang diikutinya terdapat latihan menembak dan latihan militer lainnya. "Saya baru tahu kalau ada latihan seperti itu pas sudah di sana," tuturnya.

Mengenai Dulmatin, pemuda asal Subang ini mengaku tidak mengenalnya. Saat jaksa Feritas menekankan bahwa Dulmatin adalah Yahya, Deni pun mengaku tidak tahu. "Yahya itu ya Yahya," ujarnya. 

Nakim mengaku mengenal Yahya dari seorang temannya, Warsito. "Waktu saya main di rumah Warsito, ada Ustad Yahya. Saya diajak diskusi soal agama," tutur Nakim.
 
Pertemuan dengan Yahya itu, menurutnya, terjadi beberapa kali sampai akhirnya ia diajak untuk berjihad. "Sekitar tiga kali, terus Yahya ngajak saya jihad ke Palestina. Saya mau," ucap Nakim.

Sementara Soyan Tsauri, saksi lainnya, mengakui bahwa dirinya berperan sebagai penjual senjata yang digunakan dalam pelatihan itu. Sofyan yang mantan anggota Brimob mengatakan, ia mendapatkan order dari Yahya untuk mencari senjata. "Dia memang bilang untuk latihan jihad ke Palestina di Aceh," ujarnya.
 
Ia mengaku menjual 28 senjata berbagai jenis, 19.999 butir amunisi serta 74 magazin. "Total harganya Rp 325 juta," ujarnya.

Ia mengatakan, pembelian senjata itu dilakukan dalam 17 kali transaksi. "Belinya satu satu, nggak sekaligus," tuturnya. Asal usul senjata itu pun diakuinya berasal dari rekan bisnisnya, Ahmad Sutrisno.
 
Awalnya, menurut Tsauri, ia berbisnis senjata mainan air soft gun dengan Sutrisno. "Tapi dia bilang bisa dapetin senjata beneran juga," kata Tsauri, yang akhirnya dipecat dengan tidak hormat dari kesatuannya.

Febriyan
Sumber :Tempointeraktif.com

Cari Blog Ini