Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.
Tampilkan postingan dengan label Terorisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terorisme. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2013

Teroris : Informasi Densus 88 Lebih Lengkap daripada BIN









 Sabtu, 09 Maret 2013 | 12:30 WIB
 
Informasi Densus 88 Lebih Lengkap daripada BIN

TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa pihak menuntut Datasemen 88 Antiteror Polri (Densus 88) untuk dibubarkan. Namun, bagi penasihat senior International Crisis Group (ICG) untuk Indonesia, Sidney Jones, keberadaan Densus 88 justru harus dipertahankan. Bukan sekadar soal efektivitas Densus 88 dalam pemberantasan aksi terorisme di Indonesia, bahkan informasi yang dimiliki Densus 88 tentang jaringan terorisme di Indonesia dinilai lebih lengkap dibandingkan yang dimiliki Badan Intelijen Negara (BIN).

Menurut Sidney, Densus 88 jangan hanya dilihat sebagai strike force atau lembaga yang menangkap orang. Tapi lebih dari itu, Densus 88 merupakan kesatuan yang mempunyai informasi dan pemetaan paling lengkap terhadap jaringan ekstremis di Indonesia. "Karena sepuluh tahun mengumpulkan data-data jaringan itu, saya kira informasi di Densus 88 jauh lebih lengkap daripada di BIN atau di lembaga-lembaga lain. Karena itu, menurut saya, harus tetap dipertahankan," kata Sidney kepada Tempo, Kamis, 7 Maret 2013, di kantor ICG, Jalan Thamrin, Jakarta.

Urgensi mempertahankan keberadaan Densus 88, Sidney menambahkan, juga disebabkan masih rawannya ancaman keamanan dari jaringan teroris. Jika melihat fakta dua tahun belakangan ini, memang benar ada penurunan jumlah orang yang meninggal akibat serangan teroris, dan kebanyakan korban adalah polisi yang tidak terkait dengan operasi Densus 88. "Tapi jumlah kelompok dan jumlah plot atau rencana serangan teroris lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa rekrutmen dan minat dengan terorisme masih sangat tinggi," kata Sidney.

Dengan memperhatikan hal tersebut, Sidney menilai kampanye melemahkan Densus yang dilakukan beberapa pihak sangat tidak etis. "Penting sekali Densus 88 tidak diganggu oleh kampanye yang tidak bertanggung jawab." (Baca berita lainnya di edisi khusus Kontroversi Densus)
sumber :http://edsus.tempo.co/konten-berita/politik/2013/03/09/466074/142/Informasi-Densus-88-Lebih-Lengkap-dari-BINAMIRULLAH

Jumat, 03 Juni 2011

Terorisme : Penjinak Bom Gegana Geledah Rumah di Padalarang

  Penjinak Bom Gegana Geledah Rumah di Padalarang

TEMPO Interaktif, Bandung Warga Kampung Sukamaju RW 06 dihebohkan penangkapan seorang pria mencurigakan di rumah nomor 129 Jalan Raya Ciburuy RW 06 Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, kemarin malam.


Selain menangkap pria yang mengaku berinisial IS alias Asep itu, polisi juga mengamankan beberapa dokumen bertulisan huruf arab pegon, serbuk putih mirip terigu, sumbu kompor, dua tong warna krem, serta beberapa botol.

Sekitar pukul 23.00, tim penjinak bom dari Gegana Polda Jawa Barat tiba di lokasi. Mereka lalu masuk ke dalam rumah nomor 129. Sekitar 30 menit kemudian, mereka tampak keluar diiringi beberapa anggota polisi tak berseragam yang membawa tong dan barang-barang lain dari dalam rumah.

Sejenak kemudian, Gegana bergerak menuju markas Polsek Padalarang. Di kantor itu mereka memeriksa  barang-barang yang diamankan dari Kampung Sukamaju serta menanyai IS yang sudah lebih dulu diamankan.

Setelah ditangkap,  IS  dibawa polisi tak berseragam menuju sebuah mobil berwarna putih untuk dibawa ke Polsek  dan diteruskan ke Polda Jabar.

Dari indormasi dihimpun Tempo, polisi mendalami pemeriksaan IS karena wajah pria berkumis dan bertubuh gempal ini mirip salah satu buronan kasus terorisme Cirebon.


Kepala Polres Cimahi Kota Ajun Komisaris Besar Rudy Heryanto Adi Nugroho membenarkan polisi mengamankan IS berikut barang-barang yang ditemukan bersamanya.

"Kami masih mendalami apakah yang bersangkutan (IS) terkait dengan kegiatan terorisme atau tidak, proses identifikasi masih dilakukan," ujar Rudy.


Ketua RW 06 Yudi Saefudin menuturkan, penangkapan berawal dari kecurigaan warga terhadap orang tak dikenal yang beberapa hari terakhir tampak keluar-masuk rumah nomor 129 yang lima tahun terakhir tanpa penghuni.

Bersama beberapa warga, Yudi  menyatroni rumah berhalaman luas tersebut. "Di dalam, kami menemukan dia, ternyata dia tak punya KTP. Tapi dia mengaku bernama Asep Satria asal Karawang dan sudah seminggu menginap di rumah kosong ini," tuturnya.

Yudi lalu memeriksa barang-barang milik IS alias Asep. "Karena mencurigakan, seperti barang milik teroris, kami lalu mengontak Polsek Padalarang," ujarnya.

ERICK P. HARDI
Sumber ; Termpo Interaktif./Sabtu, 04 Juni 2011 | 07:17 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2011/06/04/brk,20110604-338533,id.html

Selasa, 15 Maret 2011

Teror : Ledakan 68H

Polisi Tak Tangani Bom Sesuai Protap
Penulis: Hindra Liu | Editor: A. Wisnubrata
Selasa, 15 Maret 2011 | 17:45 WIB


Dibaca: 729



Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian dinilai tak menangani ancaman bom yang dikirimkan ke Sekretariat Institut Studi Arus Informasi di Jalan Utan Kayu nomor 68H, Matraman, Jakarta Timur, sesuai dengan prosedur tetap atau protap. Bahkan, penanganan bom yang disimpan di dalam buku yang dipaketkan tersebut dikatakan sembrono.
"Pertama, bom itu disiram air. Selain itu, petugas menjinakkan bom tersebut dengan tangan kosong. Bahkan, terhadap barang bukti kejahatan biasa pun, polisi harus menggunakan sarung tangan. Jika tidak, hal ini bisa berpotensi merusak barang bukti. Sidik jari pada barang bukti itu pun bisa hilang," ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane ketika dihubungi Kompas.com, Selasa(15/3/2011).
Neta juga mengkritisi lambannya tim Gegana dalam merespon laporan masyarakat atas kiriman bom tersebut. Akibat lambatnya respon tim Gegana, Kasat Reskrim Jakarta Timur Komisaris Dody Rachmawan berinisiatif menjinakkan bom tanpa dilengkapi perlengkapan yang memadai.
"Dalam protap, tim Gegana seharusnya tiba di lokasi beberapa menit setelah adanya laporan dari masyarakat. Nyatanya, wartawan datang lebih dahulu daripada Gegana" katanya.
Di samping itu, pada tayangan televisi, ketika polisi menjinakkan bom yang berada di dalam buku, terlihat ada masyarakat berada di sekitar tempat kejadian perkara. Padahal, seharusnya bom tersebut diamankan di tempat yang kosong. Para warga pun seharusnya tak dibiarkan berada di dekat bom.
Dilaporkan, para wartawan dan warga hanya berjarak sekitar dua meter dari bom tersebut. Ketika meledak, serpihan buku memencar sampai beberapa meter jauhnya. Dua orang pegawai KBR 68H dilaporkan turut menjadi korban ledakan tersebut.
Sumber : Kompas.com./Selasa, 15 Maret 2011 | 17:45 WIB

Minggu, 12 Desember 2010

Tersangka terorisme Abu Bakar Baasyir

Baasyir Dikirim ke Kejari Jakarta Selatan
Senin, 13 Desember 2010 , 10:30:00 WIB
Laporan: Firardy Rozy

  

RMOL. Detasemen Khusus 88 Kepolisian RI akan menyerahkan tersangka terorisme Abu Bakar Baasyir ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Demikian keterangan yang disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, M Yusuf, kepada wartawan Mabes Polri, Jakarta, Senin (13/12).

"Yang hari ini diperiksa barang bukti serta tersangka oleh Kejari. Saat ini kita sedang tunggu tersangka," kata Yusuf.

Tapi, lanjut Yusuf, pemeriksaan barang bukti senjata api AK 47, M-16 serta amunisi dan dokumen-dokumen sedang berjalan.

Sedangkan, suasana di sekitar tempat penahanan Baasyir di Rutan Bareskrim Mabes Polri, terlihat persiapan untuk mengantarkan Baasyir ke Kejari Jakarta Selatan. Dua buah mobil lapis baja Gegana Mabes Polri tampak diparkirkan di pelataran Bareskrim.
Sementara, rencana operasi katarak terhadap Ustad Abu Bakar Baasyir kembali tertunda. Meski, tim dokter yang akan mengoperasi mata ulama kelahiran Jombang itu sudah datang dan memeriksanya di Rutan Bareskrim Mabes Polri.

Asisten Abu Bakar Baasyir, Hasyim Abdullah kepada wartawan, menjelaskan, sampai sekarang belum ada pihak yang mengajukan izin operasi mata Ustadz ke Rumah Sakit Pusat Pertamina. [ald]
Sumber : rakyatmerdeka.co.id.  Senin. 13 Desember 2010

Berita terkait :

BERJENGGOT



Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar menunjukkan foto buronan teroris Abu Tholut di Mabes Polri, Jakarta (Jumat 10/12). MOHAMAD QORI/RM
 
Berita Terkait :
 
Abu Bakar Ba'asyir Terancam Hukuman Mati?
"Itu hanya latihan militer yang bersenjata yang seharusnya dikenakan UU Darurat."
Senin, 13 Desember 2010, 12:32 WIB
Arry Anggadha, Eko Huda S, Syahrul Ansyari
Abu Bakar Ba'asyir (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)
 
 VIVAnews - Tersangka teroris, Abu Bakar Ba'asyir, dijerat Undang-Undang Terorisme dengan pasal berlapis. Sebanyak lima pasal UU Anti Terorisme ditimpakan kepada pimpinan Jama'ah Ansharut Tauhid itu.

Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, M Yusuf, mengatakan pasal-pasal yang dijeratkan itu adalah Pasal 6, Pasal 7, Pasal 11, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 17 UU Anti Terorisme.

Menurut dia, dari kelima pasal yang dijeratkan itu, pasal paling berat adalah Pasal 14. Pasal itu, kata dia, mengatur tentang menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme.

Lantas, dengan penerapan pasal berlapis itu, apa hukuman maksimal yang akan diterima Ba'asyir? "Maksimal mati," kata Yusuf di kantornya, Jakarta, Senin 13 Desember 2010.

Hari ini, Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dijadwalkan menerima pelimpahan tahap kedua Ba'asyir dari Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri. Bersama Ba'asyir, turut pula diserahkan berkas perkara dan sejumlah barang bukti.

Mengenai pelimpahan ini, pengacara Ba'asyir, Achmad Midan, menyatakan selama masa penyidikan, Ba'asyir lebih banyak bungkam. Menurutnya, hal tersebut tidak akan bermasalah. "Yang penting proses kesaksian transparansi akuntabel dan tidak ada tekanan. Menolak memberi keterangan itu sah saja, yang penting jaksa sudah ada bukti yang cukup," kata Midan.

Midan kembali menegaskan, kliennya tidak dapat dituduhkan terlibat dalam kasus terorisme di Aceh. Karena, lanjut Midan, kegiatan militer di Aceh itu, tidak dapat dikategorikan kegiatan terorisme. "Itu hanya latihan militer yang bersenjata yang seharusnya dikenakan UU Darurat," ujarnya.
Sumber berita : VIVAnews

Berita terkait :


Densus 88 Dianggap Sukses karena Abu Tholut Pakai Hp
Sabtu, 11 Desember 2010 , 15:13:00 WIB
Laporan: Firardy Rozy


LOGO DENSUS 88
  

RMOL. Penangkapan Abu Tholut merupakan bukti kinerja dan kemampuan intelijen Densus 88 Mabes Polri telah mengalami peningkatan.

Keberadaan Abu Tholut berhasil dideteksi oleh tim anti teroris ini melalui teknologi signal intelligence dan imagery intellegence.

Demikian umbar pengamat intelejen Hij-D Institute, Dynno Cressbon kepada Rakyat Merdeka Online, Sabtu (11/12).

Dynno memaparkan, ketergantungan jaringan teroris terhadap alat komunikasi dan bantuan komunikasi telepon seluler memudahkan komunitas intelijen Densus 88 memonitor dan mendekteksi posisi pergerakan dan persembunyian mereka.

"Abu Tholut untuk ke sekian kalinya tertangkap oleh Densus 88 karena saluran komunikasinya sudah terdeteksi. Penangkapan Abu Tholut akan memudahkan Densus 88 melakukan penangkapan terhadap sejumlah DPO lainnya yang masih dikejar," terangnya.

Dynno juga menyebutkan, sejumlah nama pada telepon seluler milik Abu Tholud pasti akan tertangkap oleh Densus 88 apabila memiliki keterkaitan dengan aktivitas teroris yag dituduhkan oleh aparat Mabes Polri. Hingga kini, ia belum melihat ada keterkaitan organisasi yang didirikan Abu Bakar Baasyir, Jamaah Ansharut Tauhid, dengan organisasi Tanzim Al Qaidah serambi Mekkah di Aceh yang diduga dipimpin oleh Abu Tholut. [wid]

Sumber : rakyatmerdeka.co.id   Senin, 13 Desember 2010


Cari Blog Ini