Kabupaten Morowali
Geografis
Batas dan Luas Wilayah secara administratif Kabupaten Morowali memiliki batas wilayah sebagai berikut :
Utara : Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Tojo Una-Una
Selatan : Berbatasan dengan wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan
Barat : Berbatasan dengan Perairan Teluk Tolo dan Kabupaten Banggai
Timur : Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Poso, Tojo Una-Una, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah
Luas daratan Kabupaten Morowali diperkirakan kurang lebih
15.490,12 km2 atau sekitar 22,77 persen dari luas daratan Propinsi
Sulawesi Tengah. Luas Wilayah Kabupaten Morowali menempati urutan
pertama bila dibandingkan dengan luas daratan kabupaten / kota lainnya
di Sulawesi Tengah.
Demografi
Perkembangan jumlah penduduk Kabupaten Morowali setiap tahunnya terus
menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2002 jumlah penduduk tercatat
sebanyak 162.529 jiwa, tahun 2003 tercatat 165.542 jiwa, tahun 2004
menjadi 166.477 jiwa, tahun 2005 berjumlah 170.200 jiwa, tahun 2006
taercatat 178.328 jiwa, tahun 2007 tercatat 190.012 jiwa dan pada tahun
2008 meningkat menjadi 195.937 jiwa dengan jumlah kepala keluarga (kk)
sebanyak 49.885 kk. Pertumbuhan penduduk tahun 2007 sebesar 6,5 persen
dan pada tahun 2008 pertumbuhan penduduk mencapai 3,1 persen.
Pertumbuhan penduduk yang meningkat juga dipengaruhi oleh migrasi
penduduk dari luar ke wilayah Kabupaten Morowali dengan alasan utama
ekonomi. Hal ini mengindikasikan adanya daya tarik ekonomi Kabupaten
Morowali dan prospek perkembangan dimasa mendatang untuk memberikan
tingkat kesejahteraan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat. Dan
hingga saat ini kebijakan yang diambil yang berorientasi pada
kepentingan publik adalah digratiskannya kartu tanda penduduk (ktp) dan
akte kelahiran bagi seluruh masyarakat morowali.
Sejarah
Kabupaten Morowali merupakan Kabupaten yang terbentuk dari hasil
pemekaran wilayah Kabupaten Poso Propinsi Sulawesi Tengah berdasarkan
Undang-undang RI Nomor 51 Tahun 1999. Kabupaten Morowali merupakan salah
satu dari sembilan Kabupaten Morowali dan satu kota yang ada di
propinsi Sulawesi Tengah. Sejarah perjuangan untuk melahirkan Kabupaten
Morowali sudah lama tumbuh dan menggelora di hati masyarakat. Aspirasi
tersebut terus berkembang yang kemudian sampai pada tingkat lahirnya
kemampuan politik dari wakil-wakil rakyat di lembaga DPRD dengan
dicetuskannya Resolusi DPRD-GR Propinsi Sulawesi Tengah nomor :
1/DPRD/1966 yang isinya meminta kepada Pemerintah Pusat agar Propinsi
Sulawesi Tengah dimekarkan menjadi 11 (sebelas) daerah otonom tingkat
II, yaitu 2 (dua) Kotamadya dan 9 Kabupaten, salah satu diantaranya
adlah Kabupaten Morowali (waktu itu masih disebut Mori Bungku).
Sejarah perjuangan panjang ini ternyata tak pernah mengenal
akhir, sehingga begitu masa reformasi, peralihan orde baru ke masa
reformasi saat ini, di mana kebebasan demokrasi lebih digaungkan sebagai
konsep pemerintahan, dengan kemudian diterapkannya konsep pemerintahan
desentralisasi, yang diwujudkan melalui kebijakan otonomi daerah
ditingkat Kabupaten, dimana Kabupaten diberi porsi yang lebih besar lagi
untuk mengatur daerahnya sendiri. Maka semakin luaslah potensi bagi
terbentuknya daerah Kabupaten baru. Oleh karena itu moment ini direspon
oleh masyarakat seluruh lapisan di daerah Morowali untuk memperjuangkan
kembali aspiral lamanya, yakni pembentukan Kabupaten Poso. Dan akhirnya
perjuangan dan aspirasi masyarakat daerah ini berhasil, yakni dengan
keluarnya kebijakan Pemerintah Pusat untuk membentuk daerah Morowali,
berdiri sebagai Kabupaten sendiri, yang diberi nama Kabupaten Morowali,
berdasarkan hasil pemikiran dan kesepakatan seluruh lapisan masyarakat.
Keputusan Pemerintah Pusat untuk membentuk Kabupaten Morowali ini
kemudian dituangkan ke dalam UU RI Nomor 51 Tahun 1999. Setelah
terbentuknya Kabupaten Morowali, langkah selanjutnya mempersiapkan
perangkat wakil rakyat di DPRD dan pemilihan Bupati, Saat ini bupati
terpilih pertama yang memimpin secara definitif Kabupaten Morowali
adalah Andi Muhammad Abubakar dan Datlin Tamalagi sebagai wakil bupati
definitif pertama dan Drs. H. Chaerudin Zen sebagai Sekertaris Kabupaten
Morowali.
Potensi
Peternakan
Pada sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura umumnya didominasi oleh tanaman Padi dan Palawija serta beragam buah-buahan.
Pembangunan sub sektor tanaman pangan khususnya padi dan palawija
di Kabupaten Morowali masih tetap diprioritaskan pada komoditi padi.
Hal ini terlihat dari kenaikan luas panen yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan perkembangan komoditas lainnya.
Pertambangan
Potensi sektor pertambangan telah terinventarisir berbagai jenis bahan galian, yakni sebagai berikut :
Golongan A (bahan galian strategis) Seperti : Minyak Bumi, Nikel dan Batu Bara
Golongan B ( bahan galian vital) Seperti : Kromit dan Besi
Golongan C (bahan galian non strategis dan vital) Seperti : Lempung, Batu Giok (Jade), Talk dan Marmer
Jenis bahan tambang / galian yang telah dikelola tahun 2002 antara lain :
Minyak Bumi & Gas Alam di Kec. Bungku Utara
Nikel (126.375 Ha) di Kec. Bungku Tengah dan Kec. Bungku Selatan
Chromit (1.233 Ha) di Kec. Bungku Tengah
Marmer ( 1.540 Ha) di Kec. Lembo, Kec. Mori Atas dan Kec. Petasia
Perkebunan
Perkebunan Besar
Tanaman perkebunan besar di Kabupaten Morowali terdiri dari komoditi
kelapa sawit dengan luas areal 16.507,27 ha, dengan produksi 158.085,61
ton yang tersebar di tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Bungku Barat, Mori
Atas dan Bungku Utara serta komoditi Karet dengan luas areal 3.123 ha,
dengan produksi sebesar 2.896,63 ton yang terdapat di Kecamatan Lembo.
Perkebunan Rakyat
Jenis-jenis perkebunan rakyat yang terdapat di Kabupaten Morowali
terdiri atas tanaman kelapa, cengkeh, kopi, kelapa sawit, pala, lada,
coklat, karet, jambu mente, vanili, sagu, kapuk dan kemiri. Dari jenis
tanaman perkebunan tersebut jenis tanaman coklat mempunyai luas areal
yang terbesar, yaitu mencapai 13.602,80 ha, sedangkan tanaman dengan
luas areal terkecil adalah tanaman kemiri seluas 12 ha.
Kelapa
Kecamatan yang memiliki produksi terbesar adalah Kecamatan Bungku
Barat dengan produksi sebesar 9.350 ton sementara Kecamatan Mori Atas
merupakan daerah dengan tingkat produksi terendah yaitu sebesar 21,6
ton.
Cengkeh
Kecamatan yang memproduksi tanaman cengkeh adalah Kecamatan Bungku
Selatan dengan jumlah produksi sebesar 7.500 ton sedangkan Kecamatan
Soyo Jaya merupakan daerah dengan produksi terendah yaitu 0,1 ton.
Kopi
Kecamatan yang menjadi penyumbang terbesar di Kabupaten Morowali
adalah Kecamatan Bungku Utara yaitu 18,13 ton sedangkan Kecamatan
Petasia menjadi daerah penghasil produksi terkecil yaitu 0,2 ton.
Kelapa Sawit
Tanaman perkebunan rakyat jenis komoditi kelapa sawit di Kabupaten
Morowali hanya terdapat di tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Bungku Barat
dengan tingkat produksi 1.096 ton dengan luas areal panen 36 ha dan
Petasia seluas 911,20 ha belum berproduksi.
Pala
Kecamatan Bungku Tengah merupakan daerah penghasil pala terbesar
yaitu 72 ton sedangkan Kecamatan Lembo dan Petasia merupakan daerah
penghasil pala terkecil masing-masing 0,5 ton.
Lada
Kecamatan yang memproduksi lada terbesar adalah Kecamatan Bungku
Tengah dengan tingkat produksi 1.575 ton sedangkan Kecamatan Soyo Jaya
menjadi daerah dengan tingkat produksi terendah yaitu 0,2 ton.
Coklat
Kecamatan Bungku Tengah adalah Kecamatan yang mempunyai tingkat
produksi terbesar yaitu 3.742 ton, sedangkan Kecamatan Mori Atas
merupakan daerah dengan tingkat produksi terendah yaitu 6,9 ton.
Jambu Mente
Kecamatan Bungku Barat mempunyai tingkat produksi tertinggi sebesar
900 ton sedangkan Kecamatan Soyo Jaya merupakan daerah dengan tingkat
produksi terendah yaitu 0,8 ton.
Vanili
Tanaman perkebunan jenis komoditi vanili hanya terdapat di Kecamatan
Mori Atas dengan tingkat produksi 0,9 ton dengan luas areal panen 9,8
ha.
Sagu
Tanaman perkebunan rakyat jenis komoditi sagu di Kabupaten Morowali
hanya terdapat di Kecamatan Lembo dengan tingkat produksi 0,38 ton
dengan luas areal panen 7,3 ha dan Kecamatan Petasia dengan tingkat
produksi 3 ton dengan luas areal panen 15,5 ha, sehingga total produksi
sagu 3,38 ton dengan luas areal panen 22,8 ha.
Kemiri
Tanaman perkebunan rakyat jenis komoditi kemiri di Kabupaten Morowali
hanya terdapat di Kecamatan Mori Atas dan Soyo Jaya. Kecamatan Mori
Atas menjadi penyumbang terbesar dengan tingkat produksi mencapai 23 ton
sedangkan Kecamatan Petasia menjadi daerah dengan tingkat produksi
terendah 4,6 ton.
Kehutanan
Pada sektor kehutanan berdasarkan peta peruntukan lahan di Sulawesi
Tengah, luas kawasan hutan di Kabupaten Morowali lebih dari 1 Juta
hektar terdiri dari hutan lindung 436.756 ha, hutan suaka alam dan
wisata 241.331 ha dan kawasan budidaya yang terdiri dari hutan produksi
480.759 ha serta Areal Penggunaan Lain (APL) 417.226 ha.
Jenis potensi yang ada di dalamnya meliputi hasil hutan kayu
antara lain : kelompok meranti, rimba campuran, kelompok kayu indah
seperti jati dan cempaka serta terdapat pula kelompok kayu mewah seperti
eboni / kayu hitam (Dyospiros Celebica Bakhb) yang termasuk salah satu
kayu langka di dunia.
Adapun hasil hutan lainnya (non kayu) antara lain dammar, kemiri,
calapai serta berbagai jenis rotan, yang semuanya merupakan potensi
kekayaan daerah yang tak ternilai.
Perikanan dan Kelautan
Perairan laut Teluk Tolo di Kabupaten Morowali dengan luas perairan
29.962,88 Km2 memiliki potensi biotik yang jenis dan jumlahnya cukup
banyak, terdiri dari berbagai jenis ikan, lobster, kepiting bakau,
cumi-cumi, gurita, rumput laut dan kerang mutiara.
Sedangkan untuk perikanan budidaya antara lain tambak dan kolam
dengan jenis potensi udang windu, bandeng, ikan mas, nila dan udang
gajah.
Peternakan
Perkembangan ternak di Kabupaten Morowali mengalami peningkatan
populasi baik untuk ternak besar, ternak kecil maupun ternak unggas.
Kecamatan dengan tingkat ternak sapi terbanyak terdapat di Kecamatan
Lembo dengan jumlah populasi 6.042 ekor sedangkan untuk ternak kerbau
Kecamatan Bungku Tengah menjadi Kecamatan dengan jumlah populasi
terbanyak yaitu 243 ekor. Sementara ternak kecil seperti kambing dan
babi populasi terbanyak terdapat di Kecamatan Lembo dengan jumlah
populasi masing-masing 891 ekor dan 12.146 ekor sedangkan ternak unggas
jenis ayam populasi terbanyak terdapat di Kecamatan Bungku Barat
sebanyak 68.373 ekor. Adapun populasi itik terbesar ada di Kecamatan
Bungku Tengah dengan jumlah 2.627 ekor.
Pariwisata
Pembangunan kepariwisataan diarahkan pada peningkatan pariwisata
untuk menggalakkan kegiatan perekonomian sehingga dapat membuka lapangan
kerja dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Keberhasilan dalam
bidan gkepariwisataan terjamin dari semakin meningkatnya kunjungan
wisatawan ke objek wisata yang ada.
Di Kabupaten Morowali terdapat berbagai jenis objek wisata yang
terdiri dari wisata pantai pasir putih, goa, tanaman laut, air terjun,
danau, cagar alam dan objek wisata lain. Objek wisata yang terbanyak di
Morowali adalah goa yaitu 16 buah.
Wilayah Kabupaten Morowali
Sumber :
http://www.morowalikab.go.id/