Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.

Minggu, 12 Desember 2010

Polisi di Jakarta getol mengawasi para pengendara.

Metro
Alasan Polisi Diberi Reward Tilang Terbanyak
Jangan heran jika belakangan ini polisi di Jakarta getol mengawasi para pengendara.
Minggu, 12 Desember 2010, 11:37 WIB
Maryadie
VIVAnews - Jangan heran jika belakangan ini polisi di Jakarta getol mengawasi para pengendara. Salah sedikit langsung tilang.

Bahkan tak jarang ada polisi yang sengaja memberi peluang untuk melanggar lalu ditindak oleh polisi lainnya.

Ini tidak lain karena penghargaan dari Polda Metro Jaya untuk memberikan penghargaan kepada polisi dengan tilang terbanyak.
Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Royke Lumowa mengatakan, penghargaan atas penindakan pelanggaran terbanyak oleh polisi terus dilakukan.

Terakhir anggota Subdit Gakkum Brigadir Dua Eri yang dalam satu bulan ini telah lakukan penindakan pelanggaran sebanyak 1151.

"Berarti rata-rata per harinya bisa 34-35 kali penindakan", ujarnya.

Pemberian reward ini bisa meminimalisasi oknum polisi yang sering "bermain mata" dan cenderung pasif terhadap pelanggar lalu lintas.

"Tingkat pelanggaran lalulintas di Jakarta sangat banyak seperti butir-butir pasir di laut, jadi tergantung dari sikap kepolisian itu sendiri rajin atau malas", tegasnya seperti dikutip Traffic Management Center Polda Metro Jaya.
Berdasarkan sumber di Polda Metro Jaya, polisi yang mendapatkan penghargaan dengan tilang terbanyak akan diberi hadiah berupa uang dan penghargaan.
• VIVAnews
Sumber : Viva News. Minggu, 12 Desember 2010

Sisa Bom Dr Azahari Dipamerkan di Mal

Tahun Kunjungan Museum 2010
Sisa Bom Dr Azahari Dipamerkan di Mal
Minggu, 12 Desember 2010 | 06:49 WIB

KOMPAS IMAGES/NI LUH MADE PERTIWI F
Sisa bom rakitan Dr Azahari dipamerkan di stan museum Polri di fX lifestyle, Senayan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Mungkin Anda mengernyit jika membaca judul di atas. Tak percaya? Datang saja ke fX lifestyle X'nter di Senayan. Di sana Anda bisa menemukan 41 museum lengkap dengan foto dan koleksi andalan masing-masing museum.

"Harapannya acara ini menjadi klimaks dari Tahun Kunjungan Museum 2010 yang akan berakhir"
-- Taufik Ahmad

Festival Museum 2010 diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI. Acara ini juga merupakan pameran museum pertama kali yang diadakan di pusat perbelanjaan.
"Acara ini dalam rangka Tahun Kunjungan Museum 2010. Harapannya acara ini menjadi klimaks dari Tahun Kunjungan Museum 2010 yang akan berakhir," kata Kepala Bidang Daya Tarik Destinasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI, Taufik Ahmad, Sabtu (11/12/2010).
Selain itu, tujuannya adalah untuk membawa museum lebih dekat ke masyarakat. Apalagi mal masih merupakan pilihan utama masyarakat untuk berakhir pekan. Ibaratnya pihak museum sedang menjemput bola bukan sekedar menunggu masyarakat untuk datang berkunjung.
Menurut Taufik, dengan adanya acara ini pihaknya berusaha memfasilitasi museum-museum untuk mempromosikan tempatnya masing-masing. Sehingga para pengunjung festival akan tertarik dan mengenal museum-museum yang ada di Jakarta. Nantinya diharapkan para pengunjung akan melanjutkan kunjungan ke museum tersebut.
Museum yang berpartisipasi hanya sebagian dari 57 museum yang ada di Jakarta. Museum-museum peserta festival terdiri dari museum milik pemerintah, swasta, maupun pribadi. Salah satu museum pribadi adalah Museum Harry Darsono yang banyak menarik pengunjung dengan pameran karya seni milik Harry Darsono.
Tentu Anda masih ingat peristiwa tewasnya empat mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998 yang menjadi awal dari gerakan reformasi. Tapi tahukah Anda peristiwa ini diabadikan dalam museum? Salah satu museum yang membuka stan adalah Museum 12 Mei Universitas Trisakti. Tampak hadir di stan tersebut ibunda dari almarhum Elang Mulya, salah satu mahasiwa yang tewas.
Anda perlu berkunjung ke stan Museum Polri. Di stan ini Anda bisa melihat Serpihan Bom Malam, yaitu sisa bom rakitan Dr. Azahari yang gagal meledak saat rumah persembunyian nya di Batu, Malang, Jawa Timur, disergap Detasemen 88 anti teror pada tanggal 9 November 2005. Pada penyergapan yang disertai tembak menembak tersebut, Dr. Azahari dan tersangka lainnya tewas karena meledakkan diri. Anda bisa melihat sisa bom rakitan dan sebuah kacamata milik Dr. Azahari.
Festival Museum 2010 berlangsung dari 10-12 Desember 2010. Khusus tanggal 12 Desember 2010, Anda bisa mengikuti sarasehan yang dibawakan oleh para pengelola museum.
Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F   |   Editor: I Made Asdhiana
Sumber : Kompas.com. Minggu, 12 Desember 2010

Bang Buyung Pertanyakan Kualitas Kepemimpinan SBY

Di HUT Rizal Ramli, Bang Buyung Pertanyakan Kualitas Kepemimpinan SBY
Minggu, 12 Desember 2010 , 10:04:00 WIB
Laporan: Teguh Santosa

  

RMOL. Bukan hanya pada Gayus HP Tambunan, yang dibelanya, pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun pengacara senior Adnan Buyung Nasution kesal luar biasa.
Dia mempertanyakan janji SBY memimpin langsung pemberantasan korupsi dan berbagai mafia hukum. Nyatanya, sampai detik ini SBY tak memperlihatkan sikap sebagai pemimpin, yang mau bertindak tegas menghadapi berbagai skandal korupsi, yang sudah terang benderang di depan mata, yang melibatkan jaringan mafia dari berbagai instansi.
Dalam kasus pengemplangan pajak yang melibatkan Gayus Tambunan, sudah jelas terlihat praktik mafia hukum yang melibatkan anggota Polri, Jaksa dan pengacara. Mestinya, kalau SBY memang pemimpin, dia bisa menyelesaikan masalah ini dalam waktu singkat. Begitu dikatakan Adnan Buyung Nasution saat berbicara di perayaan HUT ekonom senior Rizal Ramli, Jumat malam (10/12).
“Kalau SBY memang leader, panggil Kapolri. ‘Hei Kapolri, saya kasih kamu waktu dua minggu untuk membongkar kasus ini. Kalau tidak kamu saya pecat.’ Itu baru Presiden yang leader,” ujar Bang Buyung menyarankan.
Apabila Kapolri tidak berani, SBY dapat memanggil Jaksa Agung dan memberikan perintah yang sama. Bila Jaksa Agung juga tidak berani, ya dipecat saja.
“Negara kita ini tidak akan bisa baik, kalau presiden tidak bisa jadi leader. Beliau pernah bilang, saya akan memberantas korupsi paling depan. Tadi saya tagih dia. Buktikan sekarang, dia paling depan. Kita akan lihat, ada nggak kemajuan,” demikian Bang Buyung. [guh]

Sumber : rakyatmerdeka.co.id. Minggu, 12 Desember 2010 

Berita terkait :


Usut Semua Orang-orang Yang Disebut Gayus!
Jum'at, 10 Desember 2010 , 15:23:00 WIB
Laporan: Zul Hidayat Siregar


GAYUS TAMBUNAN/IST
  

RMOL. Terdakwa kasus mafia pajak Gayus Tambunan terus menyebut pihak-pihak yang berkaitan dengan kasus yang saat ini melilitnya.

Yang terbaru, kemarin di Pengadilan, Gayus mengaku menyuap mantan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga Ritonga dan mantan Jaksa Agung Muda Pidana Umum Kemal Sofyan.

Anggota Komisi III DPR Syarifuddin Sudding menegaskan, semua orang yang disebut oleh Gayus Tambunan di persidangan harus diproses secara hukum.

Karena pernyataan di persidangan, jelas Sudding kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Jumat, 10/12), merupakan bukti sebagaimana tertuang dalam Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana.

"Saya pikir semua pihak-pihak yang sudah disebutkan Gayus itu harus diproses secara adil di depan hukum. Jadi jangan hanya pejabat di bagian hilir saja, tapi bagian hulunya sama sekali tidak tersentuh. Semua pejabat tinggi apakah termasuk itu perwira tinggi yang berada di Mabes Polri sampai saat ini belum tersentuh," tegas Sudding.

Menurut Sudding, kasus Gayus ini mestinya dijadikan oleh penegak hukum sebagai entry point untuk memberantas mafia hukum.

"Ketika memang institusi penegak hukum saat ini dan Presiden SBY ingin melakukan satu pemberatasan mafia hukum, tidak hanya sebatas retorika dan lips service saja, tapi mendorong penegakan hukum kepada orang-orang yang disebut Gayus," tegasnya lagi.

Namun, dia kecewa. Hal ini terkait dengan pasal gratifikasi yang disangkakan kepada Gayus oleh Kepolisian. Menurutnya, dengan menggunakan pasal itu otomatis perusahaan-perusahaan yang disebut Gayus menyuapnya tidak akan kena lagi.

Sebelumnya, baik Abdul Hakim Ritonga Ritonga dan Kemal Sofyan sama-sama membantah menerima uang dari Gayus Tambunan. [zul]
Sumber : rakyatmerdeka.co.id. Minggu, 12 Desember 2010

Baca juga berita terkait :


Kalau Tidak untuk Membongkar Mafia, Bang Buyung Pasti Melempar Muka Gayus Pakai Berkas Perkara
Kapuspenkum: Keterangan Gayus Soal Ritonga Salah
Abdul Hakim Ritonga Mengaku Tak Kenal Gayus
Gayus Dikirimi Duit Lewat Bank Asing

Sabtu, 11 Desember 2010

Terorisme


Diduga Teroris
"Abu Tholut" Itu Dikenal sebagai Om Yon
Jumat, 10 Desember 2010 | 16:40 WIB
Foto Abu Tholut alias Mustofa.                                                         Persda Network/ Bian Harnansa
KUDUS, KOMPAS.com — Seorang pria yang diduga Abu Tholut alias Imron, yang ditangkap anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, Jumat (10/12/2010) pagi, diketahui oleh warga sudah lama menghilang dari rumahnya sejak merebaknya kasus terorisme belakangan ini.
Keterangan yang dikumpulkan dari lokasi penangkapan Abu Tholut di Desa Bae, Kudus, Jawa Tengah, Jumat, menyebutkan, Abu ditangkap kurang dari 24 jam setelah pulang mengunjungi keluarganya di Desa Bae.
Orang yang diduga Abu Tholut itu baru pulang ke rumah pada Kamis (9/12/2010) malam dan paginya langsung diciduk aparat Densus 88.
Ibrahim, warga setempat, mengungkapkan, orang yang diduga Abu Tholut itu memang lama tidak kelihatan, tepatnya sejak kasus terorisme mencuat kembali bersamaan dengan kasus perampokan di Bank CIMB Niaga Medan beberapa bulan lalu.
Sebetulnya, kata dia, Abu Tholut alias Imron atau biasa disebut warga dengan sebutan Om Yon itu tinggal di Kudus bersama istri di rumah mertuanya sejak tahun 2002 hingga 2004.
Selanjutnya, kata dia, Abu Tholut membangun rumah sendiri di samping rumah mertuanya pada 2005. "Hanya, sejak setahun terakhir, tidak kelihatan lagi bersamaan isu teroris yang kembali mencuat," ujarnya.
Ia mengakui, sosok yang diduga Abu Tholut tersebut cukup akrab dengan warga mengingat setiap diundang menghadiri pertemuan warga desa selalu menyempatkan diri. "Warga sudah menduga dia merupakan buruan polisi, tetapi warga sekitar tidak bisa berbuat apa-apa karena setahun terakhir dia tidak pernah kelihatan," ujarnya.
Keraguan warga akhirnya terjawab setelah orang yang diduga itu ditangkap anggota Densus 88, Jumat sekitar pukul 08.00 WIB. Ia mengatakan, jumlah petugas yang melakukan penangkapan cukup banyak karena ada yang mengendarai enam sepeda motor dan dua mobil.
"Saya juga sempat mendengar suara tembakan berulang kali saat proses penangkapannya," ujarnya.
Pernyataan senada diungkapkan warga lain, Rohman. Ia mengaku mendengar suara tembakan sebanyak lima kali lebih. "Tetapi, saya tidak berani memastikan dia ditembak atau tidak meskipun dari cara berjalannya terlihat sedikit pincang," ujarnya.
Sejumlah warga yang berupaya mendekat, katanya, dilarang petugas dan diminta menjauhi lokasi rumah yang diduga Abu Tholut tersebut.
ANT
Sumber : Kompas.com.  Sabtu, 11 Desember 2010
Editor: Marcus Suprihadi
Berita terkait:

Polri: Berkas Ba'asyir Dinyatakan Lengkap
Sabtu, 11 Desember 2010 | 08:54 WIB
 
Abu Bakar Baasyir
JAKARTA, KOMPAS.com — Mabes Polri menyatakan berkas perkara kasus terorisme dengan tersangka Abu Bakar Ba'asyir telah lengkap oleh jaksa atau P.21. Rencananya, pada Senin (13/12/2010) Polri akan menyerahkan Ba'asyir berikut barang bukti ke kejaksaan.
"Disampaikan bahwa berkas atas nama tersangka Abu Bakar Ba'asyir tadi sore, tanggal 10 Desember 2010, kurang lebih pukul 15.00 WIB, dinyatakan lengkap oleh jaksa/PU (sudah P21)," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Iskandar Hasan kepada wartawan, Jumat (10/12/2010) malam.
Menurut Iskandar, pada Senin pihaknya akan melakukan penyerahan tahap kedua kepada kejaksaan, tetapi setelahnya Abu Bakar Ba'asyir akan kembali ditahan di Rumah Tahanan Mabes Polri.
"Ba'asyir akan kembali ditahan atau dititipkan oleh jaksa ke Rutan Mabes Polri yang merupakan Rutan Cabang Salemba, sambil menunggu proses selanjutnya," papar Iskandar.
Sebelumnya, Mabes Polri menyatakan akan memperpanjang masa penahanan pemimpin utama Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) itu. Hal itu karena hingga masa penahanan selama 120 hari yang akan berakhir pada Senin (13/12/2010) berkas perkara Ba'asyir masih belum lengkap.
Penulis: Natalia Ririh   |   Editor: Asep Candra
sumber :kompas.com, sabtu 11 desember 2010.



Abu Tholut Belum Sampai Jakarta
Sabtu, 11 Desember 2010 | 13:50 WIB

TRIBUN NEWS/BIAN HARNANSA
Mantan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri memperlihatkan foto Abu Tholut alias Mustofa sebagai otak gerakan teror di Medan yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), saat memberi keterangan mengenai 16 orang yang ditangkap, tiga tewas dari anggota yang diduga teroris kelompok Medan, di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (24/9/2010). Kapolri menyatakan telah berkoordinasi dengan pasukan elit TNI dalam upaya memberantas terorisme.
Sumber : kompas.com, Sabtu, 11 Desember 2010


berita terkait :

Abu Tholut Dibekuk
Sabtu, 11 Desember 2010 | 04:54 WIB
KUDUS, KOMPAS - Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian Negara Republik Indonesia membekuk Abu Tholut alias Musthofa alias Mohammad Imron Baihaqi, tersangka kasus terorisme, di Dukuh Pondok, Desa Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (10/12) pukul 08.00-08.30.
Dalam penangkapan itu, polisi mengamankan senjata api jenis FN 46 dan delapan butir peluru.
Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Jakarta menjelaskan, tersangka Abu Tholut patut diduga terlibat dalam aksi terorisme, seperti pelatihan militer di Aceh dan perampokan Bank CIMB Niaga, Medan, Sumatera Utara, 18 Agustus 2010.
Anggota Densus 88 yang tidak mengenakan seragam khusus menyergap Abu Tholut saat berada di rumah bersama istrinya, Fatmawati yang kerap dipanggil Fat, dan anak ketujuhnya, Saat Abdul Qoyu (8 bulan). Tim anggota Densus 88 menggunakan 3 mobil dan 7 sepeda motor.
Sudarmi (50), tetangga Abu Tholut, mengatakan, sebelum menangkap tersangka teroris itu, polisi mengamankan dan tidak memperbolehkan warga mendekati rumah Abu Tholut. Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara tembakan dua hingga tiga kali.
Polisi yang tidak mengenakan seragam dan membawa senjata itu membawa Abu Tholut—yang biasa dipanggil Om Yon oleh warga Dukuh Pondok—dengan diborgol tangan dan kaki serta matanya ditutup kain putih. Dengan berjalan tertatih-tatih, dia dimasukkan ke mobil Kijang berwarna hitam. ”Waktu itu dia mengenakan kaus oblong berwarna putih dan celana panjang warna krem,” kata Sudarmi.
Ketua RT 4 RW 3 Suwarto (48), yang rumahnya berjarak sekitar 15 meter dari rumah Abu Tholut, mengemukakan, Abu Tholut tinggal di Dukuh Pondok sudah tiga tahun, tetapi jarang berada di rumah. Selama ini warga tidak mengetahui bahwa ia termasuk salah satu anggota teroris yang diburu polisi karena ciri-cirinya berbeda.
Di Sukoharjo, Jawa Tengah, juru bicara Jamaah Ansharut Tauhid, Abdurrahim Ba’asyir, mengatakan, ”Beliau (Abu Tholut) pernah sama-sama dengan Ustaz Abu (Abu Bakar Ba’asyir) di (Rumah Tahanan) Cipinang dan setelah bebas juga masih berhubungan sampai terakhir pada 2009 akhir.”
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Tengah Komisaris Besar Djihartono mengatakan, setelah ditangkap, Abu Tholut segera dibawa ke Jakarta.(hen/eki/den/mdn/fer)
sumber : Kompas.com. Sabtu, 11 Desember 2010

Jumat, 10 Desember 2010

Densus Buru Komplotan Abu Tholut


Buron teroris Abu Tholut
VIVAnews - Detasemen Khusus 88 Mabes Polri memburu komplotan pentolan teroris, Abu Tholut. Perburuan dilakukan setelah aparat berhasil menangkap Abu Tholut pagi tadi, Jumat, 10 Desember 2010
"Kami terus melakukan pengejaran tersangka lainnya dari pengembangan keterangan bersangkutan (Abu Tholut)," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, Mabes Polri, Jakarta.
Abu Tholut alias Mustofa alias Pranata Yudha, alias Imron Baihaki diduga oleh polisi sebagai orang yang berperan penting dalam pendirian kamp latihan militer jaringan teroris di Pegunungan Jalin, Jantho, Aceh Besar.
Dia juga diduga berperan sebagai otak perampokan di CIMB Niaga, Medan, Sumatera Utara.
Abu Tholut adalah Mantiki atau pimpinan wilayah jaringan teroris untuk Aceh dan Sumatera Utara. Buron teroris dari kamp militer Aceh ini merupakan  mantan narapidana teroris yang terlibat peledakan bom di Atrium Senen, Jakarta pada 2001.
Abu Tholut ditangkap di dalam kamarnya di Desa Bae Pondok, RT 4 RW III, Kecamatan Bae, Kudus, Jawa Tengah, sekitar pukul 08.30. Tak ada perlawanan dalam penangkapan itu. Bersama Abu Tholut, aparat menyita sebuah senjata api jenis FN kaliber 9 milimeter dan 22 butir peluru.
Menurut Boy, penangkapan Abu Tholut dilakukan setelah dilakukan  pengintaian sekitar sebulan. Sebelum ditangkap, Abu Tholut sempat beberapa kali pindah tempat persembunyian. Kini, tim sedang mencari waktu tepat untuk membawanya ke Jakarta.
sumber :Viva news.com.  Jum'at, 10 Desember 2010

Kamis, 09 Desember 2010

Anjing Raksasa


Anjing-anjing Raksasa
























Sumber : Viva News. Kamis 09 Desember 2010

Chess Grandmasters Tercantik

Quote:

Russia - Alexandra Kosteniuk (2540) -------- Bosnia Herzegovina - Sanja Dedijer (2068)


UAE - Mariam Mansour (1838)-------------- Turkey - Zehra Topel (2132)

Wikileaks Ungkap Pesta Rahasia di Arab

Wikileaks Ungkap Pesta Rahasia di Arab
Pesta digelar di tempat rahasia dengan penjagaan superketat.
Kamis, 9 Desember 2010, 06:20 WIB
Pipiet Tri Noorastuti
VIVAnews - Anggota kerajaan Arab Saudi diam-diam menggelar sebuah pesta Halloween akhir tahun lalu di sebuah villa yang dijaga ketat aparat keamanan. Banyak minuman keras dan wanita dalam pesta itu.

Demikian isi memo diplomatik dari Kedutaan Besar AS di Jeddah kepada Departemen Luar Negeri di Washington yang dipublikasikan di laman WikiLeaks, yang dipantau harian The Guardian, Selasa, 7 Desember 2010.

Pesta itu digelar oleh pangeran kerajaan dari keluarga Al-Thunayan. Para diplomat mengatakan identitas sang pangeran harus dirahasiakan. Pesta itu bahkan disponsori sebuah perusahaan minuman energi asal Amerika Serikat.

"Alkohol, yang dilarang keras oleh hukum Saudi dan adat setempat, namun terlihat berlimpah ruah di bar area pesta. Bartender asal Filipina yang mereka sewa meracik cocktail punch dengan sadiqi, minuman keras lokal," tulis memo itu. "Berdasarkan pengamatan sejumlah tamu wanita juga adalah pekerja malam."

Konsuler Amerika Serikat di Jeddah, Martin Quinn, mengatakan, "Meskipun tidak menyaksikan langsung, penggunaan minuman yang dilarang lumrah di lingkungan sosial mereka."

Pesta semacam itu sangat terjaga kerahasiaannya. Dengan penjagaan superketat, hanya mereka dari kalangan kerajaan dan superkaya yang bisa bergabung. Mayoritas pangeran di Arab juga umumnya memiliki bodyguard sewaan dari Nigeria atau sejumlah negara di Afrika.

Dalam sebuah pesta biasanya dihadiri lebih 150 laki-laki dan perempuan, yang mayoritas usia 20-an dan 30-an. Mereka masuk melalui penjagaan ekstra ketat. "Mirip sebuah klub malam di luar kerajaan: banyak alkohol, pasangan muda menari, seorang DJ, dan tamu berkostum pesta."
Sumber : VIVAnews.com. Kamis, 09 Desember 2010
               Yahoo Indonesia

Rabu, 08 Desember 2010

Antisipasi Terorisme

Antisipasi Terorisme
Tak Laporkan Tamu Menginap, Warga Terancam Tipiring
Rabu, 12 Agustus 2009 | 11:57 WIB
Temanggung, Kompas - Pengawasan terhadap keberadaan tamu asing di wilayah Kabupaten Temanggung diperketat. Warga yang menerima tamu menginap dalam jangka waktu 1 x 24 jam wajib melaporkan ke RT dan RW setempat. Jika hal ini tidak dilakukan, maka warga yang bersangkutan akan ditindak secara khusus.
"Oleh warga sekitar, warga yang menerima tamu dapat langsung digerebek rumahnya atau diproses untuk mendapatkan sanksi tipiring (tindak pidana ringan)," ujar Kepala Seksi Perlindungan Masyarakat Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Linmas) Kabupaten Temanggung Agus Sudaryono, Selasa (11/8) di Temanggung.
Menurut dia, ketentuan bahwa warga harus waspada terhadap kehadiran pendatang dan wajib melaporkan tamu yang menginap sebenarnya sudah tertuang dalam surat edaran yang dikeluarkan Bupati Temanggung Hasyim Affandi. Namun, dengan adanya kejadian penembakan seorang laki-laki misterius yang diduga Noordin M Top, Sabtu (8/8), pengawasan itu dirasakan harus diperketat lagi.
"Dengan kejadian penembakan terduga teroris, Sabtu kemarin, kami merasa kecolongan," ujarnya.
Bupati Temanggung Hasyim Affandi mengatakan, selain mengeluarkan surat edaran yang berisi instruksi untuk meningkatkan kewaspadaan warga terhadap pendatang, dia juga mengeluarkan surat edaran yang mewajibkan pelaksanaan keamanan lingkungan (kamling).
Dia pun menegaskan, Kabupaten Temanggung bukan daerah sarang teroris. "Kalau toh sempat beberapa kali ditemukan ada teroris berada di Temanggung, hal itu semata-mata disebabkan faktor kebetulan saja," ujarnya. Tidak tahu
Namun, kehadiran pendatang atau orang asing tidak selalu diketahui dengan mudah oleh warga sekitar. Andi (35), warga Dusun Beji, mengaku tidak mengetahui kedatangan laki-laki misterius yang dititipkan di rumah Muhdjahri pada Jumat (7/8).
"Padahal, pada Jumat sekitar 02.30 hingga 03.00, saya di luar rumah, menaruh keranjang tembakau ke mobil pikap untuk dibawa ke pasar," ujar Andi rumahnya berada di depan rumah Muhdjahri.
Hal serupa juga diungkapkan Suwandi, tetangga lainnya. Dia tidak mengetahui adanya kehadiran orang asing karena baik Muhdjahri maupun Endang Istianingsih sama sekali tidak mengatakan apa-apa. (EGI/HAN)
Penulis: EGI; HAN   | 
Sumber berita : Kompas.com.  Kamis 09 Desember 2010.

Kebebasan Beragama

Kebebasan Beragama
Bangunan Ahmadiyah Digembok
Kamis, 9 Desember 2010 | 09:51 WIB

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Penyerangan Ahmadiyah di Bogor Salah satu rumah warga yang dibakar massa di Ciampea Udik RW. 5, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/10/2010). Massa menyerang desa yang dihuni sekitar 500 jemaah Ahmadiyah, menghancukan belasan rumah, membakar dua rumah dan satu masjid.
TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Pagar gerbang masuk tempat penampungan anak-anak yatim jemaah Ahmadiyah, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, digembok berdasarkan keputusan kesepakatan bersama pihak jemaah Ahmadiyah, organisasi Islam, unsur aparat keamanan dan pemerintah daerah.
    
Penggembokan gerbang yang dilakukan aparat keamanan itu merupakan bentuk penutupan aktivitas peribadatan yang dilakukan jemaah Ahmadiyah di Kota Tasikmalaya, setelah seluruh unsur pihak terkait menggelar rapat koordinasi di Bale Kota Tasikmalaya, Rabu.
    
Tempat yang menurut Ahmadiyah adalah penampungan anak yatim itu, disinyalir dijadikan tempat ibadah, yang berlokasi di sebuah rumah di Kampung Cicariang, Kelurahan Karsamenak, Kecamatan Kawalu, dan gedung pertemuan Ahmadiyah Jalan Nagarawangi, Kecamatan Cihideng, Kota Tasikmalaya.
   
Rapat koordinasi penutupan tempat peribadatan Ahmadiyah itu dihadiri Kapolresta Tasikmalaya, AKBP Moch Hendra Suhartiyono, Dandim 0612 Tasikmalaya Letkol Infanteri, Bahram, Kepala Kejaksaan Negeri Tasikmalaya, Mukti Wibowo, MH, Ketua MUI, KH Acep Noor Mubarok.
    
Rapat dihadiri juga pimpinan jemaah Ahmadiyah, Kota Tasikmalaya, Iyon Sofyan, serta beberapa perwakilan dari organisasi Islam di Kota Tasikmalaya.
   
Selain penutupan tempat kegiatan jemaah Ahmadiyah, dalam rapat tersebut disepakati bersama penarikan buku dan kitab tentang Ahmadiyah serta meminta seluruh jemaah Ahmadiyah ikut bergabung dengan jemaah Islam pada umumnya.
     
Berdasarkan keterangan dari beberapa orang yang hadir dalam rapat koordinasi itu, penutupan dilakukan atas desakan ormas Islam terkait masih adanya aktivitas peribadatan Ahmadiyah yang melanggar surat keputusan bersama (SKB) tentang larangan kegiatan jemaah Ahmadiyah.
    
Perwakilan dari Ormas FPI Kota Tasikmalaya, Ustad Wahyu menilai Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam menangani jemaah Ahmadiyah terkesan ragu-ragu sehingga digelar forum rapat bersama sebagai upaya mendesak pemerintah daerah menutup segala aktivitas terkait jemaah Ahmadiyah.
    
"Saya melihat aktivitas jemaah di Kota Tasikmalaya ini masih berjalan secara terang-terangan dan mereka telah melanggar SKB tiga menteri yang telah disepakati," kata Ustad Wahyu.
    
Sementara itu ketua jemaah Ahmadiyah Kota Tasikmalaya, Iyon Sofyan membantah jika dianggap melanggar SKB tiga menteri yang telah dikeluarkan pemerintah tentang larangan kegiatan jemaah Ahmadiyah.
    
"Saya tahu persis terkait SKB tersebut dan hingga kini saya telah berusaha untuk mentaatinya," katanya.
     
Selama ini, Iyon menjelaskan aktivitas yang dilakukan jemaah Ahmadiyah sebatas melaksanakan ibadah seperti shalat lima waktu, pengajian dan shalat Jumat.
    
"Yang kami lakukan hanyalah rutinitas ibadah biasa, dan tidak ada lagi kegiatan dakwah apalagi penyebaran pemahaman terhadap orang lain yang dianggap melanggar SKB tiga menteri," kata Iyon.
Hal serupa diutarakan Zafrullah Ahmad dari Jemaah Ahmadiyah Indonesia. Menurutnya, tuduhan bangunan itu merupakan tempat ibadah tidak benar. "Itu tempat penampungan anak yatim. Sementara kami tidak punya tempat ibadah. Wajar kan bila penghuninya beribadah di rumah," ujar Zafrullah pada Kompas.com, Kamis (9/12/2010).
"Saya tidak habis pikir, mengapa tempat untuk menampung anak-anak juga ditutup. Tapi saya berserah saja. Kalau memang apa yang dilakukan orang-orang itu baik biarlah Allah memberi anugerah, namun bila salah, biarlah Allah yang menghukum. Kami akan mematuhi hukum," paparnya.
Editor: A. Wisnubrata
ANT
Sumber : Kompas.com.     Kamis, 09 Desember 2010

Cari Blog Ini