Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.
Tampilkan postingan dengan label Kulakan Senjata ke Mindanao. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kulakan Senjata ke Mindanao. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Maret 2011

TEROR BOM

BOM BUKU
Kepala BNPT Jelaskan Mengapa Kelompok Lama Masih Jadi Tersangka Utama
Sabtu, 19 Maret 2011 , 14:37:00 WIB

Laporan: Aldi Gultom


ILUSTRASI
  
RMOL. Bangsa Indonesia baru menyadari terorisme hidup di Tanah Air setelah bom Bali I meledak tahun 2002. Padahal beberapa tahun sebelumnya aktivitas terorisme terlihat nyata di beberapa fenomena seperti pada Bom Malam Natal.

"Supaya kita tak bingung, kita harus lihat bingkainya. Kalau dibilang sejak 2002 (terorisme ada) itu tidak betul. Mulai 1998 kan Masjid Istiqlal sudah dibom. Tapi itu kan awalnya, meski bukan berbentuk Jamaah Islamiyah," ujar Kepala Badan Nasional Penanggulan Terorisme Irjen Ansyaad Mbai saat mengisi diskusi  "Setelah Bom Buku Terbitlah Isu" di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (19/3).

Pada saat itu, masjid jadi sasaran, agar semua orang berpikir pelakunya bukanlah penganut Islam, melainkan agama lain.

"Masjid dibom semua orang waras takkan berpikir bahwa muslim yang membom. Kita ingat, terus gereja dibom pada malam Natal, seolah itu aksi balasan. Padahal itu-itu juga (pelakunya)," tegasnya.

Saat itu pula, masyarakat belum menyebut aksi-aksi peledakan sebagai tindakan kriminal biasa. Baru setelah Bom Bali I meledak tahun 2002 dan Imam Samudra Cs tertangkap sesudah itu, masyarakat mengenal istilah terorisme yang terungkap di pengadilan.

"Di tahun selanjutnya ada bom Marriot pertama dan pelakunya itu-itu juga. Terungkap dan terulang lagi bom Kedubes Australia. Maksud mereka itu permalukan pemerintah," ungkapnya.

Karena itu, Ansyaad menekankan, publik tidak usah dibingungkan dengan berbagai analisis yang ngawur soal rangkaian teror bom paket belakangan ini.

"Kita berangkat dari realitas, jangan analisis enggak karuan, nanti masyarakat bingung. Dari realitas ini, gerakan yang perjuangkan agama. Bahwa sekarang ini Islam ini sedang terus dihajar aparat, muncullah musuh itu: Barat dan Yahudi. Kita hubungkan dengan target-target sekarang itu ketemu benang merahnya," paparnya.

"Semua target itu punya benang merah. Mereka dianggap kafir yang wajib diperangi, karena ideologi mereka (teroris) ingin dirikan khilafah. Kita pernah ada Negara Islam Indonesia. Siapapun yang menghambat itu, musuh dan harus diperangi. Mereka tidak mau disebut teroris, karena mereka mengaku diperintah Allah. Orang seperti itulah yang kita hadapi," pungkasnya.[ald]
Sumber;Rakyatmerdekaonline.com/Sabtu, 19 Maret 2011 , 14:37:00 WIB
http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=21556

Jumat, 18 Maret 2011

Tersangka Teroris

Sidang Ba'asyir
Jaksa Tanggapi Eksepsi Ba'asyir
Penulis: Sandro Gatra | Editor: Hertanto Soebijoto
Senin, 7 Maret 2011 | 07:48 WIB

Dibaca: 3196

 
KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN Tersangka terorisme, Abu Bakar Baasyir, dengan kawalan ketat petugas Detasemen Khusus 88 Antiteror usai mengikuti pelimpahan berkas tahap kedua di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Senin (13/12/2010). Polisi melimpahkan tersangka ke kejaksaan bersama berkas perkara dan sejumlah barang bukti. Baasyir diduga terlibat sebagai donatur dalam pelatihan militer kelompok teroris di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam.

JAKARTA, KOMPAS.com — Jaksa penuntut umum siap menyampaikan tanggapan atas eksepsi pihak terdakwa teroris Abu Bakar Ba'asyir pada sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (7/3/2011).
"Siap. Tanggapannya sekitar 20 halaman," kata Narendra Jatna, salah satu jaksa saat dihubungi Kompas.com. Narendra ditanya kesiapan tanggapan eksepsi.
Narendra mengatakan, pihaknya membantah eksepsi tim pengacara Ba'asyir yang menyebut dakwaan kabur, tidak jelas, tidak cermat, dan tidak lengkap sehingga harus batal demi hukum. Menurutnya, dakwaan sudah sesuai dengan prosedur.
Narenda mengatakan, pihaknya tak akan menanggapi eksepsi pribadi Ba'asyir yang telah masuk subtansi perkara. "Itu tak akan kami tanggapi," katanya.
Seperti diberitakan, Ba'asyir dalam eksepsi pribadinya menyinggung beberapa kasus yang pernah dijeratkan kepadanya seperti bom Hotel JW Marriot dan bom Bali I. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Mukmin Ngruki itu, kasus-kasus yang menjeratnya adalah pesanan dari Amerika.
Selain itu, Ba'asyir menolak jika pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh, disebut sebagai kegiatan teroris. Amir Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) itu mengklaim, pelatihan militer oleh sekitar 50 orang itu sesuai dengan perintah Allah. "Agar umat Islam mengadakan I'dad atau mempersiapkan kekuatan fisik dan senjata untuk menggentarkan musuh-musuh Islam," ujarnya.
Terkait eksepsi Ba'asyir itu, jaksa tak akan menanggapi. Namun, Narendra secara pribadi menanggapinya bahwa hal itu malah bagus. "Belum apa-apa udah ngaku (terlibat pelatihan militer). Itu akan kami tanggapi dalam replik nanti," katanya.
Ba'asyir didakwa pasal berlapis dalam UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme dengan ancaman hukuman maksimal, yakni mati atau penjara seumur hidup. Adapun hukuman paling ringan adalah penjara selama tiga tahun. Menurut jaksa, Ba'asyir melakukan permufakatan jahat, merencanakan, menggerakkan pelatihan militer kelompok teroris di Aceh.
Di samping itu, Ba'asyir didakwa memberikan atau meminjamkan dana sekitar Rp 1 miliar untuk membiayai segala kegiatan di Aceh. Ba'asyir juga dikaitkan dengan dua perampokan di Medan, Sumatera Utara, yakni Bank CIMB Niaga maupun perampokan Warnet Newnet
Sumber:Kompas.com/Senin, 7 Maret 2011 | 07:48 WIB
http://nasional.kompas.com/read/2011/03/07/07480858/Jaksa.Tanggapi.Eksepsi.Ba.asyir

Berita terkait :

Terorisme
Ba'asyir: Pelatihan Senjata Amal Ibadah
Penulis: Sandro Gatra | Editor: A. Wisnubrata
Kamis, 24 Februari 2011 | 12:04 WIB
Dibaca: 11617
 
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Terdakwa yang diduga terlibat kegiatan pelatihan militer kelompok teroris di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar, Abu Bakar Baasyir, menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (10/2/2011). Sidang dengan agenda pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum tersebut ditunda akibat surat panggilan pengadilan dianggap tidak sah menurut KUHAP.

JAKARTA, KOMPAS.com — Terdakwa teroris, Abu Bakar Ba'asyir, menolak jika pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar, disebut sebagai kegiatan terorisme. Ba'asyir mengklaim pelatihan militer dengan peserta sekitar 50 orang itu sesuai dengan perintah Allah.
Ba'asyir menyakini, "Latihan fisik dan senjata di pegunungan Aceh adalah amal ibadah untuk menaati perintah Allah," kata pengasuh Pondok Pesantren Mukmin Ngruki, Solo, Jawa Tengah, itu saat membacakan eksepsi pribadi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (24/2/2011).
Ba'asyir menyebut kegiatan di Aceh sebagai I'dad atau mempersiapkan kekuatan fisik dan senjata untuk melawan musuh-musuh yang dianggap kafir. Selain itu, menurut dia, I'dad tidak kalah penting dengan shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya. "I'dad merupakan kebutuhan pokok yang tidak boleh dipandang remeh dalam Islam," kata Ba'asyir.
Seperti diberitakan, Ba'asyir didakwa melakukan pemufakatan jahat, merencanakan, menggerakkan pelatihan militer kelompok teroris di Aceh. Selain itu, Amir Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) itu juga didakwa memberikan atau meminjamkan dana sekitar Rp 1 miliar untuk membiayai segala kegiatan di Aceh.
Ba'asyir juga dikaitkan dengan dua perampokan di Medan, Sumatera Utara, yakni perampokan Bank CIMB Niaga dan perampokan Warnet Newnet. Terkait perkara itu, Ba'asyir dijerat pasal berlapis dalam UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme dengan ancaman hukuman maksimal, yakni mati atau penjara seumur hidup. Adapun hukuman paling ringan, yakni penjara selama tiga tahun.

Senin, 14 Februari 2011

Terorisme

Ba'asyir Menghasut Perampokan
Penulis: Sandro Gatra | Editor: Heru Margianto
Senin, 14 Februari 2011 | 10:50 WIB

Dibaca: 5967


KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Terdakwa yang diduga terlibat kegiatan pelatihan militer kelompok teroris di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar, Abu Bakar Baasyir, dikawal aparat di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (10/2/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com Terdakwa Abu Bakar Ba'asyir, Amir Jamaah Anshorud Tauhid, didakwa menghasut para anggotanya untuk melakukan fa'i atau perampokan dengan terlebih dulu membunuh pemilik harta. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk jihad.
Dalam dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (14/2/2011), hasutan disampaikan Ba'asyir saat memberi ceramah khusus di rumah Alex alias Asep alias Gunawan, Ketua Asykari (militer) Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) wilayah Sumatera Utara pada Juli 2009.
Pertemuan itu diikuti Alex (tewas dalam kontak senjata setelah penyerangan Polsek Hamparan Perak), Khairul Ghazali, Aldian Rojak alias Ajo, dan belasan jamaah asal Medan. Saat itu, kata jaksa, Ba'asyir menyampaikan bahwa mereka harus memiliki wilayah untuk berjihad. "Meskipun kecil, kita harus berkuasa penuh atas wilayah itu," ucap jaksa menirukan ceramah Ba'asyir.
Dikatakan jaksa, dalam ceramah, Ba'asyir juga mengatakan, fa'i dibenarkan di dalam Islam. "Bukan hanya semata-mata mengambil hartanya saja, fa'i ditujukan kepada semua orang kafir, yaitu orang-orang di luar Islam dan penguasa atau pemerintah yang tidak menjalankan syariat Islam," tutur jaksa.
"Terdakwa juga menyampaikan, orang-orang kafir yang menjadi musuh Islam adalah mereka yang tidak ingin negara ini dijadikan negara tegaknya syariat Islam. Musuh tersebut adalah Amerika, Yahudi dan sekutunya, Nasrani atau pemerintah," papar jaksa.
Untuk mendirikan negara Islam, terang jaksa, para teroris melakukan aksi-aski teror dengan senjata api dan bom. Tujuan dari aksi itu untuk menimbulkan kepanikan di masyarakat dan memecah belah pemerintah untuk memudahkan pengambilalihan kekuasaan.
sumber : Kompas.com / Senin, 14 Februari 2011 | 10:50 WIB
              http://nasional.kompas.com/read/2011/02/14/10500653/Ba.asyir.Menghasut.Perampokan

Minggu, 26 Desember 2010

Bom Meledak pada Misa Natal

Bom Meledak pada Misa Natal di Filipina
Sabtu, 25 Desember 2010 | 10:19 WIB
Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com — Kabar buruk datang dari Filipina. Sebuah bom meledak di Pulau Jolo, Zamboanga, Filipina, Sabtu (25/12/2010), ketika Misa Natal berlangsung. Bom meledak pukul 07.15 dari atas atap gereja.
Juru Bicara Militer Letnan Kolonel Randolph Cabangbang mengatakan, akibat ledakan tersebut, enam orang cedera. Saat ini, keenam orang tersebut telah dilarikan ke rumah sakit. Saat ini, penyelidik polisi sedang memeriksa lokasi untuk menemukan petunjuk mengenai siapa yang mungkin bertanggung jawab.
Zamboanga sendiri diketahui sebagai wilayah gerilyawan pimpinan Abu Sayyaf. Gerakan ini didirikan pada 1990-an dengan uang dari jaringan Osama bin Laden. Kelompok ini telah lama menggunakan pulau yang mayoritas warganya beragama Islam, Jolo, sebagai pangkalan, serta melancarkan penculikan dan pengeboman.
Kelompok tersebut diduga telah melancarkan serangan teror paling buruk dalam sejarah Filipina, termasuk pengeboman satu feri penumpang di Teluk Manila, yang menewaskan lebih dari 100 orang pada 2004. Abu Sayyaf juga telah menculik banyak orang asing dan orang Filipina. Mereka kemudian menyembunyikan orang-orang tersebut di hutan Pulau Jolo dan pulau lain di Filipina selatan.
Pasukan AS telah dikerahkan di Filipina selatan sejak 2002 untuk melatih tentara setempat dalam memburu anggota Abu Sayyaf. Satu bom pinggir jalan yang diduga dipasang oleh anggota Abu Sayyaf menewaskan dua prajurit AS di Jolo pada September tahun lalu.
Abu Sayyaf adalah salah satu kelompok separatis terkecil dan mungkin paling berbahaya di Mindanao. Beberapa anggotanya pernah belajar atau bekerja di Arab Saudi dan mengembangkan hubungan dengan mujahidin ketika bertempur dan berlatih di Afganistan dan Pakistan. (AP)
Sumber :kompas.com.   Sabtu, 25 Desember 2010

Kamis, 23 Desember 2010

Bahan Peledak Asal Malaysia

Bea Cukai Amankan Bahan Peledak Asal Malaysia
Kamis, 23 Desember 2010 , 18:26:00 WIB
Laporan: Ade Mulyana

  

RMOL. Petugas Bea dan Cukai wilayah khusus Kepulauan Riau (Kepri) berhasil mengamankan bahan kimia ilegal Amonium Nitrat murni seberat 50 ton asal Malaysia dengan tujuan Sulawesi.

"Setelah kita periksa di Balai Pengujian dan Identifikasi Barang, Jakarta, kandungan Amonium Nitratnya 100 persem," ujar Kepala Seksi Intelijen Bea dan Cukai Kepri, I wayan Sapta Darma di kantornya, Tanjung Balai Karimun (Kamis, 23/12).

Menurutnya, jenis Amonium Nitrat murni seperti ini biasanya digunakan sebagai peledak.

I Wayan juga menjelaskan, 50 ton Amonium Nitrat tersebut diamankan dari Kapal Motor Salbiana Jaya Nomer 52/LLJ di perairan laut China Selatan sekitar dua pekan lalu.

"Waktu peristiwa Bom Bali, Amonium Nitrat yang dipakai hanya 6 kilogram saja, coba bayangkan jika yang ini meledak. Batam dan pulau Karimun akan hancur," kata Wayan.

Saat ini, nakhoda KM Salbiana berinisial TB sudah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka. Sementara 13 Anak Buah Kapal juga ditahan namun hanya dijadikan sebagai saksi. [wah]
sumber : rakyatmerdeka.co.id

Selasa, 14 Desember 2010

Tersangka Teroris Abu Tholut alias Mustofa

Siapkan Kekuatan Bersenjata
Rabu, 15 Desember 2010 | 03:57 WIB
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Kepala Polda Jawa Tengah Inspektur Jenderal Edward Aritonang (kedua dari kanan) dan anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri mengawal ketat tersangka kasus terorisme, Abu Tholut, keluar dari Markas Kepolisian Resor Kota Besar Solo, Jawa Tengah, Selasa (14/12). Sebanyak lima tersangka, yang ditangkap di sejumlah daerah, beserta barang bukti kasus terorisme dibawa ke Jakarta dengan pengawalan ketat melalui Bandara Adi Soemarmo, Boyolali.

Surakarta, Kompas - Residivis perkara tindak pidana terorisme, Abu Tholut alias Mustofa, yang ditangkap di Kudus, Jawa Tengah, diduga berperan sebagai orang yang menyiapkan kekuatan bersenjata kelompok teroris.
Kekuatan bersenjata itu diduga tidak hanya terkait pelatihan militer di Aceh, tetapi juga di beberapa tempat lain, seperti Jawa Tengah dan Sulawesi Tengah.
Hal itu diungkapkan Petrus Reinhard Golose dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dalam jumpa pers di Kepolisian Kota Besar Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (14/12). Hadir dalam acara itu Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Inspektur Jenderal Edward Aritonang dan Kepala Divisi Humas Kepolisian RI Inspektur Jenderal Iskandar Hasan.
Abu Tholut ahli persenjataan. Ia bersama Dulmatin, Abdullah Sonata, dan Ubaid membuat pelatihan di Jantho, Aceh. Mereka juga menyiapkan pelatihan di Jawa Tengah dan Sulawesi Tengah,” kata Petrus Golose.
Iskandar Hasan mengungkapkan, sejak Jumat dan Sabtu pekan lalu, tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menangkap lima tersangka teroris. Kelima tersangka itu adalah Imron Bayhaqi alias Mustofa alias Abu Tholut, Anwar Efendi, Wardi alias Edi alias Jabal, Sukirno, dan Sri Puji Mulyo Siswanto. Kelima tersangka itu, Selasa siang, dibawa ke Jakarta.
Edward mengatakan, kelompok teroris, termasuk yang tertangkap di Jawa Tengah, adalah kelompok yang sangat kecil. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kelompok-kelompok radikal.
Kekuatan bersenjata
Menurut Iskandar, Abu Tholut bersama Ubaid dan Dulmatin diduga melaksanakan survei lokasi pelatihan militer di Jantho, Aceh. Abu Tholut menginginkan agar peserta pelatihan itu diikuti anggota Jemaah Ansarut Tauhid (JAT) dan orang lokal di Aceh. Abu Tholut dan Ubaid kemudian melaporkan kegiatan di Aceh kepada Abu Bakar Ba’asyir sebagai amir JAT. Petrus menambahkan, pada tahun 2003, tim Densus 88 Antiteror menemukan ribuan detonator dan amunisi.
”Pertanyaannya, kalau seseorang menyiapkan latihan, tentunya untuk apa?” kata Petrus Golose. Diduga, kekuatan bersenjata yang dibangun Abu Tholut dan tokoh-tokoh lain juga terkait dengan kekuatan jaringan kelompok radikal di Filipina dan Thailand selatan.
Residivis
Petrus Golose menambahkan, ada pola-pola yang berubah dalam aksi terorisme di Indonesia. ”Banyak rekrutmen baru,” katanya. Selain itu, ada pola residivis yang melakukan aksi terorisme kembali.
”Sri Puji Mulyo itu dulu tahanan grup Subur di Semarang yang sangat militan,” kata Petrus Golose. Selain itu, tersangka Abu Tholut juga seorang residivis. Ia pernah ditangkap tahun 2003 dan bebas bersyarat. ”Kemudian, ia merencanakan kegiatan yang lebih besar,” katanya. Residivis lainnya adalah Ubaid dan Abdullah Sonata.
Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo seusai memimpin upacara penutupan pendidikan dan pelantikan perwira Polri sumber sarjana di Akademi Kepolisian Semarang, Selasa, mengatakan, ”Kini teroris beralih mulai dari merampok untuk mencari dana dan mengadakan pelatihan militer.”
Terkait dengan asal-usul senjata yang digunakan teroris, menurut Petrus, ada beberapa sumber, antara lain berasal dari konflik Ambon. ”Banyak senjata Brimob dirampas oleh kelompok yang berafiliasi dengan JI dan Kompak,” katanya.
Selain itu, Dulmatin juga pernah mendatangkan senjata dari Mindanao, Filipina selatan. Banyak senjata juga berasal dari Aceh yang dimasukkan dari Thailand selatan. Senjata-senjata juga berasal dari gudang-gudang senjata Polri dan TNI yang kurang memiliki manajemen pengawasan yang baik.
Saat ini kepolisian masih mencari beberapa tersangka lain, misalnya Zulkarnain yang menjadi tersangka dan buron dalam kasus bom Bali I. Zulkarnain merupakan ahli di bidang intelijen. Selain itu, tersangka lain yang menjadi buronan adalah Umar Patek dan Ridwan alias Iwan.
(DEN/EKI/FER)
Sumber : Kompas.com. Rabu, 15 Desember 2010

Sabtu, 11 Desember 2010

Terorisme


Diduga Teroris
"Abu Tholut" Itu Dikenal sebagai Om Yon
Jumat, 10 Desember 2010 | 16:40 WIB
Foto Abu Tholut alias Mustofa.                                                         Persda Network/ Bian Harnansa
KUDUS, KOMPAS.com — Seorang pria yang diduga Abu Tholut alias Imron, yang ditangkap anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, Jumat (10/12/2010) pagi, diketahui oleh warga sudah lama menghilang dari rumahnya sejak merebaknya kasus terorisme belakangan ini.
Keterangan yang dikumpulkan dari lokasi penangkapan Abu Tholut di Desa Bae, Kudus, Jawa Tengah, Jumat, menyebutkan, Abu ditangkap kurang dari 24 jam setelah pulang mengunjungi keluarganya di Desa Bae.
Orang yang diduga Abu Tholut itu baru pulang ke rumah pada Kamis (9/12/2010) malam dan paginya langsung diciduk aparat Densus 88.
Ibrahim, warga setempat, mengungkapkan, orang yang diduga Abu Tholut itu memang lama tidak kelihatan, tepatnya sejak kasus terorisme mencuat kembali bersamaan dengan kasus perampokan di Bank CIMB Niaga Medan beberapa bulan lalu.
Sebetulnya, kata dia, Abu Tholut alias Imron atau biasa disebut warga dengan sebutan Om Yon itu tinggal di Kudus bersama istri di rumah mertuanya sejak tahun 2002 hingga 2004.
Selanjutnya, kata dia, Abu Tholut membangun rumah sendiri di samping rumah mertuanya pada 2005. "Hanya, sejak setahun terakhir, tidak kelihatan lagi bersamaan isu teroris yang kembali mencuat," ujarnya.
Ia mengakui, sosok yang diduga Abu Tholut tersebut cukup akrab dengan warga mengingat setiap diundang menghadiri pertemuan warga desa selalu menyempatkan diri. "Warga sudah menduga dia merupakan buruan polisi, tetapi warga sekitar tidak bisa berbuat apa-apa karena setahun terakhir dia tidak pernah kelihatan," ujarnya.
Keraguan warga akhirnya terjawab setelah orang yang diduga itu ditangkap anggota Densus 88, Jumat sekitar pukul 08.00 WIB. Ia mengatakan, jumlah petugas yang melakukan penangkapan cukup banyak karena ada yang mengendarai enam sepeda motor dan dua mobil.
"Saya juga sempat mendengar suara tembakan berulang kali saat proses penangkapannya," ujarnya.
Pernyataan senada diungkapkan warga lain, Rohman. Ia mengaku mendengar suara tembakan sebanyak lima kali lebih. "Tetapi, saya tidak berani memastikan dia ditembak atau tidak meskipun dari cara berjalannya terlihat sedikit pincang," ujarnya.
Sejumlah warga yang berupaya mendekat, katanya, dilarang petugas dan diminta menjauhi lokasi rumah yang diduga Abu Tholut tersebut.
ANT
Sumber : Kompas.com.  Sabtu, 11 Desember 2010
Editor: Marcus Suprihadi
Berita terkait:

Polri: Berkas Ba'asyir Dinyatakan Lengkap
Sabtu, 11 Desember 2010 | 08:54 WIB
 
Abu Bakar Baasyir
JAKARTA, KOMPAS.com — Mabes Polri menyatakan berkas perkara kasus terorisme dengan tersangka Abu Bakar Ba'asyir telah lengkap oleh jaksa atau P.21. Rencananya, pada Senin (13/12/2010) Polri akan menyerahkan Ba'asyir berikut barang bukti ke kejaksaan.
"Disampaikan bahwa berkas atas nama tersangka Abu Bakar Ba'asyir tadi sore, tanggal 10 Desember 2010, kurang lebih pukul 15.00 WIB, dinyatakan lengkap oleh jaksa/PU (sudah P21)," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Iskandar Hasan kepada wartawan, Jumat (10/12/2010) malam.
Menurut Iskandar, pada Senin pihaknya akan melakukan penyerahan tahap kedua kepada kejaksaan, tetapi setelahnya Abu Bakar Ba'asyir akan kembali ditahan di Rumah Tahanan Mabes Polri.
"Ba'asyir akan kembali ditahan atau dititipkan oleh jaksa ke Rutan Mabes Polri yang merupakan Rutan Cabang Salemba, sambil menunggu proses selanjutnya," papar Iskandar.
Sebelumnya, Mabes Polri menyatakan akan memperpanjang masa penahanan pemimpin utama Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) itu. Hal itu karena hingga masa penahanan selama 120 hari yang akan berakhir pada Senin (13/12/2010) berkas perkara Ba'asyir masih belum lengkap.
Penulis: Natalia Ririh   |   Editor: Asep Candra
sumber :kompas.com, sabtu 11 desember 2010.



Abu Tholut Belum Sampai Jakarta
Sabtu, 11 Desember 2010 | 13:50 WIB

TRIBUN NEWS/BIAN HARNANSA
Mantan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri memperlihatkan foto Abu Tholut alias Mustofa sebagai otak gerakan teror di Medan yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), saat memberi keterangan mengenai 16 orang yang ditangkap, tiga tewas dari anggota yang diduga teroris kelompok Medan, di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (24/9/2010). Kapolri menyatakan telah berkoordinasi dengan pasukan elit TNI dalam upaya memberantas terorisme.
Sumber : kompas.com, Sabtu, 11 Desember 2010


berita terkait :

Abu Tholut Dibekuk
Sabtu, 11 Desember 2010 | 04:54 WIB
KUDUS, KOMPAS - Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian Negara Republik Indonesia membekuk Abu Tholut alias Musthofa alias Mohammad Imron Baihaqi, tersangka kasus terorisme, di Dukuh Pondok, Desa Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (10/12) pukul 08.00-08.30.
Dalam penangkapan itu, polisi mengamankan senjata api jenis FN 46 dan delapan butir peluru.
Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Jakarta menjelaskan, tersangka Abu Tholut patut diduga terlibat dalam aksi terorisme, seperti pelatihan militer di Aceh dan perampokan Bank CIMB Niaga, Medan, Sumatera Utara, 18 Agustus 2010.
Anggota Densus 88 yang tidak mengenakan seragam khusus menyergap Abu Tholut saat berada di rumah bersama istrinya, Fatmawati yang kerap dipanggil Fat, dan anak ketujuhnya, Saat Abdul Qoyu (8 bulan). Tim anggota Densus 88 menggunakan 3 mobil dan 7 sepeda motor.
Sudarmi (50), tetangga Abu Tholut, mengatakan, sebelum menangkap tersangka teroris itu, polisi mengamankan dan tidak memperbolehkan warga mendekati rumah Abu Tholut. Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara tembakan dua hingga tiga kali.
Polisi yang tidak mengenakan seragam dan membawa senjata itu membawa Abu Tholut—yang biasa dipanggil Om Yon oleh warga Dukuh Pondok—dengan diborgol tangan dan kaki serta matanya ditutup kain putih. Dengan berjalan tertatih-tatih, dia dimasukkan ke mobil Kijang berwarna hitam. ”Waktu itu dia mengenakan kaus oblong berwarna putih dan celana panjang warna krem,” kata Sudarmi.
Ketua RT 4 RW 3 Suwarto (48), yang rumahnya berjarak sekitar 15 meter dari rumah Abu Tholut, mengemukakan, Abu Tholut tinggal di Dukuh Pondok sudah tiga tahun, tetapi jarang berada di rumah. Selama ini warga tidak mengetahui bahwa ia termasuk salah satu anggota teroris yang diburu polisi karena ciri-cirinya berbeda.
Di Sukoharjo, Jawa Tengah, juru bicara Jamaah Ansharut Tauhid, Abdurrahim Ba’asyir, mengatakan, ”Beliau (Abu Tholut) pernah sama-sama dengan Ustaz Abu (Abu Bakar Ba’asyir) di (Rumah Tahanan) Cipinang dan setelah bebas juga masih berhubungan sampai terakhir pada 2009 akhir.”
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Tengah Komisaris Besar Djihartono mengatakan, setelah ditangkap, Abu Tholut segera dibawa ke Jakarta.(hen/eki/den/mdn/fer)
sumber : Kompas.com. Sabtu, 11 Desember 2010

Minggu, 05 Desember 2010

Penahanan tersangka teroris Mujahid alias Uqbah.

Mujahid Ditahan di Mako Brimob

TEMPO/Imran
TEMPO Interaktif, Jakarta - Mabes Polri  membenarkan penangkapan dan penahanan tersangka teroris Mujahid alias Uqbah. Uqbah ditangkap di Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat 3 Desember 2010 lalu. " Ia kini ditahan di Rumah Tahanan Markas Komando Brimob, Kelapa Dua Depok" kata Juru Bicara  Mabes Polri, Inspektur Jenderal Iskandar Hasan dalam pesan singkatnya kepada Tempo, Ahad (5/12).

Menurut Iskandar, Mujahid  ditangkap karena diduga ikut berperan dalam pelatihan teroris di Pegunungan Jalinjantho, Aceh. "Dia ditangkap karena di duga ikut dalam pendanaan pelatihan paramiliter bersenjata di Aceh," ujarnya.
Mujahid menjadi salah satu donor yang menyerahkan uang kepada Ubaid, Bendaharawan Jamaah Anshorut Tauhid yang kini tengah menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Mujahid adalah salah satu anggota Jamaah Anshorut Tauhid pimpinan Abu Bakar Ba'asyir. Ia ditangkap Jumat kemarin saat akan pulang dari pengajian oleh Datasemen Khusus 88 Anti Teror.

Pihak JAT sendiri membenarkan bahwa Mujahid adalah anggotanya. Menurut Juru Bicara JAT, Abdul Rachim, Mujahid baru satu tahun belakangan bergabung bersama mereka. Menurut Tim Pengacara Muslim, Ahmad Michdan, pihaknya telah ditunjuk keluarga Mujahid untuk mendampinginya dalam proses hukum.

Febriyan
Sumber :Tempointeraktif.com. Minggu, 05 Desember 2010

Jumat, 03 Desember 2010

Penemuan Bahan Peledak

Bahan Peledak
Jumat, 3 Desember 2010 | 15:41 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Irjen Sutarman menyatakan, Jumat pagi tadi, jajarannya menggerebek sebuah kantor di Jakarta Utara yang kedapatan menyimpan bahan peledak jenis TNT (trinitro toluena), detonator aktif, dan berbagai senjata api.
Sejauh ini, polisi belum bisa mengaitkan temuan itu dengan jaringan teroris. "Tapi kami pastikan itu ilegal karena bahan peledak itu harus ada izin dan pengawasan" kata Sutarman, Jumat (3/12/2010) siang.
Lokasi tersebut merupakan sebuah kantor PT Philia Mandiri Sejahtera yang beralamat di Jalan Walang Permai RT 01 RW 12, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Di kantor itu tersimpan bahan peledak jenis TNT dan detonator aktif. "TNT dan detonator sekarang masih dalam penyelidikan dan sekarang kondisinya masih aktif," kata Sutarman.
Selain TNT dan detonator aktif dalam penggerebekan yang dilakukan dini hari tadi, polisi juga menemukan senjata api jenis CIS kaliber 22 dan 12 senapan mainan airsoft gun.
Dari penggerebekan ini, polisi mengamankan empat orang yang berada di dalam kantor. Polisi kemudian menyelidiki rumah pemilik kantor di Jalan Muncang Dalam Blok K RT 04 RW 13 Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
Penulis: Natalia Ririh   |   Editor: Marcus Suprihadi
sumber : kompas.com

Berita  Terkait:
Pemilik PT. Philia Mandiri Tersangka
Jumat, 3 Desember 2010 | 19:45 WIB

KOMPAS/ CLARA WRESTI
Kasat Serse Polres Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar menunjukkan lembaran uang palsu yang ditemukan di gudang tersangka Hani Sapto Prabowo, Jumat (3/12/2010).
    JAKARTA, KOMPAS.com- Polisi akhirnya menetapkan Hani Sapto Prabowo (41) yang merupakan pemilik kantor penyewaan alat berat dan ekspedisi muatan  kapal laut PT. Philia Mandiri Sejahtera di Koja, Jakarta Utara, sebagai tersangka.  Kepadanya dikenakan sangkaan memiliki da menyimpan bahan peledak dan senjata api.
    "Satu orang bernama HSP ditetapkan sebagai tersangka, dengan dugaan memiliki dan menyimpan bahan peledak dan senjata api," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar, Jumat (3/12/2010) petang.
    Menurut Boy, HSP yang sebelumnya sudah disebut namanya sebagai Hani Sapto Prabowo adalah residivis kepemilikan senjata api pada tahun 2002.
    Selain HSP, turut diamankan pula tiga karyawan kantor, yaitu A (52), ABG (34), HO (43). "Ketiganya belum dimintai keterangan," kata Boy.
    Sebuah kantor penyewaan alat berat bernama PT Philia Mandiri Sejahtera, beralamat di Jalan Walang Permai Nomor 4, Rt 7 Rw 12, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, digrebek polisi pada pukul 02.00 WIB, Jumat ( 3/11/2010 ). Di dalam kantor tersebut ditemukan 10 senjata laras panjang, 2 senjata laras pendek, 6 kotak TNT buatan Rusia, 4 detonator listrik buatan India, alat cetak uang senilai Rp 100 Ribu, Rp 50 Ribu, Rp 20 Ribu, dan sumbu ledak.
    Dari penggrebekan ini, polisi mengamankan tiga orang yang berada di dalam kantor. Polisi kemudian menyelidiki rumah pemilik kantor, HSP, di Jalan Muncang Dalam Blok K, Rt 04 Rw 13 Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, dan menemukan istri tersangka tengah membakar uang dollar untuk menghilangkan barang bukti.
    Penulis: Natalia Ririh   |   Editor: Marcus Suprihadi 
    sumber : kompas.com 



    Berita Terkait:
    Uang Palsu
    JAKARTA, KOMPAS.com — Jajaran Polres Metro Jakarta Utara menemukan satu gepok uang dollar AS palsu di rumah Hani Sapta Prabowo (41) di Jalan Muncang Dalam Blok K, Koja, Jakarta Utara, Jumat (3/12/2010).

    Saat polisi masuk ke dalam rumah tersebut, Nurhayati, istri tersangka sedang membakar uang-uang dollar AS palsu berwarna putih, di kloset kamar mandi. Satu gepok yang ditemukan polisi adalah yang belum terbakar.
    Hani adalah pemilik kantor dan direktur perusahaan PT Philia Mandiri Sejahtera. Sebelumnya, di kantor ekspedisi muatan kapal laut di Jalan Walang Permai, Koja, Jakarta Utara, itu polisi menemukan sejumlah senjata api, bahan peledak, uang palsu, dan alat pengisap sabu.
    Penggeledahan dilanjutkan ke kediaman Hani. Menurut Kepala Polres Metro Jakarta Utara Komisaris Besar Andap Budhi Revianto, uang palsu ini jika dicelupkan pada cairan tertentu baru akan muncul warnanya. "Kami juga menemukan lima lembar kertas HVS yang sudah tercetak gambar uang Rp 100.000 dan Rp 50.000," kata Andap.
    sumber : kompas.com

    Jumat, 12 November 2010

    Teroris Tranfer Uang Masih Pakai Cara Tradisional

    PENCUCIAN UANG
    Jenderal Gories: Teroris Tranfer Uang Masih Pakai Cara Tradisional
    Rabu, 10 November 2010 , 15:34:00 WIB
    Laporan: Wahyu Sabda Kuncahyo

    GORIES MERE/IST
      

    RMOL. Kepolisian tidak bisa memanfaatkan UU 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) untuk melacak aliran dana untuk tindak pidana terorisme.

    Pasalnya, teroris masih menggunakan cara-cara tradisional, tidak menggunakan bank untuk mentransfer uang.

    "Secara transeferring acount number atau secara banking belum terlihat. Mereka masih menggunakan hawala banking alias kurir. Itu masih tradisional. Itu yang diterapkan sekarang," ujar Kepala Badan Narkotika Nasional, Komjen Gories Mere.


    Komjen Gories Mere usai seminar Nasional Rezim Anti Pencucian Uang di Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto Jakarta Pusat (Rabu, 10/11) mengatakan itu kepada wartawan.

    Gories Mere mencontohkan dengan kasus pengeboman Hotel JW Mariot pada tahun 2003. Dia mengatakan, sebelumnya, Hambali mengirim uang dari perbatasan Pakistan. Kemudian, seseorang dari Malaysia menjumpai Hambali untuk mengambil uang tersebut.

    Setelah itu, orang Malaysia itu mengantarkan uang tersebut ke Dumai, Riau. Utusan Nurdin telah menunggu di Dumai. Lantas utusan Nurdin itu ke Jakarta setelah sebelumnya melewati Lampung. Di Jakarta uang itu lalu digunakan untuk mendanai pengeboman Hotel JW Marriot.

    "Uangnya dari Hambali yang didapat dari operasi Al-qaida. Kalau melalui bank bisa dilihat. Tetap Al-qaida pakai kurir. Untuk menghindari pelacakan bank atau perbankan formal," demikian Gories. [zul]
    sumber :rakyatmerdeka.co.id

    Sabtu, 06 November 2010

    Presiden Amerika Serikat Barack Obama

    HELIPED OBAMA

      

    sumber :RMOL

             TOLAK OBAMA



    Ratusan massa dari Gerakan Mahasiswa (GEMA) melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung Kedutaan Besar Amerika, Jakarta Pusat, Jumat, (5/11). Mereka menolak kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia.  DWI PAMBUDO/RM
    Sumber :rmol

    Awas, Obama Bawa Bencana Baru
    Sabtu, 06 November 2010 , 09:28:00 WIB
    Laporan: Aldi Gultom

      

    RMOL. Kedatangan Presiden Amerika Serikat Obama yang direncanakan pekan depan, disinyalir akan membawa bencana baru bagi negeri ini. Bencana yang dimaksud adalah agenda-agenda berbahaya yang menyertai kedatangan Obama di awal November ini.

    Seperti diketahui, Obama dijadwalkan menandatangani Perjanjian Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia. Gerakan Mahasiswa Pembebasan, dalam pernyataan kepada Rakyat Merdeka Online, menduga perjanjian kemitraan komprehensif bukanlah perjanjian kemitraan sejajar, tetapi perjanjian yang bersifat imperialistik, pendiktean kepentingan penguasa negara adidaya imperialis kepada antek kaki tangan penjajah yang sedang berkuasa di negeri ini.

    Bahkan, perjanjian kemitraan komprehensif AS-Indonesia ini dapat disetarakan dengan Letter of Intent (LoI) yang ditanda tangani Soeharto dan IMF pada tahun 1998, perjanjian yang dibuat untuk melegalkan penjajahan gaya baru (imperialisme) oleh AS pada negeri mayoritas muslim ini.

    Gema Pembebasan juga menduga kuat Obama akan menekan Presiden SBY mengembalikan penguasaan blok Natuna D-Alpha yang kaya akan gas dan minyak kepada ExxonMobil, sesuai dengan kesepakatan sebelum 1995 yang memberikan 100 persen bagi hasil untuk ExxonMobil dan 0 persen untuk pemerintah Indonesia. Padahal, sejak tahun 2008, pemerintah telah memindahkan hak pengelolaan Natuna dari ExxonMobil ke Pertamina.

    Kedatangan Obama juga untuk memastikan proses demokratisasi, pluralisme dan kapitalisme di negeri ini masih dijalankan sesuai dengan arahan AS. Di sisi lain, Obama yang direncanakan akan berpidato secara terbuka di sini nampaknya ingin memulihkan citranya di dunia Islam. Pidatonya nanti dijadikan simbol penerimaan dunia Islam atas politik luar negerinya yang memerangi dan membunuh jutaan muslim di Irak, Afganistan dan negeri muslim lainnya.

    Obama hanya akan menjadikan Indonesia sebagai keledai tunggangan? Kalau benar begitu, Gema Pembebasan menolak tegas kedatangan Obama, karena kedatangannya akan menambah bencana di negeri ini.

    Mahasiswa juga menyerukan pada pemerintah Indonesia untuk membatalkan perjanjian Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia yang menempatkan Indonesia sebagai negara teritorial tanpa kedaulatan  di hadapan kekuatan Amerika dengan ide Tata Kelola Pemerintahan Global.[ald]
    sumber : rakyatmerdeka.co.id

    HTI Tolak Obama Karena Tak Ingin Bencana Indonesia Bertambah
    Jum'at, 05 November 2010 , 15:16:00 WIB

    Laporan: Sugeng Triono

      

    RMOL. Sekitar tiga ratus massa dari Gerakan Mahasiswa Pembebasan dan Hizbut Tahrir Indonesia menggelar unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jumat siang (5/11). 

    Dalam aksinya, mereka menolak kedatangan Presiden Amerika Serikat Barrak Hussein Obama ke Indonesia. Pengunjuk rasa beralasan menerima kedatangan Obama berarti sama dengan menyetujui imperalisme Amerika Serikat di negeri ini.

    Karena itu para demonstran menyerukan semua pihak menolak kedatangan Obama. Karena kedatangan Obama akan menambah bencana yang saat ini sedang terjadi di Indonesia.  "Cukuplah bencana yang terjadi akhir-akhir ini. Jangan ditambah dengan kedatangan Obama," pekik Muhammad, saat berorasi.

    Muhammad menambahkan, kedatangan Obama hanya akan menambah pendertitaan rakyat Indonesai. Obama hanya akan menjadikan Indonesia sebagai tunggangan untuk membangun citra positif Amerika terhadap dunia Islam.

    Selain itu, sebut Muhammad, diduga kuat kedatangan Obama ke Indonesia untuk menekan Presiden SBY mengembalikan penguasaan Blok Natuna yang kaya akan gas dan minyak kepada perusahaan Amerika Serikat, Exxon Mobil . [zul]
    Sumber : rakyatmerdeka.co.id

    Diingatkan, Masyakat Indonesia Bisa Alergi kepada Obama hanya Karena Masalah Anjing


    Kamis, 04 November 2010 , 08:59:00 WIB

    Laporan: Zul Hidayat Siregar


    BARACK OBAMA/IST
      

    RMOL. Masjid Istiqlal diagendakan akan menjadi salah satu tempat yang akan disambangi Presiden Amerika Serikat, Barack Hussein Obama ketika mengunjungi Indonesia pada pekan mendatang.

    Terkait dengan kunjungan ke masjid terbesar di Asia Tenggara itu, Obama diingatkan untuk tidak membawa anjing pelacak bahan peledak. Karena anjing pelacak bahan peledak milik Secret Service hampir pasti akan dilibatkan dalam sterilisasi Masjid Istiqlal sebelum Obama tiba dan selama Obama berada di masjid.

    "Saya mengharap agar Presiden Obama ketika mengunjungi ke tempat-tempat suci bagi umat Islam, seperti masjid, tidak usah bawa anjing. Saya yakin penasehat Obama tahu tentang hal itu," jelas Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah terpilih Saleh Daulay kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 4/11).

    Saleh menjelaskan, dalam ajaran Islam anjing itu adalah najis besar. Makanya, sebaiknya Obama harus menghindari membawa anjing saat berkunjung ke masjid. "Kalau pun itu sudah menjadi protap pengamanan Amerika, saya yakin untuk ke masjid bisa dikecualikan. Lagi pula pasti ada alat lain yang lebih canggih untuk menelusuri dan memastikan bahwa Obama aman saat berada di masjid," ujar Saleh.

    Ketua Majelis Ulama Indonesia bidang Hubungan Luar Negeri ini, mengatakan bila betul anjing Obama akan masuk ke masjid, itu akan mengundang perdebatan di tengah masyarakat. Tentu, nama Obama yang cukup fenomenal di Indonesia bisa saja jadi berubah. "Orang banyak yang simpatik dengan Obama, tapi kalau hal itu betul ia lakukan, orang bisa jadi alergi," tandasnya. [zul].

    PAYUNG FANTASI



    Barack Obama dan Ibu Negara Michelle Obama mengunjungi kompleks Columbia Parc Housing di New Orleans, Louisiana, AS (Jum'at 29/10). AFP PHOTO/JEWEL SAMAD
    sumber : rakyatmerdeka.co.id


    Mr. President Mau Kunjungi Istiqlal
    Masjid di Amrik Tak Pernah Ditengok
    Sabtu, 06 November 2010 , 06:56:00 WIB

      

    RMOL. Kesukaan Obama me­ngun­­jungi masjid di negara Muslim sangat mengherankan Muslim Amerika. Pasalnya, selama ini tak satu pun media AS, kelom­pok Islam atau Ge­dung Putih yang dapat meng­konfirmasi bah­wa Oba­ma pernah me­ngun­jungi mas­jid di negaranya sendiri.

    “Akan sangat baik bagi pre­siden jika benar-benar me­ngun­­jungi masjid di Amerika. Itu akan mengirimkan pesan kuat bahwa pemerintah men­dukung komunitas Muslim Amerika,” kata Di­rek­tur Ko­mu­nikasi Dewan Hu­bungan Islam-Amerika (CAIR) Ibrahin Hooper, belum lama ini.

    Secara terpisah, Direktur Divisi Hak Sipil dan HAM American Muslim Society Ibrahim Ramey menyatakan, Obama mungkin merasa tak nyaman mengunjungi masjid di Amerika karena hanya akan memunculkan spekulasi bahwa Oba­ma yang punya nama kecil Barry, adalah seorang Muslim.

    “Kami percaya mosaik sosial dan agama yang dimiliki Ame­rika Serikat serta fakta bahwa Muslim adalah bagian dari mo­saik ini, akan mendorongnya (Obama) untuk tidak hanya me­ngunjungi masjid. Tapi juga merasa nyaman untuk ber­di­alog dengan para pemuka umat Muslim di tempat ibadah umat Islam,” jelas Ramey.

    Baik Hooper maupun Ra­mey sepakat, koneksi Obama dengan Indonesia, tanah air dari ayah tirinya yang seorang Muslim dan negara tempat dia menghabiskan masa kecilnya selama empat tahun, meru­pa­kan alasan tepat mengapa dia ingin mengunjungi Istiqlal.

    Sebelumnya, Deputi Pena­sehat Keamanan Nasional AS Ben Rhodes mengatakan, Oba­ma yang mendarat di In­donesia 9 November, akan berpidato dengan fokus menjangkau ko­munitas Mus­lim di seluruh du­nia serta pembicaraan menge­nai plura­lis­me dan toleransi di Indo­ne­sia. Pada 10 November, Oba­ma akan mengunjungi Mas­jid Is­tiqlal.

    Kunjungan Obama ke mas­jid, menunjukkan sikap dan sinyal bahwa AS me­rangkul dunia Islam. “Namun, persepsi dunia Islam terhadap AS tidak berubah,” tukas Ban­tarto Ban­doro, pakar hubungan interna­sional Pusat Studi Stra­tegis dan Internasional yang berbasis di Jakarta kepada Rak­yat Merde­ka, Rabu (3/11).

    “Itulah mengapa dia (Oba­ma) menggunakan kunjungan ke Indonesia untuk sekali lagi mengirim pesan kepada dunia Islam bahwa dia ingin mem­perbaiki pandangan bahwa AS melancarkan perang melawan Islam,” lanjut Bantarto.

    Hooper memprediksi, kon­troversi seputar kunjungan Obama ke masjid Indonesia akan datang dari “sayap ka­nan” pengkritik Obama. Tanpa ika­tan Muslim yang dimiliki Oba­ma, kunjungan itu akan terasa seperti rutinitas setiap presiden AS lainnya.

    “Saya tidak berpikir me­ngunjungi sebuah masjid di Indonesia memiliki arti ter­ten­tu, selain menjadi tamu yang baik. Tapi mengunjungi sebuah mas­jid di Amerika akan mengi­rim pesan yang sangat positif yang berarti dukungan bagi komu­nitas Muslim Ame­rika, yang saat ini berada dalam an­caman akibat me­ningkatnya jumlah fanatik anti-Muslim di ma­syarakat,” terang Hooper.

    Ketika Obama mengunjungi Turki pada April 2009, dia berkesempatan mengunjungi Masjid Biru di ibukota Istan­bul, didampingi Perdana Men­teri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan.  [RM]
    Sumber :rakyatmerdeka.co.id

    Senin, 01 November 2010

    Target Bom Pesawat: Yahudi Paman Sam

    Senin, 01 November 2010 , 07:26:00 WIB


    ILUSTRASI
      
    RMOL. Dua paket bom dari Yaman yang di­temukan dalam dua pesawat berbeda tujuan Chicago, AS, ditujukan untuk komunitas Ya­hudi di kota tersebut. Aparat di Ya­man telah menangkap seorang perempuan yang diduga terlibat dalam pengiriman bom itu.

    Sinagog, rumah peribadatan Yahudi dan berbagai pusat ko­munitas Yahudi di seluruh AS, langsung mendapatkan peri­ngatan keras menyusul pene­mu­an dua bom tersebut. Bom yang disembunyikan dalam cartridge tinta printer itu berhasil dicegat di Leichester, Inggris dan Dubai, Uni Emirat Arab.

    Keduanya berada di dalam dua pe­sawat kargo berbeda milik pe­rusahaan ekspedisi AS, United Parcel Services (UPS). Paket yang ditemukan di Inggris ber­hasil diamankan petugas, sebe­lum pesawat kembali melan­jut­kan perjalanan ke Chicago.

    Area kargo bandara tersebut langsung ditutup, setelah penye­lidik AS mengatakan, cartridge tersebut berisi pentaerythritol tetranitrate (PETN), salah satu peledak berkekuatan besar. Se­mentara Kepolisian Dubai me­ne­mukan peledak dengan sirkuit elektronik yang terhubung ke kartu SIM ponsel.

    Teknik yang digunakan, me­nu­rut para penyelidik, sangat cerdas dan khas organisasi teroris, se­perti Al Qaeda. Apalagi metode ini sebelumnya pernah digunakan kelompok tersebut.

    Presiden AS Barack Obama ju­ga memastikan bahwa dua paket tersebut memang bom. Obama mengerahkan segala pihak terkait untuk menyelidiki peledak ter­se­but, serta pihak yang bertanggung jawab. “Kami tahu, bom ini di­buat di Yaman. Kami juga tahu ke­beradaan Al Qaeda Seme­nan­jung Arab di Yaman yang masih mengancam dunia,” kata Obama.

    Para pejabat Yaman menga­takan, seorang perempuan di­tang­kap karena dicurigai terlibat dalam pengiriman dua paket ba­han peledak dari Yaman ke Ame­rika Serikat (AS), Sabtu (30/10).

    Presiden Yaman Ali Abdullah Sa­leh mengatakan, petugas ke­amanan mengepung sebuah ru­mah di mana perempuan itu ber­sembunyi.  Dia tidak mem­be­ri­ta­hu lokasi rumah tersebut. Sabtu pagi, Menteri Keamanan Dalam Ne­geri AS Janet Napolitano me­ngatakan, paket itu sama dengan  paket ledakan buatan al Qaeda, ter­utama cabang al Qaeda di Yaman.

    Napolitano menambahkan, isi paket-paket itu tampaknya sama dengan bahan peledak plastik PETN yang digunakan dalam usaha pengeboman yang gagal terhadap sebuah pesawat pe­numpang AS akhir tahun lalu. Rencana itu dikaitkan dengan cabang al Qaeda di Yaman, yang dikenal dengan al Qaeda Jazirah Arab.  [RM]
    Sumber: rakyakmerdeka.co.id

    Senin, 25 Oktober 2010

    Terdakwa Teroris Ubaid Tolak Didampingi Kuasa Hukum

    Satuan Brimob menyisir perkebunan sawit di Dusun Blok 10, Desa Bantan, Kecamatan Dolok Masihul. Tempo/Soetana Monang Hasibuan

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Persidangan Lutfi Haidaroh alias Ubaid,  terdakwa  teroris yang akan digelar siang tadi  diwarnai  kericuhan. Dua tim pengacara berebut  kuasa  mendampingi Ubaid. terdakwa yang dituduh sebagai bendahara pada pelatihan teroris di Aceh itu  menolak  didampingi penasehat hukum.
    "Bapak dan ibu minta yang kuat buat kamu," kata Hawin berbisik pada Ubaid sebelum sidang digelar di Pengadilan Jakarta Barat, Senin (25/10). Ubaid pun  Mengangguk lalu berlalu dibawa masuk ke belakang ruang sidang oleh penasihat hukumnya.

    Sesaat kemudian terjadi keributan antara kedua belah pihak yang mengaku sesama tim pengacara di belakang ruang sidang cakra (1) Pengadilan Jakarta Barat. Ada dua  orang yang mengaku sebagai  tim pengacara muslim. Mereka  berebut kuasa  membela Ubaid. Satu tim pengacara muslim dari Palu sedangkan lainnya dari tim pengacara muslim Jakarta.

    Hawin kakak kandung Ubaid diajak berbicara menengahi perselisihan itu. Usai perselisihan reda, Hawin mengungkapkan kepada TEMPO  akan kekhawatiran adiknya yang tidak ingin didampingi pengacara dari TPM Palu. "Ini bukan kasus ringan, kami ingin tim yang kuat, " ujarnya.

    Permintaan Ubaid sebenarnya merupakan harapan keluarga. Mengingat tuduhan sebagai bendahara teroris yang dilekatkan pada Ubaid merupakan hal yang tidak bisa dianggap main-main. "Keluarga ingin yang terbaik buat Ubaid," ujar Hawin.

    TPM yang diwakili Ashludin Hayani menyatakan menyerahkan keseluruhannya kepada terdakwa Ubaid.
    Ubaid,  yang diduga sebagai bendahara yang memegang aliran dana pelatihan teroris di Aceh. Dia  diduga menerima dan mengalirkan uang untuk mendanai latihan  tersebut, termasuk diantaranya untuk membeli persenjataan.

    Sandy Indra Pratama
    Sumber :Tempointeraktif.com

    Yusuf Arifin Didakwa Ikut Pelatihan Militer di Aceh

    Abdi Tunggal, Tatang Mulyadi dan Ahmad Sutrisno terdakwa yang memasok 28 senjata dan 19.999 amunisi ke pelatihan militer di Aceh. Tempo/Tony Hartawan
    TEMPO Interaktif, Jakarta - Yusuf Arifin alias Firin alias Rambo, terdakwa kasus terorisme dikenai 4 dakwaan. Rambo didakwa Jaksa Penuntut terlibat aksi terorisme dengan mengikuti pelatihan militer di Kamp Asykari, Pegunungan Jalin Kecamatan Jantho, Aceh.

    "Terdakwa melakukan pemufakatan jahat, percobaan untuk melakukan tindak pidana terorisme dengan sengaja menggunakan kekerasan dan ancaman kekerasan dengan maksud menimbulkan teror yang bersifat massal  " ujar Feritas dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (21/10). 

    Jaksa menyatakan, perbuatan Yusuf mengikuti pelatihan militer tersebut telah mengakibatkan keresahan di kalangan masyarakat. "Karena pelatihan tersebut membawa senjata dan amunisi yang cukup banyak," ujarnya. Selain itu, aktivitas ini juga mengakibatkan masyarakat sekitar tidak leluasa melakukan aktivitas sehari-hari mereka seperti bertani dan berkebun.

    Ia menambahkan, pelatihan itu ditujukan untuk mendeklarasikan berdirinya Tandzim Al Qaeda Serambi Mekkah dan melancarkan aksi teror terhadap orang asing di Aceh.

    Yusuf juga didakwa terlibat dalam baku tembak antara peserta latihan militer dengan polisi di sana pada Februari silam. Dalam aksi itu, empat orang anggota Brimob meninggal dunia sedangkan sebelas lainnya mengalami luka tembak. 

    Yusuf yang merupakan lulusan pondok pesantren Baitussalam Darul Manar, Kediri, Jawa Timur, juga diduga telah membantu dalam menyediakan persenjataan untuk pelatihan itu. Menurut jaksa, saat akan berangkat ke Aceh, Yusuf dan rekan-rekannya membawa 2000 amunisi M 16 yang dititipkan oleh Abu Hasbi.

    "Abu Hasbi meminta terdakwa untuk memasukkan amunisi tersebut ke dalam tas terdakwa. Dan terdakwa memasukkannya di tengah-tengah pakaian," ujarnya.

    Atas perbuatannya tersebut, Yusuf dijerat dengan pasal 15 jo pasal 7 Undang-Undang Anti Terorisme No. 15 Tahun 2003, pasal 15 jo pasal 9 Undang-Undang Anti Terorisme No. 15 Tahun 2003. pasal 13 huruf c Undang-Undang Anti Terorisme No. 15 tahun 2003 dan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat No. 12 Tahun 1951. 

    Yusuf Arifin alias Rambo, ditangkap Detasemen Khusus Anti Teror Pada April 2010 di Medan. Pemuda asal Magetan ini ditangkap setelah berhasil kabur dari kejaran polisi saat pembubaran paksa pelatihan militer di Pegunungan Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh. Yusuf diajak ke Aceh atas ajakan seorang bernama Margono, yang dikenalkan oleh temannya Toni alias Farid.

    Sebelum berangkat ke Aceh, Yusuf dan dua orang temannya sempat singgah di Jakarta untuk bertemu Margono. Ia pun bertemu dengan Abu Hasbi yang menitipkan 2000 butir amunisi untuk dibawa ke Aceh. 

    Sesampainya di Aceh, ia berlatih di kamp milik Abu Yusuf. Aktivitas pelatihan ini pun tercium oleh polisi. Densus 88 diterjunkan untuk menyergap aksi pelatihan ini. Perlawanan sempat dilakukan anggota pelatihan dengan memakan korban empat orang anggota brimob. Yusuf sempat berhasil kabur ke Medan meski akhirnya berhasil ditangkap polisi di daerah ini. 
    Febriyan


    Sumber :Tempointeraktif.com

    Kamis, 21 Oktober 2010

    WN Malaysia Ditangkap Bawa 7 Ribu Detonator Di Parepare Sulsel

    Kabar Hukum

    Rabu, 20 Oktober 2010 23:28 WIB

    Parepare, Sulsel (tvOne)

    Kepolisian Resor Parepare, Sulawesi Selatan, berhasil mengamankan 7.000 keping detonator (alat pemicu bom) yang dibawa salah seorang warga negara Malaysia.

    Kepala Kepolisian Resor Parepare, AKBP Pratama yang ditemui di Parepare, Rabu, mengatakan, terungkapnya pemasok ribuan detonator ini berawal dari kecurigaan aparat terhadap salah seorang penumpang Kapal Motor (KM) Cateleya Expres yang bernama Mohd Nawawi bin Malong, warga jalan bunga raya, Tawau, Malaysia.

    Dia mengatakan, Nawawi memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan saat tiba di Pelabuhan Nusantara Parepare, Rabu sore, sehingga aparat yang bertugas di pelabuhan tersebut langsung menggeledah barang bawaan miliknya.

    "Karena memperlihatkan gerak-gerik yang mencurigakan, barang bawaan Nawawi langsung kami geledah, dan kami langsung menemukan ribuan keping detonator tersebut," katanya.

    Menurut Pratama, detonator yang berhasil diamankan tersebut dikemas dalam satu karung plastik yang berisi 50 dos detonator merek Cdet Alfa masing-masing berisikan 100 keping, 19 dos detonator tanpa merek yang masing-masing dos berisi 100 keping, serta satu dos detonator tanpa merek yang berisikan 80 keping.

    Sementara itu, saat ditanya oleh aparat kepolisian, Nawawi mengaku, ribuan detonator itu diselundupkan dari Tawau, Malaysia, menggunakan speed boat ke pelabuhan Nunukan, Kalimanatan Timur, lalu kemudian dibawa ke Parepare.

    "Detonator ini bukan milik saya. Saya hanya ingin mengantarkan ke pemilikya yang saat ini berada di Makassar untuk kemudian dirakit menjadi bom ikan," jelasnya.

    Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, kini Nawawi ditahan di sel tahanan Polres Parepare, dan diancaman hukuman lima tahun penjara karena telah melanggar pasal 1 ayat 2 tentang undang-undang darurat.
    Sumber : tv0ne WebNews

    Senin, 04 Oktober 2010

    Mahfud: Remisi Napi Teroris Dihapus, UU Harus Diubah

    Kabar Hukum

    Mahfud: Remisi Napi Teroris Dihapus, UU Harus Diubah

    Rabu, 29 September 2010 21:44 WIB

    Bali, (tvOne)

    Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menilai penghapusan remisi terhadap terpidana terorisme sangat dimungkinkan. Namun pemerintah diimbau untuk juga mengubah UU No.12 Tahun 1995 tentang pemasyarakatan.

    "Penghapusan remisi untuk seluruh narapidana kasus terorisme, harus mengubah undang-undangnya," kata Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD di Jimbaran, Bali, Rabu (29/9).

    Menurut Mahfud, jika UU itu belum diubah, maka kebijakan untuk tidak memberikan remisi kepada narapidana bisa lewat kebijakan harian.

    Ia juga menilai pelaku kejahatan terorisme pantas dijatuhi hukuman mati jika ditempuh dengan prosedur yang benar oleh penegak hukum sudah benar. Hukuman mati kepada teroris karena kejahatan ini berbahaya bagi negara.
    Sumber : tv0ne Webnews

    Kamis, 30 September 2010

    Polisi Awasi Latihan Perang Jemaah Tablig

    Polisi Awasi Latihan Perang Jemaah Tablig


    Liputan6.com, Ambon: Ratusan anggota Jamaah Tablig dicurigai menyelenggarakan latihan perang di Desa Kawa, Kabupaten Maluku Tengah dan Desa Olas, Kabupaten Seram Bagian Barat.
    Polisi kini terus mengawasi gerak-gerik anggota Jamaah Tablig itu, karena kegiatan mereka meresahkan warga setempat. "Sesuai hasil pantauan kami, kegiatan mereka masih didominasi siar agama, tapi sering dibarengi kegiatan latihan perang-perangan," kata Kabid Humas Polda Maluku, AKBP Johanes Huwae di Ambon, Senin (13/9).
    Anggota Jamaah Tablig itu awalnya beraktivitas di Kampung Baru, Masohi, Ibu Kota Maluku Tengah. Mereka kemudian pindah ke tempat kegiatan baru di Desa Kawa. Aktitiftas serupa juga berlangsung di desa Olas, yang diduga telah berlangsung lebih dari enam bulan.
    "Masyarakat diimbau untuk memberikan informasi yang akurat kepada polisi bila mendapati adanya kegiatan mencurigakan yang dilakukan orang-orang tertentu di dalam hutan secara tersembunyi," kata Johanes Huwae.(ANT/MLA)
    Sumber : Yahoo news
                    Liputan6.com

    Senin, 27 September 2010

    Keterlibatan Teroris Dicurigai

    Pembobolan ATM
    Keterlibatan Teroris Dicurigai
    Minggu, 26 September 2010 | 08:01 WIB

    Tribunnews.com
    MEMBORGOL - Polisi memborgol tersangka perampok yang dibekuk hidup-hidup di Pakan Senayan, Sabtu (25/9/2010).
    AGAM, KOMPAS.com - Tiga dari 10 pelaku perampokan mesin anjungan tunai mandiri di Padang, Sumatera Barat, ditembak mati oleh aparat gabungan, Sabtu (25/9). Perampokan itu diduga dilakukan kelompok teroris karena mempunyai modus yang sama dengan perampokan di Medan.
    Kepala Bidang Penerangan Umum Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Besar Marwoto Soeto, Sabtu, mengatakan, kemungkinan besar pelaku merupakan kelompok teroris karena memiliki kesamaan modus dengan pelaku Bank CIMB Niaga di Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Ciri-ciri mencolok adalah membawa senjata dan merampok anjungan tunai mandiri (ATM).
    Saat ini Kepolisian Daerah (Polda) Sumbar telah berkoordinasi dengan Polda Sumut untuk mencocokkan barang bukti yang ditemukan.
    Hingga semalam, Kepala Polda Sumbar Brigadir Jenderal (Pol) Andayono dalam jumpa persnya menyebutkan, empat pelaku ditangkap dalam penyergapan yang dilakukan aparat gabungan. Tiga pelaku tewas ditembak, yaitu satu pelaku di Pariaman dan dua pelaku yang lain di Agam.
    Marwoto mengatakan, dengan tertangkapnya sejumlah pelaku, diharapkan pengembangan penyelidikan dapat dilakukan lebih maksimal. Terhadap pelaku yang buron, yaitu dua orang dan kemungkinan terkait dengan jaringan teroris, aparat kepolisian akan menindak tegas.
    Petugas gabungan yang memburu para perampok itu terdiri dari satuan Resmob Polda Sumbar dan polisi dari Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Agam, Kota Padang Panjang, dan Kota Bukittinggi. Dalam penyergapan, terjadi dua kontak senjata.
    Para pelaku yang tewas dibawa dengan sejumlah ambulans ke RS Bhayangkara, Kota Padang. Demikian pula dengan para pelaku yang di antaranya tampak mengalami luka tembak di bagian paha, kemudian diangkut di bagian belakang minibus polisi.
    Rampok ATM
    Pada Sabtu menjelang pukul 04.00, 10 anggota komplotan perampok itu diduga melakukan perampokan tiga mesin ATM di kampus Universitas Bung Hatta, Ulakkarang, Kota Padang. Para perampok membawa kabur uang Rp 172 juta di mesin ATM milik Bank Bukopin, Rp 200 juta milik Bank Nagari, dan merusak mesin ATM milik Bank BNI.
    Para pelaku menggunakan mesin las dan merusak brankas dengan cara memotong besi penutupnya untuk mengambil uang di dalam brankas, sementara mesin ATM Bank Nagari digondol secara utuh. ”Para pelaku memukul anggota satpam, mengikat dengan tali rafia warna hijau dan plakban hitam, serta menyekap mereka dalam ruang satpam kampus,” kata Amrizal, petugas satpam Universitas Bung Hatta.
    Wakil Kapolresta Padang Ajun Komisaris Besar Wisnu Handoko mengatakan, selain ketiga anggota satpam, para pelaku juga menyekap dua warga yang saat itu berada di sekitar lokasi kejadian.
    Kepala Bagian Operasi Polresta Padang Komisaris Arief Budiman menambahkan, polisi berhasil mengidentifikasi pelaku perampokan itu berkat rekaman close circuit television (CCTV) yang terdapat dalam bilik ATM Bank Nagari.
    Kepala Bidang Humas Polda Sumbar Ajun Komisaris Besar Agus B Kawedar mengatakan, para tersangka disergap di kaki Gunung Singgalang. Mereka berusaha kabur setelah tertangkap dalam razia di wilayah Kabupaten Padang Pariaman.
    Dalam penyergapan itu, terjadi dua kontak tembak. Kontak pertama terjadi di jalan poros Kabupaten Padang Pariaman menuju Kabupaten Agam saat polisi melakukan razia. Satu tersangka tewas ditembak dan seorang lagi ditangkap.
    Kontak senjata kedua terjadi di kawasan perladangan di kaki Gunung Singgalang yang terletak di Jorong Ladang Nangguak Batu, Nagari Pakan Sinayan, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam. Dua orang tewas ditembak. Empat tersangka ditangkap dalam aksi penyergapan yang dipimpin Kapolda Sumbar Brigjen (Pol) Andayono itu. Lebih dari dua orang masih buron.
    Kemarin, ratusan warga di sekitar lokasi penyergapan kedua di kawasan dataran tinggi itu memenuhi jalan di sekitar lokasi kejadian, yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Bukittinggi itu. Sebagian warga mengatakan, kontak senjata mulai terjadi sekitar pukul 13.00.
    Dalam penyergapan itu, polisi menemukan dua pucuk senjata genggam merek Beretta yang digunakan komplotan perampok saat melakukan perlawanan. Sejumlah polisi bersenjata laras panjang tampak terus berjaga-jaga di pinggir jalan. Hingga berita ini disusun belum ada keterangan resmi soal identitas para pelaku tersebut.
    Dalam aksinya, para pelaku menggunakan kendaraan roda empat. Semalam dua barang bukti ditahan polisi berupa kendaraan minibus Suzuki APV dan Toyota Avanza yang merupakan kendaraan sewaan.
    Nyaris bersamaan dengan kontak senjata di Kabupaten Agam, polisi juga melakukan penggerebekan di Korong Pasar Mudik, Nagari Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman. Polisi mencari salah seorang tersangka yang diidentifikasi warga setempat sebagai Wempy atau Khairil. Joni (35), salah seorang warga, mengatakan, penggerebekan dilakukan sekitar pukul 13.30 dengan tembakan peringatan ke udara yang diletuskan sebanyak dua kali oleh anggota polisi.
    ”Tapi polisi tidak berhasil menangkap siapa-siapa di sini, pintu rumah Wempy terkunci dan tidak ada orang,” kata Joni. Wempy diketahui mengontrak salah satu rumah petak di daerah itu dan telah tinggal bersama istri dan seorang anaknya sekitar setahun terakhir.
    Ia menambahkan, sepanjang pengetahuannya, Wempy yang dikenal warga sekitar relatif jarang terlihat di rumahnya itu mengaku bekerja di bidang jasa transportasi. ”Kadang juga suka cerita sedang mengerjakan proyek, tetapi tidak jelas proyeknya apa,” kata Budi, warga yang lain. (INK/FER)
    Editor: A. Wisnubrata   |   Sumber : Kompas Cetak 
    Sumber. Kompas.com

    Cari Blog Ini