Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.
Tampilkan postingan dengan label Teroris : Inilah Teknologi AS 'Berburu' Osama bin Laden. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teroris : Inilah Teknologi AS 'Berburu' Osama bin Laden. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2014

Teroris : Teroris Bekasi Akui Pernah Ikut Latihan di Poso

TEMPO.CO, Jakarta - Iswahyudi, pemuda yang ditangkap Detasemen Khusus 88 di percetakan Andescre, Jalan Mator Hasibuan Nomor 12, Bekasi Timur, Agustus 2013, lalu menjadi saksi dalam sidang perkara terorisme untuk terdakwa Khairul Ihwan atau Irul di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam kesaksiannya, Iswahyudi mengaku pernah ikut latihan di Poso.
"Saya pernah (ikut latihan) tadrib azkar di Poso," katanya saat memberi kesaksian untuk Irul di PN Jakarta Selatan, Senin, 17 Februari 2014. Bersama Irul, Iswahyudi mengaku bisa merakit senjata dan pernah tergabung dalam organisasi Majelis Mujahidin Indonesia.
Menurut dia, senjata yang bisa mereka operasikan antara lain pen gun, mesiu, dan pipa. Keseluruhan senjata dan bahan peledak tersebut milik Irul. Lantas, jaksa penuntut umum Farid pun menanyakan apakah mereka pernah uji coba senjata tersebut. Iswahyudi mengaku pernah mencobanya di salah satu ruas jalan tol di daerah Bekasi. "Sekali, waktu tes di Km 40," ujarnya.
Selain Iswahyudi, sidang tersebut juga menghadirkan Imam Syafe'i. Mereka juga merupakan terdakwa perkara terorisme yang juga diadili di PN Jakarta Selatan.
Irul sendiri diduga terlibat dalam kelompok rencana pengeboman di Kedubes Myanmar, gereja di Solo, dan Polres Cirebon. Saat penangkapan pada 20 Agustus 2013, tim Densus 88 juga menyita dua pucuk senjata api jenis FN berikut 50 butir peluru.
LINDA TRIANITA
sumber :http://id.berita.yahoo.com/teroris-bekasi-akui-pernah-ikut-latihan-di-poso-093517654.html

Minggu, 11 Agustus 2013

AKAR MASALAH TERORISME & IMPLIKASINYA:

27 September 2010 pukul 20:18
Oleh: Albert WS Kusen

Tulisan ini bertujuan mengkaji isu dan makna terorisme, akar permasalahannya serta menentukan implikasi kebijakannya. Diharapkan hasil kajiannya, ’bukan sekedar ’memukul udara dengan angin’, tetapi secara konseptual dapat ditemukan solusinya sebagai acuan para pihak yang berwenang maupun yang peduli dengan permasalahan terorisme di tanah air yang sampai saat ini masih berlanjut. Why?

Makna Teror
Istilah teror berasal dari bahasa Latin, terrere yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi to fighters. Artinya adalah suatu situasi yang dikondisikan sedemikian rupa agar dengan menimbulkan rasa takut, menggerikan, dan membahayakan nyawa manusia akan diperhatikan oleh publik pada umumnya, dan khususnya pihak yang dijadikan sasaran teroris.

Sebagaimana aksi teror bom yang sering terjadi di Indonesia, diawali di depan kediaman Duta Besar Filipina Jakarta (tahun 2000), kemudian terjadi di tempat-tempat tertentu di Jakarta seperti di Atrium Senen, Bursa Efek, sejumlah Gereja dan lainnya pada malam Natal, dan pada tahun 2003 terjadi di Hotel JW Marriot. Aksi teror yang terjadi di luar Jakarta, seperti di Legian Kuta dan Jumbaran Bali (tahun 2002), selanjutnya secara berulang-ulang terjadi di Palu dan Poso. Sebagai informasi, di kota Manado, pernah diletakkan bom di dalam restauran Fried Chicken depan Markas Korem Santiago Sulut (daya ledaknya sama dengan yang terjadi di Kuta Bali), tapi tidak meledak. Kemudian pada hari Jumat, 17 Juli 2009 terjadi lagi aksi teror bom bunuh diri di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta yang sampai saat ini masih mengancam keselamatan publik di tanah air.  Semua aksi-aksi teror ini dimaksudkan untuk menciptakan kondisi yang dimaksud itu.

Tercatat puluhan bahkan ratusan korban bom di kalangan orang (manusia) sipil yang tewas terpanggang hidup-hidup, dan puluhan mengalami luka bakar atau kena serpihan pecahan bom.  Seperti dialami salah seorang perempuan korban bom di hotel JW Marriot pertama (2003), sambil mengerang kesakitan menyatakan kegeramannya, lewat liputan khusus Metro TV, “saya tidak bisa terima kenyataan ini, siapapun mereka dari kelompok manapun, apapun alasannya melakukan teror bom adalah perbuatan iblis yang biadap serta menggerikan yang harus dikutuk. Ada ratusan orang sedang makan di restauran tempat saya bekerja, mereka itu bukan kambing, tapi manusia”. Inilah salah satu korban aksi teror bom yang mengekpresikan kesedihannya, kekesalannya, dan kegeragamnya. Sementara itu, korban lainnya tak bisa lagi bergerak dan berkata karena sekujur tubuhnya sudah gosong terbakar yang dijemput keluarganya dengan isak tangis pertanda sang korban sudah meninggal. Sungguh suatu peristiwa yang tragis dan menggerikan, di mana dari segi manusiawi, apa yang dialami oleh korban teror bom, menimbulkan efek psikologis yang sungguh tidak terperikan mengenang peristiwa teror bom yang pernah dialaminya.

Dampak yang ditimbulkan
Sebagai anak bangsa, kita semua tentu sangat prihatin dengan aksi teror di Tanah Air yang justru dilakukan oleh warga negara Indonesia sendiri. Demikian juga menyangkut harkat dan martabat bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa beradab, penuh keramahtamahan dicemari dengan aksi kebiadaban. Sebab, berdasarkan analisis dampak dan implikasi yang ditimbulkan, secara signifikan sangat merugikan kepentingan nasional, seperti menurunnya devisa dari sektor pariwisata, kehilangan lapangan kerja, serta menyisahkan duka keluarga korban baik yang meninggal maupun yang cacat seumur hidup. Bahwa para pelaku aksi teror yang beroperasi di Indonesia ada hubungan dengan gerakan Al-Quaida yang dipelopori oleh Osama Bin Landen, maka dapat dikatakan para pelaku itu adalah kelompok radikal di mana tujuan politik mereka itu telah terkonstruksi secara sosial (doktrinasi fundamentalisme agama yang cenderung primordialistik.

Didefinisikan oleh Gerrtz, primordialisme adalah:“sesuatu yang berakar pada sesuatu yang sudah takdirnya given atau di mana seseorang terikat secara moral dan oleh berbagai rasa tanggung jawab yang timbal balik pada anggota-anggota kerabatnya, tetangganya, sesama penganut agamanya, setidak-tidaknya primordialitas tersebut sebagian besar terwujud oleh adanya kesadaran moral atas sesuatu kemutlakkan yang penting atau utama yang tidak dapat diperhitungkan secara untung rugi semata-mata, diatributkan pada ikatan dirinya sendiri” (Geertz 1973).

Dengan kata-kata yang lebih sederhana, Geertz mengartikan primordialitas sebagai “sebuah dunia jati diri perorangan atau pribadi, yang secara kolektif diratifikasi dan secara publik diungkapkan, yang merupakan sebuah keteraturan dunia”. Primordialitas adalah sesuatu yang utama, yaitu perasaan yang dipunyai orang per orang berkenaan dengan kehadirannya atau kehidupannya di dunia ini sebagai suatu takdir bahwa dia dilahirkan dan dibesarkan dalam suatu lingkungan keluarga dan kerabat, keyakinan keagamaan, bahasa, berbagai adat istiadat serta sistem-sistem makna yang ada dalam kebudayaannya, yang dirasakan sebagai dunia kehidupannya yang utama karena tidak dapat dipisahkan dari dirinya, bukan hanya dalam hal-hal yang rasional, tetapi juga mencakup keseluruhan rasa yang dipunyainya.

Sebagai bagian hakiki dari postmodern, fundamentalisme dalam teologi dan antropologi/sosiologi agama diidentifikasi sebagai seteriologi eksklusivitas (tidak mengakui kebenaran ajaran atau agama lain; dan lebih membenarkan/ melegitimasi ajaran/dogma mereka serta perilaku atau aksi-aksi dan menyalahkan ajaran lain). Prinsip mereka negara dan agama itu satu, maka wajib diperjuangkan ajaran/dogma agama ke dalam sistem pemerintahan negara (lihat Sumakul 2006). Makanya tidaklah mengherankan ketika Osama Bin Landen dan antek-anteknya pernah menyatakan untuk membunuh semua orang yang tidak seiman dengan mereka.

Argumentasi umum yang sering diungkapkan oleh pihak tertentu, bahwa kecenderungan kaum radikal ini, melakukan kekerasan, serta menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, pada umumnya mengatakan, bahwa kelompok radikal tersebut melakukan aksi teror bom karena adanya ketidakadilan yang terjadi di dunia ini, di mana negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat (kebetulan berlatarbelakang Nasrani dan Yahudi), di samping mereka mendomonasi ekonomi dunia, juga dalam kebijakan politik Timur Tengah (isu konflik Palestina dan Israel) cenderung membela kepentingan Israel, termasuk dalam pemberian bantuan persenjataan. Hal ini memicu semangat solidaritas primordialisme agama karena ada rasa frustrasi di kalangan kaum radikal ini atas kekuatan budaya (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang dimiliki negara-negara adidaya tersebut ketika mereka harus bertarung dalam menuntut keadilan.

Implikasinya terhadap bangsa kita yang berpenduduk mayoritas Islam, khususnya di kalangan organisasi-organisasi Islam seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dsb secara terbuka memberi reaksi ‘keras’ terhadap AS Negara adidaya atas intervensi konflik timur tengah (membantu Israel). Betapa konflik Palestina ‘dinilai mewakili Islam, dan Israel mewakili ‘Nasrani dan Yahudi’. Rasa kemarahan dan kebencian terhadap Zionis Israel, AS dan sekutunya, telah dirasuk sejak tahun 1967, di mana secara historis keuntungan atau kemenangan selalu berada di pihak Israel. Apalagi dengan adanya intervensi–pendudukan pasukan Amerika Serikat (pembebasan Kuwait, penangkapan presiden Sadham Husein dan para teroris yang terkait dengan jaringan Al-Qaida/Taliban (Osama Bin Landen) atas seluruh wilayah Irak dan Afganistan sampai sekarang ini. Rasukan kemarahan dan kebencian ini akhirnya mengkristal menjadi ideologi solidaritas primordialisme bagi kelompok-kelompok radikal Islam yang tersebar baik di Timur Tengah (Arab Saudi, Libanon, Siria, Irak); di Arika (Mesir, Libia, Sudan, Maroko, Aljazair) maupun di Asia (Afganistan, Iran, Malaysia dan Indonesia).

Khususnya konflik Palestina – Israel, apabila dilihat secara objektif sesungguhnya bukan konflik agama, melainkan persoalan teritori atau wilayah yang terjadi sejak Inggris memprakarsai kemerdekaan Zionis Israel pada tahun 1947. Lagi pula pejuang-pejuang Palestina bukan hanya kaum Muslim tapi juga ada yang beragama Kristen (salah seorang toloh radikalnya, George Habbash adalah seorang Kristen Ortodoks-Yunani), makanya tidak mengherankan kota Betlehem tempat kelahiran Tuhan Jesus Kristus oleh Israel diserahkan kepada Palestina (Arab Kristen) menjadi bagian wilayah otonominya.

Munculnya sosok Osama Bin Laden sebagai aktor di balik peristiwa 11 September  2001 di New York AS, menambah spririt idiologi solidaritas primordialisme di kalangan kelompok-kelompok radikal Islam Al-quaida-Taliban dan Al-Jemaah Islamiah Osama menyerukan deklarasi perangnya, kepada tim moralnya, yakni: “Declaration of War by Osama bin Landen, together wirh leaders of the World Islamic Front for the Jihad Againts the Jews and the Crusaders, that is we – with God’s help – call on every Muslim who believes in God and wishes to be rewarded to comply with God’s order to kill the Americans  and plunder their money wherever and whenever their find it. We also call on the Muslim Ulema community leaders, youths and soldiers to launch the raid on Satan’s US troops and the devil supporters ally-ing with them and to displace those who are behind them so that they learn a lesson” (Al-jabhah al-Islamiyyah Liqital al-Yahud Wal-Salibbiyyin, Afganistan, Februari 23) dalam Kaligis (2003).

Kalau memang demikian deklarasi perang dari Osama bin Landen tersebut, “There is God’s order to kill perintah Allah untuk membunuh, maka bukan saja dunia hukum, tetapi semua orang akan mengatakan Allah adalah Pembubuh! Kita lihat betapa beraninya Osama bin Landen, sebagai manusia ciptaan Allah yang memberi dan membiarkan dirinya hidup, melibatkan serta memanipulasi nama Allah hanya sekedar untuk memberi justifikasi (pembenaran) kepada tindakan terorisnya. Konsep dan doktrin ini benar-benar dimanifestasikan oleh pelaku bom Bali Imam Samudra, dikatakan “saya tidak takut dihukum mati, karena apa yang selama ini saya lakukakan telah berada di jalan Allah, dan sesuai dengan ajaran Islam; dengan dihukum (vonis) mati, mendekatkan saya dengan Allah” (Komentar 12/8/2003).

Inilah akar masalah yang telah terkonstruksi secara mental atau pikiran dan hati para teroris, “bahwa tindakan membunuh merupakan perintah Allah”
Sungguh sangat menakutkan tindakan teror mereka tersebut yang kini sudah menjadi crime againts humanity. Sebab kasus teror bom yang terjadi di WTC New York AS bukan saja yang menjadi korban manusia non-Muslim, tetapi juga dari kalangan umat Islam sendiri (terbanyak pekerja dari Bangladesh dan Libanon), serta yang terjadi di Bali dan Hotel JW Marriot Jakarta belum lama ini. Dalam konteks moral (budaya dan agama) maupun hukum, seperti apa yang telah disinggung di atas aksi-aksi terorisme tersebut adalah suatu mesin kebohongan yang terbuat dari uap racun kekeliruan yang menyesatkan; serta merupakan penghinaan yang fantastis terhadap ke-Illahian Allah Yang Maha Besar yang disembah oleh semua umat (agama) manusia di dunia ini, bukanlah Allah pembunuh! Tapi adalah Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sebagaimana keeksistensiannya (keimanan) kita sebagai manusia makhluk ciptaan-Nya, memiliki kewajiban mutlak untuk mematuhi hukum kasih yang diajarkan oleh Isa-Almasih,  ‘hendaklah kamu mengasihi Allah dengan segenap hati/jiwamu, dan dengan segenap akal budimu; serta ‘mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’. Sebagaimana dikemukakan oleh Abdul M. Mulkhan (Kompas 10/12/1999), dalam Surat Ibrahim, “Tuhan berfirman bahwa “Dia hanya akan mencintai manusia yang memeluk agama-Nya jika manusia itu mencintai manusia sesamanya. Tuhan juga mengatakan bahwa “Dia akan menolong manusia yang memeluk agama-Nya hanya jika manusia itu bersedia menolong manusia sesama-nya. Lebih lanjut dikemukakan oleh Mulkhan “siapakah sesamanya itu tidaklah terbatas hanya mereka yang seagama atau paham keagamaannya sama.

Implikasi Kebijakan
Seperti diketahui bahwa pada era reformasi ini telah terjadi reduksi makna nilai demokrasi. Sebagaimana hal ini dimanfaatkan oleh para radikalis untuk melakukan aktivitas konsolisi menggalang solidaritas, melakukan aksi demo dengan membawa senjata tajam, membentuk laskar-laskar sambil melakukan latihan perang ala militer secara terbuka, serta terjun dalam kancah konflik horizontal bernuansa SARA di Ambon, Poso dan Halmahera, tanpa ada halangan dari aparat setempat. Padahal mantan Presiden Gus Dur sudah menginstruksikan untuk menangkapnya (ada larangan setelah daerah-daerah konflik tersebut diberlakukakan darurat sipil). Dibandingkan dengan keadaan di  negeri tetangga kita, seperti Malaysia, Singapura dan di negara-negara Asean lainnya memiliki kebijakan hukum Internal Security Act (ISA),  yang digunakan untuk menangkal segala gerakan kelompok-kelompok radikal yang ’dicurigai’ akan melakukan aksi teror. Itulah sebabnya mereka tidak ada nyali melakukan aksi teror di negeri jiran tersebut. Bahwa kelemahan aparat keamanan kita, khususnya POLRI dalam mencegah aksi teror yang tidak diperkuat dengan payung hukum ISA tersebut. Demikian juga Badan Intelejen Nasional (BIN) tidak diberi kewenangan untuk melakukan tindakan-tindakan khusus dalam menangkal gerakan teroris.

Sebagai implikasi kebijakannya (rekomendasi), antara lain dipandang perlu dan mendesak kepada para pihak yang berwenang (eksekutif, legislatif, dan aparat terkait), dan masyarakat untuk segera menentukan langkah-langkah kebijakan. Pada tingkat wacana, beberapa hal yang dipandang strategis untuk ditindak lanjuti adalah sebagai berikut:
  • Mendiskomunikasikan deklarasi perang yang dicanangkan oleh Osama Bin Landen pada tanggal 23 Feruari 1998 di Afganistan yaitu “There is God’s order to killl  (perintah Allah untuk membunuh). Sebab sebagai anak bangsa, kita semua yakin bahwa yang benar adalah There is God’s order to peace” (perintah Allah untuk hidup damai) di bumi nusantara Indonesia yang tercinta ini.
  • Mendesak diberlakukannya kebijakan hukum Internal Security Act  bagi aparat kita (BIN dan unsur-unsur intelejen TNI & POLRI) sebagaimana yang diterapkan pada negara-negara tetangga kita (Singapura dan Malaysia), mengingat masih ada tokoh maupun anggota-anggota  Jamaah Islamiah belum tertangkap yang mana mereka setiap saat berpotensi untuk melakukan aksi teror lagi. Tentunya mempraktekkan ISA harus seprofesional dan seakurat mungkin dalam mengoperasionalkan sumber informasi intelegen agar terhidar dari ‘mal-operation’, mengingat dasar dari kebijakan ISA ini ditekankan kepada upaya pencegahan.
  • Jaring strategi komunikasi antar pihak (perhotelan, komunitas mulai dari tetangga, lingkungan, kelurahan/desa, organisasi, taksi, ojek, dll), di mana kesemua pihak ini harus berkoordinasi dengan pihak aparat terkait (polisi dan BIN setempat), terutama untuk mencegah adanya penyebaran jaringan teroris dan pihak yang melindunginya.
  • Menata secara akurat administrasi kependudukan (kartu penduduk) agar tidak rentan untuk dimanipulasi. Hal ini memungkinkan aparat setempat (pemdes/kelurahan) mengetahui identitas setiap ada tamu atau orang-orang tertentu yang tidak dikenal.
  • Merevitalisasi makna spirit kebangsaan (Pancasila dan UUD 1945) melalui media pendidikan formal dan informal, bahwa yang namanya teroris adalah musuh bersama.
Memberdayakan masyarakat dalam kehidupan sosial ekonomi yang selama ini dirasakan terlah terjadi ketimpangan sosial. Yang miskin semakin miskin, dan kaya semakin kaya. Ini juga merupakan bagian dari akar permasalahan yang turut memicu rasukan kebencian dan kemarahan para teroris terhadap hegemoni kapitalisme di tengah arus globalisasi.
 sumber: https://www.facebook.com/notes/albert-kusen/akar-masalah-terorisme-implikasinya/446806128448?comment_id=27214435&offset=0&total_comments=69&notif_t=note_reply
27 September 2010 pukul 20:18

----------------------------------------------

Kamis, 07 Maret 2013

Pengakuan Anggota Navy SEAL yang Tembak Kepala Osama Bin Laden

08 Maret 2013 | 11:03:50

oleh Elin Yunita Kristanti
Posted: 12/02/2013 06:19
 
 
Pengakuan Anggota Navy SEAL yang Tembak Kepala Osama Bin Laden
Osama Bin Laden (dailyrecord.co.uk)
Liputan6.com, Washington : Minggu 1 Mei 2011 lalu di ruang kontrol Gedung Putih, para petinggi Amerika Serikat menatap layar yang menayangkan secara langsung detik-detik penyergapan Osama Bin Laden di rumah persembunyiannya di Abbottabad, Pakistan.

Presiden Barack Obama, berjaket hitam, duduk di pojok. Namun yang paling mengundang tanya adalah reaksi Hillary Clinton yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Dalam foto yang dirilis Gedung Putih, ia terlihat menutup mulut dengan tangan, matanya membelalak. Syok.

Kala itu, Hillary mengaku menutup mulut untuk mencegah batuk tersembur dari mulutnya. Alergi musim semi, katanya. Namun pengakuan anggota pasukan elit Navy SEAL yang menembak kepala Osama Bin Laden, bisa jadi menguak tabir "horor" di wajah Bu Menteri. Untuk kali pertamanya ia buka suara.

Sebut saja dia "The Shooter" -- atau si penembak. Nama aslinya tak diungkap demi keselamatan keluarganya. Pria itu adalah anggota Tim 6.

Dalam wawancara dengan Majalah Esquire untuk edisi Maret 2013, The Shooter mendeskripsikan secara rinci ketegangan dan apa sebenarnya yang terjadi dalam dua menit krusial, dalam penyerbuan Bin Laden, yang mengubah sejarah.

Osama Ditembak Tiga Kali

Dia mengatakan, awalnya, seorang perempuan, anggota CIA memberitahukan, "Osama 100 persen berada di lantai tiga rumah persembunyiannya".

Saat berhadapan dengan targetnya, pria itu mengaku kaget dengan penampakannya. Bin Laden terlihat lebih tinggi dari yang disangka -- paling tinggi di antara pengikutnya, berbadan kurus, janggut pendek, dan kepala pelontos.

Osama berlindung di balik istrinya, Amal -- yang diduga menjadi tameng hidupnya. The Shooter dan timnya bisa melihat jelas apa yang terjadi melalui kaca mata malam (night vision), namun Bin Laden hanya bisa mengandalkan pendengarannya.

"Ia berjalan ke depan. Aku tak tahu apakah istrinya itu memakai rompi peledak. Osama juga bisa saja meraih senjata di dekatnya, dari manapun di kamar itu. Dia adalah ancaman. Jadi aku harus menembak kepalanya sehingga mereka tak punya kesempatan untuk meledakkan diri," kata dia, seperti dimuat Daily Mail (11/2/2013).

"Detik itu juga, aku menembaknya, dua kali di dahi. Bap! Bap! Tembakan yang kedua melumpuhkannya, ia lalu jatuh ke lantai, di depan tempat tidurnya. Lalu, aku menembaknya lagi, Bap! Di tempat yang sama."

The Shooter mengaku menggunakan senjata EOTech red-dot holo sight. "Osama tewas. Ia sama sekali tak bergerak. Lidahnya terjulur ke luar."

Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Osama menghembuskan nafas terakhirnya. "Aku masih ingat, ia menghela nafas terakhirnya. Saat itu aku berpikir, apakah ini hal terbaik yang aku lakukan, atau sebaliknya, yang terburuk."

Osama tewas mengenaskan, dengan dahi pecah membentuk huruf "V", organ dalam kepalanya merembes keluar. "Sesuatu yang orang AS tak ingin mengetahuinya."

Ayah dua anak itu menceritakan, istri Osama, Amal sontak menjerit melihat suaminya ditembak. Setelah mengikat perempuan itu ke tempat tidur, ia baru sadar, putra termuda Osama, berusia dua atau tiga tahun kala itu, juga menyaksikan adegan mengerikan tersebut.

"Dia berdiri di sisi lain tempat tidur. Aku tak ingin menyakitinya, aku tak seliar itu. Ditingkahi suara jeritan, anak itu hanya menangis, syok." Bocah itu lalu ditempatkan dekat ibunya.

Pernikahan Hancur

Penyerbuan di lantai tiga rumah Osama hanya berlangsung singkat, 15 detik. Namun dampaknya luar biasa bagi The Shooter.

Ia kembali dari misi dengan kondisi bangga, sekaligus gundah. The Shooter juga mengungkap bagaimana tugasnya saat itu ikut andil dalam kehancuran rumah tangganya. Ia juga mengklaim Pemerintah
AS mengabaikan para veteran militernya.

Pasca penyerbuan Osama, pernikahan The Shooter dan istrinya berakhir, meski mereka terpaksa tetap hidup bersama untuk menghemat uang.

Dia mengaku Pemerintah AS tak memberinya apa-apa. Tak ada pensiun, tidak ada perawatan kesehatan, tidak ada perlindungan bagi keluarganya.

Ia pun mengajarkan pada keluarganya apa yang harus dilakukan jika rumah mereka menjadi target serangan balasan pendukung Osama.

Dia mengajarkan anak-anak bersembunyi di bak mandi, karena itu adalah tempat paling aman. Ia juga mengajari istrinya -- sekarang mantan -- untuk menggunakan senapan dan pisau cadangan yang disimpan di lemari.

Mereka juga menyiapkan ransel darurat berisi pakaian, makanan, dan kebutuhan lain yang cukup untuk bersembunyi selama dua minggu.

Jurnalis, Phil Bronstein, pemimpin eksekutif Center for Investigative Reporting, yang menghabiskan waktu setahun bersama The Shooter berhasil mendapat kepercayaannya dan menyusun kisahnya dalam artikel yang terdiri dari 15.000 kata di Esquire.

CIA Diinvestigasi

Kisah penggerebekan Osama sudah diangkat dalam film "Zero Dark Thirty" yang disutradarai Kathryn Bigelow dan skenario ditulis Mark Boal, yang jadi kontroversi karena menggambarkan adegan penyiksaan dalam misi penyerbuan Osama.

Senat baru-baru ini telah menggelar sebuah investigasi untuk menentukan apakah CIA memberikan akses pada pembuat film soal informasi rahasia. Atau, apakah oknum CIA memberi informasi palsu untuk meyakinkan mereka bahwa teknik interogasi keras efektif dalam menghasilkan informasi yang mengarah ke Bin Laden.

Sementara, hingga kini foto jasad Osama tak dirilis. Sebab, Presiden Barack Obama mengatakan, jika diungkap, foto itu bisa memicu kekerasan terhadap warga AS.

Pemerintah Obama hanya mengatakan, jasad Bin Laden diangkut kapal induk USS Carl Vinson menuju laut lepas untuk dilarung, tata caranya sesuai dengan tradisi Islam. Osama tak sempat dimintai keterangan.(Ein)
Sumber : http://news.liputan6.com/read/509898/pengakuan-anggota-navy-seal-yang-tembak-kepala-osama-bin-laden

Minggu, 11 November 2012

Intelijen : Selingkuh, Bos CIA Mengundurkan Diri

Sabtu, 10 November 2012 05:09 wib
Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) David Petraeus (Foto: Reuters)
Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) David Petraeus (Foto: Reuters)
WASHINGTON - Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) David Petraeus mengundurkan diri dari jabatannya. Petraeus mengaku, dirinya menjalankan hubungan perselingkuhan dan hal itu akan sangat mempermalukan CIA.

Pengunduran diri jendral senior itu menjadi fenomena yang cukup memalukan di Negeri Paman Sam. Petraeus mengumumkan pengunduran dirinya yang didasarkan atas alasan pribadi, lewat sebuah surat.

"Setelah menikah selama lebih dari 37 tahun, saya menunjukkan prilaku yang buruk karena terlibat dalam perselingkuhan. Perilaku itu tidak dapat diterima, sebagai seorang suami dan pemimpin organisasi," ujar Petraeus dalam suratnya, seperti dikutip Telegraph, Sabtu (10/11/2012).

Alasan pengunduran diri yang diutarakan Petraeus dinilai akan membuatnya rentan diserang. Seluruh badan intelijen di dunia ini tentunya mengingatkan para agen-agennya agar tidak terlibat dalam perselingkuhan. Pimpinan badan intelijen juga tidak diperkenankan mengabaikan peraturan itu.

Terdapat pula beberapa versi dari cerita pengunduran diri Petraeus. Menurut sumber dari Washington, Petraeus mundur karena menerima tekanan yang cukup berat, usai Duta Besar AS untuk Libya Chris Stevens, tewas. CIA menjadi pihak yang disalahkan, karena gagal mendeteksi adanya potensi serangan di Konsulat AS di Benghazi, Libya.

Wakil Petraeus, Michael Morrel, dipastikan mengemban tugas Petraeus dalam jangka pendek sebelum Presiden Barack Obama mencalonkan seseorang untuk menggantikan Petraeus. Calon Direktur CIA juga harus mendapat persetujuan dari para Senator.

Petraeus diangkat menjadi Direktur CIA pada September 2011, setelah Leon Panetta dinobatkan menjadi Menteri Pertahanan AS. Petraeus adalah seorang perwira militer yang memimpin perang di Afghanistan.

Jabatan Direktur CIA menjadi prestasi cemerlang bagi pria berusia 60 tahun itu. Kinerja Petraeus juga sangat dipuji oleh sejumlah kalangan politisi AS, terutama dari kubu Republik.
(AUL)
sumber: http://international.okezone.com/read/2012/11/10/414/716443/selingkuh-bos-cia-mengundurkan-diri

Teroris : Bom untuk Gubernur Sulsel Berisi TNT dan Paku


Minggu, 11 November 2012 | 17:50 WIB
Bom untuk Gubernur Sulsel Berisi TNT dan Paku  
KOMPAS/ASWIN RIZAL HARAHAP
Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo saat menerima kunjungan CEO Vale asal Brasil, Murilo Ferreira, di kediaman gubernur, Senin (10/10/2012).

MAKASSAR, KOMPAS.com - Benda padat berasap yang dilemparkan ke arah Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dipastikan merupakan jenis bahan peledak high explosive (daya ledak tinggi). Bom seberat 2 ons tersebut berisi serbuk TNT dan paku lima sentimeter.
"Bom pipa high explosive yang digunakan tersangka mirip dengan bom di Poso. Kekuatan bahan peledak hingga radius 500 meter," ungkap Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Selatan dan Barat, Ajun Komisaris Besar, Endy Sutendi saat menggelar konferensi pers di Mapolrestabes Makassar, Minggu (11/11/2012).
Dari tangan pelaku, disita senjata api rakitan jenis revolver Colt Detaktif, lima butir peluru kaliber 38, tas selempang warna hitam, dompet, STNK, kartu identitas diri, serta sebuah HP. Semua barang bukti kini diamankan di Mapolrestabes Makassar.
Syahrul dilempari bom rakitan saat tengah berorasi di atas panggung usai acara Jalan Santai Bareng Komandan untuk memperingati HUT Partai Golkar di Monumen Mandala, Makassar, Minggu (11/11/2012) pagi.
Pelaku melemparkan bom dari jarak kurang lebih 10 meter dari tempat Syahrul berorasi. Beruntung Syahrul selamat dari insiden tersebut. (Abdul Azis)
Sumber :http://regional.kompas.com/
Tribun Timur
Editor :
Tri Wahono

Rabu, 18 Januari 2012

Dilempar Bom Asap, Gedung Putih “Siaga 1”

Penulis : Rikando Somba   
(AP Photo)
WASHINGTON –  Pasukan Khusus  Pengawal Presiden Barack Obama (Secret Service) menurunkan tim khusus untuk merespons pelemparan bom asap ke Gedung Putih, Selasa (17/1) malam waktu setempat atau Rabu pagi WIB.
Saat bom dilemparkan, keluarga Obama tengah makan malam memperingati hari ulang tahun ibu negara, Michele Obama. Namun, mereka diminta untuk menunda kepulangan ke kediamannya karena masih banyak pemrotes dari gerakan Occupy Wall Street yang berada di sekitar lokasi. Diperkirakan, ada 1.000-an pemrotes di wilayah paling penting di negeri adidaya itu.
Meski belum ada penahanan dan pengumuman siapa yang melakukan tindakan tersebut, Secret Service meningkatkan status Siaga di seputar kediaman dan tempat kerja Presiden AS tersebut.
Secret Service juga menurunkan robot pengecek bom untuk mengawasi ada tidaknya bom asap atau bom lain di sekitar utara Gedung Putih. Kini semua orang juga dilarang memasuki arena paling penting di negeri adidaya itu melalui gerbang utara. Para tamu diawasi dan diperiksa lebih ketat.
Ditahan
Ketegangan suasana terjadi di sekitar Gedung Putih sejak Selasa siang. Para pemrotes berkumpul di halaman Capitol, gedung parlemen. Mereka meneriakkan antikapitalisme dan antikorupsi.
Akibat demonstrasi ini, empat orang ditahan aparat. Mereka yang ditangkap adalah yang membentangkan spanduk besar di gerbang gedung parlemen. Aparat menangkap mereka dengan alasan vandalisme. “Kami ini adalah 99 persen dari warga AS,” demikian bunyi salah satu spanduk besar di depan gedung parlemen.
“Kongres tak memperhatikan warga biasa karena mereka sudah tercemar dana politik dari berbagai perusahaan besar. Suara rakyat tak lagi didengar,” kata Lozada, salah satu pengacara yang memimpin gerakan Occupy Wall Street dan Occupy White House.
Sementara itu, Oscar Ramiro Ortega-Hernandez (21), pria yang menembak Gedung Putih pada November lalu, kini didakwa pidana percobaan pembunuhan Obama. Ortega juga didakwa menyerang polisi sebagaimana diberitakan AFP, Rabu (18/1).
Jaksa federal meminta Ortega menjalani tes dilakukan lebih baik lagi sehingga Hernandez dapat mempertangungjawabkan perbuatannya secara hukum melalui proses peradilan.
"Pada sekitar November tanggal 11, 2011, terdakwa Oscar Ortega Hernandez secara sengaja berusaha membunuh Presiden Amerika Serikat Barack Obama," bunyi petikan dakwaan itu.
Polisi Pennsylvania menangkap Ortega di sebuah hotel di Indiana tak lama usai ia melakukan perbuatannya. Ia menembak Gedung Putih dengan dua kali tembakan. Satu peluru berhasil menembus kaca jendela.
Sementara peluru lainnya ditemukan pada eksterior bangunan. Saat Ortega melakukan penembakan, Obama dan istrinya, Michelle, tengah menghadiri pertandingan basket di San Diego, California. (Fox News/Washington Post)
sumber: http://www.sinarharapan.co.id/content/read/dilempar-bom-asap-gedung-putih-siaga-1/

Jumat, 15 Juli 2011

Bom Terurai Ditemukan di Dalam Ponpes

Bom Terurai Ditemukan di Dalam Ponpes
Sandro Gatra | Glori K. Wadrianto | Rabu, 13 Juli 2011 | 18:39 WIB
Dibaca: 20069

Share:
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian menemukan beberapa bom rakitan yang telah diurai ketika menggeledah Pondok Pesantren Umar Bin Khattab di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Rabu (13/7/2011). "Kami menyita beberapa bom yang telah didisposal. Jumlahnya saya belum dapat informasi," kata Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam, ketika dihubungi, Rabu (13/7/2011).
Anton membantah ditemukannya senjata api di ponpes. Dikatakan Anton pula, tidak ada santri atau pengurus ponpes yang ditangkap ketika pihaknya masuk ke dalam ponpes. Polisi mengambil langkah represif setelah mendapat masukan dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama dalam rapat dengan Kepala Polda Brigjen (Pol) Arief W di bandara NTB. Sebelumnya, selama dua hari polisi memilih bernegosiasi dengan pihak ponpes.
Anton melanjutkan, tujuh orang yang sempat diamankan telah dilepas karena tidak terlibat. Adapun enam orang lain masih diperiksa karena diduga mengetahui peristiwa meledaknya bom rakitan yang menewaskan ustaz sekaligus bendahara ponpes, yakni Abdullah alias Firdaus.
Seperti diberitakan, bom rakitan itu diduga akan digunakan untuk menyerang kepolisian. Sebelumnya, Polda NTB menahan Sa'ban Abdurrahman (18), santri ponpes itu, karena membunuh Brigadir Rokhmat Saefudin, yang tengah tugas piket di Polsek Bolo, Bima. Menurut Polri, Sa'ban mengaku diperintah Tuhan untuk membunuh karena polisi menjalankan undang-undang yang tidak sesuai dengan syariat Islam.
sumber:kompas.com/16 Juli 2011
http://regional.kompas.com/read/2011/07/13/18395372/Bom.Terurai.Ditemukan.di.Dalam.Ponpes.

Selasa, 14 Juni 2011

Terorisme : Kelompok Poso 2 Kali Berlatih di Gunung

Sandro Gatra | Glori K. Wadrianto | Selasa, 14 Juni 2011 | 17:25 WIB


Dibaca: 265


K21-11 Upacara serah terima jenazah dua korba penembakan Bripda Gustiar Yudisthira dan Bripda Andi Irbar di Kargo Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Kamis (26/5/2011).
JAKARTA, KOMPAS.com Kelompok teroris di Poso, Sulawesi Tengah, sempat berlatih militer (tadrib asykari) sebanyak dua kali sebelum menyerang polisi di pos polisi di Jalan Emi Saelan, tepatnya di depan Kantor BCA di Palu.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengatakan, latihan pertama dilakukan di Pegunungan Biru di Desa Tambara, Poso Pesisir, selama empat hari pada bulan Agustus 2010.
Pelatihan kedua dilakukan di pegunungan di daerah Malino III di Kecamatan Soyo, Morowali. "Pelatihan kedua dilakukan tujuh hari sebelum penembakan di depan Kantor BCA," kata Anton saat jumpa pers di Mabes Polri, Selasa (14/6/2011).
Dalam jumpa pers itu diperlihatkan barang bukti penangkapan di berbagai lokasi, di antaranya senjata api rakitan, senjata api jenis V2 milik polisi, senjata api bentuk pena, dan bahan peledak.
Anton menjelaskan, 18 orang ditangkap di lima wilayah. Tiga di antaranya tewas. Di Poso, lima orang ditangkap, yakni Aryanto Haluta alias Abu Jafar alias Anto alias Jafar, Rafli alias Furqon, Anang Muhtadi alias Papa Enal, Maman Susanto alias Papa Azzam, dan Ali Miftah alias Ardan Wirayuda alias Ali Firmansyah alias Ali Ibrahim alias Amri Rifki.
Dua orang tewas saat baku tembak di pegunungan di Poso, yakni Dayat dan Faruk. Di Pekalongan, Jawa Tengah, ditangkap dua orang, yakni Hari Kuncoro alias Husen alias Bahar dan Sugeng Setiaji alias Tio pada 9 Juni 2011.
Di Bandung, Jawa Barat,  ditangkap Budi Untung. Menurut Polri, Untung lalu tewas akibat serangan jantung. Di Kalimantan Timur, jelas Anton, ditangkap dua orang, yakni Muhammad Sibghotulloh alias Faisal alias Musaf alias Hani dan Yuwardi. Terakhir, di Jakarta, ditangkap enam orang, yakni Santhanam alias Santana, Martoyo, Jumarto, Umar, Paimin, dan Budi Supriadi.
Menurut Anton, alasan mereka menyerang polisi adalah untuk membalas dendam terhadap penangkapan para pemimpin mereka, seperti Abu Bakar Ba'asyir, Dr Azhari, Noordin M Top, dan Dulmatin. Selain itu, polisi dianggap sebagai perisai hukum demokrasi yang bertentangan dengan hukum syariat Islam.
"Paham radikal mereka diperoleh dari kelompok Jamaah Islamiyah yang pernah masuk ke Poso di mana jihad hukumnya wajib dengan cara mengangkat senjata. Awalnya mereka mengumpulkan senjata. Setelah semakin kuat, mereka akan melakukan amaliyah jihad yang lebih besar," tutur Anton.
Sumber : Kompas.com/selasa, 14 Juni 2011 | 17:25 WIB
http://nasional.kompas.com/read/2011/06/14/17254454/Kelompok.Poso.2.Kali.Berlatih.di.Gunung


Minggu, 05 Juni 2011

Terorisme : Penembak Polisi Palu Pernah Dilatih Abu Tholut

Tiga tersangka penembakan anggota kepolisian di Poso, Sulawesi Tengah. TEMPO/ Dasril Roszandi

TEMPO Interaktif, Jakarta - Mabes Polri menyimpulkan, pelaku penembakan anggota Kepolisian Palu, Sulawesi Tengah adalah anggota Kelompok Jamaah Anshorut Tauhid (JAT). Mereka juga disebut, pernah dilatih Abu Tholut selama setahun di Aceh.
"Kesimpulan   diperoleh dari pengakuan para tersangka yang diciduk petugas, tak lama setelah insiden itu" kata Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Mabes Polri, 5 Juni 2011. " Mereka adalah anggota JAT yang dibentuk Abu Tholut"

Abu Tholut alias Imron Baihaqi alias Pranata Yudha bukan orang baru dalam aksi teror di Indonesia. Ia pernah  divonis delapan tahun penjara dalam kasus aksi teror di Atrium Senen, Jakarta, awal Mei 2004 dan  kembali ditangkap pada 10 Desember 2010 di Kudus.


Abu Tholut pernah didaulat sebagai Ketua Mantiqi III, Jamaah Islamiyah di Poso, tahun 2000 - 2002. Ia dikenal erat dengan Abu Bakar Baasyir, Ustad yang juga disebut amir Jamaah Anshorut Tauhid. Baasyir  ditangkap di Banjar, Jawa Barat, Senin, 9 Agustus 2010 sekitar pukul 08.15 WIB, karena diduga menerima laporan rutin rencana peledakan bom di Indonesia.
Kedekatan Abu Tholut  dengan Abu Bakar Ba'asyir disimpulkan setelah polisi  menemukan fakta  pemberian dana melalui Haris Amir Falah di kantor JAT Pejaten untuk operasional latihan para-militer di Jalin Jantho, Nangro Aceh Darussalam.
Berdasarkan hasil penyidikan, kata Boy, para tersangka merupakan kelompok yang dipersiapkan Abu Tholut sebagai kombatan. “Mereka dilatih diwilayah perbukitan Poso sejak pertengahan tahun lalu,” ujarnya.

Pelatihan para-militer itu merupakan cikal pendirian Al-Qaidah Serambi Mekkah, yang didalamnya terdapat sejumlah nama seperti Dulmatin dan Abdullah Sunata. Gerakan mereka juga berada dibalik aksi perampokan Bank CIMB Niaga yang dipimpin Toni Togar.

Dugaan keterlibatan kelompok teroris makin diperkuat setelah polisi menemukan sejumlah bahan baku pembuat bom di rumah Hariyanto, satu dari dua tersangka kasus penembak polisi di Bank BCA Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang berhasil diciduk petugas.

Hasil penelusuran menyimpulkan keterlibatan adik ipar Hariyanto berinisial AR. Ia diciduk pada tanggal 30 Mei lalu di daerah Poso. “Tersangka pernah diperintahkan oleh Hariyanto memindahkan sejumlah amunisi ke rumahnya,” ujar Boy.

RIKY FERDIANTO
TEMPO Interaktif, Jakarta  Minggu, 05 Juni 2011 | 17:41 WIB


Berita Terkait :
 Kelompok Poso Siapkan Empat Bom Aktif
Komisaris Besar Polisi Boy Rafli Amar,menununjukan foto tiga tersangka penembakan anggota kepolisian di Poso, Sulawesi Tengah. TEMPO/ Dasril Roszandi

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kelompok  teroris di kawasan Poso, Sulawesi Tengah  diduga sedang menyiapkan aksi penyerangan dengan bom. Rencana itu terbongkar setelah ditemukan  bom siap ledak ataupun masih dalam rangkaian dari rumah tersangka penembak polisi. Seluruh materi bom itu jadi barang bukti yang disita polisi Rabu,  1 Juni 2011 lalu. . “Tim berhasil menjinakkan empat bom pipa,” ujar Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, Minggu 5 Juni  2011.

Menurut Boy, bom berdaya ledak rendah itu dijinakkan tim dari Detasemen 88 Antiteror dari rumah Haryanto Haluta alias Abu Jafar, salah satu tersangka penembak polisi. Di rumah itu pula, ditemukan  empat bom pipa plastik berdiameter 4 sentimeter (cm) yang siap ledak dan tujuh pipa paralon yang berisi paku. Masing-masing paku  berukuran 5 cm dengan berat  1 kilogram. Ditemukan pula bahan-bahan pembuat bom lain. Pun juga  20 item barang bukti yang bisa digunakan sebagai bahan perakit bom. “Seperti blackpowder, belerang, pipa besi, bom molotov dan onderdil sepeda motor,” ujar Boy

Di tempat itu juga ditemukan kunci letter T yang diakui tersangka pernah digunakan untuk mencuri kendaraan sepeda motor. “Kami juga menemukan 23 butir peluru senjata US Caraben dan sejumlah peluru kaliber 9 milimeter dari rumah Ahmad Ridwan, adik ipar Hariyanto,” kata Boy.

Insiden penembakan terjadi pada 25 Mei lalu saat tiga personil kepolisian tengah menjaga di Bank BCA, Jl. Emy Saelan, Kota Palu. Segerombolan pria bersenjata api laras panjang memberondong ketiganya yang menyebabkan kematian dua petugas dan melukai satu lainnya. Tidak hanya itu. Para pelaku juga mencuri dua senjata api jenis V.

Dua dari empat pelaku berhasil ditangkap pada hari yang sama saat petugas sedang menggelar razia di wilayah Donggala. Namun upaya pengejaran terhadap dua yang lain sempat mengalami hambatan karena keduanya melarikan diri ke wilayah perbukitan arah Poso setelah sebelumnya meninggalkan kendaraan mereka di sekitar wilayah pesisir selatan.
RIKY FERDIANTO
Sumber : Tempointeraktif/Minggu, 05 Juni 2011 | 19:31 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/06/05/brk,20110605-338727,id.html

Rabu, 18 Mei 2011

Gereja Katolik Doakan Arwah Usamah Bin Ladin

Gereja Katolik Doakan Arwah Usamah Bin Ladin

Doa buat Usamah Bin Ladin. (wptv)
TEMPO Interaktif, Florida - Sebuah gereja Katolik di daerah West Palm Beach, Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, Ahad mendatang berencana mendoakan sekaligus memberi penghormatan terhadap arwah pemimpin jaringan Al-Qaidah, Usamah Bin Ladin.

Bin Ladin, 54 tahun, terbunuh dalam serangan pasukan khusus Angkatan Laut Amerika, SEAL, 1 Mei lalu. Ia tewas dengan dua luka tembak, di dada dan atas mata kiri. Serbuan itu juga menewaskan empat orang lainnya, termasuk putra Bin Ladin, Khalid, 22 tahun.
Doa bersama buat Bin Ladin ini direncanakan berlangsung pukul 12.00 siang waktu setempat atau tepat saat salat Zuhur di Indonesia. Agenda doa buat pria Arab Saudi berdarah Yaman itu telah dijadwalkan dalam buletin mingguan gereja bernama ‘The Holy Name of Jesus'.
Rencana mendoakan arwah Bin Ladin ini muncul pekan lalu. Sekretaris gereja awalnya mengira itu sekadar lelucon. Bahkan beberapa jemaat tertawa mendengar rencana itu.
Seorang jemaat bernama Lois Pizzano menilai doa buat Bin Ladin itu sama saja dengan mengorbankan agama. "Saya pikir ini benar-benar salah. Ia bukan milik agama Katolik. Atas apa yang telah diperbuat terhadap rakyat Amerika, ia tidak pantas di mana-mana,” katanya.
Namun, Pastor Gavin Badway yang mengepalai gereja itu menganggap jemaat yang tidak setuju lantaran berpikir emosional. “Yesus telah mengajarkan kita untuk mencintai dan memaafkan (orang lain),” ujarnya.
Sejumlah penganut Nasrani di sana mendukung rencana doa buat Bin ladin itu. “Saya tahu kenapa mereka mau melakukan itu karena Injil mengajarkan untuk mencintai musuhmu dan berdoa bagi orang yang membencimu,” kata Aaron Wormus.
Sampai sekarang masyarakat Amerika sendiri belum pernah melihat jasad Bin Ladin yang dicap sebagai otak serangan 11 September 2001. Presiden Barack Hussein Obama menolak desakan untuk mempublikasikan mayat ayah 25 anak itu. Militer Amerika mengklaim sudah mengubur jenazah Bin Ladin secara Islam di wilayah utara Laut Arab beberapa jam setelah ia terbunuh.
WPTV | FAISALASSEGAF
Sumber : Tempo Interaktif/Rabu, 18 Mei 2011

Sabtu, 14 Mei 2011

Terorisme : Kelompok Teroris Remaja Klaten Juga Binaan Qordhowi


Kelompok Teroris Remaja Klaten Juga Binaan Qordhowi
Sejumlah polis dan tentara berjaga-jaga di luar rumah terduga teroris yang tewas di tembak di Sukoharjo, Jawa Tengah (14/5). AP
TEMPO Interaktif, Sukoharjo - Enam tersangka teroris remaja di Klaten, Jawa Tengah, dipastikan akan menjalani sidangnya di Jakarta. Ini berbeda dengan AW, salah seorang tersangka yang kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Klaten. AW yang berstatus pelajar itu telah disidangkan di tempat asalnya lantaran masih tergolong anak-anak.

Enam tersangka tersebut adalah Agung, Joko Lelono, Nugroho Budi Santoso, Tri Budi Santoso, Yuda Anggoro, dan Roki Aprisdiyanto. Tujuh orang tersebut disangka melakukan aksi terorisme di delapan lokasi berbeda di Solo dan Klaten pada rentang 1 Desember 2010 hingga yang 21 Januari 2011.

Mereka juga berencana meledakkan bom rakitan di delapan lokasi, seperti di Pos Polisi di depan Rumah Sakit Islam Klaten, di peringatan Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten, dan di dekat markas Kepolisian Sektor Pasar Kliwon Surakarta.

"Mereka akan menjalani persidangan di Jakarta," kata Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Irjen Edward Aritonang di Mapolres Sukohajo, Sabtu 14 Mei 2011. Saat ini, mereka tengah menjalani rekonstruksi di sejumlah tempat di Kabupaten Klaten.

Edward menjelaskan, kelompok tersebut juga merupakan salah satu binaan dari Sigit Qordhowi, yang ditembak mati Detasemen Khusus 88 Antiteror. "Qordhowi merupakan motivator bagi mereka," kata Edward. Diduga, mereka juga berlatih membuat bom rakitan kepada Qordhowi.

AHMAD RAFIQ
Sumber: Tempo Interaktif/Sabtu, 14 Mei 2011 | 15:52 WIB

Terorisme : Inilah Rekam Jejak Teroris Sukoharjo


Inilah Rekam Jejak Teroris Sukoharjo

Densus 88. TEMPO/Fatkhurrohman Taufiq
TEMPO Interaktif, Jakarta - Dua orang, Sigit Qurdowi dan Hendro, yang dicap kepolisian sebagai teroris, Sabtu dini hari tadi, 14 Mei 2011, tewas di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal I Ketut Untung Yoga, inilah rekam jejak Sigit Qurdowi dan Hendro, yang tewas karena baku tembak. "Mereka masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) bom gereja dan Polsek Pasar Kliwon bulan Desember 2010," ujarnya melalui pesan pendek, Sabtu, 14 Mei 2011.

Sigit, yang merupakan Amir alias pemimpin Tim Hisbah, dan Hendro sebagai pengawalnya, juga terlibat jaringan terorisme di Cirebon. Mereka pun merencanakan pembalasan terhadap Kepolisian pada Mei 2011. "Ini diketahui dari dokumen dan keterangan pelaku yang sudah tertangkap," katanya.

Selain itu, keduanya terkait pula dengan empat tersangka yang ditangkap sebelumnya di Solo, Jawa Tengah.

Menurut Untung Yoga, Sigit dan Hendro tewas saat Kepolisian berusaha menangkap keduanya di Jalan Pelajar Pejuang, Cemani, Sukoharjo, pukul 01.15 WIB. Ia menguraikan, Sigit dan Hendro dengan mengendarai sepeda motor keluar dari sebuah rumah di Cemani, mengarah ke posisi tim pengintai dan tim tindak Detasemen Khusus 88.

Tiba-tiba mereka berbalik arah, lalu dibuntuti tim Detasemen. Saat tim hendak berusaha menghentikan motor, Sigit yang berada di boncengan motor menembaki anggota Detasemen. Otomatis, anggota Detasemen membalas tembakan.

Tembakan Sigit menewaskan seorang lelaki pedagang angkringan, Nur Iman, yang berada tak jauh dari posisi mereka. Baku tembak lantas menewaskan pula Sigit dan Hendro.

Untung Yoga menambahkan, sejumlah barang bukti disita dari tersangka, yakni dua pucuk senjata api jenis FN, satu pucuk senjata api Baretta, satu granat manggis yang masih aktif, serta sekitar seratus butir peluru untuk FN.

BUNGA MANGGIASIH
Sumber : Tempo Interaktif/Sabtu, 14 Mei 2011 | 10:25 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2011/05/14/brk,20110514-334452,id.html

Berita terkait :

Jejak Teroris Solo Terendus Dua Hari Lalu  

Dua polisi berjaga-jaga di lokasi penembakan dua terduga teroris di Desa Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo, (14/5). TEMPO/Andry Prasetyo
TEMPO Interaktif, Jakarta - Penembakan dua buron pelaku teror di Solo merupakan buah dari proses penangkapan sejumlah tersangka dua hari sebelumnya.

"Sebelum terjadi baku tembak tadi malam, kami telah menangkap empat orang yang diduga tersangka kasus teroris," ujar Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar, Sabtu, 14 Mei 2011.

Keempat tersangka adalah Edi T alias Edi Jablay, Ari Budi alias Abas alias Irwan, Hari Budiarto alias Nobita, dan Aripin Haryono.

Mereka diringkus sejak hari Kamis lalu lantaran diduga mengetahui dan terlibat dalam kasus Bom Cirebon. "Mereka merupakan kelompok yang memasok senjata api dan amunisi, termasuk granat," kata Boy.

Kesimpulan itu diperoleh setelah polisi menggeledah rumah Haryanto, salah seorang tersangka lain, di Jalan Perkutut, Banmati, Sukoharjo.

Di rumah tersebut, kata Boy, polisi menyita sekitar 183 butir peluru kaliber 9 milimeter dan 381 butir peluru kaliber 5,56 milimeter. "Para tersangka saat ini masih diperiksa secara intensif oleh Densus 88," ucap Boy.

Dua buron kasus Bom Cirebon tewas tertembak tadi malam. Peristiwa berawal ketika petugas menyetop sepeda motor yang dikendarai Sigit Qurdowi (Amir Tim Hisbah) dan Hendro, pengawal Sigit, di Jalan Pelajar Pejuang, Kecamatan Cemani, Solo.

Namun, upaya itu malah berujung baku tembak. Kedua pelaku tewas setelah sebelumnya menembak seorang pedangan angkringan.

RIKY FERDIANTOSumber : Tempo Interaktif/Sabtu, 14 Mei 2011 | 10:19 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2011/05/14/brk,20110514-334451,id.html

Selasa, 10 Mei 2011

Terorisme : Bin Ladin Suka Isap Ganja?


Osama bin Laden. AP
TEMPO Interaktif, Abbottabad - Terkuaknya sejumlah rahasia kehidupan mendiang pemimpin jaringan Al-Qaidah, Usamah Bin Ladin, membuat orang terkaget-kaget. Ada kemungkinan Bin Ladin suka mengisap ganja.
Ini dibuktikan dengan ditemukannya tanaman ganja setinggi beberapa meter dari pagar kompleks kediaman Bin Ladin di Kota Abbottabad, Pakistan. Ganja ini ditanam di antara kol dan tomat.Akan tetapi, muncul dugaan lain. Pria berdarah Arab Saudi ini diduga mengisap ganja sebagai bagian dari pengobatan penyakit ginjal yang dideritanya sejak beberapa tahun terakhir.
Pakistan memang menjadi salah satu tempat perdagangan obat bius terbesar di Asia, termasuk ganja. Meski begitu, opium lebih populer di negara itu. Saban tahun, uang yang berputar dalam perdagangan obat terlarang itu bisa mencapai US$ 4 juta.
Rahasia mengejutkan lainnya adalah keluarga Bin Ladin sangat menggemari produk Barat, yakni Coca Cola, Pepsi, dan es krim. Padahal, Bin Ladin dikenal sangat anti pada negara itu. Ia pun dituduh sebagai otak serangan 11 September 2001 yang merobohkan menara kembar World Trade Center di Kota New York.
Menurut Anjum Qaisar, dua pemuda dari kediaman Bin Ladin selalu berbelanja di tokonya yang hanya berjarak 150 meter dari tempat tersebut. Meski dekat, kedua pemuda itu tidak pernah jalan kaki, selalu datang dengan Mitsubishi Pajero atau Suzuki. “Belanjaannya pun banyak, cukup untuk 10 orang,” katanya.
Sekarang sudah tidak ada lagi langganan Anjum. Rumah tetangga misteriusnya itu sudah diserbu pasukan khusus Angkatan laut Amerika Serikat NAVY SEAL, 1 Mei lalu. Lima penghuninya, termasuk Bin Ladin dan putranya, Khalid, tewas. Semua penghuni yang selamat, termasuk istri dan seorang putri Bin Ladin, ditahan oleh pihak intelijen Pakistan untuk diinterogasi.
DAILY MAIL | FAISAL ASSEGAF
Sumber : Tempo interaktif/ Selasa, 10 Mei 2011

Kamis, 05 Mei 2011

Orang Kristen Harus Mendoakan Osama

Orang Kristen Harus Mendoakan Osama
Egidius Patnistik | Rabu, 4 Mei 2011 | 15:29 WIB
Dibaca: 23773

|

AP Photo/Anjum Naveed
Tentara Pakistan beristirahat di dekat rumah yang diyakini tempat tinggal pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, di kota Abbottabad, Pakistan, Senin (2/5/2011). Rumah itu, Senin dini hari, diserbu pasukan khusus Amerika Serikat dalam sebuah operasi militer rahasia.

VATICAN CITY, KOMPAS.com — Orang Kristen harus berdoa bagi jiwa Osama bin Laden meskipun ia merupakan musuh mereka karena pengampunan merupakan kunci ajaran  Kitab Suci Kristen. Kardinal Perancis Albert Vanhoye (87) mengatakan hal itu kepada harian Italia, Il Messaggero, dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Rabu (4/5/2011).

"Saya telah berdoa untuk jiwa Osama bin Laden. Kami harus berdoa untuk dia sama seperti kami berdoa bagi para korban 11 September. Itu yang Yesus ajarkan kepada orang Kristen," kata Kardinal Vanhoye.
"Yesus telah mewajibkan kami untuk mengampuni musuh kami. Doa Bapa Kami yang kami ucapan setiap hari mengatakan itu. Bukankah dalam doa itu dikatakan, 'Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami'," kata Vanhoye.
"(Memang) tidak mungkin untuk menerima doa ini sambil berpegang pada dendam dan kebencian terhadap musuh kita," katanya. Vanhoye, seorang imam Yesuit, diangkat jadi kardinal tahun 2006 oleh Paus Benediktus XVI. Ia terkenal karena karya ilmiahnya dalam Kitab Suci Kristen.
Sumber : Kompas.com/Rabu, 4 Mei 2011 | 15:29 WIB
 http://internasional.kompas.com/read/2011/05/04/15290766/Orang.Kristen.Harus.Mendoakan.Osama

Rabu, 04 Mei 2011

Terorisme : Telepon Kuwaiti Ungkap Jejak Osama

Telepon Kuwaiti Ungkap Jejak Osama

OPERASI komando yang menewaskan pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, Senin (2/5) dini hari, hanya berlangsung 40 menit, tetapi persiapan menuju operasi menentukan itu butuh bertahun-tahun. Hampir 10 tahun Osama bin Laden berhasil menutupi jejak pelarian sampai satu panggilan telepon mengubah segalanya...
Sejak Osama berhasil meloloskan diri dari serangan masif pasukan Amerika Serikat di wilayah pegunungan Tora Bora, Afganistan, Desember 2001, jejaknya bagaikan menghilang. Ia pindah dari tempat persembunyian satu ke tempat lain dan menghindari pembicaraan telepon atau bentuk komunikasi elektronik lain yang bisa dilacak Badan Pusat Intelijen AS (CIA).
Komunikasi langsung dengan para komandan lapangan, apalagi dengan para prajuritnya, juga terlalu riskan karena akan mudah terdeteksi. Satu-satunya pilihan aman untuk berkomunikasi adalah melalui sarana kurir, pembawa pesan yang dipercaya Osama dengan seluruh jiwa raganya.
Para petugas CIA sadar betul kurir ini adalah kunci menuju tempat persembunyian Osama. Masalahnya, mencari kurir ini hampir sama susahnya dengan mencari Osama sendiri.
Dari para anggota Al Qaeda yang ditahan CIA sejak peristiwa 11 September 2001, hanya didapat nama samaran kurir tersebut, yakni Abu Ahmed al-Kuwaiti. Pemimpin nomor 3 Al Qaeda, Khalid Sheikh Mohammed, mengakui mengenal al Kuwaiti, tetapi membantah orang itu terkait gerakan Al Qaeda.
Baru pada 2004, setelah CIA menangkap Hassan Ghul, seorang tokoh operasi lapangan Al Qaeda, didapat konfirmasi bahwa al-Kuwaiti adalah seorang kurir penting. Ghul juga mengatakan, al-Kuwaiti adalah orang dekat Faraj al-Libi yang menggantikan Khalid Sheikh Mohammed sebagai komandan operasi Al Qaeda. ”Hassan Ghul menjadi mata rantai penting (dalam operasi pelacakan Osama),” tutur seorang pejabat intelijen AS yang berbicara dalam kondisi anonim karena sensitivitas masalah ini.
Mei 2005, al-Libi tertangkap. Kepada CIA ia mengaku perintah pengangkatannya menggantikan Mohammed disampaikan seorang kurir. Namun, dia mengarang nama lain untuk kurir tersebut dan membantah mengenal al-Kuwaiti.
Kengototan Mohammed dan al-Libi terkait al-Kuwaiti justru makin meyakinkan CIA akan pentingnya posisi al-Kuwaiti. Mohammed bahkan dilaporkan tak menyebut nama al-Kuwaiti sedikit pun saat disiksa dengan teknik waterboarding.
Titik balik
Melalui beberapa interogasi dengan para perwira kelas menengah Al Qaeda dan keluarganya, akhirnya CIA mendapat identitas asli al-Kuwaiti, yakni Sheikh Abu Ahmed, warga Pakistan yang lahir di Kuwait.
Meski demikian, CIA tidak tahu persis di mana Ahmed berada. Dua tahun lalu mereka hanya tahu Ahmed dan seorang saudaranya beroperasi di suatu tempat dekat Islamabad, Pakistan.
Sampai akhirnya pertengahan tahun lalu Ahmed menelepon seseorang yang sedang diawasi CIA. Satu panggilan telepon ini menjadi titik balik bagi CIA dan membuka jalan untuk menelusuri jejak persembunyian Osama.
Agustus 2010, agen-agen rahasia AS akhirnya menemukan tempat tinggal Ahmed di sebuah rumah besar di Abbottabad, Pakistan. Ia tinggal bersama keluarganya dan satu keluarga lagi yang tinggal di rumah tertutup dinding tinggi itu.
Sejak saat itu, CIA bersama Badan Keamanan Nasional AS (NSA) dan Badan Intelijen Geospasial Nasional (NGA), yang menganalisis citra satelit dan foto dari pesawat mata-mata, memusatkan perhatian pada rumah berlantai tiga ini.
Situasi pun berkembang makin cepat, dari hitungan pekan ke hitungan hari dan jam. Sampai akhirnya, setelah makin yakin rumah itu berisi tokoh penting Al Qaeda yang kemungkinan besar adalah Osama, Presiden Barack Obama, Jumat (29/4), memerintahkan operasi militer untuk menyerbu rumah itu. Akhir perjalanan Osama bin Laden telah ditentukan.(AP/AFP/Reuters/DHF)


Senin, 02 Mei 2011

Inilah Teknologi AS 'Berburu' Osama bin Laden


Headline
Foto: Ist
Oleh: Billy A. Banggawan
Teknologi - Senin, 2 Mei 2011 | 12:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Buronan paling dicari Amerika Serikat (AS), Osama bin Laden, terkenal pandai sembunyi. Berikut teknologi yang pernah dipakai AS untuk mengejar buronan ini.
AS telah mengejar-ngejar Osama bin Laden sejak peristiwa World Trade Center lalu (9/11) dan banyak cara yang tak membuahkan hasil. Berikut cara-cara yang pernah dilakukan AS untuk mengejar bin Laden.
Model pelacakan biologis
Geografer University of California-Los Angeles (UCLA) Thomas Gillespie dan John Agnew membuat model pencarian pemimpin teroris itu menggunakan teknik yang sama untuk melacak binatang dan pola migrasinya.
Murtaza Haider dari Ted School of Management Ryerson Unversity mengatakan, “Profesor geografi UCLA menggunakan analisa spasial guna menentukan tempat persembunyian bin Laden”.
Sejumlah model biologis bisa sangat berguna dalam mencari bin Laden.
Pertama disebut teori distance decay (DD). Teori ini menggambarkan efek jarak pada budaya atau interaksi spasial. Kemungkinan menemukan hewan lain menurun secara eksponen saat pergi lebih jauh dari tempat tinggal.
Kedua disebut island biogeography (IB), teori ini merujuk pada wilayah habitat yang dikelilingi wilayah yang tak bisa ditinggali.
Melalui kedua cara itu, informasi mengenai hewan tertentu akan dipersempit pada tempat hewan bisa ditemukan. Melalui DD, bin Laden diketahui tak akan pergi jauh dari tempat terakhir ia diketahui. Melalui IB, bin Laden diketahui berpeluang besar dapat ditemui di kota besar.
Rock Phone
Osama bin Laden diduga bersembunyi di gua di pegunungan Afghanistan atau Pakistan. Tentara AS berencana membeli sistem komunikasi inovatif bernama Rock Phone.
Perangkat ini bisa menembus gua, terowongan, tambang, dan struktur bangunan besar yang tak bisa ditembus frekuensi radio. Hal ini memungkinkan tentara saling berbicara dari bawah tanah ketika mendekati pemimpin paling dicari itu.
Penyedia perangkat ini, Ultra Electron, juga memasok tentara AS dengan perangkat peledak khusus yang diberi nama MI-RAMS. Perangkat ini mampu memancarkan sinyal melalui batu atau bumi untuk meledakkan bom dari jarak jauh. Untuk itu, AS menghabiskan dana US$5,7 juta (Rp 48,8 miliar). [mor]
Sumber : INILAH.COM, Jakarta / Teknologi - Senin, 2 Mei 2011 | 12:30 WIB

Cari Blog Ini