Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.
Tampilkan postingan dengan label Inilah Dewan revolusi Islam.; Ba'asyir Ingin Bentuk Negara Sendiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inilah Dewan revolusi Islam.; Ba'asyir Ingin Bentuk Negara Sendiri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 September 2013

Ikhwanul Muslimin paksa umat Kristen Koptik masuk Islam



Reporter : Pandasurya Wijaya
Rabu, 11 September 2013 13:28:00
Ikhwanul Muslimin paksa umat Kristen Koptik masuk Islam
Kategori Dunia

Kristen Koptik Mesir. english.alarabiya.net
565


Ikhwanul Muslimin di Mesir dan para pendukungnya kini mulai memaksa sekitar 15 ribu penganut Kristen Koptik di Desa Dalga untuk membayar pajak jizyah seperti dinyatakan dalam Alquran.

Penulis dan penerjemah Raymond Ibrahim melaporkan kabar itu Ahad lalu, seperti dilansir surat kabar the Washington Times, Rabu (11/9).

Jizyah adalah uang yang harus dibayar umat non Muslim kepada penguasa Muslim untuk menjaga keberadaan mereka.

Menurut seorang warga bernama Yunis Shawqi kemarin di Dalga, semua umat Kristen Koptik itu desa itu dipaksa untuk membayar pajak tanpa kecuali.

"Jumlah yang harus dibayarkan berbeda-beda di tiap daerah di desa itu. Ada yang harus membayar sebesar Rp 225 ribu per hari, ada juga yang Rp 832 ribu per hari," kata Shawqi.

Dalam beberapa kejadian, warga yang tidak sanggup membayar diserang. Sebanyak 40 keluarga Kristen di Dalga kini mengungsi karena takut.

Senin, 31 Desember 2012

Teror : Mahasiswa Theologi Baptis Tewas Dibakar, 3 Pelaku Dibekuk

Semarang
Danar Widiyanto | Sabtu, 29 Desember 2012 | 05:41 WIB | Dibaca: 3944 | Komentar: 0
 
Ilustrasi. Foto: Dok
SEMARANG (KRjogja.com) - Kasus pembunuhan sadis terhadap Suparno (42) mahasiswa Sekolah Tinggi Theologi Baptis Indonesia (STBI)  Semarang yang mayatnya ditemukan  Kamis (23/12) malam lalu  di hutan daerah Jepara  telah terungkap dengan dibekuknya tiga pelaku.

Para pelaku dengan korban sudah saling kenal dibekuk tim khusus Polda Jateng, Jumat (28/12) di tempat berbeda daerah Jawa Tengah, yakni di Sragen dan Kudus. Mereka masing masing Amir Mahmud (29) warga Desa Ngaklingan, Gebog dan Sudarsono alias Sony (29) warga Desa Klumpit, Gebog, Kudus. Dan, satu pelaku lagi, Agus Suprapto (31) asal Dusun Semper Barat , Cililing, Jawa Barat diringkus  di Sragen.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jateng  Kombes Bambang Rudi Pratikyo, semalam mengatakan latar belakang karena dendam. Korban sebelum dibuang di hutan tidak cuma dihujani tusukan senjata tajam, tapi juga dibakar. Untuk menghilangkan jejak, ketiga pelaku membawa kabur motor korban agar oleh polisi dianggap korban merampokan.

Adapun, dendam kesumat yang melatar belangi pembunahan sadis itu gara-gara korban yang semasa hidupnya dengan para pelaku pernah sama-sama menekuni ajaran Islam telah beralih agama. Bahkan, Suparno kuliah lagi di perguruan tinggi theologi baptis di Semarang. Perubahan agama, itulah mendorong rekan-rekan lamanya jengkel hingga melakukan pembunuhan sadis tersebut. Ketiga tersangka kini ditahan di sel Polda Jateng Semarang. (Cry)
sumber :http://krjogja.com/read/156265/mahasiswa-theologi-baptis-tewas-dibakar-3-pelaku-dibekuk.kr

 

Rabu, 13 Juni 2012

Waspada Mulut manis,..demi tercapainya cita-cita tersembunyi...!!

Hidayat Siap Jadikan Jakarta sebagai Kota Relijius
| advertorial | Kamis, 14 Juni 2012 | 09:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Hidayat Nurwahid, calon gubernur DKI Jakarta yang merupakan alumnus pondok pesantren, sudah tidak asing lagi dengan acara-acara keagamaan. Tentu saja ia tak absen dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan jamaah Majelis Rasulullah yang dipimpin oleh Habib Mundzir Al Musawwa. Acara tersebut berlangsung di Masjid Al-Munawwar, Pancoran, Jakarta Selatan.

Dari keenam calon gubernur yang ikut berkompetisi dalam Pilkada DKI tahun ini, Hidayat merupakan satu-satunya kandidat berlatar belakang pesantren dan mengenyam pendidikan agama hingga tingkat doktoral. Bagi Hidayat, tugas gubernur DKI Jakarta tidak sekadar memimpin sebuah provinsi. Sebagai ibukota dari negara Indonesia, Jakarta harus bisa menjadi kota bertaraf internasional dengan citra yang baik.
Oleh karena itu, pemimpin Jakarta harus memiliki keteladanan dan mampu membangun martabat ibukota di mata dunia. Seperti yang diungkapkan oleh Hidayat, bahwa Jakarta butuh keteladanan pemimpin seperti Rasulullah SAW yang mengedepankan amanah, diterima oleh semua kalangan, tidak mudah emosi, merakyat dan punya integritas.
Calon gubernur yang diusung PKS ini yakin bahwa dengan mendirikan dan memakmurkan rumah ibadah, Jakarta bisa lebih kondusif. Salah satu upaya yang bisa mendorong hadirnya kemakmuran di rumah ibadah adalah dengan program memberi gaji kepada para pengurus masjid, gereja dan rumah ibadah lainnya.
Dengan APBD DKI Jakarta tahun 2012 sebesar Rp 36 triliun, yang nilainya cenderung bertambah setiap tahun dan pembiayaannya bersifat multiyears, Hidayat percaya bahwa program itu bisa terpenuhi apabila ia mendapat kepercayaan warga Jakarta untuk memimpin.
Mantan Ketua MPR ini juga menyayangkan perihal Jakarta yang masih belum memiliki masjid raya provinsi. Padahal, Semarang, Surbaya dan provinsi lainnya sudah memiliki masjid raya yang mewakili provinsi masing-masing. Karena itu, jika nanti terpilih sebagai gubernur, Hidayat berjanji akan mendirikan sebuah masjid raya provinsi sebagai gerbang ibukota dan simbol relijius Jakarta.
Saat ini, Jakarta memiliki 3.148 masjid, 5.648 mushola, 5.584 majelis taklim, 1.018 organisasi masyarakat dan 41 radio dakwah. Tercatat juga ada 1.904 dai atau muballigh dan 221 ulama. Sedangkan dalam segi pendidikan agama, terdapat 3.574 Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA), 460 Madrasah Ibtidaiyah dengan 5.443 guru, 229 Madrasah Tsanawiyah dengan 4.365 guru dan 82 Madrasah Aliyah dengan 1.636 guru.
Sumber :Kompas, 14 Juni 2012

Rabu, 06 Juni 2012

Pidato Hasyim Muzadi yang Menghebohkan Beredar Luas


Tribunnews.com
Pidato Hasyim Muzadi yang Menghebohkan Beredar Luas
Tribunnews.com - Senin, 4 Juni 2012 10:12 WIB
Pidato Hasyim Muzadi yang Menghebohkan Beredar Luas
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Sekjen International Conference for Islamic Scholars (ICIS), Hasyim Muzadi, berbicara pada dialog lintas agama RI-Ethiopia di kantor ICIS, Jakarta Pusat, Selasa (19/4/2011). Dialog ini membahas pengalaman Indonesia dan Ethiopia dalam mengatur keberagaman budaya dan agama di negara masing-masing untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis. 

TRIBUNNEWS.COM - Pidato mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH HAsyim Muzadi beredar luas melalui pesan berantai BlackBerry Messenger dan media sosial seperti Facebook dan blog.
Pidato yang heboh itu berisi pandangan mantan pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu mengenai sejumlah isu kontroversial seperti Ahmadiyah, toleransi antarumat beragama, Gereja Yasmin, Lady Gaga, Irshad Manji, dan perkawinan sejenis.
"Pidato itu beredar di seluruh jagad raya. Saya dapat (pesan berantai) dari mana-mana," kata Ali Mukhtar Ngabalin, Ketua Umum Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Senin (4/6/2012), kepada TRIBUNnews.com.
TRIBUNnews.com, yang menerima beberapa pesan berantai itu pagi ini, coba menelusuri di Google dengan kata kunci "pidato Hasyim Muzadi".
Beberapa halaman akun Facebook dan blog memuat pidato Hasyim tersebut, yang isinya persis sama dengan pesan berantai di BBM.
Hasyim Muzadi sendiri telah mengonfirmasikan isi pidato ini.
Berikut selengkapnya isi pesan BBM mengenai pidato Hasyim Muzadi:
KH. Hasyim Muzadi, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) & Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) & Mantan Ketum PBNU  ttg tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia oleh Sidang PBB di Jeneva :
"Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti krn laporan dr dlm negeri Indonesia. Slm berkeliling dunia, saya blm menemukan negara muslim mana pun yg setoleran Indonesia.
Klau yg dipakai ukuran adl masalah AHMADIYAH, memang krn Ahmadiyah menyimpang dr pokok ajaran Islam, namun sll menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tdk dipersoalkan oleh umat Islam.
Kalau yg jadi ukuran adl GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali kesana, namun tampaknya mereka tdk ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional & dunia utk kepentingan lain drpd masalahnya selesai.
Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adl lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tp di Kupang (Batuplat) pendirian masjid jg sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu mlkkan mediasi.
Kalau ukurannya LADY GAGA & IRSHAD MANJI, bangsa mana yg ingin tata nilainya dirusak, kecuali mrk yg ingn menjual bangsanya sendiri utk kebanggaan Intelektualisme Kosong ?
Kalau ukurannya HAM, lalu di iPapua knp TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tdk ada yg bicara HAM ?Indonesia lbh baik toleransinya dr Swiss yg sampai skrg tdk memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dr Perancis yg masih mempersoalkan Jilbab, lbh baik dr Denmark, Swedia dan Norwegia, yg tdk menghormati agama, krn disana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yg memperkenankan perkawinan sejenis ?!
Akhir'a kmbl kpd bngsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yg hrs sadar dan tegas, membedakan mana HAM yg benar (humanisme) dan mana yg sekedar Weternisme".
sumber: http://www.tribunnews.com/2012/06/04/pidato-hasyim-muzadi-yang-menghebohkan-beredar-luas

BACA JUGA

Menteri Agama Salahkan Ahmadiyah

Tribunnews.com - Jumat, 20 April 2012 21:35 WIB
Menteri Agama Salahkan Ahmadiyah
Tribunnews.com/Herudin
Suryadharma Ali Menteri Agama RI

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA-- Menteri Agama Suryadharma Ali menuding jemaah Ahmadiyah tak tunduk pada aturan aturan daerah sehingga ada sekelompok masyarakat yang melakukan penyerangan dan pengrusakan terhadap masjid jamaah Ahmadiyah Baitulrahim di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (20/4/2012) sekitar pukul 10.00 WIB.
Suryadharma meminta jemaah Ahmadiyah mematuhi aturan daerah. "Mungkin saja ada kondisi yang tidak tepat di sana," kata Suryadharma, yang juga Ketua Umum PPP kepada para wartawan di halaman Istana Negara, seperti dikutip dari Kompas.com.
"Kepada Ahmadiyah, harus tunduk kepada peraturan daerah dan kami meminta agar kegiatan dihentikan. Dan yang namanya proses pelurusan ajaran dilakukan, begitu. Itu himbauan saya kepada Ahmadiyah untuk menaati aturan-aturan yang ada," katanya lagi.
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menyatakan mengalami kesulitan menertibkan aktivitas peribadatan jamaah Ahmadiyah sebagai tindak lanjut adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri.
"Ini tidak bisa diselesaikan urusan daerah, ini harus ada upaya lain secara politis atau apa, tidak hanya mengandalkan SKB menteri," kata Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat, Iwan Setiawan.
Aksi anarkis itu disinyalir kekecewaan kelompok masyarakat terhadap keberadaan Ahmadiyah yang masih melakukan aktivitas peribadatannya di darah tersebut.
Adanya tindakan anarkis itu, menurut Iwan tidak seharusnya terjadi, karena dalam penanganan jamaah Ahmadiyah sebelumnya di Tasikmalaya dapat diselesaikan dengan baik.
"Diharapkan kit

SBY Janji Segera Selesaikan Masalah GKI Yasmin

Tribunnews.com - Rabu, 15 Februari 2012 16:32 WIB
+  
SBY Janji Segera Selesaikan Masalah GKI Yasmin
Kurnia Prastowo Ad/Tribun Jambi/Kurnia Prastowo Adi
Presiden SBY meninjau Pameran Pers dan Jambi Expo 2012 di Eks Arena MTQ, Kota Jambi, Kamis (9/2/2012). (Tribun Jambi/ Kurnia Prastowo Adi) 
Laporan Wartawan Tribunnews.com Andri Malau
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali menanggapi masalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, Bogor, Jawa Barat. Berbeda lokasi, kali ini SBY membeberkan masalah GKI Yasmin di hadapan 128 duta besar asing dan perwakilan organisasi dunia di Kementerian Luar Negeri RI.
"Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama bisa diselesaikan. Saya sudah mendorong walikota (Bogor), Gubernur (Jawa Barat), masyarakat lokal untuk menemukan solusi dengan bantuan pemerintah pusat," kata Presiden Yudhoyono di Jakarta, Rabu (15/2/2012).
Menurutnya, saat ini yang terpenting untuk jemaat GKI Yasmin adalah menjalankan ibadah dengan tenang dan damai di Bogor."Kami akan terus memastikan ini semua karena sekali lagi setiap warga negara Indonesia memiliki hak untuk menjalankan, memeluk agamanya. Siapapun, apa yang Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, yang menurut saya mendapatkan perlindungan dari konstitusi kami," ujarnya.
SBY menjelaskan, kasus GKI Yasmin bermula pada masalah perizinan dan hubungan dengan masyarakat lokal sejak 2002 lalu. Namun hingga kini masalah tersebut terus berlanjut lantaran tidak ada kesepahaman. Pemerintah pun berencana masalah GKI Yasmin hingga tuntas.
"Kita bisa menyelesaikan masalah Ambon, Poso, dan masalah lain-lain. Pendekatan hukum semata kadang-kadang tidak bisa dengan efektif mengakhiri benturan. Tetapi dengan pendekatan tambahan itu justru lebih cepat dan lebih bisa permanen untuk menyelesaikan konflik horisontal itu," sergahnya.

Penulis: Srihandriatmo Malau  |  Editor: Ade Mayasanto
a bisa kumpulkan di masjid Agung, seperti di Tenjowaringin, kita fasilitasi, agar bisa nyaman," kata Iwan.
Sementara LSM ELSAM dalam pernyuataannya menyatakan, peristiwa perusakan Masjid Baitul Rahim kembali menjadi bukti ketiadaan niat pemerintah, khususnya aparat kepolisian melindungi kaum minoritas, dalam hal ini Ahmadiyah. Demonstrasi kekerasan ini sebagaimana dilaporkan oleh beberapa sumber dilapangan dilakukan oleh sekelompok massa yang membawa atribut FPI dan dilakukan dihadapan aparat kepolisian yang tidak mengambil tindakan apa-apa terhadapnya.
"Peristiwa ini jelas merupakan ancaman serius terhadap Hak Asasi Manusia yang merupakan hak konstitusional warga," unkap ElSAM dalam pernyataannya.

Editor: Rachmat Hidayat  |  Sumber: Kompas.com
 Berita Terkaiat :
 

Kamis, 17 Mei 2012

Bhineka : Kemerdekaan Beribadat Terampas

Kemerdekaan Beribadat Terampas
Selasa, 8 Mei 2012 | 14:29
Belum lagi persoalan perizinan GKI Yasmin, Bogor, Jawa Barat, tuntas, sejumlah persoalan kerukunan hidup antarumat beragama bermunculan, bahkan semakin mengkhawatirkan. Persoalan intoleransi yang muncul selama era reformasi dan tak pernah sungguh-sungguh diselesaikan membuktikan pemerintah tak sanggup melindungi warganya. Bila sudah begini, tak salah bila belakangan muncul pengharapan akan hadirnya pemimpin bangsa yang tegas dan kuat, sehingga mampu melindungi seluruh warga bangsa, khususnya kaum minoritas.  

Setelah kasus GKI Yasmin yang tak terselesaikan selama lebih dari empat tahun, jemaat Filadelfia, Bekasi, Jawa Barat, pun mengalami nasib serupa. Ritual ibadat mereka pada Minggu (6/5) terpaksa dihentikan karena ancaman massa yang intoleran. Aparat Kepolisian tak sanggup bertindak tegas dan terkesan membiarkan massa bertindak sesukanya. Wibawa pengayom dan pelindung masyarakat itu pun luntur seketika, berganti menjadi alat bagi kelompok tertentu. Alasan bahwa aparat tak bisa bertindak tegas di tengah emosi massa seolah menjadi pembenar atas tak hadirnya tangan-tangan negara untuk melindungi warganya.  

Tak hanya menyangkut aktivitas massa yang kita duga digerakkan pihak-pihak tertentu, intoleransi juga ditunjukkan beberapa kepala daerah. Wali Kota Bogor, Diani Budiarto, merupakan saksi hidup dalam kasus GKI Yasmin. Ketidakmampuan pemerintah pusat dan elite parpol “menundukkan” si wali kota membuat kepala daerah di wilayah lain pun berulah serupa. Berdasarkan informasi beberapa aktivis pendukung pluralitas, di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh, gereja Katolik Napagaluh disegel bupati setempat.  

Gereja Katolik St Ignatius di Pasir Pagarayan, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, yang sedang dibangun dan memiliki izin mendirikan bangunan (IMB), juga tiba-tiba dihentikan bupati setempat.  

Tak hanya itu, jemaah Ahmadiyah hingga kini masih terus diusik kelompok tertentu. Kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya pun terampas!   Bagi kita, setidaknya ada tiga sumber persoalan yang membuat kebebasan beragama di negeri Pancasila belakangan semakin tercabik.

Pertama
, kehadiran kelompok-kelompok masyarakat dan organisasi massa (ormas) yang intoleran. Sebetulnya kelompok-kelompok ini sudah teridentifikasi dan kerap melakukan tindakan polisional terhadap kelompok umat beragama minoritas. Sayangnya, aparat tak pernah tegas menindak mereka, bahkan terkesan membiarkannya.

Kedua, terkait hal itu, aparat Kepolisian sesungguhnya menjadi salah satu sumber persoalan. Keengganan aparat menindak tegas dan membawa kasus-kasus penyerangan terhadap umat beragama tertentu ke meja hijau, membuat pelaku seolah mendapat dukungan. Penegakan hukum yang lemah menjadi biang kerok terkoyaknya kebebasan beragama.

Ketiga,
faktor kepala daerah yang juga intoleran. Sejumlah kasus membuktikan kepala daerah menjadi aktor utama pelanggaran hak-hak warga negara untuk beribadah.  

Bertolak dari ketiga persoalan itu, kita mendesak pemerintah pusat, khususnya Presiden SBY sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, segera mengambil kebijakan tegas untuk menjamin kebebasan beragama. Presiden juga bisa memerintahkan Kapolri dan jajarannya menindak tegas semua pelaku aksi intoleran. Kita yakin aparat Kepolisian mampu bertindak tegas di lapangan untuk menjamin kebebasan beragama, asal diperintahkan langsung oleh atasannya.  

Sejalan dengan itu, kita mendorong Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) untuk menginventarisasi ormas-ormas yang selama ini kerap terlibat aksi-aksi intoleran. Bila akhirnya terbukti, ormas tersebut harus dibubarkan dan pimpinannya wajib mempertanggungjawabkan semua perilaku organisasi selama ini di pengadilan.  

Selain itu, pemerintah dan DPR juga harus memperketat syarat pendirian ormas, termasuk mengevaluasi keberadaan semua ormas, terkait rencana revisi UU 8/1985 tentang Organisasi Massa. Dalam revisi UU tersebut hendaknya dicantumkan kewenangan pemerintah membekukan ormas yang mencederai empat pilar bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.  

Sedangkan bagi kepala daerah yang intoleran, kita mengingatkan sumpah jabatan yang mereka ucapkan saat pelantikan. “Demi Allah (Tuhan), saya bersumpah/berjanji akan memenuhi kewajiban saya sebagai kepala daerah/wakil kepala daerah dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada masyarakat, nusa, danbangsa.”  

Kepala daerah yang bertindak semena-mena terhadap umat beragama minoritas jelas melanggar sumpah jabatannya. DPRD setempat bisa memproses pemberhentian kepala daerah yang melanggar sumpah. Preseden kepala daerah yang diberhentikan karena melanggar sumpah diharapkan bisa memberi efek jera terhadap koleganya yang ingin melakukan tindakan serupa.  

Sudah terlalu lama para pemimpin negeri ini, termasuk aparat Kepolisian, membiarkan kemerdekaan beribadat sebagian warga negara dirampas oleh sekelompok orang, ormas, dan juga kepala daerah. Semua itu harus segera dihentikan melalui penegakan hukum yang konsisten!   Sumber :  http://www.suarapembaruan.com/tajukrencana/kemerdekaan-beribadat-terampas/19936

Selasa, 12 Juli 2011

NII Menyuruh Saya Mencuri

True Story

NII Menyuruh Saya Mencuri

Icha Rastika
nii

KOMPAS.com - Penjelasan yang diajukan kepala negara mengenai konsep negara dalam negara membuat saya bingung. Tak ada satu pun penjelasan yang meyakinkan. Saya terus mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Diskusi saya dan kepala negara itu berlangsung berjam-jam. Kepala negara itu tampak lelah meladeni kebawelan saya. Ia lantas menanyakan kesediaan saya untuk bergabung.
Ia menjelaskan, sebelum bergabung, seorang calon warga negara harus memberikan sumbangan dana kepada negara. Seingat saya, jumlahnya mencapai Rp 2 juta. Namun, saat saya katakan bahwa saya tidak punya uang sejumlah itu, dia menurunkan harga. Bahkan boleh dicicil beberapa kali dalam jangka waktu tiga bulan.
Tetap saja saya enggan dan mengaku tidak punya uang. "Uang dari mana? Saya kan mahasiswa, belum kerja juga," kata saya.
Lantas ia mulai menjelaskan dengan dalil-dali Al Quran yang diinterpretasikannya berbeda tentang mengambil harta orang lain. Ia bilang, ambillah harta dari orangtuamu, saudaramu, orang dekatmu, atau orang lain.
Rupanya mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang yang akan diberikan kepada negara. Mereka menilai, orang-orang selain anggota NII adalah kafir sehingga tidak jadi masalah jika harta mereka dirampas. Mendengar adanya iuran, saya makin yakin bahwa ajakan NII ini tidak beres.
Oh, ternyata ujung-ujungnya uang toh, batin saya. Saya berpikir jangan-jangan ini adalah modus baru kejahatan penipuan. Akhirnya, ketika sang kepala negara kembali menanyakan niat bergabung atau tidak, saya menjawab tidak. "Kalau ujung-ujungnya uang, saya enggak mau. Dan, aneh ada negara di dalam negara," kata saya.
Akhirnya sang kepala negara itu menyudahi diskusi kami. Ia beranjak ke luar ruangan. Setelah itu, teman lelaki Dewi yang mengantar saya ke ruangan, masuk kamar, mengantarkan saya kembali ke ruang tamu. Di ruang tamu, Dewi sudah menunggu. Ia mengaku diajak bicara dengan kepala negara lain di kamar yang satunya.
Di ruang tamu, teman lelaki Dewi kembali bertanya, "Bagaimana? Sudah paham?". Saya jawab akan pikir-pikir. "Habis ujung-ujungnya uang," kata saya.
Kemudian kami dipersilakan pulang. Di perjalanan pulang, Dewi juga bercerita bahwa ia merasa ragu dengan adanya iuran yang diwajibkan. Namun, kata Dewi, teman lelakinya itu kembali mengajak dia dan saya untuk mengikuti pertemuan akbar di Balairung UI, Depok, beberapa hari kemudian. Saya tidak merespons positif ajakan itu. Cukup sampai di sini saya mengikuti rasa penasaran ini.
Sesampainya di rumah, saya menceritakan pertemuan itu kepada orangtua dan kawan-kawan saya. Sejumlah teman mengatakan kepada saya bahwa itu adalah gerakan NII yang biasa merekrut mahasiswa di kampus-kampus. Teman-teman saya menyarankan untuk melaporkan ke polisi.
Besoknya, Dewi menelpon saya. Ia kembali mengajak saya mengikuti pertemuan di Balairung. Saya beralasan dilarang oleh orangtua. Dia tak menyerah. Bahkan, dia bersedia mendatangi rumah saya, meminta izin kepada orangtua saya agar memperbolehkan saya ikut pertemuan. Ajakannya itu saya tolak. Saya malah menyampaikan rencana saya untuk melaporkan NII ke polisi kepada Dewi.
Dewi hanya "iya-iya saja". Setelah itu, Dewi tidak lagi menghubungi saya. Aneh memang, padahal sebelumnya ia membujuk saya untuk ikut pertemuan di Balairung UI. Nomor teleponnya kemudian tidak dapat dihubungi.
Selesai

Sumber : http://lipsus.kompas.com/nii

Kamis, 09 Juni 2011

Murid SMP Al Irsyad Dilarang Hormati Bendera Merah Putih


Berita terkait
TEMPO Interaktif, Surakarta - Murid-murid di Sekolah Menengah Pertama Al-Irsyad di Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, dilarang menghormat bendera merah putih saat upacara bendera. Mereka menganggap menghormati bendera merah putih tidak sesuai syariat Islam.

Salah seorang murid, Danang Purwanto, 15 tahun, mengaku sudah dua tahun ini para murid tidak pernah sekali pun menghormati bendera merah putih. "Tidak boleh sama guru," katanya ketika ditemui Tempo seusai sekolah, Kamis, 9 Juni 2011.

Hal serupa juga diungkapkan murid lain, Musthofa, yang saat ini duduk di kelas 1 SMP Al Irsyad. Menurut dia, setiap Senin, murid berkumpul lalu guru mengisi tausiyah atau nasihat yang diakhiri dengan doa.

Soal pelajaran Kewarganegaraan, kedua murid itu kompak mengatakan pelajaran itu diajarkan di sekolahnya. Namun, saat diminta untuk melafalkan Pancasila, keduanya menggelengkan kepala tanda tidak hafal.

Kepala Sekolah Al Irsyad, Sutardi, sendiri enggan berkomentar banyak. Dia hanya memberikan surat pernyataan bermaterai yang berisi lima poin. Surat itu di antaranya berisi kesepakatan yang menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati. Selain itu, juga disepakati siswa diajarkan menghormati bendera merah putih sesuai keyakinan.

Sementara itu, hari ini tim dari Kementerian Agama Karanganyar mendatangi Al Irsyad untuk berdialog dengan Ketua Yayasan Al Irsyad, Sutardi. Tim dipimpin oleh Kepala Kementerian Agama Karanganyar, Juhdi Amin, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Karanganyar, Zainuddin. Seusai dialog, Juhdi mengatakan belum ada titik temu dengan Al Irsyad. "Masih belum ada kesamaan persepsi," katanya.

Penyuluh Agama Islam Kemenag Karanganyar, Zuhaid, menyebutkan bahwa Sutardi berpegang pada Lajnah Daimah dari Arab Saudi. "Dia juga mengaku sudah mendapat dukungan dari tokoh agama di Dewan Dakwah Islam Indonesia," katanya.

UKKY PRIMARTANTYO
Sumber: Tempointeraktif/Kamis, 09 Juni 2011 | 18:04 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/jogja/2011/06/09/brk,20110609-339713,id.html

BERITA TERKAIT :

Bibit: Tindak Tegas Sekolah yang Menolak Menghormat Bendera

TEMPO Interaktif, Semarang - Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo meminta agar sekolah yang menolak menghormat bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya ditindak tegas. Penegasan ini disampaikan menyusul polemik soal adanya sekolah di Karangnayar yang tak mau melakukan hormat terhadap bendera Indonesia merah putih.

"Kalau hidup di Indonesia bukan seperti itu caranya, apalagi ini dilakukan guru yang seharusnya digugu dan ditiru," kata Bibit di Semarang, Kamis, 9 Juni 2011.

Penolakan melakukan penghormatan terhadap bendera Merah Putih dilakukan SMP Al Irsyad dan Sekolah Dasar Albani, Karanganyar.

Mantan Panglima Komado Strategis Angkatan Darat ini menegaskan bahwa sebagai warga Indonesia seharusnya mereka menghormatu simbol-simbol kenegaraan. Tidak hanya bendera Merah Putih tapi juga Pancasila serta simbol lainnya. "Kita ini hidup dan mati untuk Indonesia, jangan meniru di mana-mana," ujarnya.

Bibit menilai, apa yang dilakukan guru di Karanganyar itu amat tidak mendidik. "Hal-hal semacam ini jangan sampai ditumbuhkembangkan," katanya.

ROFIUDDI
Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/jogja/2011/06/09/brk,20110609-339733,id.html

Kamis, 19 Mei 2011

Bom Cirebon Polri Minta Ulama Ikut Meluruskan

Bom Cirebon
Polri Minta Ulama Ikut Meluruskan
Sandro Gatra | Benny N Joewono | Kamis, 19 Mei 2011 | 21:39 WIB


Dibaca: 255

TRIBUN NEWS/FX ISMANTO
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam menunjukkan foto wajah M Syarif, pelaku bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon, Sabtu (16/4/2011) di Jakarta.

TERKAIT:
CIREBON, KOMPAS.com — Polri meminta kepada para ulama untuk membantu meluruskan pemahaman yang dianut oleh kelompok teroris kepada masyarakat. Pemahaman yang diyakini oleh para teroris dinilai menyesatkan.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengatakan, pemahaman yang menyesatkan seperti tentang masjid dhiror atau masjid yang dibangun oleh orang-orang yang tidak berdasarkan pada hukum Allah. Masjid Adz-Dzikro di Markas Polres Kota Cirebon adalah salah satu yang dinilai masjid dhiror.
Pemahaman sesat lain, lanjut Anton, yakni memerangi orang kafir, termasuk aparat pemerintah. Polisi disebut sebagai thogut atau tentara setan oleh para teroris. Selain itu, pemahaman tentang fa'i atau perampokan untuk mendukung pendanaan kegiatan jihad.
"Itu doktrin yang sangat menyesatkan, berbahaya. Doktin-doktrin seperti itu supaya dapat penjelasan dari alim ulama supaya tidak salah kaprah," ucap Anton saat jumpa pers di Mapolresta Cirebon, Kamis (19/5/2011).
Seperti diberitakan, Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Ba'asyir sering dikaitkan dengan penyebaran paham-paham Islam radikal. Terakhir, JAT dikaitkan dengan aksi radikal bom bunuh diri yang dilakukan oleh M Syarif di Cirebon.
Menurut Polri, Syarif bergabung dengan JAT wilayah Cirebon setelah dibaiat oleh Ba'asyir di Tasikmalaya tahun 2008. Setelah itu, Syarif kerap mengikuti pengajian yang diisi oleh Ba'asyir. Syarif juga mendapat doktrin radikal dari Agung Nur Alam alias Abu Husama selaku Amir JAT Cirebon.
Pemahaman menyesatkan juga terjadi dalam kasus pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh, pada Februari 2010 (disebut i'dad) serta dua perampokan di wilayah Medan, Sumatera Utara, yakni di Bank CIMB Niaga dan warnet New Net (disebut fa'i).

Sumber : KOMPAS.com./Kamis, 19 Mei 2011 | 21:39 WIB

Senin, 16 Mei 2011

Anarkis : Perayaan Paskah di Cirebon Dibubarkan Paksa Kelompok Gatas

Perayaan Paskah di Cirebon Dibubarkan Paksa Kelompok Gatas


TEMPO Interaktif, Cirebon -Acara ucap syukur sekaligus perayaan Paskah di Cirebon dibubarkan paksa sekelompok orang yang menamakan diri Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (Gapas) Senin 16 Mei 2011. Perayaan yang dilakukan di Gedung Gratia Cirebon itu diikuti sekitar 6.000 jamaah yang sebagian besar terdiri dari anak usia SD hingga SMA.
Namun sekitar pukul 18. 15 WIB ormas Gapas yang terdiri sekitar 20 orang dipimpin Andi Mulya mendatangi gedung tersebut. Mereka pun langsung menghardik panitia penyelenggara dan mengatakan jika kebaktian di gedung Gratia tersebut tidak memiliki izin.
Namun saat seorang panitia, Stefanus, memberitahu jika mereka sudah memberitahukan acara tersebut ke polisi, akhirnya Andi Mulya pun menelpon polisi dan meminta agar acara tersebut dibubarkan.

Polisi yang datang ke lokasi setelah melakukan dialog akhirnya meminta agar perayaan tersebut bubar untuk keamanan. "Ini ada apa? Kok bisa banyak polisi ya?" tanya Hermanus, 8, seorang peserta yang ikut perayaan paskah bersama tersebut dengan wajah bingung.

Stefanus menjelaskan jika pihaknya sudah memberitahukan ke polisi tentang acara yang mereka lakukan malam ini. "Ini bukan kebaktian. Tapi perayaan dan ucap syukur kita kepada Tuhan. Jadi mohon dibedakan antara perayaan dan kebaktian," katanya. Acara ini wujud ucap syukur ujian nasional telah berakhir. Ketua Gapas, Andi Mulya, berkeras jika yang dilakukan malam ini merupakan kebaktian. "Masa kebaktian tidak ada izinnya?" tanyanya.

Sedangkan Kapolres Cirebon Kota, AKBP Asep Edi Suhaeri yang datang ke lokasi mengakui jika panitia sudah memberitahukan pelaksanaan acara tersebut kepada polisi. "Mereka sudah mengirimkan surat pemberitahuan," katanya. Namun, kata dia, demi menjaga suasana daerah, akhirnya acara itu pun dibubarkan.

IVANSYAH
sumber : TEMPO Interaktif, Cirebon/ Senin, 16 Mei 2011 | 21:08 WIB

Teroris : Di Balik Jihad Ada Politik, Sebuah Disertasi

REPUBLIKA.CO.ID,AMSTERDAM--"Radikalisasi di Indonesia Tumbuh dari Kemarahan dan Instabilitas Politik." Itulah judul artikel di koran Belanda NRC Handelsblad.Sejarah kehidupan 10 orang muslim radikal yang mendekam di penjara membuahkan sebuah disertasi yang luar biasa mengenai Islam radikal di Indonesia. Jumat ini Mohammad Najib Azca, seorang antropolog asal Indonesia, akan mempertahankan disertasinya yang berjudul After Jihad - A Biographical Approach to Passionate Politics in Indonesia, di Universitas Amsterdam.
Dalam bukunya ia merekonstruksi sejarah kehidupan 10 pemuda Indonesia yang antara tahun 1998 hingga 2000 menjadi pengikut jihad untuk berjuang dalam "perang suci" antara muslim dan kristen di Sulawesi dan Ambon. Bagaimana pilihan untuk menjadi jihadis mengubah total kehidupan mereka.
"Azca memisahkan antara ketaatan politik dan aktivitas jihadis. Aktivis yang taat biasanya mencoba mengajarkan pada orang bagaimana menjadi seseorang yang bertanggung jawab moral. Sementara aktivis islam politik memperjuangkan agar hukum syariah dilaksanakan. Dan itu bisa dilakukan sesuai jalur hukum atau dengan kekerasan. Sementara Jihadis, mendasari tindakan pada penjelasan ayat-ayat Al-Quran. Menurut mereka adalah kewajiban setiap muslim untuk memberantas kaum kafir," tulis NRC Handelsblad.
Menurut Najib Azca, emosi juga memainkan peranan penting. Menurutnya selama ini orang berpikir bahwa para aktivis itu orang-orang yang rasional. Tetapi para informannya justru menjadi jihadis melalui proses kognitif dan sejumlah "kejutan moral." Ketika pecah insiden SARA tahun 1998 di Indonesia Timur di mana sejumlah besar muslim dibunuh di Poso dan Tobelo, banyak foto para korban muslim beredar di Jawa. Itu salah satu alasan mengapa banyak orang memutuskan untuk menjadi jihadis.
Ditambahkan, ketika itu Soeharto baru saja dipaksa mundur sebagai presiden. Indonesia mengalami masa perpindahan dari negara otoriter menjadi bentuk yang lain. Banyak politisi dan militer yang mencoba menarik keuntungan dari situasi tidak jelas tersebut. Terjadi banyak insiden antar suku dan agama. Ditambah lagi muslim radikal mulai turun ke jalan mencari dukungan untuk negara Islam di Indonesia.
Keputusan untuk ikut ambil bagian dalam perang jihad, biasanya disebabkan krisis identitas yang dialami sebagian besar para informan. Mereka kebanyakan para mahasiswa dari desa yang merasa tidak dianggap serius di kota. "Jihad adalah sebuah 'usaha untuk mendapatkan identitas' yang harus memecahkan krisis tersebut," demikian Najib Azca.
NRC melanjutkan, sekarang 10 tahun sesudahnya sebagian besar para jihadis ini telah ditangkap atau buron. Tapi para aktivis Islam yang taat masih tetap aktif. Mereka misalnya berkampanye mendukung UU anti-pornografi yang lebih ketat. Sementara sebagian aktivis Islam politik sekarang duduk di DPR.
Najib Azca mengambil contoh PKS. Dengan 7,8% suara, PKS menjadi partai islam terbesar di Indonesia. Partai ini belum melepaskan ideal untuk mengubah Indonesia menjadi negara Islam, tapi lewat jalan demokrasi. 
Ditambahkan ada kemungkinan PKS menjadi lebih moderat. "Lihat saja kongres terakhir mereka dilangsungkan di hotel Amerika berbintang lima. Selain itu banyak dubes asing yang juga diundang," ujar Azca. Demikian NRC Handelsblad.
Sumber: REPUBLIKA.CO.ID /Senin 16 Mei 2011

Sabtu, 14 Mei 2011

NII : Pemerintah Diminta Ungkap Beking Gerakan NII


Pemerintah Diminta Ungkap Beking Gerakan NII  

Ilustrasi NII menyusup dalam birokrasi. TEMPO/Adi Prasetya Gilang
TEMPO Interaktif, Jakarta - Sejarawan Asvi Warman Adam mendesak pemerintah bertindak cepat dan tegas dalam penanganan gerakan Nasional Islam Indonesia (NII) yang sudah meresahkan masyarakat. “Negara tidak usah takut terhadap pihak-pihak yang merugikan masyarakat,” kata Asvi seusai dialog tentang RUU Intelijen, Ancaman Bagi Demokrasi dan Penegakan HAM di Indonesia, di Jakarta, Rabu, 11 Mei 2011.

Menurut Asvi, gerakan NII terbukti membahayakan. Mereka sengaja mencuci otak para pengikutnya yang bertujuan mendirikan negara Islam. Ratusan ribu warga negara telah menjadi korban, namun sayangnya pemerintah lamban menangani hal itu.
Ia juga meminta agar isu gerakan NII ini jangan sampai mengalihkan perhatian masyarakat. “Ada pandangan agar diselesaikan secara diam-diam. Saya tidak setuju itu,” kata Asvi. “Ungkap tuntas siapa di belakangnya."

Pemerintah juga diminta segera menggelar pemeriksaan terhadap Pondok Pesantren Al-Zaytun yang diduga sebagai pusat gerakan tersebut. Asvi juga meminta pemerintah bersikap tegas terhadap mereka yang diduga membekingi lembaga itu. “Dengan tuduhan penipuan sudah bisa diperiksa,” ujarnya.

Isu soal gerakan NII kembali marak belakangan ini. Gerakan tersebut diduga terus melancarkan rekrutmen anggota baru. Beragam lapisan masyarakat telah menjadi pengikut. Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam menyatakan anggota gerakan NII sudah mencapai 500 ribu jiwa dan tersebar di 28 provinsi di Indonesia dengan perangkat struktur pemerintahan yang lengkap, mulai gubernur hingga lembaga pemerintahan tingkat desa. Belakangan, gerakan ini dianggap semakin menghawatirkan karena ternyata sudah merasuki ranah birokrasi hingga partai politik.

JAYADI SUPRIADINSumber ; Tempo Interaktif/Rabu, 11 Mei 2011 | 16:45 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/05/11/brk,20110511-333851,id.html

Selasa, 10 Mei 2011

Wawancara : Komjen Nanan Soekarna: Panji Gumilang Diproses Hukum Bila Bukti Sudah Mencukupi


Senin, 09 Mei 2011 , 07:15:00 WIB

KOMJEN NANAN SOEKARNA
  
RMOL. Wakil Kepala Polri, Komjen Nanan Soekarna mengatakan, pihaknya tidak memberikan perlindungan kepada pimpinan pondok pesantren Al-Zaytun, Panji Gumilang.

Kepolisian, lanjut Nanan, bertindak tegas terhadap siapa saja bila terbukti melakukan tindakan makar, termasuk dengan pimpinan Negara Islam Indo­nesia.

“Kami tidak menutup-nutupi kasus NII. Kalau nanti kami sudah mengantongi bukti-bukti terkait kasus tersebut, tentu di­pro­ses secara hukum. Tidak ada per­lindungan kepada Panji Gumi­lang,’’ ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, NII KW9 telah melakukan penculi­kan dan cuci otak terhadap be­be­rapa orang, terutama setelah men­cuatnya kasus penculikan ter­hadap Laela Febriani alias Lian. Jaringan ini melakukan rekrut­men dengan modus peng­gala­ngan dana untuk menghidupi jaringan mereka.

“Jaringan NII KW9 melakukan penggalangan dana besar-besaran karena bermula terlilit utang cu­kup besar yakni Rp50 miliar pada sebuah bank pada 2004,” kata Sholahuddin yang meru­pakan peneliti sejarah Daruul Islam.

Nama Panji Gumilang pun disebut-sebut sebagai pimpinan NII KW9 dan juga sebagai pim­pi­nan pondok pesantren Al-Zaytun. Panji Gumilang me­nyang­kal keterlibatan dirinya da­lam organisasi tersebut. Namun bekas pentolan Darul Islam/NII Al Chaidar menya­kinkan bahwa Panji Gumilang adalah Abu Toto, pimpinan NII KW9.

Berikut kutipan wawancara dengan Nanan Soekarna:

Bagaimana laporan NII Cri­sis Center tentang ada 2 orang yang hilang?
Semua ada prosedurnya. Mo­hon maaf saya tidak bisa menja­wab detail. Tapi kalau ada kom­plain tentang penanganan, mohon informasikan kepada kita. Pada prinsipnya kami ingin segera me­nangani. Secara hukum mungkin sulit ditindak, tapi secara politik dan keamanan semua mesti alert.  Informasikan itu agar polisi cu­kup bukti dan unsur pidana, se­hingga kami akan menindaknya.

Apa ada pengaruh pengama­nan setelah meninggalnya Osama Bin Laden?
Meninggal atau tidak me­ning­gal­­nya Osama, aparat kepo­lisian tetap waspada terha­dap ancaman teror. Jajaran kepolisian dan yang lain sudah menjadi satu bagian dalam melakukan tinda­kan pe­nga­manan.

Bagaimana dengan penga­ma­nan ASEAN Summit, apa ti­dak khawatir terjadi balas den­dam atas tewasnya Osama?
Kami sudah melakukan chec­king terakhir bersama Wa­pres untuk pengamanan, penyeleng­ga­raan maupun kenyamanan pe­serta. Walaupun kami sudah siap, kami mohon  informasi bila ada yang mencurigakan, se­hingga segala sesuatunya bisa dicegah. Ini demi wajah Indone­sia di de­pan ASEAN dan dunia bisa tampil dengan baik. Ini pertaru­han kalau terjadi apa-apa. Sebab, akan me­rusak citra Indonesia.

Apa antisipasi bila terjadi teror?
Semua aspek yang memung­kinkan untuk mengganggu penga­­manan, keamanan, dan kenyama­nan sudah kami antisi­pasi. Namun demikian meminta masukan dari masyarakat, se­hingga kami bisa lebih alert. Ini demi wajah kita di hadapan ASEAN dan dunia bahwa kita berhasil menyelengga­rakan event yang besar.

Titik-titik mana saja yang di­persiapkan untuk diamankan?
Semua titik sudah kami siap­kan agar kondisi tetap kondusif. Kami sudah mempersiapkan per­sonil di semua titik tersebut. Tujuh ribu anggota sudah kami siagakan yang terdiri dari unsur Kepolisian dan TNI. Kami sudah siapkan, kapan polisi di ring 1, kapan di ring 2 maupun di ring 3. Artinya, kami secara bersama melakukan pengamanan, hingga mengatur kapan beralih peran di tiap ring tersebut.

Apa benar Jakarta dalam status Siaga I?
Yang siaga itu kami dan TNI. Sedangkan teman-teman yang lain santai saja. Tidak ada yang dikhawatirkan. Artinya kami siap mengamankan pelaksanaan KTT ini. Tapi siapa tahu ada di luar kendali kami, teman-teman dan rekan semua tolong memberikan informasi, jangan diumpetin.

Kabarnya ada mobil tak ber­tuan di pintu 1 Senayan?
Itu adalah skenario latihan saja. Kita mengecek sejauhmana ke­waspadaan dari semua petugas agar bisa menemukan benda men­­curigakan. Selain itu, kami ingin melihat sejauh mana para petugas bisa mengantisipasi an­caman dan teror yang terjadi menjelang event akbar ini.

Bagaimana pengamanan radikalisme di kampus?
Polisi siap masuk kampus untuk mendeteksi upaya-upaya radikalisasi yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Re­publik Indonesia (NKRI). Jika upaya radikalisasi tersebut sudah benar-benar mengarah pada tin­dakan makar, aparat kepolisian siap melakukan penangkapan. NKRI itu harga mati, tidak boleh dikalahkan dengan upaya radi­kalisme.

Bukannya itu menghambat ke­bebasan ekspresi maha­siswa?
Tentunya polisi tidak akan bertindak gegabah menyikapi potensi-potensi penghancuran NKRI. Upaya polisi untuk me­nga­­wasi dunia kampus itu bukan suatu bentuk pelanggaran. Se­lama ini polisi terus memantau kampus termasuk untuk men­cegah tindak kriminal. Kita kan wajib mengawasi untuk jaga-jaga ada pencurian mobil atau motor, misalnya. Apa itu salah.

Bagaimana dengan RUU Intelijen?
Pencegahan dari aparat ke­polisian tersebut bisa benar-benar dijalankan ketika RUU Intelijen yang sekarang dibahas di DPR bisa segera dituntaskan. Intinya polisi itu menangkap yang ber­buat kejahatan.   [RM]
sumber: RMOL/ Senin, 09 Mei 2011

Kamis, 05 Mei 2011

HTI Tolak RUU Intelijen


K17-11 | Agus Mulyadi | Kamis, 5 Mei 2011 | 22:34 WIB

Dibaca: 420



KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Massa HTI, Senin (16/2), berunjuk rasa di depan Kedubes AS untuk menolak rencana kunjungan Menlu AS Hillary Clinton ke Jakarta.

BANGKALAN, KOMPAS.com — Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, menolak rancangan undang-undang (RUU) intelijen yang sedang dibahas di DPR. RUU itu dinilai mengandung pasal-pasal yang bisa melahirkan kembali rezim represif, seperti pada masa Orde Baru.

Juru bicara HTI Bangkalan, Muhajir, menuturkan, Pasal 31 dalam RUU intelijen menyebutkan, Intelijen memiliki wewenang melakukan intersepsi (penyadapan) pada komunikasi atau dokumen elektronik.
"Ini sangat membahayakan dan kebebasan individu seseorang bisa dilangkahi," katanya, Kamis (5/5/2011).
Muhajir menjelaskan, pemberian wewenang penyadapan tanpa persetujuan pengadilan sangat rawan disalahgunakan oleh intelijen. Apalagi, penyadapan tersebut bersifat subyektif dan tergantung daru selera tiap-tiap intel tersebut.
"Kami nilai RUU Intelijen tersebut berisi pasal karet yang tidak jelas arah dan tujuannya. Ada kalimat yang tidak didefinisikan secara jelas, seperti 'ancaman nasional' dan 'keamanan nasional' serta 'musuh dalam negeri', siapa dan apa kriterianya tidak dijelaskan," ungkapnya.
Masih menurut Muhajir, rumusan yang tidak jelas dan cenderung multitafsir itu dipastikan akan disalahgunakan. Bahkan, sikap kritis atas kebijakan pemerintah akan dibungkam, dengan dalih mengancam keamanan nasional, stabilitas, dan dianggap musuh dalam negeri.
"Jika RUU tersebut nanti disahkan, rakyat akan berada dalam posisi yang sulit. Rakyat merasa tidak nyaman karena selalu diintai oleh intel," kata Muhajir.

Sumber:  KOMPAS.com/kamis, 5 Mei 2011

Senin, 02 Mei 2011

Isu NII dan RUU Intelijen

Isu NII dan RUU Intelijen
Headline
Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono - IST
Opini: Ava Larasati
Nasional - Senin, 2 Mei 2011 | 17:43 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Ada yang menarik seiring guliran isu seputar Negara Islam Indonesia (NII), yang mencuat seiring maraknya kasus orang hilang. Para penyokong RUU Intelijen seolah menemukan momentum untuk mendorong agar disahkan sesegera mungkin.
Di antara mereka, yang tampak sangat menonjol adalah mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono. Hendro, yang selain kian kerap muncul di layar berbagai stasiun tv, juga semakin sering terlihat mengisi halaman koran.
Satu hal yang tak henti disuarakan Hendro adalah bahwa RUU itu tidak sepatutnya ditahan-tahan dengan aneka polemik, dan segera diberlakukan. Selain itu, ada hal mendasar yang disuarakan Hendro, yakni seharusnya aparat intelijen dapat menangkap seseorang yang dicurigai, tanpa perlu mempertimbangkan hukum pidana.
Pasalnya, kata Hendro, aparat intelijen bukan penegak hukum. “Karena itu, langkah penangkapan bukan untuk hukum, tapi untuk digunakan (informasinya). Jadi tidak perlu dibikin ada UU mengatur detil soal penangkapan,” kata Hendro.
Pernyataan itu, mungkin dengan redaksi yang agak lain, selalu dikemukakannya dalam berbagai kesempatan. Dengan kata lain, pernyataan Hendro itu berarti, jika intelijen mempercayai sinyal bahwa seseorang akan merencanakan kejahatan, orang tersebut bisa ditangkap tanpa prosedur hukum.
Sepintas lalu, apalagi di saat maraknya teror bom, melesatnya isu NII dan kondisi saat ini, apa yang dinyatakan Hendro seperti sebuah oase sejuk. Sebuah solusi atas persoalan yang tak henti mengungkung keamanan bangsa. Tetapi seyogyanya kita berpikir jernih.
Apa yang dikemukakan Hendro wajar sebagai seorang yang hidup di dunia intelijen. Seorang yang manakala negara ini begitu hegemonik dan mencekam rakyat saat Orde Baru berkuasa, tak punya kemungkinan menghadapi persoalan ditangkap tanpa alasan jelas.
Padahal, solusi Hendro hanya memindahkan aktor. Jika saat ini yang menteror warga adalah teroris, kelompok pembom pengecut dan jahat, maka bilamana RUU Intelijen versi saat ini yang begitu hegemonik diterapkan, pelaku teror beralih menjadi aparat negara. Lebih tepatnya aparat intelijen.
Dan jangan katakan negara ini tak pernah memiliki sejarah kelam. Sejak Orde Lama, lalu berkuasanya Orde Baru, keterkungkungan akibat begitu kuat dan dominannya lembaga intelijen telah membuat rakyat tak mampu bahkan untuk berbicara terbuka. Semua diarahkan ketakutan akan ’mata besar’ negara yang mengawasi seluruh aspek tingkah laku warganya. Negara menjadi seperti barak-barak binatang peliharaan dalam novel George Orwell, ’1948’ dan ’Animal Farm’.
Ujung-ujungnya kita menyaksikan Indonesia menjadi negara korporasi, dimana untuk setiap pekerjaan, profesi, dibentuklah sebuah organisasi resmi dan satu-satunya. Keseragaman kemudian menjadi diniscayakan. Kita tahu, rakyat tak menyukai semua itu. Hingga reformasi 1998 pun terjadilah. Negara ini, sedikit demi sedikit menggerakkan proses demokrasi dan keterbukaan.
Artinya, siapa pun yang menyokong kembalinya negara ini kepada ketertutupan, penangkapan paksa, pengumpulan informasi dengan cara-cara tak manusiawi, tak selayaknya didengarkan. Benar ia memiliki hak untuk itu, dan seharusnya kita beri kesempatan. Tetapi mata hati dan kepala rakyat tetap harus sadar, betapa mahal harga yang harus dibayar sistem ketertutupan.
Karena itu, tentu sangat disesalkan manakala kampanye penyegeraan diundangkannya RUU intelijen itu didukung sebagai anggota DPR. Berkilah apapun, beralasan bagaimanapun, kita perlu mempertanyakan kedalaman cara berpikir mereka yang menyokong penyegeraan RUU itu.
Sebab kita tahu, betapa RUU Intelijen sendiri masih begitu perlu penyempurnaan. Draf terakhir RUU Intelijen yang saat ini sedang dibahas belum mengakomodasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip penting dalam kehidupan negara demokratis.
Termasuk belum menghormati lain nilai-nilai HAM serta menjunjung tinggi supremasi hukum dan pemerintahan yang bersih. RUU tersebut, misalnya, menolak adanya pengaturan mekanisme penyadapan melalui izin pengadilan. Hal ini tentu akan menimbulkan ancaman terhadap hak-hak privasi warga negara. Juga soal penangkapan sebagaimana di atas.
Negara ini memang harus aman, bebas dari segala upaya penggerogotan kedaulatan dan keutuhannya. Tetapi menghadirkan kembali UU yang memberi toleransi besar terhadap tindakan represif kepada warga negara seperti yang terjadi pada masa Orde Baru, tak selayaknya dilakukan. Lalu tentang heboh bom, isu NII, yang seolah mengiringi pembahasan RUU ini, tidakkah pula seharusnya kita cermati dengan sangsi? [mdr]

INILAH.COM, Jakarta/ Senin, 2 Mei 2011 | 17:43 WIB

Mahfud MD Sebut Cuci Otak ala NII Jelas Makar


Mahfud MD Sebut Cuci Otak ala NII Jelas Makar  

Mahfud MD. TEMPO/Aditia Noviansyah
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengatakan aktivitas cuci otak yang dilakukan jaringan organisasi NII terhadap sejumlah siswa dan mahasiswa di Indonesia merupakan bukti adanya aktivitas makar yang jelas.

Menurut Mahfud, pemerintah harus segera menindak tegas seluruh pelaku cuci otak yang tujuannya menanamkan ide perlawanan terhadap ideologi negara Pancasila secara paksa itu.

Perlawanan terhadap ideologi negara bebas, kata Mahfud, dilakukan apabila masih dalam bentuk pemikiran karena itu merupakan bagian dari demokrasi. Namun, apabila ide itu sudah dijalankan dalam bentuk langkah nyata seperti meledakkan bom, mencuci otak, dan membuat rekening untuk penggalangan dana yang bertujuan melawan ideologi negara, hal itu bisa disebut makar.

"Pengeboman, cuci otak, dan pembuatan rekening itu jelas makar dan harus segera ditindak," ujar Mahfud seusai menguji disertasi Khoirudin, mahasiswa program doktoral pascasarjana Hukum UII, bersama anggota DPR RI Gayus Lumbun, Senin, 2 Mei 2011.

Menurut Mahfud, tindakan tegas terhadap jaringan NII memang sulit karena organisasi ini bergerak di bawah tanah dan bukan termasuk organisasi resmi. Tapi, katanya, buktinya sudah ada dan secara jelas  mereka menanamkan ide bahwa di Indonesia tidak ada masyarakat Islam dan hanya ada masyarakat Pancasila, sehingga harus dilawan.

"Seratus enam puluhan anak-anak sekolah dan mahasiswa telah terbukti dicuci otaknya. Jadi, tentu bisa dilacak pelaku-pelakunya," kata Mahfud.

Dia mengusulkan semua kampus di Indonesia menggiatkan pengajaran mata kuliah civic education untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap ideologi negara.

Upaya ini, menurutnya, akan memperkecil peluang kemunculan pengaruh ideologi organisasi yang melawan ideologi Pancasila. "Saat ini Pancasila saja banyak tidak dihafal oleh mahasiswa," ucapnya.

Pada kesempatan lain, Direktur Kemahasiswaan UGM, Sentot Haryono, mengatakan agak kecewa dengan kinerja kepolisian yang terkesan lamban dalam menangkal perluasan aktivitas NII mengingat gejalanya sudah lama muncul, terutama di Yogyakarta.

"Kesannya, aparat keamanan baru bertindak saat kasus NII meledak dan muncul di banyak media. Jadi, memang agak telat," kata Haryono di sela-sela acara sarasehan nasional 2011 tentang implementasi nilai-nilai Pancasila dalam menegakkan konstitusionalitas Indonesia hari ini.

Menurut Haryono, UGM telah berkoordinasi dengan semua civitas akademika di kampus itu untuk melakukan tindakan preventif mencegah meluasnya paham NII di kalangan mahasiswa.

Kata dia, UGM kini memfokuskan perhatian untuk mengkonsolidasikan semua unit kegiatan mahasiswa bidang kerohanian agar mewaspadai NII. "Tahun ini kami juga akan memasukkan materi anti-NII di booklet yang akan dibagikan terhadap mahasiswa baru," ujarnya.

ADDI MAWAHIBUN IDHOM
Sumber :  TEMPO Interaktif, / Senin, 02 Mei 2011 | 14:56 WIB

Berita Terkait :

Antisipasi NII, Ketua RT Diminta Perketat Pengawasan Warga

Foto-foto orang hilang yang diduga direkrut oleh NII. TEMPO/Soetana Monang Hasibuan
TEMPO Interaktif, Jakarta - Para ketua rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) di Jakarta Barat diinstruksikan memperketat pengawasan terhadap warga, khususnya di daerah yang banyak rumah kos atau kontrakan. Hal itu guna menangkal perkembangan anggota dan pendukung Negara Islam Indonesia (NII).

"Secara de facto, pengamanan terkecil kan ada di RT dan RW. Jadi, memang harus diperketat dari bawah untuk mengantisipasi perkembangan NII," kata Kepala Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jakarta Barat Ahmad Fauzi

Ahmad berharap, RT bisa lebih teliti dan tidak secara gampang menerbitkan surat pengantar kepada warga yang akan membuat identitas seperti kartu tanda penduduk (KTP). Ia juga berharap para pemilik kos bisa lebih selektif dan tidak asal menerima pendatang jika tidak memiliki identitas jelas.

"Bukan menghalangi, tapi hanya harus diperketat. Soalnya, kami kan bertugas melakukan verifikasi dan pendataan warga agar lebih mudah dikontrol," ujar Ahmad lagi.

Kata Ahmad, Pemerintah Kota Jakarta Barat beberapa waktu lalu juga sudah menggelar rapat pimpinan lintas instansi membahas masalah NII. "Dukcapil (kependudukan dan catatan sipil) yang selama ini bertugas menerbitkan dan mendata masyarakat juga sudah diinstruksikan memperketat verifikasi," ujarnya.

ARIE FIRDAUS                                                                                                                                     Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2011/04/30/brk,20110430-331136,id.html

Eks Menteri NII: Punya Aset Emas 20 Ton!

Ma'had Al Zaytun
Eks Menteri NII: Punya Aset Emas 20 Ton!
yuli | Jumat, 29 April 2011 | 06:44 WIB


Dibaca: 126327
 
facebook.com/pages/I-LOVE-AL-ZAYTUN 
Bekas Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, bekas Menteri Koperasi Adi Sasono, dan bekas Menteri Penerangan Harmoko saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al Zaytun di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dalam peringatan 1 Muharram 1432 H yang jatuh pada 7 Desember 2010.
JAKARTA, KOMPAS.com — Bekas Menteri Peningkatan Produksi Negara Islam Indonesia (NII) Imam Supriyanto membenarkan adanya simpanan kelompok itu di Bank Century, kini jadi Bank Mutiara.

Namun, berbeda dengan data yang disampaikan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Imam Supriyanto menyebut jumlah dana justru mencapai Rp 250 miliar.
"Kalau dirupiahkan, seingat saya ada Rp 250 miliar. Itu dalam bentuk obligasi dan emas batangan lebih-kurang beratnya 20 ton," kata Imam Supriyanto kepada Tribunnews, Kamis (28/4/2011).
Imam mengaku resmi meninggalkan NII tahun 2007 setelah mendapat nasihat ibundanya yang lebih dahulu keluar dari NII.
Eks Menteri NII itu menceritakan, dana milik NII itu disimpan atas nama Imam Besar NII Abu Maarik. "Sepertinya, rekening di Bank Century tidak satu nama. Biasanya Abu Maarik juga memakai nama anaknya di Bank Century. Abu Maarik itu adalah teman dekat Robert Tantular (bekas bos Bank Century)," kata Imam.
Menurut dia, dana yang berhasil digalang NII kemudian disimpan ke Bank Century. "Abu Maarik adalah nasabah terbaik Bank Century. Abu Maarik sangat dekat dengan Robert Tantular. Bahkan, setiap tahunnya Abu Maarik kerap dihadiahi mobil mewah," kata Imam.
Ia mengaku bersedia bercerita apa adanya sebagai bentuk penyesalannya karena telah masuk organisasi NII. "Berkat jalan Allah melalui ibu saya, pada tahun 2007 saya bisa keluar dari organisasi yang saya geluti sejak 1987," ungkapnya. (Rachmat Hidayat)
Sumber : KOMPAS.com| Jumat, 29 April 2011 | 06:44 WIB/

NII Simpan Rp 46 Miliar di Bank Century
yuli | Jumat, 29 April 2011 | 06:02 WIB
Dibaca: 79780

facebook.com/pages/I-LOVE-AL-ZAYTUN Bekas Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, disambut Syekh AS Panji Gumilang saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al Zaytun di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dalam peringatan 1 Muharram 1432 H yang jatuh pada 7 Desember 2010.

JAKARTA, KOMPAS.com — Kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang belakangan banyak disebut terkait kasus penculikan dan "cuci otak" sejumlah orang diketahui memiliki simpanan miliaran rupiah di Bank Century atau kini bernama Bank Mutiara.

Keberadaan dana simpanan NII di Bank Century pernah disampaikan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) kepada Pansus DPR tentang Hak Angket Bank Century, 21 Desember 2009. Dalam laporan yang ditandatangani Kepala PPATK Yunus Husein disebutkan, simpanan sebesar Rp 46,2 miliar itu atas nama Abu Maarik.
Deposan Bank Century bernama Abu Maarik tersebut diduga kuat merupakan nama lain dari Abu Toto alias Syekh Abdus Salam Panji Gumilang. Abu Maarik adalah tokoh yang terkait erat dengan NII. Ia juga dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Al-Zaytun.
"Saya minta pemerintah segera melumpuhkan jaringan yang merusak negara, seperti kelompok NII, apalagi setelah ditemukan dana miliaran rupiah di Bank Century yang diduga milik NII. Ini tentu mengecewakan mengapa tidak terendus dari dulu," ujar Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso di Jakarta, Kamis (28/4/2011).
Dalam hal ini, Pansus DPR tentang Hak Angket Bank Century akan mendesak aparat penegak hukum mengungkap lebih dalam dana NII di Bank Century yang kini menjadi Bank Mutiara tersebut. (Rachmat Hidayat)

Selasa, 26 April 2011

Mahasiswa ITB Paling Banyak Direkrut NII

Mahasiswa ITB Paling Banyak Direkrut NII
Headline 
Negara Islam Indonesia (NII) - inilah.com
Oleh:
Nasional - Selasa, 26 April 2011 | 14:45 WIB
INILAH.COM, Bandung - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) paling banyak direkrut sebagai anggota baru aktivis Negara Islam Indonesia (NII).

"Dari empat kampus ITB, Unpad, Polban dan UPI. ITB sudah sejak dulu digoyang NII. Mahasiswa ITB menjadi yang terbanyak direkrut sebagai anggota NII oleh aktivitis NII gadungan," kata Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali M Da`i dalam jumpa pers di Masjid Al Fajr Jalan Situsari VI Cijagra, Bandung, Selasa, (26/4/2011).

Ia mengatakan, data mahasiswa di Kota Bandung yang direkrut NII Gadungan didasarkan pada data yang dimiliki FUUI pada 2002-2003. Menurutnya, jumlah mahasiswa ITB yang direkrut oleh NII gadungan saat itu mencapai 200 orang.

"Pada saat itu, pihak rektornya melapor kepada kami bahwa ada sekitar 200 mahasiswanya yang tidak masuk kuliah, tidak bayar SPP hingga akhirnya di DO (Drop Out) karena ikut NII," ujar Athian.

Ia menambahkan, mahasiswa yang telah direkrut menjadi anggota NII telah meresahkan pihak kampus Polban. "Pasalnya, empat orang di antara kaum yang telah direkrut oleh NII adalah dosen yang menjabat di Polban," ujarnya.

Dia mengatakan, salah satu penyebab banyaknya mahasiswa ITB direkrut masuk NII karena kurangnya pemahaman mereka terhadap ajaran Islam yang sebenarnya.
"Bisa jadi karena itu, mereka kurang memahami ajaran Islam yang sebenarnya," katanya. FUUI akan mengundang perwakilan kampus dan sekolah untuk memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. [ant]
INILAH.COM, Bandung /Selasa, 26 April 2011 | 14:45 WIB

Mahathir Hilang, Siap Dirikan Negara Islam

Kasus "Cuci Otak"
Mahathir Hilang, Siap Dirikan Negara Islam
K16-11 | Glori K. Wadrianto | Rabu, 20 April 2011 | 12:45 WIB
Dibaca: 65762

 
K16-11 Yudi Ardiyansyah, paman Mahatir Rizki mahasiswa UMM Malang yang diduga mencadi korban pencucian otak, Senin (18/4/2011)
Foto:
MALANG, KOMPAS.com — Titik terang muncul setelah sebulan lebih pihak keluarga korban "cuci otak" mencari keberadaan Mahathir Rizki–mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), asal Bima, Nusa Tenggara Barat.
 
Mahathir ternyata direkrut sebuah organisasi bernama Negara Islam Indonesia (NII). Pemuda itu dikabarkan berada di wilayah Semarang, Jawa Tengah. Hal itu terungkap setelah Mahathir menghubungi keluarganya yang ada di Bima."Setelah diberitakan di berbagai media, cetak maupun elektronik, Mahathir Rizki menghubungi keluarganya yang di Bima. Dia menelepon bapak ibunya di Bima. Katanya dia malu fotonya ada di berbagai media," kata Ismed Jayadi, paman dari Mahathir, yang kini masih ada di Kota Malang saat dihubungi Kompas.com, Rabu (20/4/2011).
"Kalau kamu memang merasa malu, kamu segera pulang. Keluarga menunggu kamu. Itu pinta kedua orangtua Mahathir," kutip Ismed.
Namun, walaupun dibujuk oleh kedua orangtuanya, anak dari pasangan Abdul Mutollib dan Rostina itu tetap tak mau pulang ke Bima. "Dia mengaku sudah nyaman dan tenang bergabung di NII di Semarang," ujar Ismed.
Mahathir menghubungi kedua orangtuanya pada pukul 19.00, Selasa (19/4/2011). "Saya sampai sekarang belum dihubungi oleh Mahathir. Nomor yang digunakan Mahathir itu selalu gonta-ganti. Mungkin sekali pakai langsung dibuang," kata Ismed.
"Mahathir mengaku siap dan sudah berkomitmen untuk mendirikan Negara Islam Indonesia melalui organisasi NII," sambungnya.
Lebih lanjut, Ismed mengaku, pihak keluarga Mahathir tetap akan berusaha bagaimana Mahathir kembali lagi ke keluarganya. "Selain itu pikirannya kembali seperti semua. Tidak aktif di organisasi NII," harap Ismed.
Ditanya lebih lanjut soal kepribadian dan perilaku Mahathir saat masih belum kuliah dan saat sudah kuliah di UMM, Ismed mengaku, tak ada yang aneh dalam diri keponakannya itu. "Tak ada perawakan seperti pemeluk Islam garis keras. Saat masih SMA, dia aktif di Paskibraka Bima. Di kampus UMM, dia sepertinya tak aktif di organisasi kampus," cerita Ismed.
Sementara itu, menurut Kepala Hubungan Masyarakat UMM Nasrullah, tetap ada dua kemungkinan dalam kasus ini. "Bisa penipuan bermodus agama atau bisa juga murni direkrut untuk anggota negara Islam," katanya.
Nasrullah mewakili Rektor UMM DR Muhajir Effendi meminta kepada kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Apakah memang penipuan bermodus agama atau memang murni "cuci otak" untuk kepentingan negara Islam. 
Sumber :KOMPAS.com./senin, 25 April 2011
http://regional.kompas.com/read/2011/04/20/1245066/Mahathir.Hilang.Siap.Dirikan.Negara.Islam

Cari Blog Ini