Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.

Rabu, 20 Juli 2011

Baasyir Sering ke "Umar Bin Khattab"

Baasyir Sering ke "Umar Bin Khattab"
Herpin Dewanto Putro | Kistyarini | Senin, 18 Juli 2011 | 10:32 WIB

Dibaca: 22007
BIMA, KOMPAS.comUstaz Abu Bakar Ba'asyir sering mengunjungi Pondok Pesantren Umar Bin Khattab, Bima, Nusa Tenggara Barat. Pimpinan Jamaah Anshorut Tauhid ini sering mengadakan ceramah di ponpes tersebut.

"Tidak perlu dibubarkan, pondok ini sudah bubar sendiri
-- Amin Djamaluddin, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam"

Hal ini diungkapkan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam Amin Djamaluddin di Bima, NTB, Senin (18/7/2011). "Rupanya pondok Umar Bin Khattab ini punya kedekatan dengan Abu Bakar Ba'asyir," katanya.
Kasus bom di ponpes tersebut, kata Amin, sangat memperburuk citra ponpes secara keseluruhan. "Tidak perlu dibubarkan, pondok ini sudah bubar sendiri," katanya.
Sebelumnya, juru bicara Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) di Bima, Yadin, mengatakan, Abrory M Ali (pimpinan Ponpes Umar Bin Khattab) pernah menjadi anggota JAT. "Tetapi cuma empat bulan, lalu keluar karena kami berbeda pandangan," katanya.
sumber :Kompas.com, Senin 18 Juli 2011
http://regional.kompas.com/read/2011/07/18/1032106/Baasyir.Sering.ke.Umar.Bin.Khattab

Minggu, 17 Juli 2011

Polri :Inilah Nilai Remunerasi Polri

Polri
Inilah Nilai Remunerasi Polri
Sandro Gatra | R Adhi KSP | Jumat, 17 Desember 2010 | 17:56 WIB

Dibaca: 15866

 
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Sebanyak 465 perwira Polri mengikuti upacara Pelantikan Perwira Polri Tahun 2010 di Akademi Kepolisian, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (16/12/2010), oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian telah menerima salinan Peraturan Presiden Nomor 73 Tahun 2010 tentang Tunjangan Kinerja Pegawai di Lingkungan Kepolisian. Peraturan itu dikeluarkan pada Rabu (15/12/2010).
Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Jumat (17/12/2010), mengatakan, dalam Perpres, tunjangan kinerja atau remunerasi yang diterima Polri dibagi dalam 18 kelas. Berikut nilai remunerasi dalam setiap kelas:
- Kelas Jabatan 18 : Rp 21.305.000
- Kelas Jabatan 17 : Rp 16.212.000
- Kelas Jabatan 16 : Rp 11.790.000
- Kelas Jabatan 15 : Rp 8.575.000
- Kelas Jabatan 14 : Rp 6.236.000
- Kelas Jabatan 13 : Rp 4.797.000
- Kelas Jabatan 12 : Rp 3.690.000
- Kelas Jabatan 11 : Rp 2.839.000
- Kelas Jabatan 10 : Rp 2.271.000
- Kelas Jabatan 9 : Rp 1.817.000
- Kelas Jabatan 8 : Rp 1.453.000
- Kelas Jabatan 7 : Rp 1.211.000
- Kelas Jabatan 6 : Rp 1.010.000
- Kelas Jabatan 5 : Rp 841.000
- Kelas Jabatan 4 : Rp 731.000
- Kelas Jabatan 3 : Rp 636.000
- Kelas Jabatan 2 : Rp 553.000
- Kelas Jabatan 1 : nihil
Boy menjelaskan, penentuan posisi kelas tergantung kepangkatan setiap anggota. Namun, belum ditentukan kepangkatan mana saja dalam setiap kelas.
"Nanti tentu akan ada penjelasan lebih jauh kelas jabatan 18 kepangkatan apa, kelas jabatan 17 apa. Sementara belum dapat kita sampaikan karena nanti akan ada pengaturan lebih lanjut secara internal," kata Boy, mantan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya.
Sumber :
http://nasional.kompas.com/read/2010/12/17/17561796/Inilah.Nilai.Remunerasi.Polri

Jumat, 15 Juli 2011

Bom Terurai Ditemukan di Dalam Ponpes

Bom Terurai Ditemukan di Dalam Ponpes
Sandro Gatra | Glori K. Wadrianto | Rabu, 13 Juli 2011 | 18:39 WIB
Dibaca: 20069

Share:
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian menemukan beberapa bom rakitan yang telah diurai ketika menggeledah Pondok Pesantren Umar Bin Khattab di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Rabu (13/7/2011). "Kami menyita beberapa bom yang telah didisposal. Jumlahnya saya belum dapat informasi," kata Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam, ketika dihubungi, Rabu (13/7/2011).
Anton membantah ditemukannya senjata api di ponpes. Dikatakan Anton pula, tidak ada santri atau pengurus ponpes yang ditangkap ketika pihaknya masuk ke dalam ponpes. Polisi mengambil langkah represif setelah mendapat masukan dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama dalam rapat dengan Kepala Polda Brigjen (Pol) Arief W di bandara NTB. Sebelumnya, selama dua hari polisi memilih bernegosiasi dengan pihak ponpes.
Anton melanjutkan, tujuh orang yang sempat diamankan telah dilepas karena tidak terlibat. Adapun enam orang lain masih diperiksa karena diduga mengetahui peristiwa meledaknya bom rakitan yang menewaskan ustaz sekaligus bendahara ponpes, yakni Abdullah alias Firdaus.
Seperti diberitakan, bom rakitan itu diduga akan digunakan untuk menyerang kepolisian. Sebelumnya, Polda NTB menahan Sa'ban Abdurrahman (18), santri ponpes itu, karena membunuh Brigadir Rokhmat Saefudin, yang tengah tugas piket di Polsek Bolo, Bima. Menurut Polri, Sa'ban mengaku diperintah Tuhan untuk membunuh karena polisi menjalankan undang-undang yang tidak sesuai dengan syariat Islam.
sumber:kompas.com/16 Juli 2011
http://regional.kompas.com/read/2011/07/13/18395372/Bom.Terurai.Ditemukan.di.Dalam.Ponpes.

Bom di Pondok Pesantren

Bom di Pondok Pesantren
JAT Bicara soal Ponpes Umar Bin Khattab
Heru Margianto | Jumat, 15 Juli 2011 | 14:35 WIB
Dibaca: 2016
Share:
JAKARTA, KOMPAS.com —- Organisasi Jamaah Anshorut Tauhid menyesalkan nama organisasinya dikaitkan dengan peristiwa ledakan bom di areal Pondok Pesantren Umar Bin Khattab, di Desa Senolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (11/7/2011).
Juru bicara Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Sonhadi, seperti dilansir Tribunnews, Jumat (15/7/2011), menyatakan, ini kesekian kalinya organisasi pimpinan Abu Bakar Ba'asyir itu selalu dikaitkan dengan aksi terorisme.
"Kita sayangkan pernyataan kepolisian dengan menggunakan asumsi-asumsi anggota JAT berada di balik peristiwa tersebut. Tidak ada relevansinya antara tewasnya Ustadz Firdaus dan JAT," ujarnya.
Ledakan di Ponpes Umar Bin Khattab menewaskan bendahara ponpes, Firdaus. Saat melakukan penggeledahan di ponpes tersebut, polisi menemukan satu peti Al Quran, satu rompi seragam dan kaos laskar JAT, puluhan VCD bertema jihad, VCD deklarasi JAT di Bekasi, beberapa barang untuk merakit bom, solder, dan korek api.
Sejumlah barang temuan lain yang disita dari lokasi di antaranya 9 bom molotov yang dirakit dalam botol, 30 anak panah, 1 senapan angin rakitan, sebilah pedang, sebilah golok, printer, dan telepon genggam.
Menurut Sohadi, temuan sejumlah barang bukti terkait JAT tidak serta-merta harus diartikan ponpes itu adalah bagian dari JAT. Soal VCD deklarasi JAT Bekasi yang ditemukan di dalam pondok, misalnya, menurutnya VCD tersebut dapat dimiliki siapa saja yang membeli majalah JAT. "Jadi VCD itu memang bonus," katanya.
Selanjutnya, Sonhadi belum dapat mengonfirmasi apakah pimpinan ponpes tersebut yakni Ustadz Abrory dan Ustadz Firdaus merupakan anggota JAT atau bukan. "Kita masih menunggu konfirmasi dari perwakilan JAT Bima apakah mereka adalah anggota kami atau tidak," katanya.
Ia juga belum mendapatkan informasi apakah Amir JAT Abu Bakar Ba'asyir pernah mengunjung pesantren tersebut atau tidak. "Ustad Ba'asyir pernah ke Bima, tetapi kami tidak tahu apakah Ustadz (Ba'asyir)  pernah mengunjung pesantren itu," ujarnya.
sumber :kompas.com/16 Juli 2011
http://nasional.kompas.com/read/2011/07/15/14355164/JAT.Bicara.soal.Ponpes.Umar.Bin.Khattab

Bom di Ponpes : Umar Khattab Sudah Ditangkap

Kapolri: Umar Khattab Sudah Ditangkap
Hindra Liu | Benny N Joewono | Jumat, 15 Juli 2011 | 19:04 WIB

Dibaca: 2320
  TRIBUN MEDAN/TAUFAN WIJAYA Kapolri Jenderal Timur Pradopo.
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo mengatakan, polisi telah berhasil meringkus pimpinan Pondok Pesantren Umar bin Khattab, Jumat (15/7/2011).
Hal ini disampaikan Kapolri kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat. "Sudah ketemu," kata Kapolri singkat.
Namun, Kapolri tak merinci di mana pimpinan ponpes yang terletak di Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, ditemukan.
Saat ini, katanya, kepolisian masih terus melakukan proses penyelidikan dan penyidikan. Polisi telah menetapkan dua tersangka. Mereka berinisial RH (22) dan RIU (32). "Polisi juga masih terus memeriksa saksi-saksi," katanya singkat.
Sebelumnya, seperti diwartakan, polisi juga menemukan dokumen berisi rencana penyerangan ke sebuah kantor polisi. Polisi juga menemukan 26 bom molotov, 20 bilah pedang, dan 150 anak panah.
Di Jakarta, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen (Pol) Ketut Untung Yoga Ana menjelaskan, polisi juga menyita dua CPU, satu senapan angin, satu bilah golok, kapak, printer, telepon seluler, dan satu peti berisi Al Quran.
Selain itu, ditemukan satu rompi seragam laskar Jamaah Anshorut Tauhid, puluhan VCD bertema jihad, dan beberapa bahan untuk merakit bom.
Dalam dokumen berupa buku catatan kecil itu, disebutkan mereka akan menyerang kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Mada Pangga di Bima, lengkap dengan denah kantor polsek berikut daftar petugas jaga.
Dokumen tersebut ditemukan di kamar pengurus ponpes, Suryanto Abdullah alias Adnan Firdaus, yang tewas setelah terkena ledakan bom, Senin lalu. "Baru ini yang kami temukan. Kemungkinan ada target lainnya, kami masih cari," kata Kepala Kepolisian Resor Kabupaten Bima Ajun Komisaris Besar Fauza Barito.
Belum bisa dipastikan apakah ada kaitan antara rencana penyerangan itu dan peristiwa bom Cirebon beberapa waktu lalu. Untung Yoga Ana juga memastikan bahwa Abrori bersama para santri dan pimpinan ponpes telah meninggalkan Bima.
Oleh karena itu, pihaknya meminta bantuan kepolisian di daerah lain untuk membantu mencari mereka. Berkaitan dengan kasus ledakan bom di Ponpes Umar bin Khattab itu, yang kemudian berlanjut dengan penghadangan terhadap polisi yang akan memeriksa pondok tersebut, polisi menangkap 13 orang.
Dari jumlah itu, menurut Untung Yoga, 7 orang diperiksa secara intensif, sedangkan 6 orang yang dinilai tidak memiliki informasi lebih jauh tentang kegiatan ponpes tidak diperiksa secara intensif. Sebagian dari orang yang ditangkap itu merupakan keluarga korban yang tewas.
Ketujuh orang yang diperiksa secara intensif itu adalah Mustakim Abdullah (17), Rahmad Ibnu Umar (36), Rahmat Hidayat (22), M Yakub (26), Julkifli (23), Muslamin Talib (38), dan Sahrir Manhir (23). Berdasarkan hasil sementara pemeriksaan, kata Fauza, polisi menduga Abrori terlibat jaringan teroris.
Hal itu diperkuat dengan ditemukannya sejumlah buku dan kepingan VCD tentang jihad. "Mereka belum tersangka, tetapi akan kami proses sesuai dengan Undang-Undang Tindak Pidana Terorisme," kata Fauza.
Terkait dengan kebakaran rumah Abrori, Kamis (14/7/2011) pagi, Fauza belum bisa memastikan apakah rumah tersebut terbakar atau dibakar.
Sumber: kompas.com, 16 Juli 2011
http://nasional.kompas.com/read/2011/07/15/1904378/Kapolri.Umar.Khattab.Sudah.Ditangkap

Selasa, 12 Juli 2011

Bom di Ponpes, 11 Orang Diamankan

Sandro Gatra | Kistyarini | Selasa, 12 Juli 2011 | 15:26 WIB

Dibaca: 2617



SHUTTERSTOCK
ilustrasi

TERKAIT:
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian mengamankan 11 orang terkait meledaknya bom di dalam pondok pesantren (Ponpes) pimpinan Umar bin Khatab di Desa Sonolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Bom rakitan itu meledak, Senin ( 12/7/2011 ) pukul 15.30 WITA.
Kami sudah menyita beberapa panah dan parang-parang. Sudah diturunkan anggota kita satu pleton Brimob, satu peleton gabungan, dibantu TNI.
"Hari ini telah diamankan 11 orang," kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Selasa (12/7/2011 ).
Anton menjelaskan, akibat ledakan itu, guru sekaligus pengajar di ponpes itu yakni Suriyanto alias Firdaus tewas. Pihaknya, kata Anton, belum dapat masuk ke lokasi lantaran dihalang-halangi oleh para santri dengan senjata tajam.
"Kami diusir. Kami tidak ingin menimbulkan kerusuhan. Kami usahakan untuk bernegosiasi dengan mereka. Kami sudah menyita beberapa panah dan parang-parang. Sudah diturunkan anggota kita satu pleton Brimob, satu peleton gabungan, dibantu TNI," jelas Anton.
Dikatakan Anton, karena belum dapat masuk ke lokasi, pihaknya belum tahu apa saja bahan peledak yang digunakan, komponen, kekuatan, dan sebagianya. Pihaknya juga belum tahu bagaimana bom bisa meledak. "Diperiksa dulu yang 11 orang ini nanti baru kita bisa tahu," ucap dia.
sumber :http://regional.kompas.com/read/2011/07/12/15262627/Bom.di.Ponpes.11.Orang.Diamankan

NII KW9 : Hikayat Komandemen Wilayah 9


Hikayat Komandemen Wilayah 9

Penulis: Sandro Gatra
nii

KOMPAS.com - Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah (NII KW) 9 menjadi sorotan publik akhir-akhir ini setelah masyarakat, terutama kalangan mahasiswa di berbagai kampus hilang. Kasus hilangnya mahasiswa itu lalu dikaitkan dengan aktivitas NII KW 9 lantaran rekam jejak NII KW 9 di Indonesia.
Sukanto, mantan anggota NII KW 9 yang kini menjadi Direktur NII Crisis Center, menjelaskan, NII KW 9 dibentuk oleh tokoh Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI TII), Adah Djaelani. Pembentukan itu hasil metamorfosis NII berkali-kali pasca diproklamasikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo pada Agustus 1949. NII memiliki struktur komandemen dari pusat dan wilayah yang terdiri dari tujuh KW.
Tahun 1996 Adah menyerahkan posisi Imam kepada Abu Toto alias Abu Mariq alias Abu Marif alias Syamsul Adam alias Panji Gumilang. Pemindahan keimaman itu ditentang KW lain lantaran ajaran Panji dianggap salah. Untuk membedakan dengan KW lain, kelompok yang dipimpin Panji lalu disebut NII KW 9.
Saat dipegang Abu Toto, program NII KW 9 dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama (1996-1999), yakni program hujumat atau mempersiapkan warga agar paham akan fungsi dirinya sebagai mujahid. Tahap kedua (2000-2004), yakni program pendidikan dengan memberlakukan hukum Islam secara internal. Tahap ketiga (2005-2009), yakni mewujudkan hukum Islam yang berlaku secara de jure dan de facto di wilayah.
Dalam pelaksanaanya, tahapan itu memfokuskan pembangunan pada enam sektor yakni Hujumat Tabsyiriah (perekrutan anggota), Tarbiyah (pembangunan lembaga pendidikan Al Zaytun), Istisodiyah (perekonomian), Shihah (kesehatan), Difa (pertahanan dan keamanan), serta Maliyah (keuangan).
Tak jelas program lanjutan NII KW 9 pasca 2009. Panji disebut tak pernah lagi membicarakan kelanjutan program. "Hal ini memicu banyak kekecewaan di daerah. Melihat kondisi yang mulai resah, pada Muharam 1432 H semua KW mengadakan syuro untuk menentukan tujuan. Namun tetap tak dihasilkan. Yang ada keputusan strategis untuk memobilisasi sumber daya untuk merambah wilayah 'basah' yang belum tergarap," kata Dicky Cokro, aktivis NII Crisis Center.
Berdasarkan data dari Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI), struktur kepengurusan NII KW 9 terdiri dari Dewan Syuro (ketua dan wakil), Imam atau Presiden, Dewan Fatwa, Mahkamah Agung (ketua dan Sekjen), Majelis (15 kementrian), Sekretaris Jenderal (Sekretaris Negara dan tujuh kementrian), dan Gubernur (lima wilayah). Adapun pusat pemerintahan berada di Al Zaytun di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Pembangunan Al Zaytun

Ketua LPPI Amin Djamalludin menjelaskan, modal pembangunan Al Zaytun didapat dari bisnis minyak tanah yang dilakukan Adah Djaelani di dekat Kantor Bea Cukai Rawamangun, Jakarta Timur, sejak tahun 1962.
Awalnya, cerita Amin, Adah mengajak kerjasama seorang warga bernama Nana lantaran tempat tinggal Nana berada di pinggir jalan raya. Pangkalan minyak tanah lalu dibangun di rumah Nana. Di rumah salah satu anak Nana, Hasanudin, dijadikan tempat berkumpul tokoh-tokoh DI TII.
"Keuntungan dari minyak ini luar biasa banyak. Tukang dorong minyak waktu itu ratusan. Rupanya (hasil usaha) enggal mereka habiskan, ditabung lah sebagian (keuntungan)," kata pria yang pernah menjadi anggota DI TII dan berkumpul bersama tokoh-tokoh DI TII di rumah Hasanudin itu.
Kemudian, lanjut Amin, Adah menyerahkan keimamannya kepada Abu Toto. Saat itu, Adah berpesan agar segera membangun Madinah sesuai ajaran Kartosuwiryo. Menurut Amin, Kartosuwiryo mendoktrin pengikutnya bahwa Indonesia adalah Mekah, tempat orang-orang kafir, sehingga harus dibangun Madinah, tempat suci.
"Begitu diserahkan keimaman ke Abu Toto, ternyata mereka punya modal emas 1.500 kilo gram dari hasil minyak tadi. (Emas) diserahkan ke Abu Toto untuk bangun Al Zaytun. Waktu penyerahan itu harga emas masih Rp 15 ribu per gram. Terjadi resesi ekonomi naik menjadi Rp 90 ribu per gram. Dijual semua untuk bangun Madinah itu," papar dia.
Amin menambahkan, modal lain didapat dari merampok. Tanah seluas 1.200 hektare yang diatasnya dibangun kompleks Al Zaytun tahun 1996 sebagian besar berasal dari wakaf para anggota NII KW 9. Harga tanah saat itu hanya antara Rp 500 sampai Rp 700 per meter.
"Banyak juga tanah warga yang diserobot. Di pengadilan, pemilik tanah menang. Cuma karena letak tanah di tengah-tengah komplek, engga bisa berkutik juga. Gimana masuknya?" ucap dia.
Bagaimana penentuan lokasi Madinah di Indramayu? Menurut Amin, dari mulut ke mulut para pengikut Kartosuwiryo menyebar bahwa Kartosuwiryo dimakamkan di lokasi itu setelah dieksekusi tahun 1962. "Jadi semangat mereka bikin pesantren di situ," katanya.
Setelah Al Zaytun dibangun, lanjut Amin, Adah tinggal di Ponpes dan mengendalikan Panji Gumilang. Di Ponpes, Adah lalu merubah nama menjadi Nana. Perampungan pembangunan Ponpes lalu dikebut sebelum Pemilu tahun 2004. Padahal, modal penjualan emas sudah habis di tengah proses pembangunan.
"Mereka yakin betul pada pemilu 2004, cerita yang ada dalam Al Quran, yaitu Ratu Bulkis dan Nabi Sulaiman akan terulang di Indonesia. Ratu Bulkis itu Ibu Megawati dan Nabi Sulaeman itu Abu Toto. Jadi, menurut keyakinan mereka, Ibu Megawati (Soekarno Putri) akan ikhlas menyerahkan negara ini sama Abu Toto sehingga pindah lah ibu kota negara dari Jakarta ke Indramayu. Makanya luar biasa mereka untuk menyelesaikan pembangunan Al Zaytun," cerita Amin.
Percepatan pembangunan itu, kata Amin, awal mula munculnya modus menghalalkan segala cara untuk kepentingan pembangunan Madinah seperti dengan menipu, mencuri, memeras, merampas, hingga melacur. "Semua diatur oleh Abu Toto. Imam dapat empat persen dari seluruh hasil. Itu diatur di undang-undang yang dibuat Kartosuwiryo," ujar dia.

Perekrutan

Sukanto mengatakan, pengkaderan NII KW 9 paling banyak dilakukan di pinggiran Jakarta. Di daerah Jakarta Selatan, perekrutan paling banyak di daerah Ciputat, Lebak Bulus, Pamulang, Pasar Minggu. Di Jakarta Timur di paling banyak di daerah Jatiwaringin dan Jati Bening. Adapun di Jakarta Barat di daerah Meruya.
Penyebab jaringan NII KW 9 tumbuh subur di pinggiran Jakarta, kata Sukanto, karena banyak berdiri perumahan dan indekos yang pola hidup penghuninya tidak terlalu saling peduli. Dengan demikian, mobilisasi kader mudah dilakukan.
Berdasarkan data NII Crisis Center, banyak cara untuk menggalang calon anggota yang dilakukan jamaah NII KW 9. Di banding buruh, pendatang dari desa, dan pekerja kantoran, mereka lebih memilih pelajar SLTA atau mahasiswa baru sebagai target. Pasalnya, pada usia tersebut seseorang mudah untuk menerima sesuatu yang baru. Mereka akan menghindari anak polisi atau TNI lantaran berbahaya.
"Tahun 1996 NII mulai (mengincar) ke mahasiswa. Saat itu, polanya satu lawan satu (satu target dihadapi satu anggota NII). Tapi cara ini tidak berhasil. Jika tidak berhasil menarik masuk, (calon korban) akan cerita ke orang lain dan si pemain ini akan dikenali sebagai NII. Pola lalu berubah, satu target paling tidak dihadapi tiga sampai empat pemain. Jadi seolah dikepung," jelas Sukanto.
Tahap awal, perekrut melakukan seleksi awal lewat dialog tentang gerakan sesat untuk mengukur pengetahuan calon jamaah tentang NII. Jika calon mengetahui tentang sepak terjang NII, perekrut akan melepaskan. Begitu pula sebaliknya.
Berbagai alasan dapat digunakan perekrut untuk lebih dekat dengan target seperti mengajak ke tempat makan atau mall, menemui teman yang baru tiba dari timur tengah atau yang mendapat pencerahan lewat seminar tentang bangkitnya Islam.
Perekrut harus terus mengawal calon jemaah hingga tahap hijrah. Cara mengawal bahkan hingga menginap di rumah calon jamaah. Proses perekrutan akan berakhir di malja atau markas NII KW 9. Calon akan dibawa ke malja dengan mata tertutup agar lokasi tak diketahui. Malja biasanya rumah kontrakan bulanan maupun tahunan yang dapat menampung sekitar 150 orang.
Ciri-ciri malja seperti tertutup, lesehan, keluar masuk anggota tidak bersama-sama, dan selalu terlihat sepi. Lokasi malja akan dipindah jika diketahui masyarakat. “Biasanya paling lama tiga bulan mereka disitu lalu cari tempat lain biar enggak ketahuan,” kata Amin.
Di salah satu ruangan tertutup di malja proses doktrinisasi dilakukan oleh mas'ul atau pimpinan desa kepada calon jamaah. Berbagai tahapan dilakukan seperti Tilawah atau penyampaian dakwah yang tidak sesuai dengan aqidah. Tahap lain yakni Aftis atau persiapan untuk hijrah. Pada tahap ini calon diminta mengorbankan harta untuk menegakkan syariat Islam.
Setelah itu, dilakukan tahap Musyahadatul Hijrah atau proses pelepasan kewarganegaraan Indonesia menjadi warga NII. Dalam tahap itu, calon jamaah dibaiat dengan mengucapkan tujuh janji setia. Setelah melewati tahap itu, jamaah baru akan diberikan nama baru.
Tahap selanjutnya yakni pembinaan untuk merekrut anggota baru dan mencari dana. Setiap jamaah diberi target menjaring 10 tilawah atau anggota baru setiap bulan. Umumnya, jamaah baru akan mengajak teman sekolah, kuliah, atau rekan kerja. Jika jamaah tidak bertilawah hingga setengah bulan, jiwanya dianggap terganggu sehingga harus segera diberikan solusi.

Sembilan pos keuangan

Bagaimana dengan beban keuangan? Setiap jamaah diwajibkan memenuhi sembilan pos keuangan setiap bulan sesuai target. Sembilan pos itu diantaranya Nafaqoh Daulah (infaq dan tazkiyatun nafs), Harakah Qirodh, Harakah Idikhor, Harakah Idikhor, Harakah Ramadhan, Harakah Qurban, Shadaqah Khos.
Berbagai modus diajarkan untuk memenuhi pos-pos keuangan itu seperti menggunakan semua uang yang dimiliki (uang kuliah, tabungan, gaji), menjual barang berharga milik pribadi, mencuri barang milik orang lain, menipu orang tua dengan berbagai alasan (hilangkan laptop/HP/barang milik teman, menabrak mobil teman, dll), hutang kepada orang lain dan tidak dibayar.
Modus lain membuat surat palsu dengan mengatasnamakan kampus atau lembaga untuk meminta uang, menyebar proposal pencarian dana dengan mengatasnamakan yayasan yatim piatu atau fakir miskin. "Ada Bupati (NII) yang sudah sadar. Dia cerita, dia sampai suruh istrinya melacur. Dia bilang saya antar istri (melacur), saya jemput demi setoran," kata Amin.
Pembayaran kewajiban itu dicatat dalam buku tabungan khusus yang dipegang setiap anggota. Bentuk buku itu sama dengan buku tabungan bank-bank di Indonesia. Pada bagian depan tertulis lima angka yakni kode pemilik buku, umur, dan berbagai tulisan Arab. Di bagian dalam, terdapat kolom-kolom pos keuangan dengan tulisan Arab.
Dalam buku tabungan berwarna hijau telor itu terdapat 18 lembar. Setiap dua lembar untuk diisi setoran selama satu bulan. Tanggal setoran ditulis di kolom paling kanan. Di kolom paling bawah terdapat kolom penjumlahan dana yang disetor selama sebulan. Tanggal maupun nilai setoran ditulis tangan.

Lumbung keuangan

Data NII Crisis Center, Jakarta menjadi lumbung dana dan perekrutan. Dana harokah idhikhor, infaq, dan harokah ramadhan yang berhasil dikumpulkan di wilayah Jabotabek dan Banten tahun 2007 mencapai Rp 30 miliar.
Lumbung dana lain yakni di wilayah Jawa Tengah. Data Januari 2010, jumlah jamaah aktif di Jateng mencapai 1.900 personil dan mampu menyetor dana hingga Rp 1,86 miliar per bulan. Di Jateng, jaringan paling banyak berada di Semarang, Yogyakarta, dan Purwokerto.
Imam Supriyanto, pria yang mengaku mantan Menteri Peningkatan Produksi Pangan NII mengatakan, dana yang terkumpul jaringan NII KW 9 sejak tahun 1992 hingga saat ini mencapai Rp 350 miliar. Sebagian dana itu digunakan untuk membiayai pendidikan 2.500 santri di Al Zaytun. Setiap santri hanya dikenakan biaya sekitar 3.500 dollar AS selama enam tahun belajar.
"Dipermukaan bilangnya subsidi dari yayasan. Dari mana uang yayasan? Itu 80 persen kegiatan Ponpes dibiayai NII," kata pendiri Yayasan Pesantren Indonesia yang menaungi Ponpes Al Zaytun itu.
Mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) AM Hendropriyono juga mensiyalir dana pembangunan Ponpes mewah itu berasal dari hasil kegiatan NII. "Disinyalir uangnya dari hasil mempengaruhi anak-anak untuk masuk menjadi anggota NII. Disuruh nyumbang untuk bikin pesantren ini," kata Hendro.
Mengutip Kompas, Panji membantah jika dirinya dan Al Zaytun dikaitkan dengan NII KW 9. Panji mengatakan, NII yang diributkan akhir-akhir ini sudah mati. "Dalam sejarahnya memang ada NII yang diproklamasikan tahun 1945 dan diperjuangkan sampai 1962. Setelah itu NII selesai. Bahkan, pendirinya sudah menganjurkan pengikutnya kembali ke bumi pertiwi Indonesia. Kalau NII sudah tidak ada, kenapa saya dikait-kaitkan dengan NII. Saya terkait dengan apa kalau begitu," kata dia.
"Tidak dulu dan tidak sekarang, NII itu sudah usai. Saya ini pendidik dan ingin mengindonesiakan anak-anak ini. Tidak ada niatan cuci otak. Kalau ada tuduhan semacam itu, saya pikir itu omong kosong dan berlebihan. Saya sehari-hari di sini, bagaimana bisa cuci otak. Saya tidak paham," tambah Panji.

Al-Zaytun tak sebarkan ideologi NII

Menurut Imam, 15 pengurus Al Zaytun adalah pejabat aktif di NII KW 9. Meski demikian, kata dia, orang tua tidak perlu khawatir menitipkan anaknya di Al Zaytun lantaran tak ada ajaran tentang NII kepada santri. Pengurus Ponpes tak akan secara terbuka menyebarkan ideologi NII agar tidak terbongkar sepak terjang NII di Al Zaytun.
Pernyataan Imam itu senada dengan pernyataan Hendro, Amin, dan Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Boy Rafli Amar. Hendro mengatakan, hasil penyelidikan intelejen bersama Kementerian Agama, Kementrian Dalam Negeri, Kepolisian, dan Kejaksaan tidak ditemukan ideologi NII dalam sistem pengajaran di Al Zaytun.
"Kita lihat apel bendera (nyanyi) Indonesia Raya. Kita lihat ada Pancasila di ruangan kelas. Diselidiki oleh Kementerian Agama tentang pendidikan Islamnya, tidak ada yang aneh. Dari pendidikan, tidak ada kurikulum yang ekstrem. Mereka diajari wawasan kebangsaan. Saya seperti melihat anak Taruna Nusantara aja," ucap Hendro.
Sumber :http://lipsus.kompas.com/nii

Mereka Direnggut dari Keluarga

Penulis: Icha Rastika
nii

Selama kurang lebih sepuluh tahun, Nani (nama samaran) tidak lagi melihat wajah ketiga putrinya, Nuni Juhardini, Neni Mindayani, dan Lela. Di awal tahun 2001 mereka meninggalkan rumah tanpa alasan jelas. Hanya sebuah surat yang menjelaskan kepergian Nuni dan Neni. Sedang, Lela pergi tanpa pesan.
Berikut petikan surat tulisan tangan Nuni dan Neni yang dikirim untuk Ibunya.
"Mama, Neni dan Nuni enggak akan pulang lagi. Jadi, enggak usah lagi pikirin dan khawatir sama kita, atau sampai nangis segala. Karena itu hanya nyusahin Mama saja. Neni dan Nuni sudah dewasa, sudah bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah. Kita berdua yakin ini lah jalan yang benar karena mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Apa yang kita lakukan semuanya tanggungjawab kita karena setiap diri bertanggungjawab atas dirinya. Dan kita pun berbuat ini bukan mengikuti hawa nafsu atau kata guru, tapi semata-mata mengikuti ayat Allah. Juga karena takut kita kepada Allah lebih besar dari pada yang lain. Masalah rejeki, Neni dan Nuni yakin akan Allah kasih. Kalau Mama mau ikut jalan yang sama dengan kita yaitu ikuti ayat Allah, insya Allah kita bisa berkumpul kembali seperti dulu. Semua itu atas petunjuk Allah."
Membaca surat dari kedua putrinya itu, Nani semakin mengkhawatirkan kondisi buah hatinya. Rasa rindu bercampur cemas tak lagi mampu dibendungnya. Ia lantas melaporkan kehilangan dua putrinya itu ke Polsek Kebun Jeruk, Jakarta Barat pada Januari 2001. Namun, hingga kini ketiga putrinya tak kunjung pulang ke pelukan.
Kemalangan serupa sempat dialami pasangan Rostina dan Abdul Muntholib, warga Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Pasangan suami istri itu sempat kehilangan anaknya, Mahathir Rizki (19) yang menjadi mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang (UMM). Mahasiswa semester dua Fakultas Teknik Jurusan Teknologi Informasi tersebut hilang sejak 25 Maret 2011. Untungnya, Pada 26 April, Rizki kembali ke rumahnya.
Rizki adalah salah satu dari 10 mahasiswa UMM yang diduga merupakan korban cuci otak. Selama menghilang, kepada kedua orangtuanya, Rizki sempat menyampaikan pesan serupa dengan Nuni dan Neni. Saat menghubungi orangtuanya melalui telepon pada 19 April, Rizki mengaku hidup tenang di suatu tempat dan enggan pulang ke rumah ataupun kembali berkuliah. Belakangan diketahui, ia telah bergabung dalam kelompok Negara Islam Indonesia (NII). Selama menghilang, Rizki mengaku berada di sebuah daerah di Semarang, Jawa Tengah.

Tak ada habisnya

Laporan orang hilang yang diduga terkait dengan NII seolah tidak ada habisnya. Sejak awal tahun ini hingga Mei misalnya, Kepolisian Daerah Metro Jaya memperoleh satu laporan orang hilang yang diduga terkait dengan jaringan NII. Kepala bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes (Pol) Baharudin Djafar, Selasa (10/5/2011) menyampaikan, laporan orang hilang terkait NII diterima Polda pada 2 Mei. Pelapor adalah Syarifah Fauziah, warga Pamulang, Tangerang Selatan. Syarifah mengaku, anaknya, R bersama menantunya, C terlibat dalam jaringan NII. R diketahui bergabung dengan NII sejak 2005. Sementara C yang dikabarkan menjadi bupati NII, bergabung sejak 1997.
"Keduanya masih bisa berkomunikasi dengan keluarga, tetapi keluarga tidak suka anaknya masuk ke dalam NII. Syarifah ini juga mengaku menantunya jadi bupati, kita coba buktikan pengakuan ini," kata Baharudin.
Laporan serupa juga diterima NII Crisis Center, organisasi yang memberi bantuan konseling kepada mereka yang merasa menjadi korban gerakan NII. Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center, Sutanto mengungkapkan, dalam dua bulan terakhir, pihaknya menerima 80 laporan orang hilang. Namun, hanya 34 di antaranya yang terbukti berkaitan dengan NII. "setelah kita konfirmasi baru 34 orang yang hilang dan riil berkaitan dengan NII," kata Sutanto kepada Kompas.com, Rabu (11/5/2011). Sejak 2007 hingga kini, lanjut Sutanto, NII Crisis Center berhasil mengeluarkan 300 orang dari kelompok NII. Jaringan ini, menurutnya, banyak menyasar kalangan mahasiswa untuk direkrut sebagai anggota baru. Para korban perekrutan, kata Sutanto, umumnya menghilang dari rumah demi menjalani program-program NII. Sepak terjang kelompok ini dinilainya menimbulkan kerugian baik bagi si korban sendiri, keluarga, maupun orang di sekitar korban.

Berantakan

Kekacauan hidup dialami Rika (nama samaran) setelah anaknya Dino (nama samaran) bergabung dengan geraka ini. Kuliah Dino berantakan. Dino yang sempat bergabung selama setahun yakni 2007-2008 itu terpaksa pindah kampus demi menghindari anggota-anggota NII yang terus mengejarnya meskipun Dino memutuskan untuk keluar. "Kuliahnya keluar, ini juga yang bikin saya dendam, masa depan anak saya rusak," tutur Rika.
Ia kemudian menceritakan bagaimana awal mulanya pihak keluarga mengetahui keikutsertaan Dino dalam NII. Menurut Rika, ia curiga anaknya bergabung dalam NII setelah Dino tiba-tiba berubah sikap. Dino yang dulu perhatian terhadap keluarga berubah menjadi jauh dari keluarga. Anaknya itu, kata Rika, kerap pulang malam dan sering mengurung diri di kamar.
"Jadi jarang di rumah, pulang malam, enggak pernah ngumpul sama keluarga, diajak acara keluarga yang biasanya mau, sekarang enggak. Lebih sering di kamar, mengurung diri," paparnya. Anehnya lagi, lanjut Rika, putranya tampak sangat lengket dengan ponsel. Dino seolah enggan melepas ponsel dari genggamannya sedikitpun.
"Pas ke toilet dibawa, pas tidur, itu hp (handphone) ditaruh di perutnya. Dia enggak akan membiarkan handphone itu dilihat orang. Ternyata, kegiatannya 24 jam dipantau terus sama jaringannya. Saya kalau ingat itu, rasanya emosi," ungkap Rika.
Bukan hanya berubah sikap, menurut Rika, putranya itu juga kerap meminta sejumlah uang kepadanya. Berbagai alas an digunakan Dino untuk mengorek kantong orangtuanya. Mulai dari untuk membayar keperluan kuliah hingga untuk menggantikan laptop temannya yang hilang.
"Katanya, ngilangin laptop temannya seharga Rp 25 juta, jadi harus ganti. Ya sudah, dikasih 25 juta untuk mengganti. Setelah itu, pokoknya urusannya duit terus. Untuk kuliah, praktik, beli buku," ujar Rika. Selama setahun, tuturnya, keluarga sudah mengeluarkan uang lebih dari Rp 100 juta untuk memenuhi permintaan Dino. Sampai akhirnya, Rika nekat melaporkan Dino ke polisi karena sudah tidak tahan menghadapi ulah putranya itu. Dino dilaporkan karena mencuri laptop Rika.
"Karena katanya orang NII itu takut kalau sudah sampai ke polisi. Saya ingin kasih pelajaran ke anak saya. Ini tahun 2008. Saya minta polisi memeriksa sampai dia ngaku NII, beberapa hari lah dia di kantor polisi, tapi enggak di sel. Hanya di ruangan untuk diperiksa. Sampai akhirnya dia ngaku," ungkap Rika.
Akhirnya, upaya Rika berhasil. Dino mengaku telah bergabung dengan NII kemudian berhasil dikeluarkan dari jeratan NII atas arahan NII Crisis Center.

Perubahan Sikap

Pengalaman senada dialami Yati (nama samaran). Putrinya yang bernama Ratih (nama samaran) bergabung dengan NII selama setahun. "Saat baru masuk kuliah, sekarang sudah selesai kuliah, kejadiannya pada 2007," katanya.
Yati yang adalah anggota Kepolisian mencurigai putrinya menjadi korban NII setelah melihat perubahan sikap Ratih. Sama halnya dengan Dino, Ratih sering pulang malam dan mengunci diri di kamar. "Dia berubah, jadi enggak mau gabung dengan keluarga. Biasanya enggak pulang malem, jadi pulang malem. Entah ke mana. Sampai rumah, mengunci diri di kamar. enggak tahu ngapain," kata Yati.
Selain itu, lanjutnya, Ratih juga sering meminta sejumlah uang kepada Yati dengan berbagai alasan, termasuk untuk mengganti laptop temannya yang hilang. "Saya bilang (ke dia), kalau hilang di kampus, lapor polisi, biar digeledah polisi. Akhirnya (dia) enggak jadi (minta),” ujarnya.
Putrinya itu, lanjut Yati, juga pernah meminta uang dengan alasan untuk membantu biaya pengobatan ibu temannya hingga untuk membantu temannya membayar rumah yang akan disita. "Tapi enggak saya kasih," tuturnya Yati.
Sampai pada akhirnya, Yati terpaksa mengeluarkan uang Rp 2,5 juta ketika seseorang yang mengaku teman Ratih meminta pertangungjawabanya untuk mengganti laptop orang itu yang katanya telah dihilangkan Ratih.
"Saya bilang, lapor polisi, tapi enggak mau juga. Ya sudah, akhirnya janji ketemuan di sebuah mall di Jakarta Selatan. Dia minta ganti 8 juta. Minta ketemunya malam. Dan minta harus lunas, karena katanya buat pengobatan ibunya. Pas ketemu, saya kaget, kok anaknya enggak kayak anak kost yang biasanya sederhana. Rambut dicat, saya enggak nyangka anak saya punya teman kayak gitu. Akhirnya, saya kasih 2,5 juta," papar Yati.
Selanjutnya, kata Yati, putrinya itu masih terus berupaya meminta uang dengan berbagi alasan seperti untuk biaya perkuliahan. Bahkan, katanya, Ratih tega membohongi orangtuanya. "Untuk (bayar) lab Rp 900 ribu padahal cuma Rp 90 ribu. Saya tanya ke kampusnya dan akhirnya saya tahu, anak saya bohong,” tuturnya.
Meskipun demikian, Yati merasa bersyukur bahwa sekarang putrinya lepas dari jeratan NII. Berkat upaya keluarga dan bantuan NII Crisis Center, menurut Yati, putrinya berhasil lulus kuliah dan bekerja. Ia lantas mengimbau kepada setiap orangtua agar mulai waspada terhadap bahaya NII. Menurutnya, selain merugikan secara materi, ajaran NII merusak masa depan putra-putri bangsa.
“Saya sebagai orangtua, selain materi ya, batin, karena anak saya terancam masa depannya. Kita harus waspada, biasakan tahu aktivitas anak, kenali perubahannya,” kata Yati.

© 2011 - KOMPAS.com

NII Menyuruh Saya Mencuri

True Story

NII Menyuruh Saya Mencuri

Icha Rastika
nii

KOMPAS.com - Penjelasan yang diajukan kepala negara mengenai konsep negara dalam negara membuat saya bingung. Tak ada satu pun penjelasan yang meyakinkan. Saya terus mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Diskusi saya dan kepala negara itu berlangsung berjam-jam. Kepala negara itu tampak lelah meladeni kebawelan saya. Ia lantas menanyakan kesediaan saya untuk bergabung.
Ia menjelaskan, sebelum bergabung, seorang calon warga negara harus memberikan sumbangan dana kepada negara. Seingat saya, jumlahnya mencapai Rp 2 juta. Namun, saat saya katakan bahwa saya tidak punya uang sejumlah itu, dia menurunkan harga. Bahkan boleh dicicil beberapa kali dalam jangka waktu tiga bulan.
Tetap saja saya enggan dan mengaku tidak punya uang. "Uang dari mana? Saya kan mahasiswa, belum kerja juga," kata saya.
Lantas ia mulai menjelaskan dengan dalil-dali Al Quran yang diinterpretasikannya berbeda tentang mengambil harta orang lain. Ia bilang, ambillah harta dari orangtuamu, saudaramu, orang dekatmu, atau orang lain.
Rupanya mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang yang akan diberikan kepada negara. Mereka menilai, orang-orang selain anggota NII adalah kafir sehingga tidak jadi masalah jika harta mereka dirampas. Mendengar adanya iuran, saya makin yakin bahwa ajakan NII ini tidak beres.
Oh, ternyata ujung-ujungnya uang toh, batin saya. Saya berpikir jangan-jangan ini adalah modus baru kejahatan penipuan. Akhirnya, ketika sang kepala negara kembali menanyakan niat bergabung atau tidak, saya menjawab tidak. "Kalau ujung-ujungnya uang, saya enggak mau. Dan, aneh ada negara di dalam negara," kata saya.
Akhirnya sang kepala negara itu menyudahi diskusi kami. Ia beranjak ke luar ruangan. Setelah itu, teman lelaki Dewi yang mengantar saya ke ruangan, masuk kamar, mengantarkan saya kembali ke ruang tamu. Di ruang tamu, Dewi sudah menunggu. Ia mengaku diajak bicara dengan kepala negara lain di kamar yang satunya.
Di ruang tamu, teman lelaki Dewi kembali bertanya, "Bagaimana? Sudah paham?". Saya jawab akan pikir-pikir. "Habis ujung-ujungnya uang," kata saya.
Kemudian kami dipersilakan pulang. Di perjalanan pulang, Dewi juga bercerita bahwa ia merasa ragu dengan adanya iuran yang diwajibkan. Namun, kata Dewi, teman lelakinya itu kembali mengajak dia dan saya untuk mengikuti pertemuan akbar di Balairung UI, Depok, beberapa hari kemudian. Saya tidak merespons positif ajakan itu. Cukup sampai di sini saya mengikuti rasa penasaran ini.
Sesampainya di rumah, saya menceritakan pertemuan itu kepada orangtua dan kawan-kawan saya. Sejumlah teman mengatakan kepada saya bahwa itu adalah gerakan NII yang biasa merekrut mahasiswa di kampus-kampus. Teman-teman saya menyarankan untuk melaporkan ke polisi.
Besoknya, Dewi menelpon saya. Ia kembali mengajak saya mengikuti pertemuan di Balairung. Saya beralasan dilarang oleh orangtua. Dia tak menyerah. Bahkan, dia bersedia mendatangi rumah saya, meminta izin kepada orangtua saya agar memperbolehkan saya ikut pertemuan. Ajakannya itu saya tolak. Saya malah menyampaikan rencana saya untuk melaporkan NII ke polisi kepada Dewi.
Dewi hanya "iya-iya saja". Setelah itu, Dewi tidak lagi menghubungi saya. Aneh memang, padahal sebelumnya ia membujuk saya untuk ikut pertemuan di Balairung UI. Nomor teleponnya kemudian tidak dapat dihubungi.
Selesai

Sumber : http://lipsus.kompas.com/nii

Senin, 04 Juli 2011

Selamat Jalan KH Zainuddin MZ

05 Juli 2011 | 12:06 wib


image Jakarta, CyberNews. Kiai Haji Zainuddin Muhammad Zein atau Zainuddin MZ meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Pusat, Selasa (5/7).
Kiai yang dikenal dengan sebutan Dai Sejuta Umat itu meninggal pada usia 60 tahun karena serangan jantung dan diabetes. Almarhum sempat jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.
Pria kelahiran Jakarta, 2 Maret 1951, ini merupakan anak tunggal dari Turmudzi dan Zainabun yang merupakan keluarga Betawi asli. Kemahiran dalam berpidato sudah mulai diketahui sejak Zainuddin masih kecil.
Ia memiliki istri bernama Hj. Kholilah dengan empat anak yakni Fikri Haikal MZ, Lutfi MZ, Kiki MZ, Zaki MZ. Ayahnya bernama Turmudzi dan Ibunya Zainabun.
Zainuddin menyeleasaikan pendidikan S1 di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan mendapat Dr HC dari Universitas Kebangsaan Malaysia, Malaysia.
Uddin, panggilan akrab Zainuddin ini menekuni bakat ceramahnya saat masuk Madrasah Tsanawiyah. Dia kemudian menamatkan Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta. Dalam berpidato, Uddin cepat dikenal karena sering memasukkan banyolan. Bakat inilah yang membuat dia terus terkenal dan setiap ceramahnya selalu dihadiri puluhan ribu umat. Dari bakatnya ini, dia mendapat julukan sebagai 'Dai Sejuta Umat'.
Pada 1997, memutuskan masuk ke dunia politik. Dia kemudian masuk ke Partai Persatuan Pembangunan. Masuknya Zainuddin ke dunia politik ini tak terlepas dari peran guru ngajinya, KH Idham Calid, mantan Ketua Umum PB NU. Saat itu, PPP memanfaatkan duet Zainuddin MZ dan H Rhoma Irama, sebagai vote-getter dalam seetiap pemilu.
Namun, keakraban Uddin dan PPP ini tak berlangsung lama. Pada 2002, Zainuddin MZ bersama dengan rekan-rekannya memutuskan keluar dari partai berlambang Ka'bah itu. Dia kemudian membentuk PPP Reformasi.
Kemudian pada 2003, PPP Reformasi berubah Partai Bintang Reformasi. Dan hingga 2006, Zainuddin terpilih menjadi ketua umum. Selain berceramah dan berpolitik, tercatat ia pernah bermain film bersama Rhoma Irama yang berjudul Nada Dan Dakwah pada 1991.
Selain kontroversi di dunia politik, Zainuddin tercoreng namanya, saat seorang perempuan yang berprofesi sebagai penyanyi Aida Saskia mengaku sebagai selingkuhannya dan pernah diperkosa.
( Rifki / CN34 )
Sumber: CyberNews /05 Juli 2011 | 12:06 wib
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/07/05/90082/Selamat-Jalan-KH-Zainuddin-MZ


Cari Blog Ini