Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.

Rabu, 15 Juni 2011

Kapolri: Tindak Tegas Teroris Kemayoran

Penyebaran Racun

Hindra Liu | A. Wisnubrata | Senin, 13 Juni 2011 | 09:22 WIB

Dibaca: 16347


KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Pengungkapan Jaringan Teroris Markas Besar Kepolisian RI merilis struktur jaringan teroris beserta sejumlah tersangka yang sebagian besar telah tertangkap saat jumpa pers kasus terorisme di Markas Kepolisian Resort Kota Besar Solo, Jawa engah, Selasa (14/12).
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo mengatakan bahwa kepolisian akan mengembangkan kasus upaya terduga teroris yang berencana menyebarkan racun sianida di kantin kantor polsek, polres, dan kantin Markas Polda Metro Jaya.
Kapolri menyatakan akan menindak tegas keenam terduga teroris itu jika terbukti bersalah. "Akan ditindak tegas," ujar Kapolri kepada para wartawan seusai mengantar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongan menuju Jepang dan Swiss di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (13/6/2011).
Kapolri juga mengatakan, kepolisian akan mendalami motif di balik upaya peracunan terhadap polisi tersebut. "Tentunya nanti jika ada perkembangan, kami akan sampaikan ke rekan-rekan media. Tapi, insya Allah, kami bisa mengantisipasinya," lanjutnya.
Seperti diwartakan, Densus 88 Antiteror menangkap keenam terduga teroris tersebut, Jumat (10/6/2011). Mereka ditangkap berkat pengakuan kelompok Poso yang menembak polisi. Mereka hendak menyebarkan racun sianida di kantin-kantin lingkungan polisi seperti kantor polsek, polres, dan Polda Metro Jaya. Bahkan dicurigai mereka juga akan menyebarkan racun di lingkungan asrama polisi.
Keenam terduga teroris tersebut adalah:
  1. Santhanam (30), ditangkap di Utan Panjang III RT 12 RW 06, Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat.
  2. Wartoyo (34), ditangkap di Jalan Trikora RT 05 RW 05, Duri Utara, Tambora, Jakarta Barat.
  3. Jumarto alias Qomarudin, alamat tinggal KTP di Kramat Batu Dalam No 1 RT 10 RW 08 Gandaria Selatan, ditangkap di kontrakannya di Panca III Sumurbatu, Kemayoran, Jakarta Pusat.
  4. Umar (25), ditangkap di kontrakannya di Jalan Kramat Pulo Raya. Ruko Senen Lantai V, Perkantoran Central Kramat Pulo No B26, Kemayoran, Jakarta Pusat.
  5. Paimin (34), ditangkap di kontrakannya di Serdang Baru I RT 09 RW 04, Kemayoran, Jakarta Pusat.
  6. Budi Supriyadi (33), ditangkap di Bendungan Jago RT 17 RW 02, Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat.
KOMPAS.com/Senin, 13 Juni 2011 | 09:22 WIB
http://nasional.kompas.com/read/2011/06/13/09224855/Kapolri.Tindak.Tegas.Teroris.Kemayoran

Teroris Rencanakan Racuni Polisi Lewat Botol Minuman

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sebanyak 16 tersangka teroris ditangkap petugas dalam tiga hari terakhir. Kelompok ini diduga tidak hanya merencanakan aksi meledakkan bom. Mereka bahkan berencana menebar racun di sejumlah kantin kantor kepolisian. "Itu pengakuan yang diperoleh petugas," ujar Kepala Kepolisian RI, Jenderal Timur Pradopo, dalam rapat dengar pendapat di DPR RI, 13 Juni 2011.

Pengakuan diperoleh setelah Satuan Tugas Anti-Teror menciduk 16 tersangka teroris di sejumlah tempat seperti Pekalongan, Kutai Kartanegara, Bandung dan Jakarta. Dari para tersangka, polisi menyita serangkaian bom pipa yang mereka siapkan untuk meledakkan sejumlah kantor polisi. Penggeledahan di salah satu rumah tersangka di wilayah Kemayoran, bahkan menemukan racun sianida.

Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar menjelaskan, pengungkapan kasus ini merupakan pengembangan dari penangkapan tersangka penembak polisi di Poso, Sulawesi Tengah. Dari sana polisi menangkap keterkaitan dua tersangka lain di Pekalongan, dua di Kalimantan Timur dan tujuh di Jakarta, dua di Sulawesi Tengah dan seorang di Bandung, Jawa Barat.

Berdasarkan pengakuan tersangka, bahan sianida rencananya akan digunakan untuk meracuni makanan atau minuman di sejumlah kantin kantor kepolisian. Mereka bahkan berencana menyebarkan racun di sejumlah asrama polisi. Namun, hingga kini polisi belum mengetahui ada-tidaknya korban akibat ulah mereka. "Mereka berencana menyuntikkan ke botol minuman," ujarnya.

Boy mengaku belum bisa menyimpulkan apakah aksi mereka dilakukan untuk membuat kerusuhan menjelang vonis amir Jama'ah Anshorut Tauhid, Abu Bakar Ba'asyir. Yang terang, kata dia, aksi teror dengan meracuni makanan merupakan modus baru kelompok teroris yang perlu diwaspadai baik oleh anggota kepolisian maupun masyarakat yang mengkonsumsi makanan kantin polisi.

Terkait kasus tersebut, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, Inspektur Jenderal Sutarman, mengaku telah memerintahkan setiap bawahannya untuk mengawasi gerak-gerik yang mencurigakan. Namun ia meminta agar modus teror tersebut tidak membuat masyarakat enggan mengkonsumsi makanan kantin. "Yang jelas harus waspada," ujarnya.

RIKY FERDIANTO
TEMPO Interaktif, Senin, 13 Juni 2011 | 21:28 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2011/06/13/brk,20110613-340470,id.html

Selasa, 14 Juni 2011

NII : DIDUGA MAKAR, ENAM ORANG DITANGKAP

Selasa, 07 Juni 2011 @ 07:26:33   Administrator - Administrator Mabes Polri
JAKARTA, Tim gabungan antara Badan Reserse Kriminal Polri dan Polda Jawa Tengah menggerebek sebuah rumah di Ungaran, Semarang, yang diduga sebagai markas NII. Penggerebekan ini terkait dengan aktivitas NII yang mengarah pada dugaan makar.

Enam orang diamankan dalam penggerebekan tersebut. "Terkait aktivitas NII mengarah pada dugaan makar," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Boy Rafli Amar kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (24/5).

Menurut dia, ada enam orang yang diamankan dalam penggerebekan tersebut. Mereka saat ini masih menjalani pemeriksaan.

Keenamnya merupakan buron terkait kegiatan yang menjurus makar. Sebelumnya, mereka menjalankan aksinya di Jawa Barat.

"Jadi penangkapan orang yang selama ini DPO. Enam orang diperiksa dulu, belum tersangka," kata dia.

"Ini NII yang pernah diusut Polda Jabar terkait 2008. Inisialnya sementara SM, TD, M, NB, MA, SP. Sudah masuk dalam daftar lama, cuma sekarang mereka beraktivitas di Jateng. Bagian dari NII yang pernah disidik Polda Jabar," jelas Boy. (OL-5)
Sumber : Administrator - Administrator Mabes Polrihttp://www.polri.go.id/berita/9576 

Terorisme : Kelompok Poso 2 Kali Berlatih di Gunung

Sandro Gatra | Glori K. Wadrianto | Selasa, 14 Juni 2011 | 17:25 WIB


Dibaca: 265


K21-11 Upacara serah terima jenazah dua korba penembakan Bripda Gustiar Yudisthira dan Bripda Andi Irbar di Kargo Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Kamis (26/5/2011).
JAKARTA, KOMPAS.com Kelompok teroris di Poso, Sulawesi Tengah, sempat berlatih militer (tadrib asykari) sebanyak dua kali sebelum menyerang polisi di pos polisi di Jalan Emi Saelan, tepatnya di depan Kantor BCA di Palu.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengatakan, latihan pertama dilakukan di Pegunungan Biru di Desa Tambara, Poso Pesisir, selama empat hari pada bulan Agustus 2010.
Pelatihan kedua dilakukan di pegunungan di daerah Malino III di Kecamatan Soyo, Morowali. "Pelatihan kedua dilakukan tujuh hari sebelum penembakan di depan Kantor BCA," kata Anton saat jumpa pers di Mabes Polri, Selasa (14/6/2011).
Dalam jumpa pers itu diperlihatkan barang bukti penangkapan di berbagai lokasi, di antaranya senjata api rakitan, senjata api jenis V2 milik polisi, senjata api bentuk pena, dan bahan peledak.
Anton menjelaskan, 18 orang ditangkap di lima wilayah. Tiga di antaranya tewas. Di Poso, lima orang ditangkap, yakni Aryanto Haluta alias Abu Jafar alias Anto alias Jafar, Rafli alias Furqon, Anang Muhtadi alias Papa Enal, Maman Susanto alias Papa Azzam, dan Ali Miftah alias Ardan Wirayuda alias Ali Firmansyah alias Ali Ibrahim alias Amri Rifki.
Dua orang tewas saat baku tembak di pegunungan di Poso, yakni Dayat dan Faruk. Di Pekalongan, Jawa Tengah, ditangkap dua orang, yakni Hari Kuncoro alias Husen alias Bahar dan Sugeng Setiaji alias Tio pada 9 Juni 2011.
Di Bandung, Jawa Barat,  ditangkap Budi Untung. Menurut Polri, Untung lalu tewas akibat serangan jantung. Di Kalimantan Timur, jelas Anton, ditangkap dua orang, yakni Muhammad Sibghotulloh alias Faisal alias Musaf alias Hani dan Yuwardi. Terakhir, di Jakarta, ditangkap enam orang, yakni Santhanam alias Santana, Martoyo, Jumarto, Umar, Paimin, dan Budi Supriadi.
Menurut Anton, alasan mereka menyerang polisi adalah untuk membalas dendam terhadap penangkapan para pemimpin mereka, seperti Abu Bakar Ba'asyir, Dr Azhari, Noordin M Top, dan Dulmatin. Selain itu, polisi dianggap sebagai perisai hukum demokrasi yang bertentangan dengan hukum syariat Islam.
"Paham radikal mereka diperoleh dari kelompok Jamaah Islamiyah yang pernah masuk ke Poso di mana jihad hukumnya wajib dengan cara mengangkat senjata. Awalnya mereka mengumpulkan senjata. Setelah semakin kuat, mereka akan melakukan amaliyah jihad yang lebih besar," tutur Anton.
Sumber : Kompas.com/selasa, 14 Juni 2011 | 17:25 WIB
http://nasional.kompas.com/read/2011/06/14/17254454/Kelompok.Poso.2.Kali.Berlatih.di.Gunung


Senin, 13 Juni 2011

Yahudi dan Kristen bukan kafir

Hal itu ditegaskan oleh Gus Dur, tokoh muslim Indonesia. Berikut adalah wawancara Kajian Islam Utan Kayu di Radio 68H Jakarta dengan Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagaimana dikutip dari Jaringan Islam Liberal [JIL].Keberagamaan umat Islam saat ini sering dikaitkan dengan radikalisme dan kekerasan. Apa yang salah menurut Gus Dur?
Saya rasa persoalannya adalah ketidakmengertian. Mereka yang melakukan kekerasan itu tidak mengerti bahwa Islam tidaklah terkait dengan kekerasan. Itu yang penting. Ajaran Islam yang sebenar-benarnya — saya tidak memihak paham mana pun, baik Ahlus Sunnah, Syi’ah, atau apapun — adalah tidak menyerang orang lain, tidak melakukan kekerasan, kecuali bila kita diusir dari rumah kita. Ini yang pokok. Kalau seseorang diusir dari rumahnya, berarti dia sudah kehilangan kehormatan dirinya, kehilangan keamanan dirinya, kehilangan keselamatan dirinya. Hanya dengan alasan itu kita boleh melakukan pembelaan.
Bagaimana cara menanggulangi radikalisme itu, Gus?
Ya, kita tidak boleh berhenti menekankan bahwa Islam itu agama damai. Dalam Alquran, ajaran tentang itu sudah penuh. Jadi, kita tidak usah mengulang-ulang (pernyataan) lagi bahwa Islam itu damai dan rasional. Hanya saja, memang ada sisi-sisi lain dari Islam yang kurang rasional. Tapi kalau dipikir-pikir lagi secara mendalam, jangan-jangan itu rasional juga. Jadi dengan begitu, kita tidak boleh serta-merta memberikan judgement, pertimbangan, penilaian. Jangan. Kita harus benar-benar tahu latar belakang mengapa seseorang melakukan kekerasan. Tapi biasanya, yang pura-pura (Islam) itulah yang paling keras.
Bagaimana Gus Dur mendefenisikan istilah kafir?
Mengenai pengertian kafir, muballigh kayak Yusril Ihza Mahendra saja, menteri kita itu, nggak tahu. Dulu dia pernah bilang, Saya kecewa pada Gus Dur yang terlalu dekat dengan orang Kristen dan Yahudi.

Padahal, Alquran mengatakan, tandanya muslim yang baik adalah asyiddâ’u`‘alal kuffâr (tegas terhadap orang-orang kafir).” Terus saya balik tanya, “Yang kafir itu siapa?”
Menurut Alquran, orang Kristen dan Yahudi itu bukan kafir, tapi digolongkan sebagai ahlul kitab.

Yang dibilang kafir oleh Alquran adalah ”orang-orang musyrik Mekkah, orang yang syirik, politeis Mekkah”. Sementara di dalam fikih, orang yang tidak beragama Islam itu juga disebut kafir. Itu kan beda lagi. Jadi, kita jelaskan dulu, istilah mana yang kita pakai.
Banyak sekali soal khilafiah di dalam masyarakat dalam menafsirkan agama yang satu sekalipun. Apa kriteria perbedaan yang membawa rahmat itu, Gus?
Dulu, ada perbedaan antara Muhammadiyah dengan NU soal tarawih dua puluh tiga rekaat atau sebelas. Kan begitu. Semua itu sama-sama boleh. Jadi, jangan ribut hanya karena masalah seperti itu. Yang harus kita selesaikan adalah masalah-masalah pokok seperti kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan sebagainya. Tapi itu malah yang nggak pernah diurusi. Malah yang diributkan tentang shalatnya bagaimana; sebelas rekaat atau berapa. Itu kan bukan masalah yang serius.
Mengapa ada kelompok Islam yang ingin ajaran-ajaran spesifik Islam diatur dalam hukum negara, seperti kewajiban berjilbab dan lain-lain?
Pemikiran seperti itu sebetulnya bersifat defensif. Artinya, mereka takut kalau Islam hilang dari muka bumi. Itu namanya defensif; pake takut-takutan. Sebenarnya, nggak perlu ada rasa ketakutan seperti itu. Mestinya, hanya urusan-urusan kemanusiaan yang perlu kita pegang. Adapun soal caranya, terserah masing-masing saja. Jadi orang Islam nggak perlu takut (Islam lenyap).
Coba saja bayangkan, dulu Islam berasal dari komunitas yang sangat kecil. Tapi sekarang, Islam jadi agama dunia. Agama Buddha dulu juga demikian, Kristen juga demikian. Orang Kristen dulu dimakan macan; nggak bisa apa-apa. Sama rajanya diadu dengan tangan kosong, bahkan diadu dengan singa. Toh sekarang agama Kristen jadi agama yang merdeka di mana-mana.
Begitu juga dengan Islam. Jadi, tidak usah diambil pusing. Di negara Republik Rakyat Cina (RRC) yang katanya tak bertuhan, agama Konghucu atau Buddha dalam kenyataannya tetap ada dan berkembang walau secara sembunyi-sembunyi.
Ada kesan umat Islam memusuhi seni rupa. Jangankan menggambar sosok nabi, menggambar makhluk bernyawa saja dikecam. Bagaimana Islam memandang seni rupa, Gus?
Dulu ada KH. Ahmad Mutamakkin dari Pati. Dia dituduh para ulama fikih di daerahnya telah mengamalkan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Islam. Kenapa? Dia membiarkan adanya gambar gajah dan ular di tembok masjid. Lalu tuduhan bertambah: dia anti-Islam, karena suka menonton wayang kulit lakon Dewa Ruci. Kata yang menuduhnya: orang Islam kok percaya dewa-dewi.
Memangnya kenapa; untuk nonton saja nggak boleh? Dari sana dia kan bisa mengambil teori-teori yang dia tidak cocok. Untuk itu, kita ini jangan gampang-gampang bereaksi, apalagi menganggap orang lain itu kafir.
Mengapa sering terjadi benturan klaim kebenaran antar agama-agama, bahkan dalam satu rumpun agama yang sama?
Karena kita berani-beraninya mengambil alih jabatan Tuhan, fungsinya Tuhan, kerjaannya Tuhan. Emangnya kita siapa, kok berani-beraninya. Nggak ada yang lebih tinggi daripada yang lain. Yang lebih tinggi dan lebih besar dari segalanya hanya Tuhan.
Bagaimana menentukan sikap Islam yang benar dalam kompleksitas kehidupan dunia ini?
Sikap Islam yang benar adalah sikap yang sesuai dengan ajaran pokok Islam. Ajaran pokok Islam ialah: Tuhan itu satu. Jadi kita dituntut untuk mematuhi ajaran Tuhan, saling mengasihi, dan sebagainya. Kita harus saling mengasihi antar-manusia. [www.blogberita.net]
Sumber: Jaringan Islam Liberal.
http://blogberita.net/2011/06/06/jahudi-dan-kristen-bukan-kafir/

Sabtu, 11 Juni 2011

Terduga Teroris Akan Sebar Racun di Polda

Terduga Teroris Akan Sebar Racun di Polda
Hertanto Soebijoto | Sabtu, 11 Juni 2011 | 21:03 WIB

Dibaca: 5261

JAKARTA, KOMPAS.com - Enam terduga teroris yang ditangkap Tim Detasemen 88 Mabes Polri di Jakarta, Jumat (10/6/2011), berencana menyebarkan racun sianida di kantin kantor polsek, polres, dan kantin Markas Polda Metro Jaya.
"Mereka ditangkap berkat pengakuan kelompok Poso yang menembak polisi. Mereka hendak menyebarkan racun sianida di kantin-kantin lingkungan polisi seperti kantor polsek, polres, dan Polda Metro Jaya. Bahkan dicurigai mereka juga akan menyebarkan racun di lingkungan asrama polisi," ungkap pengamat intelijen Dynno Chresbon kepada Tribunnews.com di Jakarta, Sabtu (11/6/2011).
Sebelumnya diberitakan, Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap lima orang di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat dan seorang lainnya ditangkap di wilayah Tambora, Jakarta Barat.
Mereka adalah:
1. Santhanam (30), ditangkap dari Utan Panjang III RT 12 RW 06, Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat.
2. Wartoyo (34), ditangkap dari Jalan Trikora RT 05 RW 05, Duri Utara, Tambora, Jakarta Barat.
3. Jumarto alias Qomarudin, alamat tinggal KTP di Kramat Batu Dalam No.1 RT 10 RW 08 Gandaria Selatan, ditangkap dari kontrakannya di Panca III Sumurbatu, Kemayoran, Jakarta Pusat.
4. Umar (25), ditangkap dari kontrakannya di Jalan Kramat Pulo Raya. Ruko Senen Lantai 5, Perkantoran Central Kramat Pulo No B26, Kemayoran, Jakarta Pusat.
5. Paimin (34), ditangkap dari kontrakannya di Serdang Baru I RT 09 RW 04, Kemayoran, Jakarta Pusat.
6. Budi Supriyadi (33), ditangkap dari Bendungan Jago RT 17 RW 02, Serdang, Kemayoran, Jakarta.

Terorisme : Densus 88 Sita Laptop dan Wajan

Terduga Teroris
Densus 88 Sita Laptop dan Wajan
Aloysius Gonsaga Angi Ebo | Minggu, 12 Juni 2011 | 05:52 WIB

Dibaca: 8379

|
 
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA Ilustrasi Densus 88
SAMARINDA, KOMPAS.comDensus 88 menyita laptop dan sebuah tas plastik berisi kabel, pipa paralon, serta wajan dalam penangkapan dua teroris di Jalan Mulawarman Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
"Saya melihat orang-orang yang berpakaian serba hitam dan berkacamata yang semuanya membawa senjata laras panjang itu juga menyita sebuah laptop, telepon genggam, plastik berisi kabel, dan paralon, serta sebuah wajan yang di tengahnya berlubang dari rumah Juardi," kata Sujiono, seorang warga, yang mengaku menyaksikan penangkapan terduga teroris, Minggu (12/6/2011) dini hari.
Densus 88 Polri, Sabtu (11/6/2011), menangkap dua orang terduga teroris, yakni Juardi dan Faisal. Saat penangkapan, kata Sujiono, tidak terdengar adanya suara tembakan, tetapi warga sekitar sangat terkejut melihat kedatangan puluhan orang yang mengenakan rompi antipeluru dan membawa senjata laras panjang.
"Mereka menggunakan tiga mobil dan saat turun dari mobil, petugas itu langsung berpencar dan mengelilingi rumah Juardi. Kami kemudian diminta menjauh sehingga suasana saat itu sangat tegang karena baru kali ini kami melihat langsung Densus 88. Tidak terdengar suara tembakan, tapi Faisal terlihat sempat melawan saat akan dinaikkan ke mobil," ungkap Sujiono.
Warga lainnya, Jamilah, yang rumahnya persis berada di samping rumah Juardi, mengaku sangat terkejut melihat kedatangan puluhan orang sambil membawa senjata larang panjang tersebut.
"Saya biasanya hanya melihat di televisi dan baru saat ini melihat Densus 88," katanya.
Rumah yang digerebek Densus 88 tersebut, kata Jamilah, merupakan rumah milik Juardi yang selama ini dikenal sebagai tempat penggilingan daging.
"Selama ini Juardi berjualan bakso dan rumahnya juga digunakan sebagai tempat penggilingan daging. Kami hanya tahu, Faisal mengontrak dan juga membantu Juardi menjual pentol," katanya.
"Faisal kerap keluar rumah saat akan shalat, sedangkan istrinya menggunakan cadar dan hanya keluar saat berbelanja," kata Jamilah.
Warga mengaku tidak mengetahui secara pasti hubungan antara Juardi dan Faisal.
"Setahu kami, Faisal hanya ngontrak di rumah Juardi dan kami tidak tahu apakah ada hubungan keluarga di antara mereka. Tetapi, keduanya memang memiliki penampilan yang sama dan lebih banyak mengenakan sarung," ungkap warga lainnya, Sismadi.
Dari pantauan hingga Minggu dini hari, rumah Juardi yang terletak di Jalan Mulawarman No 17 RT 9 RW 4 Desa Loa Duri, Kecamatan Loajanan, terlihat gelap dan pintunya tertutup. Pada bagian depan rumah berbentuk toko tersebut terdapat papan bertuliskan "Penggilingan Daging Wahyu".
Sementara dua terduga teroris itu masih menjalani pemeriksaan intensif di Polsek Loa Janan. Menurut salah seorang sumber di kepolisian yang tidak ingin disebutkan jati dirinya, kedua terduga teroris itu akan langsung dibawa ke Jakarta pada Minggu pagi.
"Keduanya menjalani pemeriksaan di ruangan berbeda," kata seorang anggota Polsek Loa Janan.
Sumber: Kompas.com/ Minggu, 12 Juni 2011

Kamis, 09 Juni 2011

Murid SMP Al Irsyad Dilarang Hormati Bendera Merah Putih


Berita terkait
TEMPO Interaktif, Surakarta - Murid-murid di Sekolah Menengah Pertama Al-Irsyad di Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, dilarang menghormat bendera merah putih saat upacara bendera. Mereka menganggap menghormati bendera merah putih tidak sesuai syariat Islam.

Salah seorang murid, Danang Purwanto, 15 tahun, mengaku sudah dua tahun ini para murid tidak pernah sekali pun menghormati bendera merah putih. "Tidak boleh sama guru," katanya ketika ditemui Tempo seusai sekolah, Kamis, 9 Juni 2011.

Hal serupa juga diungkapkan murid lain, Musthofa, yang saat ini duduk di kelas 1 SMP Al Irsyad. Menurut dia, setiap Senin, murid berkumpul lalu guru mengisi tausiyah atau nasihat yang diakhiri dengan doa.

Soal pelajaran Kewarganegaraan, kedua murid itu kompak mengatakan pelajaran itu diajarkan di sekolahnya. Namun, saat diminta untuk melafalkan Pancasila, keduanya menggelengkan kepala tanda tidak hafal.

Kepala Sekolah Al Irsyad, Sutardi, sendiri enggan berkomentar banyak. Dia hanya memberikan surat pernyataan bermaterai yang berisi lima poin. Surat itu di antaranya berisi kesepakatan yang menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati. Selain itu, juga disepakati siswa diajarkan menghormati bendera merah putih sesuai keyakinan.

Sementara itu, hari ini tim dari Kementerian Agama Karanganyar mendatangi Al Irsyad untuk berdialog dengan Ketua Yayasan Al Irsyad, Sutardi. Tim dipimpin oleh Kepala Kementerian Agama Karanganyar, Juhdi Amin, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Karanganyar, Zainuddin. Seusai dialog, Juhdi mengatakan belum ada titik temu dengan Al Irsyad. "Masih belum ada kesamaan persepsi," katanya.

Penyuluh Agama Islam Kemenag Karanganyar, Zuhaid, menyebutkan bahwa Sutardi berpegang pada Lajnah Daimah dari Arab Saudi. "Dia juga mengaku sudah mendapat dukungan dari tokoh agama di Dewan Dakwah Islam Indonesia," katanya.

UKKY PRIMARTANTYO
Sumber: Tempointeraktif/Kamis, 09 Juni 2011 | 18:04 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/jogja/2011/06/09/brk,20110609-339713,id.html

BERITA TERKAIT :

Bibit: Tindak Tegas Sekolah yang Menolak Menghormat Bendera

TEMPO Interaktif, Semarang - Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo meminta agar sekolah yang menolak menghormat bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya ditindak tegas. Penegasan ini disampaikan menyusul polemik soal adanya sekolah di Karangnayar yang tak mau melakukan hormat terhadap bendera Indonesia merah putih.

"Kalau hidup di Indonesia bukan seperti itu caranya, apalagi ini dilakukan guru yang seharusnya digugu dan ditiru," kata Bibit di Semarang, Kamis, 9 Juni 2011.

Penolakan melakukan penghormatan terhadap bendera Merah Putih dilakukan SMP Al Irsyad dan Sekolah Dasar Albani, Karanganyar.

Mantan Panglima Komado Strategis Angkatan Darat ini menegaskan bahwa sebagai warga Indonesia seharusnya mereka menghormatu simbol-simbol kenegaraan. Tidak hanya bendera Merah Putih tapi juga Pancasila serta simbol lainnya. "Kita ini hidup dan mati untuk Indonesia, jangan meniru di mana-mana," ujarnya.

Bibit menilai, apa yang dilakukan guru di Karanganyar itu amat tidak mendidik. "Hal-hal semacam ini jangan sampai ditumbuhkembangkan," katanya.

ROFIUDDI
Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/jogja/2011/06/09/brk,20110609-339733,id.html

Selasa, 07 Juni 2011

TURUT BERDUKA CITA

 
 
Mengucapkan turut berduka cita atas wafat nya :
Bapak Simon Wilson Toehatoe -   (75 tahun).
Hari Senin, 06 Juni 2011,  pukul 08:35 WIB
Dimakam kan  di Pemakaman Tanah Kusir - Jakarta Selatan, 
Pada  : Selasa, 07 Juni 2011

Semoga arwah beliau diterima disisi Nya dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
-dari  : Alboin B. Pangaribuan, SE & Keluarga.

Minggu, 05 Juni 2011

Terorisme : Penembak Polisi Palu Pernah Dilatih Abu Tholut

Tiga tersangka penembakan anggota kepolisian di Poso, Sulawesi Tengah. TEMPO/ Dasril Roszandi

TEMPO Interaktif, Jakarta - Mabes Polri menyimpulkan, pelaku penembakan anggota Kepolisian Palu, Sulawesi Tengah adalah anggota Kelompok Jamaah Anshorut Tauhid (JAT). Mereka juga disebut, pernah dilatih Abu Tholut selama setahun di Aceh.
"Kesimpulan   diperoleh dari pengakuan para tersangka yang diciduk petugas, tak lama setelah insiden itu" kata Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Mabes Polri, 5 Juni 2011. " Mereka adalah anggota JAT yang dibentuk Abu Tholut"

Abu Tholut alias Imron Baihaqi alias Pranata Yudha bukan orang baru dalam aksi teror di Indonesia. Ia pernah  divonis delapan tahun penjara dalam kasus aksi teror di Atrium Senen, Jakarta, awal Mei 2004 dan  kembali ditangkap pada 10 Desember 2010 di Kudus.


Abu Tholut pernah didaulat sebagai Ketua Mantiqi III, Jamaah Islamiyah di Poso, tahun 2000 - 2002. Ia dikenal erat dengan Abu Bakar Baasyir, Ustad yang juga disebut amir Jamaah Anshorut Tauhid. Baasyir  ditangkap di Banjar, Jawa Barat, Senin, 9 Agustus 2010 sekitar pukul 08.15 WIB, karena diduga menerima laporan rutin rencana peledakan bom di Indonesia.
Kedekatan Abu Tholut  dengan Abu Bakar Ba'asyir disimpulkan setelah polisi  menemukan fakta  pemberian dana melalui Haris Amir Falah di kantor JAT Pejaten untuk operasional latihan para-militer di Jalin Jantho, Nangro Aceh Darussalam.
Berdasarkan hasil penyidikan, kata Boy, para tersangka merupakan kelompok yang dipersiapkan Abu Tholut sebagai kombatan. “Mereka dilatih diwilayah perbukitan Poso sejak pertengahan tahun lalu,” ujarnya.

Pelatihan para-militer itu merupakan cikal pendirian Al-Qaidah Serambi Mekkah, yang didalamnya terdapat sejumlah nama seperti Dulmatin dan Abdullah Sunata. Gerakan mereka juga berada dibalik aksi perampokan Bank CIMB Niaga yang dipimpin Toni Togar.

Dugaan keterlibatan kelompok teroris makin diperkuat setelah polisi menemukan sejumlah bahan baku pembuat bom di rumah Hariyanto, satu dari dua tersangka kasus penembak polisi di Bank BCA Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang berhasil diciduk petugas.

Hasil penelusuran menyimpulkan keterlibatan adik ipar Hariyanto berinisial AR. Ia diciduk pada tanggal 30 Mei lalu di daerah Poso. “Tersangka pernah diperintahkan oleh Hariyanto memindahkan sejumlah amunisi ke rumahnya,” ujar Boy.

RIKY FERDIANTO
TEMPO Interaktif, Jakarta  Minggu, 05 Juni 2011 | 17:41 WIB


Berita Terkait :
 Kelompok Poso Siapkan Empat Bom Aktif
Komisaris Besar Polisi Boy Rafli Amar,menununjukan foto tiga tersangka penembakan anggota kepolisian di Poso, Sulawesi Tengah. TEMPO/ Dasril Roszandi

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kelompok  teroris di kawasan Poso, Sulawesi Tengah  diduga sedang menyiapkan aksi penyerangan dengan bom. Rencana itu terbongkar setelah ditemukan  bom siap ledak ataupun masih dalam rangkaian dari rumah tersangka penembak polisi. Seluruh materi bom itu jadi barang bukti yang disita polisi Rabu,  1 Juni 2011 lalu. . “Tim berhasil menjinakkan empat bom pipa,” ujar Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, Minggu 5 Juni  2011.

Menurut Boy, bom berdaya ledak rendah itu dijinakkan tim dari Detasemen 88 Antiteror dari rumah Haryanto Haluta alias Abu Jafar, salah satu tersangka penembak polisi. Di rumah itu pula, ditemukan  empat bom pipa plastik berdiameter 4 sentimeter (cm) yang siap ledak dan tujuh pipa paralon yang berisi paku. Masing-masing paku  berukuran 5 cm dengan berat  1 kilogram. Ditemukan pula bahan-bahan pembuat bom lain. Pun juga  20 item barang bukti yang bisa digunakan sebagai bahan perakit bom. “Seperti blackpowder, belerang, pipa besi, bom molotov dan onderdil sepeda motor,” ujar Boy

Di tempat itu juga ditemukan kunci letter T yang diakui tersangka pernah digunakan untuk mencuri kendaraan sepeda motor. “Kami juga menemukan 23 butir peluru senjata US Caraben dan sejumlah peluru kaliber 9 milimeter dari rumah Ahmad Ridwan, adik ipar Hariyanto,” kata Boy.

Insiden penembakan terjadi pada 25 Mei lalu saat tiga personil kepolisian tengah menjaga di Bank BCA, Jl. Emy Saelan, Kota Palu. Segerombolan pria bersenjata api laras panjang memberondong ketiganya yang menyebabkan kematian dua petugas dan melukai satu lainnya. Tidak hanya itu. Para pelaku juga mencuri dua senjata api jenis V.

Dua dari empat pelaku berhasil ditangkap pada hari yang sama saat petugas sedang menggelar razia di wilayah Donggala. Namun upaya pengejaran terhadap dua yang lain sempat mengalami hambatan karena keduanya melarikan diri ke wilayah perbukitan arah Poso setelah sebelumnya meninggalkan kendaraan mereka di sekitar wilayah pesisir selatan.
RIKY FERDIANTO
Sumber : Tempointeraktif/Minggu, 05 Juni 2011 | 19:31 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/06/05/brk,20110605-338727,id.html

Cari Blog Ini