Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.

Kamis, 10 Mei 2012

Korupsi : Terapkan UU Pencucian Uang untuk Kasus Angie


 Ilham Khoiri | Nasru Alam Aziz | Kamis, 3 Mei 2012 | 23:08 WIB



|                                    KOMPAS/LUCKY PRANSISKAAngelina Sondakh
JAKARTA, KOMPAS.com -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta menerapkan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dalam menangani kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games dengan tersangka Angelina Sondakh. Dengan cara menelusuri aliran dana sebagaimana diatur dalam UU itu, semua aktor-aktor yang mendapat kucuran hasil korupsi itu bakal bisa dijerat dari hulu sampai hilir.
Harapan itu disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia (TII) Lucky Djani, Kamis (3/5/2012) di Jakarta.
Menurut Lucky, KPK sebaiknya menggunakan UU tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) untuk memperkuat penerapan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Dengan cara ini, semua aliran dana mencurigakan yang melibatkan Angelina bisa dideteksi dan diusut dari hulu sampai hilir. Pihak-pihak yang terbukti menerima aliran dana haram itu bisa dijerat hukum.
"KPK jangan ragu untuk menerapkan UU TPPU. Dengan pendekatan itu, akan dapat ditelusuri sumber dana, aliran dana, dan menjerat orang-orang yang kecipratan dana hasil korupsi dari hulu ke hilir," katanya.
KPK telah menetapkan dan menahan Angelina Sondakh sebagai tersangka dalam kasus suap Wisma Atlet SEA Games dan proyek pengadaan pembangunan fasilitas sarana pendidikan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ada belasan aliran dana mencurigakan yang melibatkan mantan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu
sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/05/03/23081520/Terapkan.UU.Pencucian.Uang.untuk.Kasus.Angie

Agama : Epistemologi Keberanian Moral Irshad Manji


| Jodhi Yudono | Kamis, 10 Mei 2012 | 23:54 WIB

istimewa
Oleh GM Nur
"Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan dalam diri mereka sendiri" (Al Quran Surat Ar-Ra’d Ayat 11).
Ayat itu bagi feminis Islam asal Kanada, Irshad Manji adalah dasar pemikirannya mengenai agama global yang menurut dia, "Dinamika internalnya mempengaruhi begitu banyak kehidupan di luar agama itu sendiri" (Allah, Liberty and Love, hal. xxiv).
Dari penafsiran Manji atas ayat itulah garis pembeda yang tegas bisa ditarik antara ide-ide perempuan kelahiran Uganda 44 tahun lalu dengan pemikir Islam moderat seperti Abu A’la Mawdudi atau dengan persepsi Osama bin Laden tentang apa yang menyebabkan kemunduran Islam.
Jika Osama atau Mawdudi menyalahkan Barat, atas kapitalisme dan imperialisme, atas mundurnya Islam (relatif terhadap jaman kejayaan Islam masa Abbasyiah), maka Manji berkata sebaliknya.
Perempuan keturunan Mesir dan India itu menolak menyalahkan Barat atas relasi hegemoniknya dengan Islam, sebuah gagasan yang dikembangkan dengan canggih oleh pemikir Islam poskolonial seperti Edward Said atau Talal Asad. (Di Indonesia, alitan pemikiran ini diterapkan dengan sangat baik oleh Ahmad Baso dalam buku Islam Pascakolonial).
Jika aliran poskolonial Islam mencoba menarik garis genealogi hegemoni Barat atas Islam sampai pada masa penjajahan, maka Manji bersikeras bahwa persoalan dalam tubuh Muslim disebabkan dirinya sendiri tanpa harus menyalahkan Barat.
Ide bahwa Islam harus mengubah dirinya tanpa harus menyalahkan Barat inilah yang kembali disuarakan Irshad Manji dalam buku yang baru diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul "Allah, Liberty, and Love, Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan" oleh Meithya Rose Prasetya.
Manji dalam peluncuran bukunya beberapa waktu lalu (4/5) di Salihara, Jakarta Selatan bercerita bahwa buku ini ditulis berdasarkan pengalaman interaksinya dengan pembaca buku kontroversial pertama, "The Trouble With Islam Today: A Wake Up Call for Honesty and Change" (buku terjemahannya berjudul Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini).
Buku ini dipenuhi surat-surat dan percakapan antara Irshad Manji dan pembacanya.
Tujuh bab dalam buku setebal 338 halaman itu didahului oleh interaksi itu.
Dari percakapan dengan pembacanya itu Irshad Manji menyimpulkan bahwa prolem utama dalam tubuh Muslik tidak disebabkan oleh kapitalisme dan imperialisme ekonomi politik dan militer Barat sebagaimana sering diteriakkan dengan lantang oleh Islam garis keras dan kaum moderat.
Problem itu ada dalam tubuh muslim sendiri dan bernama ketakutan untuk menyuarakan apa yang diyakini. Absennya keberanian itu dapat dilihat dari surat-surat dan percakapan Manji dengan pembacanya.
Contohnya adalah sebuah tulisan dari seorang gadis Solo bernama Sakdiyah yang dikirim kepada Manji.
Di surat itu, Sakdiyah bercerita bahwa seminar-seminar tentang pluralisme yang dia selenggarakan sering dihentikan oleh kelompok Islam radikal di daerah tempat tinggalnya.
Bahkan Sakdiyah diancam oleh seorang kerabat yang merupakan imam lokal untuk menghentikan kegiatannya.
Sakdiyah mengatakan bahwa keluarganya adalah kelompok konservatif sehingga dia tidak berani menceritakan keyakinannya pada orang tua.
Irshad Manji, yang membaca surat tersebut secara khusus di Salihara, kemudian menyarankan pada Sakdiyah untuk menceritakan keyakinannya pada keluarga dengan segala resikonya.
Akhirnya, Manji mengatakan bahwa dua hari sebelum dia berbicara di Jakarta, Sakdiyah mengirim surat yang di dalamnya tertulis orang tua Sakdiyah sudah mengetahui keyakinannya dan menerima.
Keberanian dan integritas Sakdiyah untuk menyuarakan keyakinan dan pendapatnya itulah yang hendak dikhutbahkan Irshad Manji pada kaum muslim di seluruh dunia. Dia menyebut keberanian itu sebagai ’moral courage’.
"Saya tidak meminta anda setuju dengan penafsiran saya terhadap Islam di buku The Trouble With Islam Today. Namun yang saya tuntut adalah keberanian moral dan integritas untuk menyatakan pendapat tentang kebenaran kepada siapapun, termasuk kepada keluarga anda," kata dia di Jakarta.
Keberanian moral inilah yang dia demonstrasikan secara langsung dalam kunjungannya di Indonesia kali kedua ini.
Di Salihara, dia menunjukkan bahwa seorang Irshad Manji yang perempuan, dan warga negara asing, tidak takut terhadap tekanan dari kelompok Islam radikal yang mengancam akan membubarkan secara paksa ceramahnya.
Dan keberanian moral ini juga yang menurut Irshad Manji absen di tubuh muslim moderat dan intelektual Barat.
Muslim moderat menurut Irshad Manji lebih peduli pada rasa takut dianggap bukan merupakan bagian dari Islam dibanding kepedulian untuk menyatakan pendapat mereka tentang kebenaran.
Ini membuat Manji menulis bab khusus dengan judul yang provokatif, "Atas Nama Krisis Moral, Tinggalkan Sikap Moderat".
Intelektual Barat dalam pandangan Irshad Manji juga lebih takut pada anggapan tidak mengindahkan nilai-nilai multikulturalisme dan mencampuri urusan internal agama lain dibanding mengkritik secara langsung Islam demi kebenaran (Lihat Bab "Budaya Itu Tidak Sakral).
Dari keberanian moral inilah Manji meyakini bahwa akan muncul sebuah budaya yang akan "mengubah dunia untuk selamanya".
Budaya yang menurut dia tidak hanya perlu bagi kaum muslim tapi juga non muslim.
Budaya tersebut adalah "ijtihad", sebuah perjuangan untuk memahami dunia dengan pikiran. Perjuangan yang menurut Manji berimplikasi pada "penggunaan kebebasan untuk mengajukan pertanyaan yang terkadang terasa begitu tidak nyaman".
"Buanglah sekat-sekat kebenaran politik dan berdiskusilah, berdebatlah, tentanglah, dan belajarlah," tulis dia.
Manji sepertinya memang tidak mempedulikan bagaimana konvensi (kesepakatan umum) dibangun, melainkan lebih pada munculnya suara-suara individu yang mempunyai integritas dan sekali lagi, keberanian moral.
Bahkan di satu bagian, dia mengkritik masyarakat pluralius (memiliki toleransi terhadap berbagai perspektif) dapat berpotensi menjadi relativis (membenarkan semua hal lantaran tidak mempunyai pendirian).
Hal itu mungkin nampak seperti sebuah suara ulang dari filsafat Nietzche tentang kecenderungan konformisme masyarakat Barat dan pentingnya menjadi ’superman’.
Meskipun dalam tulisan ini buku Manji akan tampak seperti khutbah yang membosankan, namun penerima "chutzpah award" dari Oprah Winfrey itu dengan cerdas membuat ajaran moral menjadi sangat personal melalui cerita-cerita interaksi dia dengan pembacanya.
Hanya saja dalam pandangan penulis, penerjemahan yang sepertinya tergesa-gesa membuat intensitas pengalaman Manji yang tertuang dalam bukunya tersebut menjadi tidak terasa.
Sebuah hal yang disinggung Goenawan Mohammad dalam sambutannya tentang buku ini di mana dia mengatakan bahwa "menerjemahkan bukanlah hal mudah memang".
Namun usaha penerjemahan ini patut dihargai di tengah kemandulan kaum moderat Islam, yang mengaku sebagai arus utama, dalam menangkal kekerasan agama.
 Sumber : http://oase.kompas.com/read/2012/05/10/23544189/Epistemologi.Keberanian.Moral.Irshad.Manji

Rabu, 09 Mei 2012

FPI : FPI Dibiarkan, Jajang C Noer Kritik Pemerintah

FPI Dibiarkan, Jajang C Noer Kritik Pemerintah
Fabian Januarius Kuwado | Tri Wahono | Rabu, 15 Februari 2012 | 00:49 WIB
Dibaca: 51261
Komentar: 338
|KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOJajang C Noer
JAKARTA, KOMPAS.com — Wacana pembubaran Front Pembela Islam (FPI) oleh massa yang mengatasnamakan Gerakan Indonesia Tanpa FPI di Bundaran HI, Jakarta Pusat, menarik minat masyarakat untuk bergabung dalam aksi tersebut, tak terkecuali seniman senior, Jajang C Noer.
"Ada imbauan Indonesia damai tanpa FPI di sini, ya saya ikut," ujarnya kepada Kompas.com saat unjuk rasa tengah berlangsung, Selasa (14/2/2012).
Ia menyesalkan tindakan ormas tersebut yang kerap menyertakan kekerasan dalam beberapa aksinya, padahal organisasi tersebut berlatar belakang agama. "Mereka suka sembarangan, main hakim sendiri, seharusnya mereka introspeksilah," lanjutnya.
Wanita yang aktif terlibat dalam dunia teater tersebut mengaku memiliki pengalaman langsung terhadap aksi kekerasan yang dilakukan FPI. Saat ia dan massa dari Forum Kerukunan Antarumat Beragama mengadakan aksi serupa di Monumen Nasional, Minggu (1/6/20111) lalu.
"Itu ibu-ibu dipukulin pakai apa tahu, kita semua kabur-kaburan," ujarnya.
Meski kerap memakai kekerasan, Jajang C Noer juga menyesalkan pemerintah yang terkesan lambat dalam bereaksi terhadap ulah FPI tersebut. "Lihat aja, pemerintah enggak bisa ngapa-ngapain, polisi hanya berjaga saja," lanjutnya.
Meski demikian, ia mengaku tetap optimistis terhadap perdamaian di Indonesia. Sebelumnya diberitakan, massa yang mengatasnamakan Gerakan Indonesia Tanpa FPI tengah melakukan unjuk rasa di Bundaran HI, Jakarta. Dalam aksi tersebut, massa menolak keberadaan FPI yang kerap melakukan kekerasan di Tanah Air.
Aksi tersebut berakhir sekitar pukul 18.00 WIB dengan tertib. Setidaknya lima orang ditangkap dalam aksi tersebut. Satu di antaranya diketahui bernama Bandi, salah seorang peserta unjuk rasa, sementara empat lainnya tak dikenal dan diduga provokator.

Premanisme :Massa Ormas di Solo Ngamuk, Aparat Tak Berdaya

M Wismabrata | Tri Wahono | Jumat, 4 Mei 2012 | 18:35 WIB

Dibaca: 31461

|
Share:
KOMPAS.com/M Wismabrata Massa ormas bergerak menuju Jalan RE Martadinata, Solo, sebelum terlibat bentrok dengan warga, Jumat (4/5/2012) siang tadi.


SOLO, KOMPAS.com — Aparat kepolisian di Kota Solo kembali disibukkan dengan aksi tawuran antara warga dan organisasi massa.
Pada Jumat (4/5/2012) siang tadi, ratusan anggota ormas kembali melakukan penyisiran di Kampung Gandekan, Jebres, Kota Solo.
Dengan jumlah yang lebih banyak dari hari kemarin, sebagian besar orang membawa pedang, pentungan, serta ketapel. Massa menyisir Jalan RE Martadinata menuju ke arah barat.
Dengan mengenakan pita warna putih di lengan, massa pun terlibat bentrok dengan warga yang berada di gang kampung.
Aksi massa yang menghunus pedang membuat ratusan anggota kepolisian yang berjaga dibuat tidak berdaya.
Bahkan, tawuran berujung jatuhnya dua korban luka bacok, Haris dan Ngatiman. Naas bagi Ngatiman, saat akan menutup bengkel tambal bannya, massa keburu datang dan menganiayanya dengan senjata tajam.
Aparat bersenjata lengkap tampak tidak berdaya menghentikan aksi penyisiran (sweeping) tersebut.
Beberapa warga, terutama para pedagang, yang berada di sepanjang Jalan RE Martadinata mengeluhkan aksi penyisiran yang berlarut-larut tanpa ada tindakan berarti dari aparat.
Seorang pemilik toko kelontong, yang enggan menyebutkan namanya, harus tutup lebih awal selama dua hari karena aksi tawuran.
"Ya, Mas, kami khawatir kalau terjadi apa-apa, makanya kami inisiatif sendiri menutup toko lebih awal," katanya.
Sementara itu, hingga saat ini Kapolresta Solo Komisaris Besar Asdjim'ain hingga saat ini belum memberikan keterangan apa pun kepada media perihal kondisi Kota Solo terkait dengan aksi tawuran tersebut.sumber: kompas.com

Premanisme :Korlap Dipukul akibat Spanduk Kado Valentine Habib

Korlap Dipukul akibat Spanduk Kado Valentine Habib
Sabrina Asril | Hertanto Soebijoto | Rabu, 15 Februari 2012 | 16:04 WIB

Dibaca: 13680

|
Share:
Fabian Januarius KuwadoSeorang koordinator aksi damai di Bundaran HI, Jakarta Pusat bernama Fan Bhaga (25) menjadi korban salah tangkap oleh pihak kepolisian yang tengah menjaga aksi tersebut. Ia tampak terduduk lemas di pos polisi bundaran HI karena wajahnya dipukuli tanpa sebab yang jelas.
JAKARTA, KOMPAS.com - Bhagapad Gita (22), koordinator aksi damai "Indonesia Tanpa FPI", mendapat bogem mentah saat menolong seorang pria tak dikenal yang terpeleset dalam aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta pada Selasa (14/2/2012) lalu. Bhagapad sama sekali tak tahu mengapa pria itu memukulnya.
Namun, setelah ditelusuri aparat kepolisian, pemukulan dilakukan oleh J (48) karena merasa gusar dengan bentangan spanduk peserta unjuk rasa yang bertuliskan "Kado Valentine untuk Habib Rizieq". J merupakan simpatisan Front Pembela Islam (FPI) pimpinan Habib Rizieq.
"Dia memukul karena ada spanduk tulisannya kado valentine untuk Habib," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Rabu (15/2/2012), di Mapolda Metro Jaya.
Ia mengatakan, meski aksi itu sudah direncanakan jauh-jauh hari, tetapi aksi penyerangan yang dilakukan J diduga hanya spontanitas. "Itu spontan yah kalau diamati dari olah tempat kejadian di lapangan," kata Rikwanto.
Selain J, polisi juga mengamankan tiga pria lainnya, yakni Ahmad Dahlan (24), Burhan (23), dan Syarifudin (44). Tiga lainnya juga simpatisan dan hadir saat aksi dilakukan. Soal peranannya, hingga kini masih didalami polisi. "Yang jelas, dia ada di situ," ucap Rikwanto.
Gerakan Indonesia Tanpa FPI ini bermula dari aksi penolakan masyarakat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada Sabtu (11/2/2012). Di sana, sejumlah anggota FPI pusat dari Jakarta tak bisa turun di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Rencananya, mereka akan melakukan pelantikan pengurus FPI Palangkaraya. Namun, sejumlah pihak yang mengatasnamakan warga menolak kedatangan mereka. Aksi tersebut berlangsung kurang lebih 2,5 jam.
Di Jakarta, gerakan "Indonesia Tanpa FPI" menggelar unjuk rasa, Selasa (14/2/2012), di Bundaran Hotel Indonesia. Ratusan orang melakukan aksi penolakan akan keberadaan FPI dan ormas lain yang dianggap meresahkan masyarakat. Unjuk rasa menentang kekerasan itu berakhir ricuh karena terjadi bentrok dengan sejumlah massa FPI yang datang ke lokasi unjuk rasa.
sumber : http://nasional.kompas.com/read/2012/02/15/16041589 Korlap.Dipukul.akibat.Spanduk.Kado.Valentine.Habib


Berita Terkait :
Indonesia Damai Tanpa Kekerasan
Fabian Januarius Kuwado | Tri Wahono | Selasa, 14 Februari 2012 | 17:23 WIB
Dibaca: 2578
JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi damai dilakukan oleh puluhan orang yang mengatasnamakan Gerakan Indonesia Tanpa FPI di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa, (14/2/2012). Mereka menolak keberadaan organisasi massa (Ormas) Front Pembela Islam (FPI) dan menolak segala bentuk kekerasan.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, puluhan massa tersebut memulai aksinya sekitar pukul 16.15 WIB dengan membawa spanduk bertuliskan 'Tolak Kekerasan! Sudah Cukup", "Kutuk Kekerasan Atas Nama Agama", dan sebagainya.
Beberapa pengunjuk rasa juga terlihat membawa boneka babi berwarna pink yang disandingkan dengan selembar karton bertuliskan, "Selamat Hari Valentine Habib Rizieq". "Indonesia damai, tanpa FPI, tanpa kekerasan," teriak peserta aksi yang kebanyakan kaum perempuan tersebut.
Petugas kepolisian tampak berjaga-jaga dalam unjuk rasa tersebut. Sementara aksi tersebut menarik perhatian bagi pengendara yang melintas di seputar Bundaran HI sehingga menyebabkan arus lalu lintas agak tersendat.
Sebelumnya, elemen masyarakat menggalang dukungan melalui jejaring sosial twitter dengan menamakan diri "Gerakan #IndonesiaTanpaFPI". Elemen ini pun rencananya akan menggelar aksi damai penolakan FPI pada sore ini pukul 16.00 WIB di Bundaran HI, Jakarta.
Gerakan Indonesia Tanpa FPI ini bermula dari aksi penolakan masyarakat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada Sabtu (11/2/2012) lalu. Di sana, sejumlah anggota FPI pusat dari Jakarta tak bisa turun di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Rencananya, mereka akan melakukan pelantikan pengurus FPI Palangkaraya. Namun, sejumlah pihak yang mengatasnamakan warga menolak kedatangan mereka. Aksi tersebut berlangsung kurang lebih 2,5 jam.
Sumber : kompas.com/Selasa, 14 Februari 2012

Penerimaan Akademi kepolisian (Akpol)

Penerimaan Akpol
Pendaftar Akpol di Polda Metro Sudah 516 Orang
Ratih Prahesti Sudarsono | Marcus Suprihadi | Kamis, 10 Mei 2012 | 09:56 WIB
Dibaca: 1174
|
Share:
KOMPAS/RATIH PRAHESTI SUDARSONOBrosur penerimaan mahasiswa Akpol di Polda Metro Jaya. Pendaftaran calon perwira Polri di Biro SDM Polda Metro masih dibuka hingga 21 Mei 2012.
JAKARTA, KOMPAS.com- Hingga Kamis (9/5/2012) pagi, lulusan SLTA yang mendaftar ingin masuk Akademi Kepolisian melalui Biro SDM Polda Metro Jaya sudah mencapai 516 orang. Padahal kuota Polda Metro Jaya untuk meloloskan pemuda dari wilayah hukumnya ke akademi di Semarang, Jawa Tengah itu, hanya 26 orang.
"Pembukaan pendaftarannya akan berakhir 21 Mei 2012. Mereka yang nantinya lolos seleksi administrasi, harus mengikuti tes-tes berikutnya. Tes pertama adalah tes kesehatan fisik dan mental pada 25 Mei," kata Kepala Subbidang Penerangan Masyarakat Bidang Humas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Mahbub, Kamis pagi.
Ia menambahkan, Akademi Kepolisian adalah pendidikan pembentukan warga sipil menjadi perwira pertama Polri, yang memiliki sikap dan pengetahuan keterampilan teknis operasional kepolisian, serta kemampuan manajerial yang dibutuhkan sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Yakni, anggota Polri abdi negara dan masyarakat yang profesional, bermoral, dan modern, serta memiliki watak yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Yang semua itu, harus berpedoman kepada moral dan Kode Etik Kepolisian, profesional dalam melaksanakan tugas kepolisian, dan memangku jabatan sebagai unsur pimpinan.
Lulusannya juga harus mampu menjadi lini terdepan yang memiliki wawasan akademik, serta menghormati, dan menjujung tinggi hak azasi manusia.
"Lulusan SLTA yang berminat dapat mendaftar secara online melalui website Polri dengan alamat http://www.penerimaan.polri.go.id. 
Syarat umumnya antara lain usia minimal 17 tahun maksimal 21 tahun dan tidak pernah melakukan kejahatan. Persyaratan lain antara lain HUAN (Hasil Ujian Akhir Nasional) minimal tujuh untuk jurusan IPA dan 7,25 untuk jurusan IPS," jelas Mahbub.
 sumber :  http://nasional.kompas.com/read/2012/05/10/09565482/Pendaftar.Akpol.di.Polda.Metro

Selasa, 08 Mei 2012

Premanisme :Cuma untuk Gagah-gagahan, Tarik Pistol dari Tangan DPR & Pengusaha


Indra Subagja - detikNews
Senin, 07/05/2012 13:07 WIB
Jakarta Warga sipil dinilai tidak pantas memegang senjata api. Justru, apabila polisi memberikan mereka izin, hal itu menjadi bukti bila polisi tidak mampu memberikan perlindungan. Apalagi biasanya pistol dibuat untuk menakut-nakuti.

"Perilaku semacam ini bukan hanya tidak pantas bagi para pengusaha dan pribadi berpunya, tapi juga tidak pantas bagi anggota DPR yang beberapa di antaranya merasa gagah dengan menenteng senjata api," terang Ketua SETARA Institute, Hendardi, dalam siaran pers, Senin (7/5/2012).

Hendardi menjelaskan, peredaran senjata api di kalangan masyarakat sipil dengan alasan apapun hanya membuktikan aparat keamanan tidak mampu menjalankan fungsi keamanan sesuai wewenang tugasnya.

"Seharusnya, setiap warga negara yang merasa terancam keselamatannya cukup memberi tahu polisi untuk melindungi, karena tugas utama polisi adalah melindungi keamanan warga negara. Peredaran senjata api, nyata-nyata hanya menebarkan teror bagi mereka yang tidak berpunya dan lemah," jelasnya.

Selama ini, mereka yang memiliki senjata api cenderung arogan. Peristiwa yang terjadi selama ini bisa menjadi bukti. Karenanya lebih baik, sipil siapapun tak boleh pegang pistol.

"Yang terjadi bukan malah untuk melindungi diri, tapi untuk menunjukkan bahwa dirinya digdaya dibanding dengan yang lain. Tidak ada cara lain untuk menciptakan ketertiban kecuali dengan pertama, menarik seluruh peredaran senjata api di kalangan masyarakat sipil tanpa terkecuali yang dimiliki anggota DPR. Kedua, hukum secara tegas dan transparan penyalahgunaan senjata api baik yang melibatkan warga sipil maupun aparat TNI," tuturnya.
http://news.detik.com/read/2012/05/07/130753/1910956/10/cuma-untuk-gagah-gagahan-tarik-pistol-dari-tangan-dpr-pengusaha?9922022aan senjata api baik yang melibatkan warga sipil maupun aparat TNI," tuturnya.
(ndr/nrl)


(ndr/nrl)

Senin, 07 Mei 2012

Tentang Palestina

5 January 2009
Posted by iman under: LUAR NEGERI .
palestineNama saya Sayed. Saya bukan druze, Hisbullah, Hamas, PLO atau komunis. Saya adalah Kristen Palestina. Saya telah berjuang bersama Nasrallah dari Hisbullah sejak saya kecil. Melempar tank tank Israel dengan batu dan menyusupkan pesan pesan panglima kepada pejuang kami di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Orang tua saya terbunuh di kamp Sabra dan Shatila , dua puluh delapan tahun lalu. Kata kakek saya mayat mereka begitu menyedihkan. Kapak dan pisau kaum Falangis telah memenggalnya.
Lihat sejarah yang pernah ditulis tentang pembantaian itu. Pada tanggal 23 Agustus 1982, Bashir Gemayel salah seorang pemimpin Kristen Maronit terpilih menjadi presiden Lebanon. Ia harus menjembatani kelompok Falangis – faksi milisi Kristen – yang terbagi dua kubu. Memihak Israel dan disatu sisi memilih Suriah.
Bashir Gemayel menolak tekanan Israel dan tidak memberikan kuasa kepada tentara Israel untuk menyerahkan gerilyawan Palestina yang bermukim di Lebanon. Hingga tak berapa lama sebuah bom membunuhnya.
Kelompok Muslim dan Palestina menyangkal terlibat dalam kejadian ini. Sementara Isreal mempersalahkan Palestina. Ini membuat kelompok Falangis kembali bersatu dan mencurigai Palestina. Walau banyak pihak percaya justru agen Mossad berada di balik pembunuhan Presiden Lebanon ini.

15 September 1982. Israel memasuki Beirut barat, dan membunuh ratusan orang. Mereka lalu mengundang faksi Falangis – yang emosinal – untuk memasuki kamp pengungsi Sabra dan Shatila yang berisi pengungsi Palestina, dengan alasan mencari gerilyawan Palestina dan menyerahkan kepada Israel. Kelompok yang dipimpin Eli Hobeika selama 3 hari melakukan pembantaian yang mengerikan. Tentara Israel menutup seluruh jalan pintu keluar masuk kamp, dan terus menembakan peluru suar sepanjang malam. Mereka juga aktif menembaki dan mengebom kamp yang tak berdaya ini. Tidak satupun gerilyawan tertangkap atau diserahkan kepada Israel.
Justru penduduk sipil, wanita dan anak anak yang terbantai. Sebagian dengan tubuh terbelah belah. BBC mencatat 700 – 800 orang tewas. Dalam bukunya yang diterbitkan segera setelah pembantaian itu, wartawan Israel, Amnon Kapeliouk dari Le Monde Diplomatique, menyimpulkan sekitar 2.000 jenazah yang disingkirkan oleh para Falangis itu sendiri setelah pembantaian itu.
Saya selalu teringat itu, dan jauh sebuah negeri yang dinamakan Indonesia pernah mengalami masa heroik perjuangan merebut kemerdekaan. Devide it impera, politik memecah Israel mungkin terdengar biasa seperti yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda atau penjajah dimana mana. Menggunakan tentara Marsose asal ambon, manado, Jawa dan Bali untuk menggempur pejuang pejuang militan negeri ini. Mulai pengkhianatan Panglima Tibang atau Pang Lao dalam perang Aceh, sampai menggunakan Aru Palaka untuk menundukan kerajaan Gowa di Sulawesi.
Ini bukan masalah agama pada akhirnya. Beruntung sejarah kemerdekaan negeri Indonesia itu tak pernah terdengar pertikaian Kristen – Islam atau Ambon melawan Jawa. Lebih banyak pejuang pejuang nasionalis dan heroik datang dari Minahasa, Ambon, Batak atau Bali.
Selalu ada sentimen sentimen etnik , agama yang dapat dipakai sebagai sekutu oleh penjajah. Nazi memakai etnik Kroasia untuk menjadi garda depannya mengejar tentara partisan Yugoslavia yang didonimasi Serbia.
tanksSaya adalah Sayed. Kristen Palestina. Selain mayoritas Muslim, Palestina juga terdiri dari pejuang pejuang Kristen. Bahkan George Habbash – pimpinan PLO dari faksi garis keras Kristen Marxist – sebagai orang yang paling dicari cari Israel selain Yaser Arafat.
Kami adalah Palestina. Bukan bangsa Arab atau Bangsa Yahudi. Jumlah penduduk Kristen di tanah suci ini justru terbanyak di Palestina. Bukan di Lebanon.
Pemimpin kami, Abu Ammar, kerap dikenal sebagai Yaser Arafat – yang istrinya seorang Kristen – menepis anggapan bahwa perjuangan Palestina melawan kolonialisme Israel adalah perang agama. Ini perjuangan kemerdekaan suatu bangsa yang mengimpikan memiliki Negara yang merdeka dan berdaulat.
Bahkan Juru bicara pertama kami di Perserikatan Bangsa Bangsa, Hanan Asrawi seorang diplomat Kristen yang tangguh.
Saya tak pernah menerima bahwa negeri kami lahir dari kompromi. Negeri kami semestinya lahir atas persamaan nasib. Bukan kompromi yang diangkat menjadi doktrin Negara.
Politik Israel selalu ingin memisahkan bangsa Palestina. Mereka ingin Kristen Palestina dan Muslim Palestina memiliki sikap yang berbeda. Dan ini tidak akan terjadi karena rakyat Palestian selalu bersatu. Kaum Muslimin dan Kristen di Palestina, khususnya di Jerussalem, adalah seperti satu keluarga sejak masuknya Islam ke Palestina,
Lihat saja Uskup Atalla, dari Gereja Orthodok di Jerussalem , mendukung aksi syahid yang dilakukan pejuang Palestina. Bahkan ia menegaskan bahwa aksi syahid itu bukanlah terorisme.
Saya Sayed bangsa Palestina menangis terharu mendengar uskup berkata “ Bila pejuangan kemerdekaan itu dianggap sebagai terorisme, maka sayalah teroris yang paling pertama,” katanya. Menurutnya, siapapun yang berkunjung dan menyaksikan penderitaan rakyat Palestina akan bisa memahami latar belakang atau motivasi yang mendorong para pejuang melakukan aksi syahid.
Saya tak tahu apakah masih ada harapan melawan Israel yang konon dianggap bangsa pilihan Tuhan menurut kitab kitab Taurat. Ini juga bukan Daud yahudi melawan Goliath dari Filistin. Ini adalah sebuah jejak. Jejak penindasan atas hak hak kemerdekaan negeri kami.
Kami tidak membutuhkan mati syahid menurut cara bangsa lain. Kami akan memenangkan pertempuran dengan cara kami sendiri, Cara syahid bangsa Palestina.
Saya adalah Sayed. Saya bangga menjadi Palestina yang utuh.
sumbert:http://blog.imanbrotoseno.com/?p=330

Kesehatan : Jangan Abaikan 7 Gejala Berikut!

Ghiboo.com - Beberapa penyakit sering datang mendadak dan tahu-tahu sudah memasuki tahap kronis. Biar Anda bisa mencegah gangguan kesehatan yang tak diinginkan, berikut ini beberapa sinyal dari tubuh yang biasa diacuhkan namun menjadi pertanda adanya ketidakberesan dalam tubuh, seperti dilansir melalui abcnews, Senin (19/3).
Sakit kepala
Banyak orang sering mengalami sakit kepala sebelah atau migrain. Secara tiba-tiba terserang migrain memang amat mengganggu. Berhati-hatilah, keseringan sakit kepala berat merupakan sinyal aneurisma otak. Jika dibiarkan bisa menyebabkan kerusakan otak dalam beberapa menit. Kebiasaan merokok dan memiliki riwayat keluarga menderita aneurisma, semakin memperbesar peluang terkena penyakit tersebut.
Gigi berdenyut
Menderita gigi berdenyut memang menyiksa. Gigi sering berdenyut menjadi sinyal adanya kerusakan pada saraf gigi. Bisa disebabkan karena enamel gigi retak atau membusuk. Jika tidak segera diatasi bisa membuat bakteri dalam mulut yang dapat menginfeksi saraf dengan mudah.
Nyeri di satu sisi
Jika Anda sering merasa seolah-olah sedang ditusuk di bagian kanan yang disertai juga mual dan demam, bisa menjadi pertanda Anda mengalami usus buntu. Kemungkinan lain, bisa menjadi pertanda adanya kista ovarium.
Nyeri dada
Sering merasa nyeri dada, bisa jadi itu sinyal adanya masalah jantung. Gejala ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita. Ada kalanya, gejala hanya berupa, dada terasa ditekan disertai dengan kelelahan, sakit tenggorokan atau sesak nafas.
Perut kembung
Perut kembung dan terasa seperti banyak gas memang tak enak. Gejala ini sering dialami wanita saat menstruasi. Namun, berhati-hatilah. Perut kembung bisa menjadi tanda terburuk dari kanker ovarium. Pada tahun 2007, Gynecologic Cancer Foundation merilis konsensus nasional pertama mengenai gejala awal, seperti bengkak, nyeri panggul atau perut dan kesulitan makan selama lebih dari dua hingga tiga minggu.
Kesemutan di jari kaki
Sering mengalami kesemutan pada jari kaki menjadi sinyal adanya saraf tulang belakang tertekan oleh bantalan tulang di tulang belakang. Jika dibiarkan terus-menerus, Anda berisiko mengalami kerusakan saraf permanen dan membuat jari kaki Anda mati rasa.
Kaki bengkak
Betis terlihat bengkak, merah atau hangat saat disentuh? Anda mungkin menderita trombosit vena (DVT), atau dikenal sebagai penggumpalan darah. Risiko ini sering terjadi pada orang yang melakukan penerbangan selama berjam-jam, perokok dan wanita yang mengonsumsi pil KB juga berisiko tinggi mengalami penggumpalan darah.
sumber : http://id.she.yahoo.com/jangan-abaikan-7-gejala-berikut-003000788.html

Sabtu, 05 Mei 2012

Ketua FPI Yogya Divonis 3 Bulan Penjara


Bagus Kurniawan - detikNews
Selasa, 17/04/2012 12:58 WIB
Yogyakarta Ketua Front Pembela Islam (FPI) DI Yogyakarta, Bambang Tedi, divonis 3 bulan penjara. Dia terbukti secara sah melakukan penganiayaan terhadap Ny Erna Efrianti.

Sidang kasus penganiayaan dengan terdakwa Ketua FPI DIY, Bambang Tedi, di gelar Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, di Jl Kapas, Selasa (17/4/2012), mulai pukul 11.00 WIB. Sidang mendapatkan pengamanan ketat aparat Polresta Yogyakarta. Lebih dari 150-an aparat berseragam maupun berpakaian preman berjaga-jaga di sekitar lokasi sidang.

Ruas Jalan Kapas, mulai simpang tiga selatan Stadion Mandala Krida hingga simpang empat selatan kantor PN Yogyakarta ditutup aparat. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bentrok antara massa FPI pendukung Bambang Tedi dengan massa gabungan berbagai ormas Islam. Front Jihad Islam (FJI), Gerakan Anti Maksiat (GAM), dan GPK Kota adalah penentang dan pendukung dibubarkannya FPI pimpinan Bambang Tedi.

Kedua massa tidak diperkenankan masuk halaman kantor PN. Massa FPI DIY hanya berada di selatan kantor PN. Sedangkan massa gabungan ormas Islam berada di sisi utara.

Sidang pembacaan vonis dibacakan langsung oleh majelis hakim yang diketuai oleh Nurzaman SH. Dalam putusannya, majelis hakim terdakwa terbukti melanggar pasal 351 KUHP. Namun dalam sidang sebelumnya saat pembacaan tuntutan oleh jaksa penuntut umum (JPU), terdakwa tidak mengakui perbuatannya.

"Terdakwa dihukum 3 bulan tanpa menjalani hukuman. Namun selama enam bulan bila terdakwa melanggar hukum atau melakukan tindak pidana akan masuk penjara," kata Nurzaman.

Usai sidang terdakwa langsung sempat menyalami majelis hakim. Bambang Tedi bersama penasehat hukum dan istrinya Ny Sebrat Haryanti langsung pulang bersama pendukungnya menggunakan sepeda motor dan truk.

Penasihat terdakwa, Rizki Mahendra mengaku keberatan dengan vonis tersebut. Menurut dia, selama pesidangan, kliennya tidak terbukti melakukan penganiayaan

Cari Blog Ini