Mengenai Saya

Foto saya
Shio : Macan. Tenaga Specialist Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar. Trainer Surveillance Detection Team di Kedutaan Besar Negara Asing. Pengajar part time masalah Surveillance Detection, observation techniques, Area and building Analysis, Traveling Analysis, Hostile surveillance Detection analysis di beberapa Kedutaan besar negara Asing, Hotel, Perusahaan Security. Bersedia bekerja sama dalam pelatihan surveillance Detection Team.. Business Intelligence and Security Intelligence Indonesia Private Investigator and Indonesia Private Detective service.. Membuat beberapa buku pegangan tentang Surveilance Detection dan Buku Kamus Mini Sureveillance Detection Inggris-Indonesia. Indonesia - Inggris. Member of Indonesian Citizen Reporter Association.

Minggu, 10 April 2011

GEDUNG BARU DPR


Mantan Anggota DPR Kritik Koboi Senayan Saat Ini
Sabtu, 09 April 2011 , 22:30:00 WIB

Laporan: Ujang Sunda

DPR/IST
  

RMOL. Para bekas anggota DPR telihat sangat gerah melihat tingkah laku para wakil rakyat saat ini. Mereka mengganggap, kelakuan anggota DPR sekarang sudah keterlaluan, bahkan sudah mirip orang yang tidak waras.

Sore tadi (Sabtu, 8/4), Rakyat Merdeka Online mengontak beberapa orang bekas anggota DPR. Di antaranya, Nizar Dahlan, Ali Mochtar Ngabalin, Achmad Soemargono, dan Ariandi Achmad. Saat ditanya pandangannya mengenai kondisi DPR saat ini, mereka semua sepakat prilaku anggota DPR saat ini sudah sangat memalukan.

“Mereka pantas mendapatkan caci-maki dari masyarakat. Karena memang perilaku mereka sangat memalukan,” kata Nizar Dahlan.

Tiga hal yang paling parah, kata Nizar adalah ngototnya anggota DPR mengenai rencana pembangunan gedung baru, kesukaan DPR jalan-jalan, dan suka pada dunia pornografi. Sementara, kinerja dalam menyerap aspirasi dan melakukan pengawasan nyaris tidak ada.

Karena itu, katanya, pantas kalau ada yang mengatakan anggota DPR sekarang tidak waras. “Buktinya memang sepeti itu (tidak waras). Masa, saat sidang paripurna malah nonton video porno,” kata bekas anggota Komisi VII ini.

Ditambahkan Nizar, anggota DPR saat ini juga tidak ubahnya seperti buih di lautan. Jumlahnya banyak, tapi tidak punya arti dan kekuatan apa-apa. “Mereka cuma jumlahnya aja yang banyak. Manfaatnya bagi masyarakat tidak pernah terasa,” tandasnya.

Ali Mochtar Ngabalin menuding, anggota DPR saat hanya berorientasi pada uang, jabatan, dan perempuan. Suara dan kepentingan rakyat hanya mereka gunakan sebagai tameng untuk memperkaya diri dan mencari jabatan.

“Bukan mau membanding-bandingkan. Tapi, lihat saja buktinya, berapa undang-undang yang mereka hasilkan dalam satu tahun. Kita bisa perbandingannya dengan anggota DPR periode lalu. Itu fakta,” tukasnya.

Agar tidak merusak lembaga, Ngabalin mengusulkan agar anggota DPR seperti ini mengundurkan diri saja. “Kalau tidak ada yang diperbuat untuk rakyat, untuk apa duduk di sana. Hanya menghabiskan uang rakyat saja,” tandasnya.

Achmad Soemargono mengaku sangat bersyukur dirinya saat ini tidak jadi anggota dewan lagi. Kalau dirinya masih jadi anggota parlemen, tentu akan kebawa-bawa buruk karena ulah anggota DPR sekarang ini.

“Untunglah saya tidak jadi anggota dewan lagi. Sehingga, saya selamat,” imbuhnya.

Soemargono menegaskan, setiap anggota DPR itu harus menghormati jabatan yang sudah diamahkan rakyat untuknya. Semua tingkah lakunya, harus representatif dari yang diinginkan rakyat. Bukan malah berbuat yang bukan-bukan yang malah melukai hati rakyat.

“Sayangnya, mereka justru banyak mempertontonkan hal naïf. Dan yang paling memilukan, ada yang nonton video porno saat paripurna,” tukasnya.

Ariady Achmad mengatakan, saat ini para anggota DPR tengah membawa kayu bakar ke dalam tungku revolusi yang akan membakar diri mereka sendiri. Sebab, semua yang mereka lakukan telah membuat rakyat marah.

“Saya lihat mereka sedang beramai-ramai bawa kayu bakar untuk membakar dirinya sendiri. Karena, apa yang mereka lalukan selama ini telah mendorong rakyat untuk melakukan revolusi,” tukasnya.

Sayangnya, lanjut Ariady, para anggota DPR saat ini seakan sudah putus urat kemaluannya. Mereka tidak pernah peduli bahwa yang dilakukannya sudah sangat melanggar norma dan tugas sebagai anggota dewan.

Agar kejadian ini tidak terus berlanjut, Ariady mengusulkan rakyat untuk mulai membobilisasi diri dan menurunkan para anggota DRP ini secara paksa. Sebab, kalau dibiarkan, kondisi yang akan terjadi di Indonesia akan semakin parah.

Rakyat harus paksa mereka untuk turun. Ini jalan satu-satunya,” tandasnya.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan mengaku sangat berterima kasih atas perhatian dan kritikan para bekas anggota DPR. Semua kritikan itu akan dijadikan sebagai bahan untuk introspeksi diri bagi DPR saat ini. “Kita ambil hikmahnya saja atas semua yang terjadi,” kata politisi PAN ini.

Taufik mengatakan, setiap fase memiliki tantangan dan kondisi yang berbeda-beda. Tantangan antara anggota DPR yang ada saat ini dan anggota DPR yang lalu juga pasti beda. Dan saat ini, tantanggan lebih berat.

Kalau dilihat dari legitimasinya, lanjut Taufik, anggota DPR saat ini lebih legitimate sebab dipilih berdasarkan suara terbanyak. Namun, hal ini mengandung konsekuensi tidak semua anggota DPR adalah kader yang sudah disiapkan partai.

“Di sinilah tantanggannya. Anggota DPR saat ini menjadi semakin heterogen. Ini tugas yang berat bagi fraksi-fraksi dalam mengontrolnya,” tukasnya.

Soal berbagai tanggapan miring dari masyarakat, Taufik mengaku dirinya bisa memaklumi. Namun dia berharap, apapun yang terjadi, jangan sampai menghujat DPR sebagai lembaga. “Kalau mengkritisi anggota DPR silakan. Tapi, jangan kita menghujat DPR sebagai lembaga,” tandasnya.

Ketua Fraksi Demokrat Jafar Hafsah mengatakan, kebiasaan anggota DPR yang memegang Ipad atau blackberry saat rapat tidak bisa selalu dikonotasi buruk. Sebab, di jaman sekarang ini, ipad dan blackberry juga berfungsi sebagai alat pencatat.

Ipad dan blackberry itu sudah sama dengan notes. Jadi tidak semua itu dilakukan untuk bukan-bukan,” katanya.

Terkait dengan yang dilakukan oleh Arifinto yang nonto video porno dalam paripurna, Jafar mengatakan sudah ada mekanime di DPR untuk menyelesaikannya. “Kalau memang benar, sudah ada aturan main untuk menyelesaikannya,” tandas Jafar.[arp]
sumber :http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=23719

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar, masukan yang sifatnya membangun blog ini.

Cari Blog Ini