Intelijen Asing Tidak Selalu Bermata Biru dan Berkulit Putih
Minggu, 23 Januari 2011 , 17:18:00 WIBLaporan: Ari Purwanto
CIA/IST |
Hal itu dikatakan mantan Ketua Komite Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (KM UMJ), Erwin Sanjaya saat berbincang dengan Rakyat Merdeka Online, Minggu sore (23/1).
"Kalau dibilang mungkin, ya pasti ada kemungkinan. Artinya jika ditarik kebelakang, apapun yang terjadi di Indonesia dan memiliki pengaruh kepentingan internasional, pasti sangat besar kemungkinan asing menggunakan alat intelijen," ujarnya.
Ini ditambah dengan kekayaan Indonesia yang melimpah ruah, sehingga melegitimasi kepentingan intelijen asing masuk di Indonesia.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah, saat ini agen intelijen asing termasuk CIA, saat ini tidak melulu bermata biru dan berkulit putih, tapi bisa juga bermuka Melayu dan berkulit sawo matang.
Namun yang harus diperhatikan betul, lanjutnya, jangan hanya melihat keterlibatan agen intelijen asing hanya dari persoalan sektoral saja ,seperti yang dikatakan Gayus, namun harus dilihat dari kondisi bangsa secara umum.
"Artinya sudah banyak sendi kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang dirusak oleh intelijen asing," imbuhnya. [arp]
Sumber : rakyastmereda.co.id. / Minggu, 23 Januari 2011
Berita Terkait :
Menelusuri Jejak Agen CIA di Istana SBY
Sabtu, 22 Januari 2011 , 09:08:00 WIB
Laporan: Teguh Santosa
“Anda tahu enggak (siapa) agen CIA dan siapa yang bukan agen CIA. Saya juga tidak tahu. Kementerian Luar Negeri tidak tahu mana yang agen CIA, mana yang bukan,” kata Marty di sela rapat kerja dengan Komisi I DPR di gedung Nusantara II, Jakarta, kemarin petang (Kamis, 20/1).
“Jangan percaya hal yang mengada-ada. Sudah tahu semua jawabannya,” kata Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (pur) Sutanto di Istana Kepresidenan, kemarin (Kamis, 20/1).
Sebelum tulisan ini dilanjutkan, saya hendak menggarisbawahi beberapa hal penting terlebih dahulu agar tulisan ini tidak terlihat (baca: terbaca) naif juga insinuatif.
Pertama, benar bahwa perdebatan mengenai keberadaan agen CIA di Indonesia yang dibicarakan dalam tulisan ini merupakan bagian dari wacana besar yang ditiupkan Gayus Tambunan, terpidana kasus penggelapan pajak, setelah majelis hakim PN Jakarta Selatan yang dipimpin Albertina Ho menjatuhkan vonis tujuh tahun penjara untuk dirinya.
Kedua, benar bahwa testimoni itu disampaikan Gayus di luar persidangan, khususnya, dan di luar koridor pro justicia, umumnya.
Ketiga, dengan demikian testimoni Gayus itu tidak bisa (atau mungkin belum bisa adalah istilah yang agak tepat) dianggap sebagai kebenaran (baru).
Keempat, hal-hal yang disampaikan Gayus, termasuk tentang agen CIA bernama John Jerome Grice yang membantunya, harus diuji terlebih dahulu. John Jerome Grice diduga sebagai orang yang membanti Gayus memperoleh paspor dengan Sony Laksono, juga paspor untuk dirinya dan istrinya dengan kewarganegaraan Guyana.
Apakah benar John Jerome Grice adalah agen CIA? Apakah benar salah seorang anggota Satgas Pemberantas Mafia Hukum merestui semua kegiatannya yang berkaitan dengan kasus yang melilit Gayus? Atau: apakah John Jerome Grice benar-benar ada?
Setelah menggarisbawahi keempat hal itu, sekarang kita: lanjutkan.
“Saya tidak tahu siapa orang Amerika yang bernama John Gerome. Saya tidak pernah dengar sebelumnya. Namun dalam hukum kami, saya tidak dapat berbicara tentang warga negara AS tanpa izin dari yang bersangkutan,” ujar Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia, Scott Marciel, usai rapat dengan Komisi I DPR, Rabu (19/1).
Marciel mengatakan pihaknya tidak dapat membicarakan apa pun mengenai badan intelijen negara itu. Dia juga tidak diijinkan membicarakan masalah Gayus.
“CIA itu hanya ada di film,” ujar anggota Komisi I dari Partai Demokrat Ramadhan Pohan.
“Kalaupun ada, polos amat John Jerome. Tidak mungkin dia terang-terangan mengaku sebagai CIA. Lagipula, pernyataan Gayus sendiri kan sudah dibantah Dubes AS," sambungnya.
Berbeda dengan Ramadhan Pohan yang lama bertugas di Washington DC kala masih bekerja untuk Jawa Pos, Jurubicara Kantor Menko Politik Hukum dan HAM, Sagoem Tamboen, tidak menutup kemungkinan apa yang disebutkan Gayus tentang keterlibatan agen CIA dalam skandalnya adalah benar.
"Informasi itu bisa benar dan bisa tidak benar. Karena itu itu perlu pembuktian oleh institusi terkait," Deputi VII bidang Koordinasi Komunikasi dan Informatika Kemenko Polhukam ini kemarin (Jumat, 21/1).
Menurutnya, Gayus perlu menjelaskan lebih detil sepak terjang dan kiprah sang agen CIA selama di Indonesia.
“Benar atau tidak, yang penting pembuktiannya dahulu, agar dalam menindaklanjuti tidak menimbulkan gejolak antara Indonesia dengan negara asal yang bersangkutan,” kata Sagoem lagi. Bersambung/[guh]
sumber : rakyatmerdeka.co.id. /Sabtu, 22 Januari 2011
wuighh,,,agen CIA di indonesia,,,ada hubungan apakah dy dengan SBY
BalasHapus